pancasona

pancasona
Part 70 simbol Aldabaro


__ADS_3

Abimanyu duduk di kursi samping ranjang Ellea. Wajah gadis itu pucat, tak segar seperti biasanya. Tubuhnya lemah. Bahkan sejak semalam ia belum membuka matanya. Abi rindu rona merah pipi Ellea saat mereka berdekatan. Rindu suara cempreng gadis itu yang membuatnya sebal. Rindu sikap manjanya dan semua hal tentang Ellea. Dia gadis pertama yang ia temui setelah ibunya. Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta. Banyak gadis di desanya dulu, tapi tak ada satu pun yang menarik perhatiannya.


Abi menggenggam tangan Ellea. Tangan yang lemah tak berdaya, membuatnya iba. Ia meletakan punggung tangan Ellea di pipinya. Mengelus pipi Ellea lembut. Abi memang khawatir, sangat.


Di sisi lain, Shanum sudah terbangun. Ia masih duduk di ranjangnya ditemani Elang. Elang dengan telaten menyuapi Shanum. Memberinya nutrisi yang cukup agar tubuh Shanum lebih bertenaga setelah mengalami hal sulit semalam.


Pagi ini suasana rumah John agak ramai. Beberapa warga memang ada di halaman. Ia mengerahkan mereka untuk memeriksa tiap sudut pulau. Dan menggalakan sistem ronda saat malam hari. John yakin, kalau penyusup itu akan kembali datang. Terlebih kemunculan Kallandra menjadi momok yang cukup ditakuti.


"Lang, kau mau ke mana?" tanya Gio saat melihat Elang sudah rapi.


"Aku harus kembali ke kantor. Pekerjaan menumpuk. Sepertinya Lian harus aku pekerjakan kembali. Biar Shanum di sini saja dulu. Lebih aman. Walau sedikit." Wajahnya terlihat lesu. Ia tidak tidur semalaman, menjaga Shanum.


Pulau Saphire tak lagi aman. Sejak Kallandra muncul itu membuat tugu batu saphire seolah tak lagi berhasil melindungi mereka.


"Hati-hati, Lang. Kau akan kembali lagi ke sini, kan?" tanya Gio.


"Tentu saja. Hari ini ada meeting penting yang harus aku hadiri."


"Aku ikut, Lang," cetus Adi. Ia memang cukup dekat dengan Elang. Sejak lama. Elang adalah orang kedua Arya. Adi juga sebenarnya dekat dengan Wira, tapi tidak sedekat seperti dengan Arya. Setelah Arya menikah dengan Nayla, ia menjadi kaki tangan Elang. Dan mereka terus bersama sampai sekarang.


"Tidak usah, Di. Kau di sini saja. Bantu mereka."


"Sudah terlalu banyak orang di sini. Di luar sana Kalla jauh lebih banyak. Lagi pula aku yakin mereka tidak akan muncul siang hari."


"Begitu juga Kalla, bukan?"


"Aku tetap ikut. Setidaknya aku membantumu menyetir. Kau tidak tidur semalaman, bodoh!" Adi meraih jaketnya dan berjalan keluar. Elang hanya menarik satu sudut bibirnya ke atas melihat sikap Adi yang kadang over protectif.


____


Abimanyu duduk di sebuah bongkahan batu, bawah pohon. Menatap lurus ke pantai yang sepi. Ia masih terbayang kejadian demi kejadian yang ia alami. Terlebih tato ditangannya yang kini makin jelas polanya. Bahkan warnanya juga tidak pudar. Berkali-kali Abi mencuci tangannya bahkan menyiramkan bensin agar noda itu hilang. Namun hasilnya nihil.


"Apa mungkin tato ini salah satu cara untuk membasmi Kallandra?" Bayangan saat Kallandra mati masih, tercetak jelas diingatannya. Telapak tangannya terus menekan tubuh Kallandra dan berhasik membakar makhluk itu hingga menjadi abu. Lebih mudah daripada membunuh Kalla itu sendiri.


"Tunggu! Jika Kallandra mampu musnah hanya karena tato ini, pasti ini akan berguna juga untuk Kalla!"


Dalam pergumulan pikiran dan hatinya sendiri, Abi tidak menyadari kehadiran Vin di sampingnya. Sampai Vin berdeham. Abi baru menoleh walau hampir saja memukul Vin.


"Astaga! Kau mengaggetkan ku saja, Vin!" omel Abimanyu. Ia kembali duduk dan menatap deburan ombak di depan. Baginya ini caranya untuk me-recharger tubuhnya. Melihat pantai. Menikmati keindahan air laut dengan pasir putih yang indah, mencium bau air laut, itu adalah caranya memperbaiki moodnya. Membuatnya lebih tenang.


"Lagi pula kau sendirian saja di sini."


"Yah, aku suka pantai di sini. Sama seperti di kampung halamanku." Abi menoleh ke Vin dengan tatapan sendu. Vin tersenyum. "Kau beruntung, Bi. Memiliki sebuah kampung halaman yang benar-benar kau rindukan. Sementara aku ... Tidak ada." Vin menunduk. Membayangkan nasib dirinya yang sebatang kara. Baginya semua pantai adalah kampung halamannya. Semua tempat adalah rumah, asal ia nyaman di dalamnya.


"Aku bahkan sekarang merasa tidak punya kampung halaman dan rumah lagi, Vin. Semua hancur sejak kematian kedua orang tuaku. Aku merindukan ayah. Dia yang selalu ada untukku. Dia selalu membantuku saat aku dalam kesulitan. Saat aku kebingungan seperti sekarang. Aku benar-benar membutuhkan dia. Terkadang aku ingin menyerah. Aku lelah, Vin."


"Aku menghabiskan beberapa tahun mengabdi pada negeri ini. Pergi mencari orang-orang yang membutuhkan bantuanku. Tanpa peduli keselamatan diriku sendiri. Sampai akhirnya, aku bertemu Gwen. Dia mampu mengalihkan pandanganku saat itu. Membuat nyawaku seolah berharga. Agar terus bisa menjaganya. Walau sekarang dia sudah pergi selamanya, aku tetap berjuang. Agar tidak ada lagi pasangan yang terpisah karena ulah makhluk keji itu. Kau masih punya Ellea untuk kau lindungi, Bi. Jangan sampai kau menyerah begitu saja. Terlebih sekarang kau memiliki tato itu. Tato Adalbaro."


"Adalbaro? Apa itu?" tanya Abi sambil memandangi telapak tangannya.


"Tato itu dirancang oleh pejuang jaman dulu. Mereka memakai simbol itu untuk memenjarakan iblis. Simbol itu sudah dikeramatkan. Jadi sehebat apa pun Kallandra, tidak akan bisa melawanmu. Asal simbol itu terus ada di tanganmu."


"Benar, kah, Vin? Kalau begitu, aku juga bisa membunuh Kalla dengan tato ini, bukan?"


"Tentu saja. Kau bahkan menjadi satu-satunya manusia yang bangsa Kalla hindari sekarang. Aku yakin, mereka sudah tau tentang simbol itu. Dan untuk sementara waktu, pergerakan mereka akan terbatas. Malah aku yakin kalau mereka tidak akan menyerang untuk saat ini."


"Ah, Vin. Aku penasaran, apa yang mereka incar dari batu saphire?"


"Kau ini bodoh, ya? Tentu saja memusnahkannya."


"Iya, aku tau memusnahkan batu saphire, tapi Vin, kau tau bukan, kalau tugu itu sangat besar? Mereka akan meledakannya? Begitu?"


"Yah, benar. Ayah bilang bukan batu saphire itu yang menjadi incaran utama mereka. Tapi sesuatu di dalamnya."


"Maksudmu?"


"Darah lapetus, dewa keabadian, ada di dalam batu saphire itu. Kalla mengincarnya untuk mendapat keabadian. Jadi mereka harus meluluh lantakan tugu batu saphire terlebih dahulu."


"Lalu kenapa batu saphire membuat mereka tidak bisa mendekat?"

__ADS_1


"Dulu saat Kalla datang ke bumi kita, Zarion, adalah orang pertama yang bertarung melawannya. Ia seorang pemimpin perang saat itu. Bertahun-tahun ia dan pasukannya mencari keberadaan Kalla. Tapi suatu ketika, ia terpojok. Ia hampir kalah berperang. Lalu bersembunyi di sebuah gua. Gua itu gelap. Dan memiliki setitik sinar terang di kejauhan. Zarion terus mengikutinya sampai di sebuah ujung gua. Tempat yang asing bahkan hutan di sana tak sama seperti di tempat asalnya. Ia baru tau kalau itu adalah tempat asal Kalla. Zarion terus menelusuri tenpat itu. Hingga ia bertemu seseorang tua renta. Membawa Zarion ke sebuah gue lain. Di sana dia melihat dua buah kristal. Satu berwarna hitam dan satu berwarna biru terang. Dengan sebuah catatan di sana. Keabadian dan perlindungan. Pria tua itu memberikan dua kristal itu pada Zarion. Dan berkata untuk melindungi kristal hitam itu. Jangan sampai jatuh ke tangan Kalla."


"Kristal hitam dan biru? Saphire, kah, yang kau maksud kristal biru?"


"Benar, Bi. Dan di pulau ini adalah satu-satunya tempat terbanyak terdapat batu saphire biru terang. Zarion memasukan kristal hitam ke dalam tugu batu itu. Mencoba menjaga nya hingga akhir hayat."


"Bagaimana kau tau?"


"Ayah yang menceritakannya. Dan legenda ini sudah ada turun temurun di pulau Saphire."


"Jadi tato ini?" tunjuk Abimanyu masih belum paham atas penjelasan Vin yang panjang lebar.


"Zarion mengabdi di pulau ini, menjaganya dengan simbol itu. Ia membuat simbol seperti ini dengan batu saphire di bawah pasir sana," tunjuk Vin ke hamparan pasir putih di depan mereka.


"Benar, kah?" Abimanyu masih tak percaya.


"Kau pikir apa alasan Kalla tidak bisa masuk? Batu saphire hanya perantara saja. Buktinya mereka tidak kepanasan saat melihat kalung yang kalian pakai, bukan?" Vin beranjak. Karena dirasa hari sudah siang.


"Jadi benar, kalau di bawah pantai ada batu saphire dengan simbol ini?" tanya Abi mengikuti Vin pulang.


"Kau gali saja sendiri kalau tidak percaya!"


Lorong waktu menjadi penghubung dua dunia ini. Zarion yang sudah membuktikan semua itu dan mencatatnya ke dalam sebuah buku. Dan buku itu ada di rumah John.


_____


"Vin! Di mana buku itu?!" tanya Abimanyu yang terus mengejar penjelasan lebih pada Vin. Sumber informasinya. John agak tertutup pada hal ini, membuat Abi sungkan bertanya langsung.


"Kau tanya saja pada ayahku, Bi. Aku, tidak tau!" kata Vin jengah.


Mereka masuk ke dalam rumah. Gio yang sedang menonton TV tampak acuh. Ia kesepian karena lawan debatnya tak ada di sini. John masih berkeliling.


"Biyu," panggil Ellea dari ujung tangga.


Abimanyu dan Vin mendongak ke atas. Gadis itu masih memakai piyama tidur denhan rambut berantakan. "Lihat! Kekasihmu sudah bangun. Sebaiknya kau melihatnya. Aku mau tidur!"


Abi menatap Ellea. Lalu mendekat. "Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Mau makan atau apa? Biar aku ambilkan," cetus Abi, menyematkan anak rambut Ellea yang berantakan di belakang telinga.


Suara Ellea membuat kedua tangan Abi, balas memeluknya. Memberikan sensasi nyaman pada gadis itu. "Ada aku, bukan? Tunggu, mau kubuatkan makan siang? Kau belum makan sejak semalam, Ell."


"Tidak perlu repot. Aku sudah memasak. Kalian makan saja. Sudah kusiapkan di meja makan," Shanum berjalan di belakang Abi dan melewati dua orang itu begitu saja.


____


Adi menyetir, sementara Elang memundurkan jok yang ia duduki ke belakang. Membuatnya lebih nyaman, untuk setidaknya memejamkan mata sejenak.


"Lang?"


"Hm?" Pria itu menutupi wajahnya dengan penutup mata milik Shanum yang tertinggal di dashboar mobil. Sinar matahari membuatnya sulit memejamkan mata sejak tadi. Kepalanya makin berat. Ia memang butuh istirahat.


"Kau lihat, kan, simbol di tangan Abi?"


"Kenapa?" tanya Elang tanpa membuka penutup matanya. Padahal ia tetap tidak bisa tidur juga. Setidaknya matanya akan terasa aman tanpa sengatan matahari untuk beberapa jam ke depan.


"Aku seperti pernah melihatnya."


"Benar, kah? Kau pasti bermimpi."


"Tidak, Lang. Aku yakin."


Tiba-tiba penutup mata itu dibuka Elang dengan cepat. Bayangan seseorang saat bertelanjang dadi terlintas di pikiran Elang. Karena dia memiliki simbol yang sama."Astaga, Di! Kau benar! Aku baru ingat. Bukan, kah, simbol itu mirip tato Arya? Yang ada di punggungnya?"


Adi melotot dan ingatannya seolah kembali. "Kau benar!"


"Jadi ... Bagaimana bisa Arya memiliki simbol itu di tubuhnya, Di?"


"Mana kutau?!" sinis Adi masih fokus pada kemudinya.


"Bukan, kah, kalian dekat? Kau tidak bertanya asal dan arti tato sahabatmu? Itu bodoh sekali, kawan! " ejek Elang.

__ADS_1


"Ternyata mulutmu mirip Gio kalau kuperhatikan, Lang."


Elang tertawa mendengarnya.


"Tapi, tato itu sudah lama ada di punggung Arya. Bahkan sejak awal aku bertemu dia."


"Kenapa semua orang seolah saling terhubung," gumam Elang, nampak berfikir keras.


"Bahkan bentuk dan warnanya sama! Benar, kan, Lang?" tanya Adi yang terus meyakinkan hal itu.


"Iya benar. Bedanya, milik Abimanyu berbentuk lebih kecil


Sementara Arya sebesar punggungnya."


"Kalau simbol itu ada di punggung Arya, mengapa ia begitu mudah dibunuh Kalla?"


Elang berfikir kembali. Membayangkan bagaimana cara Arya mati saat itu. "Mungkin mereka tidak menyentuk simbol di punggung Arya. Sementara kau lihat semalam, kan? Bagaimana Kallandra hancur karena tangan Abi?"


"Kau benar, Lang. Mungkin Arya tidak tau kalau simbol itu mampu membunuh Kalla?"


"Hm, kau benar. Aku yakin Arya tidak tau. Kalau ia tau, pasti dia sudah menceritakan pada kita, bukan?"


"Seandainya Arya saat itu tau, mungkin dia masih hidup sekarang," ucap Adi. Nyeri di dadanya kembali terasa. Kematian Arya benar-benar menyakiti dirinya.


"Sudahlah, Di. Ini sudah takdir. Kau tidak boleh seperti itu. "


Laju mobil makin dipercepat. Mereka sudah sampai di kota.


_____


"Pagi, Pak, " sapa Lian saat melihat bosnya datang bersama Adi.


"Pagi!" Elang hanya melirik sekilas Lian yang berdiri di belakang meja sekretaris. Terlalu beresiko untuk Shanum berada di kota, Elang merasa Shanum lebih aman ada di pulau. Walau tidak sepenuhnya benar. Tiba-tiba langkah Elang terhenti. Sebelum masuk ke pintu ruangannya, Elang berbalik menatap Lian yang terlihat aneh.


"Kau sakit?" tanya Elang. Wajah Lian terlihat pucat dengan lingkar hitam di matanya.


"Ti ... Tidak, pak."


Adi juga melihat Lian aneh. Ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan. Elang yang tidak percaya begitu saja, lantai mendekat ke Lian.


"Katakan, ada apa? Ada masalah apa, Lian?"


Lian menatap bosnya dan Adi bergantian. Sementara Adi menarik nafas panjang. Ia menatap koridor kantor dengan dahi berkerut.


"Lang, ada yang aneh. Kantormu ... Apa kau tidak mengendusnya?"


Elang baru menyadari bau Kalla yang sangat pekat di kantornya. Ia segera menatap Lian yang terlihat gugup.


"Kau siapa?!" tanya Elang lantang pada Lian.


"Saya Lian, pak. Apakah Pak Elang lupa?"


"Lalu kenapa kau terlihat aneh? Tidak seperti Lian yang selama ini kukenal!"


Elang menarik kerah baju Lian dan menariknya. Ia bahkan hampir mencekik gadis itu. Sebelum akhirnya Lian mengisyaratkan Elang untuk diam. Lian menunjuk ke pantry.


"To ... Toni, Pak," Lian berbisik di dekat telinga Elang. Adi juga ikut mendekat. Melihat sikap gadis itu aneh, membuat mereka berdua curiga. Terlebih Lian bukan Kalla.


"Toni siapa?"


"OB kantor. Kemarin saat di toilet lantai bawah saya ... Melihat dia berubah menjadi makhluk mengerikan. Ia membunuh Tika. Toni seperti menghisap tubuh Tika hingga habis, pak."


Elang dan Adi saling pandang. "Dan sekarang, Toni ada di ... Di pantry," tunjuk Lian ke arah kanannya.


"Kau yakin?"


Lian mengangguk cepat. "Bukan hanya Toni, tapi mereka semua. Semua orang di kantor ini. Mereka berubah." Tangis Lian tertahan. Ia benar-benar ketakutan.


Sementara Elang dan Adi bersiap. "Kau masuk ke ruanganku, kunci dari dalam, " suruh Elang.

__ADS_1


"Pantas kantormu berbau busuk, Lang. Rupanya hanya ada 1 manusia saja di sini!" sindir Adi. Ia mengambil senjata miliknya. Elang melepas dasi di lehernya.


___


__ADS_2