pancasona

pancasona
Part 35 Penyergapan


__ADS_3

"Siapa pemimpin mereka, Pa?" Tidak menjawab pertanyaan ku, Papa justru menarik tanganku lagi menjauh dari tempat tersebut. Kami semua bersembunyi di samping sebuah rumah yang berada agak jauh dari kerumunan orang - orang pedalaman di sana. Suasana mencekam, karena tiga orang yang sangat aku kenali di sana, sedang menjadi sandera, nyawa mereka berada di ujung tanduk.


"Kalian lihat di sana? Orang itu?" tanya Papa menunjuk seseorang yang hanya duduk saja sejak tadi, berada di tempat agak gelap dan hanya diam menyaksikan kejadian itu. Kak Bintang dipukul, dia tidak bisa melawan, karena kedua tangannya terikat di belakang tubuh. Begitu juga Tante Jean dan Tante Rani. Hatiku terenyuh melihatnya. Rasanya ingin aku tombak orang itu. Orang - orang yang menyakiti kawan - kawanku.


"Sebenarnya Papa di mana selama ini? Kenapa nggak pulang - pulang?" tanyaku yang benar - benar ingin tau keberadaan mereka selama ini. Pikiran buruk terus menggelayut saat mengetahui mereka hilang. Tapi nyatanya mereka malah ada di sini, bersama kami. Papa menarik nafas panjang, Om Gio dan Opa hanya waspada dengan keadaan di sekitar.


"Jadi kami memang sengaja menetap di sekitar sini. Kami penasaran dengan apa yang terjadi di tempat ini, karena ada hal aneh yang justru terhubung denganmu, Bil," jelas Papa dan otomatis membuatku terkesiap.


"Maksudnya ada hubungannya sama aku apa, Pa?"


"Mereka sengaja, ingin mendekati kita, terutama kamu!"


"Hah? Kok gitu?"


"Kamu ingat, apa yang terjadi pada Om Abimanyu?" tanya Opa Hans.


"Om Abi? Eum, iya aku ingat, dan Papa sama Om Gio juga udah cerita, Opa."


"Ini ada hubungannya dengan kejadian kala itu."


"Tunggu! Maksudnya gimana? Bukannya Azazil sudah mati, saat ledakan bersama Om Abi?"

__ADS_1


"What?! Azazil?" tanya Kak Roger menyeletuk. Kak Rayi menutup mulut Kak Roger, dia justru tidak banyak bicara dan hanya menyimak saja. "Lanjut, Opa," kata Kak Rayi sambil terus memperingatkan Kak Roger yang berada di sampingnya.


"Kematian Azazil menghidupkan satu ras baru. Ras ini memang ditugaskan bangkit saat Azazil musnah, mereka bernama Undead. Tugas mereka adalah melanjutkan misi Azazil tersebut, dan misi pertama adalah membunuh semua orang yang terlibat dengan kematian Azazil tersebut. Ada satu anggota Undead yang berada di tempat ini. Mereka berbaur dengan manusia dan mulai menebar kebencian, dan sekarang mereka sudah memulai perang ini. Pertama dengan membunuh Dewa. Satu persatu dari kita akan dia bunuh juga," jelas Opa Hans panjang lebar. Pernyataan itu membuat kami tersentak.


"Kamu ingat, apa yang kamu bilang ke Papa beberapa hari lalu?"


"Yang mana, Pa?"


'Ada yang mengikuti kamu selama ini." Aku lantas mengangguk. " Dia adalah Dagon! Dia salah satu anak buah Undead, yang pertama. Papa nggak tau, ada berapa anggota mereka, yang jelas kita harus membunuh Dagon terlebih dahulu. Dan dia," tunjuk Papa ke orang yang duduk di kegelapan tak jauh dari kerumunan itu, "Dia dirasuki Dagon, jadi dia adalah manusia seperti kita. Tugas kita mengeluarkan Dagon dari tubuhnya!"


Sebuah tugas yang cukup sulit rasanya. Mengeluarkan seorang iblis dari tubuh manusia? Wah, aku belum pernah melakukan hal itu. Jeritan Kak Bintang mengalihkan perhatian kami. Dadanya yang terekspose menjadi sasaran mereka. Pisau mulai mengukir di dada nya, tetesan darah mulai mengalir deras. Aku benar - benar tidak bisa tinggal diam. Aku ambil anak panah. Jika memang malam ini akan terjadi pertumpahan darah, aku rela mati demi mereka.


Anak panah melesat mulus tepat mengenai tangan orang itu. Pisau terlepas. Semua orang tengak tengok mencari asal anak panah tersebut. Aku berjalan ke arah mereka, tidak peduli panggilan Kak Rayi yang melarangku. Jika terlalu lama kami diam, Kak Bintang bisa tewas. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai hal itu terjadi.


Pria yang sejak tadi duduk di kegelapan, yang disinyalir pemimpin kelompok ini lantas beranjak dari duduknya. Dia bertepuk tangan pelan, seiring dengan langkahnya yang pelan. Anak buahnya yang lain lantas membungkukkan badan sebagai tanda hormat.


"Akhirnya kamu datang juga, Angelina?" tanyanya. Tentu aku bingung dipanggil seperti itu. Nama Angelina seolah sering sekali aku dengar sekarang. Hal itu membuatku penasaran. Siapa sebenarnya Angelina ini. Apakah wajah kami mirip? Tapi aku yakin, wanita bernama Angelina ini bukan wanita sembarangan, karena dia benar - benar menarik perhatian anak buah Azazil itu.


"Lepaskan teman - temanku! Kalau kamu memang mencariku, kenapa tidak langsung datang menemuiku, hah!" Aku kembali melangkah mendekatinya. Penasaran seperti apa wajah pria ini. Karena masih tertutup gelap.


"Tentu saja, karena aku ingin kau yang datang menemuiku. Aku ingin kau mati di sini!" ujarnya yakin.

__ADS_1


"Cih, sombong sekali ya anda! Aku tidak akan semudah itu kau bunuh! Camkan itu!"


"Benarkah demikian? Kalau begitu kita buktikan saja, bagaimana?" tanyanya menantang halus.


"Oke, lepaskan teman - temanku!" suruhku lagi. Papa menahan tanganku, mencegah agar aku tidak lagi berbuat nekat. "Pa, aku baik - baik saja. Bawa mereka pergi dari sini!" bisikku.


"No, Papa nggak akan biarkan kamu menghadapi dia seorang diri."


"Pa, dia cuma mencariku, bukan kalian."


"Dan kamu adalah anak Papa!" Aku diam, hatiku tersentuh sekarang.


"Oke, gini aja. Bawa mereka keluar dulu, nanti Papa balik lagi ke sini."


"Aku bakal di sini juga, Bil!" Kak Rayi ikut mendekat dan menarik keputusannya sendiri.


"Hei, kalian! Kenapa harus bingung siapa yang akan menghadapiku? Bahkan jika kalian semua melawanku pun, kalian belum tentu berhasil! Bawa teman - temanmu ini. Mereka tidak berguna!" Kak Bintang, Tante Jean, dan Tante Rani dilepaskan. Walau kondisi mereka cukup mengkhawatirkan saat ini.


Hampir ada luka di sekujur tubuh mereka. "Kak, sebaiknya Kak Bintang diobati dulu," pintaku ke Kak Rayi. Dia mengangguk lalu memapah Kak Bintang menjauh. Tante Jean dibantu Papa karena salah satu kakinya sepertinya terluka.


"Tante nggak apa - apa?" tanyaku pada Tante Rani. Hanya Tante Rani yang minim luka, hanya ada beberapa lebam di wajahnya. Tapi tidak separah yang lain. Dia menggeleng, tapi tiba - tiba perutku sakit. Saat aku menyadari kalau Tante Rani menusukku dengan sebilah pisau. "Ugh!" Aku menahan sakit bercampur bingung.

__ADS_1


"Nabila!" jerit Papa. Aku tidak lagi dapat melihat sekitar dengan fokus, tubuhku lemas. Papa menangkap tubuhku. Om Gio yang ikut berlari mendekat, mendorong tante Rani dengan kasar. "Lu gila! Rani!" jeritnya penuh kekesalan.


Opa dan Kak Roger menembak orang - orang tersebut, mereka menghindar, di saat itulah Papa membawaku pergi dari sana.


__ADS_2