pancasona

pancasona
Part 150 Sudut gelap kehidupan


__ADS_3

Tubuh Maya perlahan kembali normal. Ia kembali menjadi manusia seutuhnya, tepat saat sinar mentari muncul dan mengenai wajahnya, yang menerobos melalui celah-celah lubang ventilasi di dekatnya. Gio yang sudah tertidur sejak beberapa jam lalu, mulai menggeliat saat Abimanyu membangunkannya. "Paman, pindah ke kamar aja sana," suruh Abi. Ellea yang masih memakai piyama tidur, langsung bergegas mendekat ke Maya. Ia menepuk pipi gadis itu pelan. "May, Maya ... Kamu nggak apa-apa?" tanya Ellea. Ia belum berani melepaskan ikatan yang menjerat kaki dan tangan Maya, hanya saja sumpalan di mulut Maya sudah ia hempaskan jauh-jauh. Kondisi Maya kacau, walau sejauh ini ia terlihat baik-baik saja tanpa luka apa pun.


Maya mengerjap, ia juga mengerang karena merasakan tubuhnya tidak sebebas biasanya. Saat kedua matanya terbuka, ia melihat Ellea duduk di sampingnya, dan ukup terkejut juga saat menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat tali yang cukup kencang. "Kak, aku kenapa? Kok diiket gini?" tanyanya.


Ellea menoleh ke Abimanyu, meminta persetujuan untuk membebaskan gadis itu. Abimanyu mengangguk dan akhirnya dengan cepat Ellea membuka ikatan Maya. Maya masih terus kebingungan, sambil memperhatikan rumah Abimanyu. "Kok aku di sini? Aku kenapa, Kak?" tanya Maya masih dengan tampang polos bercampur kebingungan.


Ellea memapah Maya dan membantunya duduk di kursi meja makan. Vin dan Allea juga sudah turun dari kamar mereka. Gio yang hendak tidur, alhasil mengurungkan niatnya, karena melihat Maya sudah sadar membuat rasa kantuknya mendadak sirna.


Semua orang berkumpul di meja makan, duduk di kursi yang memutari meja. Belum ada makanan apa pun yang tersaji untuk pagi ini, karena kini yang lebih penting adalah menanyakan bagaimana kondisi Maya dan memberitahukan padanya atas apa yang terjadi semalam. Di sebelah Maya, sudah ada diapit Ellea dan Allea. Ellea memegang tangan Maya sambil terus menatapnya iba. Ia memang sangat tidak menyangka jika hal ini terjadi pada gadis sebaik Maya. Apa yang akan terjadi, jika Maya tau kalau kini separuh tubuhnya bukan lagi manusia seperti sebelumnya.


"May, kamu ingat kejadian semalam?" tanya Abimanyu, datar. Maya menatap pria di depannya, lalu beralih ke satu persatu wajah orang-orang yang duduk dengan tatapan mata mengarah padanya.


"Ingat. Aku, Kak Ellea dan Kak Allea pergi ke air terjun, terus kami lihat bunga edelweis di sana dan ngambil bunga itu sampai kami kemalaman. Pas pulang, ternyata kami dengar suara aneh itu, Bang. Terus ... kami ditolong kakak cantik yang ada di home stay, terus ...." Maya terus berusaha mengingat, mereka semua diam sambil terus menyimak. Tapi Maya lantas menggeleng. "Terus nggak inget lagi," katanya menutup penjelasan darinya.


Abimanyu menarik napas panjang, menatap Vin dan Gio bergantian. Sementara Ellea menggenggam erat tangan Maya, dan Allea mengelus punggung gadis itu. Semua berusaha menunjukkan rasa simpati yang terselebung kegelisahan. Kebingungan dan kecemasan.


"Kok aku diiket?" tanya Maya lagi.


"..."


"Kak?" Maya menoleh ke Ellea dan Allea, meminta jawaban. Ellea menatap Abimanyu, dan pemuda itu mengangguk. Ellea memejamkan mata sejenak, "May, jadi gini. Semalam ...." Ellea menceritakan semua kejadian itu sejak Maya masuk ke dalam home stay hingga alasan kenapa dia diikat sampai pagi.


Bulir bening air mata turun dari kelopak mata Maya. Ia menggeleng cepat sambil menutup mulutnya. Menerima kenyataan pahit kalau dirinya kini bukan lagi dirinya sepenuhnya. " Nggak mungkin, Kak. Pasti bohong, kan? Kak? Bang? Om?" Maya terus berusaha mencari jawaban yang ia inginkan. Tapi mereka justru diam dengan terus menatap Maya iba.


"Kami sedang mengusahakan yang terbaik buat kamu, May. Kamu jangan menyerah, ya," hibur Allea. Namun tangisan Maya justru makin kencang dan menyayat hati. Mereka bingung harus menghiburnya dengan cara apa. Karena apa pun yang akan dikatakan, tidak akan merubah keadaan. Maya akan tetap berubah menjadi manusia serigala jika malam hari.


Suara mesin mobil mengalihkan perhatian mereka semua. Rain muncul bersama Marchel dengan tergesa-gesa. Abi lantas beranjak untuk menyambut dua karyawannya itu. Pasti ada yang tidak beres, hingga mereka muncul sepagi ini, di rumahnya. Pasti juga bukan masalah cafe. Dan perasaannya tidak enak.


"Ada apa?" tanya Abi tanpa basa basi.


"Maya di sini, Bang?" tanya Rain dengan wajah pucat dan gemetaran. Abi mengerutkan kening, lalu menoleh ke dalam rumahnya. "Iya, semalam dia nginap di sini. Kenapa?"


"Jadi gini, Bang. Semalam ada keributan di rumah Maya, tetangga pikir orang tua Maya sedang bertengkar. Tapi pagi tadi salah satu tetangga melihat kalau pintu rumah Maya terbuka lebar, dan saat mereka masuk ke sana ... orang tua Maya meninggal, Bang," jelas Rain dengan berbisik. Ia tidak ingin berita ini langsung di dengar oleh Maya sendiri.


"Apa?!" pekik Abimanyu dengan menahan emosi.

__ADS_1


"Kondisinya tercabik. Sama seperti mayat-mayat yang selama ini menggemparkan desa," tambah Marchel.


Tentu saja kedatangan dua orang pemuda itu mendapat perhatian dari yang lain. Mereka keluar dan ingin tau ada masalah apa atau berita apa yang Rain dan Marchel bawa sepagi ini.


"Kenapa, Bi?" tanya Gio sambil menatap dua pemuda yang masih berdiri di teras. Mereka berdua justru menundukkan kepala, takut dan cemas karena telah membawa berita duka ini.


"May, kita pulang, yuk," ajak Abimanyu tanpa menjawab pertanyaan Gio barusan.


"Bang, ada apa?" tanya Maya yang melihat gelagat tidak enak dari wajah Abimanyu apalagi ajakan itu terkesan pemaksaan.


"Nggak apa-apa. Kita pulang dulu aja, Abang antar." Abi masuk ke dalam hendak mengambil kunci mobil, tapi Maya menahan tangan Abi meminta penjelasan lebih.


"Nggak mungkin nggak ada apa-apa. Pasti terjadi sesuatu, kan, Bang?" desak Maya dengan terus memberondong pertanyaan yang jawabannya sangat sukar di utarakan oleh Abimanyu. Maya tidak gentar, ia bertanya pada Rain dan Marchel. "Bilang! Ada apa!" jerit Maya sambil menggoyang-goyangkan tangan rekan kerjanya itu.


"Orang tuamu, May," sahut Rain yang tidak sanggup menyelesaikan ucapannya. IA terus menundukkan kepala, karena ini terasa berat baginya.


"Kenapa?!" desak Maya.


"Meninggal." Akhirnya bagian akhir di selesaikan oleh MArchel, dan mampu membuat tubuh Maya luruh ke lantai. Ia menjerit dengan tangisan yang tak kalah kencang daripada mendengar kabar kalau dirinya adalah werewolf. Baginya kematian kedua orang tuanya sangat tidak bisa ia terima. Karena hanya mereka yang Maya punya. Ia sudah tidak punya sanak saudara lain lagi.


Ellea dan Allea tidak mampu membendung tangis mereka. Ellea segera berhambur memeluk Maya yang sudah terduduk di lantai begitu saja. Ellea terus memeluk Maya, walau ia terus mendapat perlawanan dari gadis itu. Ellea tau kalau Maya sangat terpukul saat ini. Ini sungguh berat, dan tak sepantasnya dipikul oleh gadis sebaik Maya.


Rumah duka tampak ramai. Jenazah orang tua Maya segera dimakamkan siang ini juga. Desas desus kematian mereka yang tidak wajar membuat keadaan makin tidak kondusif. Maya terus diam, tapi air matanya tidak pernah berhenti mengalir. Matanya sudah bengkak dengan wajah yang merah. Beberapa tetangga menyalaminya sebagai ucapan bela sungkawa, Maya hanya diam tanpa merespons apa pun pada mereka. Terpaksa Ellea dan Allea yang mewakilinya.


Di pemakaman, kedua orang tua Maya di makamkan bersisian. Setelah pengantar jenazah kembali ke rumah masing-masing, Maya masih duduk di makam orang tuanya tanpa mengucapkan apa pun. Tatapan matanya kosong dan benar-benar membuat orang yang menatapnya iba. Yudistira mendekati mereka, bersamaan dengan Rendra yang hadir terlambat.


"Aku yakin ini ulah Ares. Dia sengaja membalas dendam dengan cara seperti ini," kata Rendra sangat yakin.


"Yah, pasti. Karena semalam, mereka tidak tampak satu pun di rumah kalian. Mereka sengaja mengalihkan perhatian kalian dengan cara menyerang dan di sisi lain, mereka juga menyerang di tempat lain," tambah Yudistira.


"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya Abimanyu.


"Serang sarang mereka!" timpal Vin dengan menggebu-gebu. Ia juga benar-benar emosi melihat Maya menderita seperti itu. Tak cukup dengan beban bahwa dia sekarang bukan dirinya lagi, kini ditambah dengan kematian orang tuanya. Sungguh miris.


"Mereka sudah pergi dari rumah itu. Aku yakin!" sahut Rendra.

__ADS_1


"Kalau begitu kita cari mereka sampai ketemu!" Kali ini usul Gio memang tepat.


"Tapi ke mana?" tanya Allea menambahkan.


Hening. Semua kembali terdiam, merasakan duka mendalam Maya yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Walau Ellea terus menemani di sampingnya, tapi itu tidak berpengaruh apa pun bagi Maya. Ia masih terus merasa sendirian. Bahkan seolah sudah tidak ingin hidup lagi.


"Kita bagi tugas! " tukas Rendra.


"Gimana?"


"Aku cari sarang mereka, karena aku lebih tau arah mana mereka akan pergi, dan bagaimana mereka akan bertindak selanjutnya," lanjutnya.


"Lalu kami?"


"Kalian harus cari siapa saja Lycanoid yang masih ada di desa ini. Bawa mereka dan kurung mereka. Jangan sampai mereka bebas keluar malam ini."


"Waw, sungguh pekerjaan rumah yang sulit," sahut Vin.


"Sanggup nggak?" tantang Rendra lagi.


"Woho, kau meremehkan kami ternyata. Pekerjaan yang sulit, bukan berarti tidak bisa kami lakukan, hey manusia serigala!" sindir Vin lagi.


Maya beranjak. Terus ditemani Ellea dengan sabar. Sorot matanya menunjukkan emosi yang mendalam. "Bang, kita sebangsa, kan? Kamu juga werewolf?" tanya Maya ke Rendra. Pria itu tertegun dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut gadis itu. Ia lantas mengangguk, mengiyakan.


"Kamu bisa, kan, buat aku bisa sepertimu?! Aku akan menerima takdir ini. Aku tau, tidak mungkin rasanya kalau aku kembali menjadi diriku yang dulu. Aku akan menerima kalau aku ini setengah iblis! Tapi bantu aku menjadi sepertimu. Aku akan menuntut balas pada mereka yang telah menghancurkan keluargaku. Aku akan buat perhitungan pada mereka. Akan aku hancurkan mereka, meremukkan tubuh mereka hingga menjadi debu!" Kalimat Maya benar-benar membuat mereka menganga. Ucapannya penuh keyakinan dan penuh emosi. Ia tidak main-main dengan apa yang ia ucapkan itu.


"Pak Yudis, Anda ada ide?" tanya Rendra. Yudistira menarik napas panjang. " Baiklah. Akan ada banyak buku yang harus kubaca mulai sekarang. Sebaiknya kamu juga ikut ke rumahku saja, Nak. Kamu juga harus tau siapa sebenarnya kamu sekarang. Apa yang bisa membunuhmu dan sebaliknya. Kebetulan rumahku sudah mirip perpustakaan desa sekarang."


"Kami ikut, boleh?" tanya Ellea dan Allea juga mengangguk menanggapinya.


"Tentu saja. Memang kalian lebih aman di rumahku. Karena tugas para pria itu nanti malam akan benar-benar berbahaya."


"Tapi bagaimana kalau Maya ... Berubah?" tanya Abimanyu, pelan.


"Ikat aku lagi, Bang. Masukan aku ke ruangan besi kalau perlu, biar aku nggak nyakitin Kak Allea dan Kak Ellea."

__ADS_1


"Oh, jangan khawatir, aku punya tempat yang kamu mau, Nak!" tukas Yudistira dengan santai.


Kematian memang sangat menyakitkan, menjadi sendirian di bumi sungguh memilukan. Tapi Maya tau dirinya harus terus berjuang, demi orang tuanya dan tentu dirinya sendiri. Ia berjanji akan membunuh mereka semua nanti. Dendamnya akan ia tuntaskan bahkan sampai titik darah penghabisan.


__ADS_2