pancasona

pancasona
Part 204 Gerbang gaib


__ADS_3

Masjid ini akan menjadi tempat menginap mereka sementara. Nayla dan Ellea bahkan sudah membuat tempat tidur darurat dengan menggelar kasur lantai dan kantung tidur yang mereka bawa di caravan. Cuaca memang panas, maklum saja kalau mereka sedang berada di tengah padang pasir. Keadaan bangunan ini yang selalu sepi tanpa adanya kegiatan lagi, membuat mereka lebih nyaman,dan seolah menganggap rumah sendiri. Mereka membuat perapian untuk memasak. Kopi dan teh kini tersaji untuk menemani malam mereka yang panjang di Timbuktu. Jagung, sosis, dan aneka barbeque juga mereka buat untuk menu makan malam mereka nanti. Walau mereka sedang melaksanakan misi, tapi yang terlihat justru mereka seperti sedang rekreasi. Suara riuh terdengar dari luar tembok masjid itu. Tanpa mereka sadari ada beberapa pasang mata yang mengintai mereka. Orang orang itu mengenakan penutup kepala hingga menutupi sebagian besar wajahnya, hanya kedua bola matanya saja yang terlihat. Bersembunyi dan terus mengawasi pergerakan mereka.


"Setau gue, suku Tuareg itu hidupnya nomaden. Bukan tipe suku yang akan menetap di sebuah daerah untuk waktu yang lama," tutur Elang, sambil menikmati kopi yang masih hangat.


"Tapi menurut catatan sejarah memang mereka suku yang pertama datang ke daerah ini. Dan sempat menguasai tempat ini, sebelum ada suku suku lain yang mulai masuk," tambah Gio yang masih lahap memakan barbeque yang baru saja matang. Nafsu makannya cukup meningkat hari ini.


"Jadi kita yakin kalau malam ini menyusup ke tempat mereka?" tanya Arya.


"Yah, nggak ada salahnya, kan? Kita harus mencoba segala kemungkinan. Lagi pula masuk akal juga kalau kunci itu disembunyikan suku Tuareg. Mungkin mereka tombak sejarah kota Timbuktu?" Analisis Wira cukup dapat diterima mereka.


"Terus kami bagaimana? Apa tugas kami?" tanya Nayla, ikut menggerombol di antara para lelaki yang tengah berdiskusi di tengah makan malam sederhana mereka. Serempak kelima pria itu langsung melirik para gadis, ada yang tidak menanggapi, lantas berdiri dan mencari makanan lain yang masih ada di panggangan, ada yang malah balik melirik ke Abi dan Arya, karena dua pria itu yang lebih berhak memutuskan.


Abi berdeham, sambil membetulkan posisi duduknya menghadap kedua wanita itu. "Lebih baik ibu sama Nayla di sini saja. Kita belum tau apa yang akan kita hadapi di sana, lagi pula Abi mohon ke ibu untuk menjaga Ellea. Sepertinya Ellea kena radang tenggorokan dan akhirnya demam."


Nayla melirik ke menantunya, "kamu sakit?" tanyanya sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Ellea. Ellea hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, ia juga berusaha menepis tangan Nayla yang masih saja memeriksa suhu tubuhnya.


"Enggak kok. Aku nggak apa apa. Masuk angin aja mungkin. Biyu nih terlalu khawatir," elaknya dengan memasang tampang yang dibuat buat. Nayla yang tidak sepenuhnya percaya langsung memberikan tatapan menyelidik ke wanita di depannya dan beralih ke putranya. "Nggak mungkin hamil, kan? Cepat banget?!" seru Nayla dan berhasil membuat pengantin baru itu terkejut.


"Ah, enggak! Kan kami baru menikah kemarin. Masa udah hamil aja," timpal Ellea. Nayla masih diam memperhatikan Ellea yang terlihat salah tingkah.


"Yuk, kita berangkat sekarang. Hari sudah makin malam." Obrolan ibu mertua dan menantu akhirnya terpotong kalimat Arya. Mendengar itu para lelaki langsung beranjak dan bersiap untuk menyusup ke kediaman suku Tuareg.


Mereka mempersiapkan semua dengan matang, dari peralatan yang akan dibawa, pakaian yang bisa menyamarkan keberadaan mereka, sampai senjata untuk berjaga jaga. Mereka tidak tau apa yang akan dihadapi di sana, jadi bagaimana pun juga, tentu harus siap dengan semua resiko yang ada.


Ellea memeluk Abimanyu erat. Memberikan doa serta harapan agar suami dan semua rekan rekan mereka selamat dan segera mendapatkan apa yang mereka cari.


Nayla dan Arya juga saling berpamitan. Seolah akan mengikuti sebuah peperangan, Nayla merapikan pakaian Arya dengan tatapan pilu. "Harus pulang dalam keadaan hidup, jaga juga Abimanyu!" titah Nayla yang ditanggapi dengan senyum tipis di bibir Arya. Pria itu lantas mengecup dahi kekasihnya sambil mengelus pipi lembut. "Kamu juga hati hati. Tetap waspada," ujar Arya balik menasehati.


Satu persatu mulai keluar dari pintu gerbang dengan mengendap endap. Sambil memeriksa sekeliling mirip pencuri. Jarak menuju ke kediaman suku Tuareg cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Semakin malam, udara semakin dingin karena angin yang berhembus lebih kencang dari saat siang hari. Kota Tuareg yang awalnya sepi, kini jauh lebih sunyi saat malam tiba. Bahkan tidak ada lagi aktifitas penduduknya saat hari sudah mulai gelap.


Setelah para pria pergi, Nayla dan Ellea kembali masuk ke dalam. Tetapi sebelum masuk Nayla merasakan ada sesuatu di dekatnya, sampai akhirnya Ellea mengajak Nayla masuk ke dalam dan melupakan firasatnya barusan. Dua wanita itu hanya duduk di dekat perapian yang nyala apinya sudah padam sejak tadi, hanya meninggalkan kepulan asap sisa pembakaran yang tidak begitu pekat. Dua wanita itu duduk, sambil menatap langit. Jutaan bintang bertabur indah di atas mereka. Suasana yang sunyi justru membuat dua wanita tersebut merasa lebih baik. Nyaman. Karena terbiasa menjauh dari hiruk pikuk kehidupan kota. Mereka semua mulai menjalani kehidupan lain, setelah mengetahui tentang semua yang terjadi sekarang. Nayla yang awalnya seorang mahasiswi dengan kehidupan normal, kini mulai menjauh dari semua kegiatan kuliahnya. Apalagi setelah ingatannya pulih. Yang ada di pikiran nya hanya terus mencari kunci kunci tersebut. Ia berfikir, setelah semua usai, maka kehidupannya akan kembali normal.


Di sisi lain, Ellea yang beberapa kali mengalami mimpi yang ia tafsirkan sebagai prediksi masa depan, membuat dirinya terlihat makin dewasa dan tenang. Walau hampir setiap malam, ia selalu bermimpi hal yang sama, dan membuat tidurnya tidak pernah nyenyak lagi.


"Sebentar!" seru Ellea, sambil mengamati sekitar mereka.


"Kenapa?"


"Kok suasana ini nggak asing, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


"Nggak asing? Maksudnya kamu pernah mengalaminya, Ell. De javu?"


Ellea diam sambil berfikir, mengingat ingat kembali kenangan apa yang terlewat, atau apa pun tentang tempat yang kini mereka datangi. "Bukan de javu. Karena ini pertama kalinya aku datang ke sini, Nay. Tapi suasana ini nggak asing. Aku merasa pernah merasakan sebelumnya."


"Serius kamu? Di mana?"


Dan sontak, sekelebat bayangan mulai kembali di memori otaknya. Walau terlihat samar, tapi Ellea yakin kalau situasi dan keadaannya sama seperti yang sedang ia alami sekarang. Satu persatu bayangan dalam ingatannya muncul. Semua sama. Sama seperti yang sudah mereka jalani kemarin. Mulai dari perjalanan mereka ke tempat ini, menginap di salah satu rumah ibadah, sampai saat mereka melepas kepergian para pria untuk menyusuri kediaman suku Tuareg.


Tiba tiba Ellea panik. Dia berdiri sambil memeriksa sekitarnya sambil bersembunyi. Hal ini membuat Nayla kebingungan. "Kenapa sih, Ell?" tanya Nayla sedikit mengeraskan kalimatnya. Ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan Ellea yang terasa masih menggantung sejak dia bilang, Suasana yang sedang mereka alami terasa tidak asing.


Ellea berbalik menghadap Nayla. "Nay, gawat. Kalau apa yang di mimpiku benar. Maka kita dalam bahaya. Para laki laki juga!" seru Ellea sambil berbisik. Namun netranya liar memeriksa sekitar mereka. Ellea lantas menarik Nayla masuk ke dalam dan menutup pintu. "Kenapa sih?!" tanya Nayla makin bingung melihat sikap Ellea.


"Sebentar lagi, akan ada orang yang datang ke sini. Mereka bakal membawa kita," bisik Ellea dengan sorot mata ketakutan.


"Membawa kita? Ke mana?" tanya Nayla ikut panik. Bayangan akan datangnya orang orang jahat, kini mulai bergerumul di pikirannya.


"Nggak tau. Yang jelas, kedatangan kita nggak diharapkan oleh beberapa orang."


"Pantas. Aku merasa ada yang mengintai kita sejak tadi di luar."


"Duh, gimana dong. Apa kita peringatkan yang lain?"


"Kalau memang yang kamu bilang benar, yang harus kita cemaskan justru diri kita, Ell. Kita cuma berdua, tapi coba kamu hubungi Abi. Suruh mereka hati hati," tukas Nayla.


Ellea mengangguk, lalu mengambil benda pipih di dalam tasnya. Beberapa kali ia melakukan panggilan ke nomor Abimanyu, tetapi jaringannya selalu sibuk. "Duh, nggak tersambung!" gerutu Ellea sambil mondar mandir ke sana ke mari. Sementara Nayla memeriksa jendela dan melihat ke luar. Matanya awas dalam setiap gerakan yang ada di luar. Sampai akhirnya apa yang dicemaskan Ellea benar benar terjadi. Nayla melihat sekelebat bayangan orang orang di luar. Sikap mereka aneh, mirip penjahat yang ada di film film. Nayla menarik tubuh Ellea mendekat padanya. Mereka bersembunyi dari incaran para tamu tak diundang di luar.


"Gimana dong," bisik Ellea agak panik.


"Kita harus menghindari mereka. Jumlah mereka cukup banyak, Ell. Sekali pun kita melawan, aku yakin, kita nggak bisa mengalahkan mereka berdua saja!" tutur Nayla putus asa.


"Kita lewat jalan lain saja?" tanya Ellea sambil menunjuk ke arah ruangan lain di belakang mereka. Nayla mengangguk, lalu mereka pergi ke ruangan lain yang sebelumnya memang belum mereka telusuri sejak datang ke tempat ini.


Rupanya tempat ibadah ini cukup luas dengan beberapa ruangan lain di dalamnya. Suasana memang cukup gelap karena di sini jarang ada aliran listrik. Apalagi untuk bangunan terbengkalai, aliran listriknya sengaja diputus. Mereka melewati beberapa ruangan kosong hingga sampai ke ujung ruangan. Sebuah pintu menjadi tujuan mereka sekarang. Diyakini akan membawa mereka keluar dari tempat ini dan terbebas dari orang asing di luar sana.


"Terkunci!" pekik Ellea saat menekan gagang pintu.

__ADS_1


"Aduh!" gerutu Nayla.


Bunyi suara keras terdengar dari depan. Pintu yang tadi mereka kunci sudah dibuka paksa, dan tentu membuat dua wanita itu makin ketakutan.


"Kita harus gimana, Nay!" rengek Ellea. Nayla mencari jalan keluar lain, sampai akhirnya dia menemukan sebuah pijakan yang berada di tembok keliling bangunan. Di bagian belakang bangunan ini, ada sebuah lahan kosong yang dulunya taman. Karena ada sisa sisa pot bunga yang sudah layu dan beberapa justru kosong dengan timbunan pasir yang terbawa angin.


"Naik ke sana, Ell!" tunjuk Nayla ke sebuah kotak besar yang berada di dekat tembok. Ellea segera menuruti perkataan Nayla, ia naik ke kotak besar itu yang akhirnya mampu mencapai atas tembok, dia mulai melompati tembok itu untuk bisa keluar. Setelah Ellea berhasil keluar, kini giliran Nayla. Sementara Ellea menunggu wanita itu turun, ia hanya melihat ke Nayla sambil menatapnya cemas. Ia takut jika pelarian mereka akan gagal dan Nayla yang masih memanjat tertangkap oleh rombongan orang orang yang kini sudah merangsek masuk ke dalam.


Tapi tiba tiba mulut Ellea dibekap dari belakang. Ia meronta sambil melihat ke belakang. Ternyata ada beberapa orang yang kini berada di belakang mereka. Mereka berhasil menangkap Ellea dan membuat Nayla tidak bisa berkutik. Mereka akhirnya pasrah di seret pergi dalam usaha pelarian tadi.


Kedua wanita itu dibawa ke tempat lain, berjalan di antara rumah rumah dan bangunan yang terbengkalai lainnya. Beberapa orang yang menggiring mereka nampak asing. Mereka memiliki senjata api dan membuat Nayla dan Ellea tidak mungkin bisa melawan. Kedua wanita itu pasrah dan menurut akan dibawa ke mana.


Tapi di tengah jalan ada seseorang yang menghadang mereka. Otomatis mereka berhenti, salah satu dari orang yang membawa Nayla dan Ellea berteriak dalam bahasa yang tidak mereka mengerti. Hal ini memberikan tanda tanya besar dalam benak Ellea dan Nayla. Dari suara pria di depan mereka, nampak asing. Pria itu bukan salah satu dari teman teman mereka.


"Siapa dia, ya?" tanya Nayla berbisik ke Ellea yang berdiri di dekatnya. Ellea menggeleng, ia juga sama tidak mengerti seperti Nayla, karena dia memakai penutup wajah seperti kebanyakan warga kota ini.


Saat salah satu dari gerombolan penjahat itu menyerang pria di depan, kedua wanita itu menyingkir. Dan terjadilah pertempuran sengit. 5 orang melawan 1 orang. Sebuah jumlah yang tidak seimbang, namun hebatnya pria penolong mereka sungguh tidak dapat diragukan lagi kemampuannya. Dalam beberapa menit saja, kelima orang itu tumbang.


Ia kini berdiri di tengah musuh musuh yang sudah tak sadarkan diri. Mendekat ke dua wanita itu sambil perlahan membuka penutup wajahnya.


Dalam gelapnya malam, dan hanya dibantu dengan sinar bulan, kini mereka dapat melihat wajah penolong mereka. Ellea dan Nayla terkejut. "Alan?!" jerit mereka bersamaan.


Alan tersenyum lebar sambil merapikan senjata yang ia pakai untuk melawan para musuh tadi.


"Kamu ngapain di sini?!" tanya Nayla heran bercampur curiga melihat pria itu ada di tempat ini bersama mereka.


"Kamu membuntuti kami?!" tebak Ellea selanjutnya.


Alan menarik nafas panjang, menatap sekitar mereka, lalu mengajak dua wanita itu pergi. "Nanti aku jelaskan di jalan, kita harus tolong teman teman kalian!"


"Tunggu! Siapa mereka?" tunjuk Nayla ke orang orang yang hampir menculiknya tadi.


"Mereka suku Mora. Militan yang merusak kota ini. Mereka juga mengincar kunci yang kalian cari," jelas Alan sambil terus berjalan lebih dulu di depan.


"Alan! Kamu itu siapa sebenarnya! Kenapa kamu tau soal ... Kunci?! Waktu di rumah itu, kamu bohong! Kamu tau siapa kami dan apa tujuan kami, kan?!" tegas Ellea sedikit menaikkan nada bicaranya.


Alan berhenti berjalan, ia lantas berbalik menghadap kedua wanita yang ada di belakangnya. "Yang jelas, aku ada di pihak kalian. Aku selama ini mengawasi kalian dan membantu saat kalian kesulitan, tanpa kalian tau!"


"Dan kenapa kamu sebaik itu? Atau kamu juga menginginkan kunci kunci itu? Iya?"


"Enggak, Nay. Aku ... Suruhan salah satu angel."


"Javaid. Setiap malam dia mendengar doa salah satu penghuni surga, agar kami melindungi kalian."


"Penghuni surga?"


"Teman kalian. Adi!"


Kedua wanita itu sontak melotot, hati mereka terasa meleleh mendengar nama itu. Adi, nama orang yang sangat mereka rindukan kembali terucap dari mulut orang asing.


"Adi?"


"Iya, dia salah satu penghuni surga. Tetapi beberapa waktu lalu setelah mendengar kabar kalian, dia cemas. Dan memohon agar kami membantu kalian."


"Jadi kamu juga seorang angel?"


"Bukan, aku cuma maid of archangel. Posisiku tidak setinggi itu. Yah, kasarannya aku ini tukang pukul mereka," jelas Alan sambil menatap langit.


Nayla dan Ellea saling tatap. Mereka akhirnya percaya kata kata Alan. Dan melanjutkan perjalanan untuk menyusul teman teman mereka yang lain.


"Jadi yang tadi itu Suku apa?"


"Mora," sahut Alan datar, sambil terus berjalan.


"Bukan Tuareg?"


"Beda. Di sini banyak kelompok atau suku seperti yang kalian bilang. Dan setiap suku nggak selamanya hidup damai. Walau mereka berdampingan."


"Mora? Jahat? Kenapa mereka menculik kami?"


"Karena mereka sama seperti kalian, mengincar kunci kunci itu. Mereka pemuja iblis, dan ingin membangkitkan raja iblis."


"Eum, ngomong ngomong, tujuan kami mengumpulkan 10 kunci itu juga sepertinya sama seperti mereka," jelas Nayla pelan.


"Iya. Aku tau. Saat kunci itu terkumpul, maka pintu gaib itu terbuka, tugas Nephilim terakhir membunuhnya. Dan menutup kembali pintu itu dengan menghancurkan pintu beserta kunci kuncinya."

__ADS_1


"Sebentar, Nephilim terakhir? Itu ... Ellea, kan?" tanya Nayla berhenti berjalan, menghalangi Alan.


Alan melirik ke Ellea yang terlihat gugup. "Iya, dia. Dia yang akan membunuh raja iblis itu."


"Tapi bagaimana caranya?"


Alan melirik kembali ke Ellea. Ellea justru menghindari kembali tatapan mata Alan. "Dengan meledakannya."


"Meledakkan? Ell? Kamu tau gimana caranya?" Nayla kini beralih menatap Ellea.


"Kita pikirkan nanti, Nay. Sebaiknya kita temui teman teman yang lain, perasaanku nggak enak," elak Ellea sambil berlalu meninggalkan mereka. Nayla justru merasakan perasaan tidak enak melihat sikap Ellea. Alan kemudian mengekor pada Ellea, diikuti Nayla yang masih menyisakan banyak pertanyaan di kepalanya.


"Lan, kunci itu benar ada di tangan suku Tuareg?" tanya Ellea sambil mempercepat langkahnya.


"Iya, memang mereka yang menyimpan. Tapi, nggak mudah untuk membujuk mereka untuk memberikan kunci itu. Percayalah. Kalian harus merebutnya untuk mendapatkan benda itu."


"Masih jauh, Lan?" tanya Nayla yang berhasil menyusul langkah mereka.


"Di ujung sana. Itu kediaman mereka. Hati hati, mereka cukup kuno dan tidak suka orang asing!" nasehat Alan.


Mereka mulai mendekati sebuah tembok keliling yang tertutup rapat. Di dalamnya terlihat atap yang menjulang tinggi pertanda bangunan di dalamnya cukup besar. Walau bentuknya dan warnanya tetap sama seperti yang lain.


"Gimana cara kita masuk? Pasti pintunya dijaga!" bisik Nayla.


"Gampang." Alan memegang pindah kedua wanita itu. Dan tiba tiba mereka sudah berada di balik tembok tersebut. Mereka berhasil masuk.


"Sembunyi!" bisik Alan sambil berlalu ke semak semak, Nayla dan Ellea otomatis mengikuti Alan, saat tiba tiba ada dua orang yang melintas.


"Kira kira mereka udah masuk ke dalam belum, ya?" bisik Ellea.


"Sepertinya sudah." Alan segera berjalan memutar mencari jalan masuk ke dalam.


Sampai di sebuah pintu yang ternyata terkunci, membuat Alan melakukan teleportasi, lagi. Dan dengan mudah mereka sudah masuk ke dalam. Dan tepat, di mana semua orang ada di sana. Teman teman mereka sedang dalam keadaan terikat, wajahnya babak belur.


"Aw, aw. Kita salah masuk," kata Alan sambil mengangkat kedua tangannya saat sebuah samurai berada di depan jantungnya.


Ellea mengikuti Alan, karena dilehernya juga sudah ada sebuah belati.


"Masa maid archangel takut pedang," ejek Nayla sambil meletakkan tangan di belakang kepalanya.


Alan melihat ke langit langit, dan ada sebuah pentagram yang membuat dirinya melemah. "Pantesan! Sorry, aku nggak bisa bantu," katanya menjelaskan arti gambar di atas.


Hanya dalam beberapa detik, bumi terasa bergetar. Tembok bergerak seperti ada gempa di sekitar mereka. Semua orang sedikit panik. Berdua lari, tapi mereka masih menahan diri. Langit langit retak, membuat pentagram di atasnya rusak. Sampai akhirnya ada sebuah cahaya yang datang dari atas. Dan turun ke tengah ruangan.


Begitu cahaya itu redup, ada seseorang yang berdiri di sana, dengan dua sayap besar di punggungnya. "Javaid," gumam Alan dengan smirk kemenangan.


Pria dengan tubuh tinggi besar, otot bahunya menonjol, sorot matanya tajam bagai burung elang, ditambah kulitnya yang berkilau seperti bubuk mutiara muncul. Ia menatap tajam satu persatu orang di dalam ruangan ini. Para suku Tuareg mundur. Meletakkan senjata mereka dan bersujud.


"Apa apaan ini?" tanya Javaid dengan suara berat, mengerikan. "Lepaskan mereka!" suruhnya menatap salah satu suku Tuareg yang berpenampilan lebih berwibawa yang tengah duduk di sebuah kursi kebanggaannya. Ia sontak menyuruh anak buahnya untuk melepaskan Abi dan teman temannya.


"Mereka suruhan saya! Penuhi apa yang mereka inginkan!" Javaid tampak dingin dan datar. Membuat semua orang bergidik ngeri melihatnya. Ia berjalan mendekat ke Wira. Menatapnya lekat lekat. "Apa kubilang? Saat kau bersama mereka, kau menjadi lemah!" Javaid lantas meletakkan telapak tangannya di dahi Wira. Sinar terang kembali terlihat. Dan bayangan Wira terlihat menawan dengan dua sayap besar yang sama seperti Javaid. "Tugasmu selesai. Kita pulang!" kata Javaid lalu kembali terbang ke atas. Menembus Langit langit.


Wira merasakan kemampuannya kembali. Ia menatap semua orang di ruangan ini sambil tersenyum. Tanpa sepatah katapun, ia mengikuti jejak Javaid kembali ke langit.


Alan sebagai perantara mereka meminta kunci yang sejak tadi mereka incar. Dan otomatis para suku Tuareg tidak bisa menolak keinginan Alan. Kunci sudah ada di genggaman mereka. Walau dengan bayaran, Wira tidak lagi berjuang bersama mereka.


"Yuk, balik! Jangan kelamaan di sini, takutnya mereka berubah pikiran," bisik Alan setelah mendapat kunci tersebut.


Mereka pun pergi dari tempat itu, kembali ke tempat asal mereka. Karena malam ini juga, mereka akan pergi dari Timbuktu. Tidak mau mengambil resiko, berlama lama di tempat itu, karena tidak ada satu pun orang yang bisa mereka percaya.


Kini barang barang sudah masuk ke caravan. Alan mulai berpamitan pada mereka satu persatu.


"Kamu nggak ikut kami? Setidaknya sampai ke bandara atau tempat yang lebih baik, mungkin?" tanya Nayla.


"Nggak, Nay. Aku punya cara untuk pergi. Dan tugasku selesai. Ah, iya, langit langit tadi, itu salah satu gerbang gaib menuju langit. Jadi kalau kalian mau bertemu Wira dengan cepat, bisa ke sana."


"Oh, tapi sepertinya kami akan mencari cara lain jika membutuhkan Wira," jelas Gio yang tidak menyukai tempat ini.


"Jadi karena itu, Javaid dikenal oleh Tuareg?" tanya Abimanyu. Alan mengangguk lalu menyalami mereka satu persatu.


Hingga saat tiba di depan Ellea, ia hanya tersenyum iba. "Kamu yakin, siap dengan konsekuensinya, Ell?" tanya Alan berbisik.


Ellea mengangguk, "hati hati di jalan. Semoga kita bertemu lagi."


Alan menarik nafasnya berat. "Kamu wanita hebat."

__ADS_1


Ia lalu menggenggam tangan wanita itu erat. Dan mulai melambaikan tangan hendak pergi. Alan berjalan menjauh, tidak ada yang tau ke mana tujuannya. Yang jelas, dia sudah memiliki tugas lain. Begitulah posisinya di bumi. Dia adalah tukang pukul angel. Begitu dia menyebutnya.


Abi mendekat ke Ellea, memeluk pinggang istrinya dengan tatapan penuh cinta. Ellea menatap suaminya dengan tatapan bahagia.


__ADS_2