pancasona

pancasona
52. Kehidupan Riri Sebelummnya


__ADS_3

Semua orang tampak segar dan bugar. Tidak terlihat tanda-tanda mereka adalah orang-orang yang sudah meninggal. Saat matahari muncul mereka kembali berubah seperti manusia normal pada umumnya. Bahkan Riri yang melihat orang tuanya kembali seperti semula, sempat heran dan bingung. Dia beranggapan apa yang dilihatnya semalam adalah mimpi. Alhasil Riri memberanikan diri untuk menemui orang tuanya lagi.


"Bu, Ibu baik-baik aja?" tanya Riri sambil memperhatikan wajah ibunya.


wanita paruh baya itu memperhatikan putrinya, lantas tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Riri. " Riri Kenapa? Kok tanya seperti itu?"


" Riri semalam mimpi buruk, Bu."


"Oh ya? Mimpi apa, Sayang? Coba cerita sama Ibu." Sikap ibu Riri masih tampak sama seperti biasanya. Bahkan kini dia menarik tubuh putri kecilnya dan menempatkan Riri berada di pangkuannya.


"Riri mimpi. Ayah Ibu dan semua orang meninggal dunia. Tapi untung itu semua cuma mimpi, ya, Bu. Buktinya ayah sama ibu masih ada di sini sama Riri."


Sang Ibu hanya tersenyum, ******* nafasnya terdengar dari telinga Riri Walaupun dia tidak melihatnya. Tangan ibunya menggenggam tangan putri kecilnya.


"Iya. itu cuma mimpi."


Namun Riri tiba-tiba melotot. Saat dia melihat ada noda darah di telapak tangan ibunya. Disertai dengan bekas lumpur. Riri sangat ingat bagaimana kondisi kedua orangtuanya saat kembali setelah berkumpul dengan warga lain yang dia anggap ada dalam mimpinya.


Seketika Riri menyadari kalau itu semua bukanlah mimpi. Hanya saja dia masih diam sambil mencari bukti lain yang menguatkan dugaannya.


Orang tua Riri bekerja di ladang. Setelah membereskan rumah mereka berdua akan pergi ke ladang yang ada di dekat hutan. Riri memang selalu ditinggalkan seorang diri di rumah. Biasanya dia akan ikut kegiatan belajar mengajar yang di berikan oleh salah satu warga desa. Walau hanya mempelajari baca dan tulis saja, kegiatan ini sangat diminati anak-anak kecil di desanya.


Ada sekitar 10 anak sebayanya. Sebelum berangkat ke tempat belajar, Riri memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Dia masih memikirkan mengenai noda darah yang ada di telapak tangan ibunya. Riri mulai ragu. Sampai akhirnya dia menemukan baju milik ayah dan Ibunya yang penuh dengan noda darah dan robek di beberapa bagian. Melihat hal tersebut Riri makin yakin kalau apa yang dilihatnya semalam memang nyata. Kini dia bingung apa yang harus dilakukan. Apalagi saat melihat kalau kedua orangtuanya baik-baik saja sekarang.


"Riri!" panggilan dari luar rumah yang membuyarkan Lamunan Riri.


Sita memanggil dirinya dan sekarang sudah menunggu di halaman rumah. Riri bergegas untuk segera bersiap menuju tempat mereka biasanya belajar selama ini. Setelah menyelesaikan mandi dia pun menemui Shita di depan rumah. Riri memperhatikan Sita dengan seksama. Saat kejadian semalam dia tidak melihat Sita ada di Barisan orang orang yang berkumpul di jalanan depan rumahnya. Bahkan dia baru sadar kalau tidak ada anak kecil yang sebaya dengannya berada di sana tadi malam. Apalagi saat berdiri tidak melihat adanya noda darah ataupun luka sedikitpun pada tubuh Sita. Hanya saja dia tetap Waspada. Mereka berdua pun segera menuju tempat belajar mereka. Sampai di depan itu semua teman-temannya sudah berkumpul paling mengejutkan adalah keberadaan Jaka yang ada di antara mereka. Riri menatap Jaka dengan ketakutan. Tidak seperti biasanya.


Rupanya hari ini adalah jatah Jaka untuk mengajari anak-anak tersebut. Ketakutan Riri berusaha ia sembunyikan. Jangan sampai Jaka mengetahui dan merasakan apa yang Riri pikirkan. Selama pelajaran mengajar berlangsung, Riri tidak fokus pada apa yang sedang di ajarkan. Dia justru fokus memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Teman-temannya terlihat tidak aneh. Justru gelagat Jaka yang tampak mencurigakan. Dia terus menekan salah satu siswanya, karena pemahaman mengenai apa yang sedang diajarkan sangat kurang. Anak tersebut bernama Ridho. Ridho memang terkenal kurang pandai. Dia bahkan belum lancar membaca dan menulis.


"Ya sudah. Nanti kamu ke rumah saya. Biar saya ajarkan lagi pelajaran hari ini di rumah ya."


Mendengar mantan dari gurunya Rido hanya mengangguk pasrah. Kegiatan tersebut pun usai saatnya jam makan siang. Mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing kecuali Ridho. Riri dan Sita kembali pulang bersama. Namun sebelum sampai ke rumah, mereka mampir lebih dulu ke warung untuk membeli makanan.


"Ibuku nggak masak hari ini. Aneh banget. Biasanya selalu rajin," ucap Sita. Apa yang dialami Sita sama seperti apa yang dialami oleh Riri. Ibunya juga tidak sempat memasak makan siang. Bahkan sarapan tadi pagi terasa hambar.


"Ya sudah. Kita beli rujak aja di warung Bu Mawar."


Warung Bu Mawar adalah Warung serba ada. Tidak hanya sembako tetapi juga menjual makanan matang. Salah satunya rujak atau gado-gado. Gado-gado dan rujak buatan Bu mawar terkenal enak.


Mereka memesan makanan itu dan memutuskan untuk menyantapnya di tempat.


"Ri, aku semalam mimpi buruk," ucap Sita dan seketika membuat Riri terkejut.


"Mimpi apa??!"


"Masa aku mimpi semua orang dibunuh sama Pak Jaka. Hahaha. Tapi untung cuma mimpi."

__ADS_1


Riri semakin yakin kalau ternyata Sita memang tidak ada dalam upacara pembantaian tadi malam.


"Berarti Sita benar benar masih manusia," batin Riri dalam hati.


" Sita, sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama. Awalnya kupikir itu mimpi, tapi sepertinya itu memang kenyataan."


"Maksud kamu apa, Ri?" tanya Sita.


"Mimpi yang kamu bicarakan. Aku pun mengalaminya. Tapi itu bukan mimpi! Itu kenyataan. Coba nanti kamu perhatikan di rumah, apakah orang tuamu aneh? Aku yakin pasti ada salah satu saja yang tidak biasa."


Sita lantas diam, mencoba mencerna apa yang disampaikan oleh Riri. Lamunan itu pun buyar saat gado-gado pesanan mereka sudah selesai dibuat.


"Mau minum apa anak cantik," sapa Bu Mawar ramah.


"Es teh saja, Bu," sahut Sita semangat. Dia memang sudah kelaparan karena belum sarapan sejak pagi.


"Segera siap, ya. Tunggu sebentar." Bu Mawar segera kembali ke etalase di dalam dan membuat minuman pesanan mereka berdua.


Sita yang tidak sabaran menyantap hidangan di depannya, tidak lagi mengingat untuk membaca doa. Dia langsung mengunyah gado gado dengan lahap. Berbeda dengan Riri yang merasa aneh dengan keadaan desa mereka. Dia hanya memainkan sendok dan mengacak acak gado gado miliknya. Namun dia langsung terhenyak begitu melihat ada hewan kecil bersembunyi di balik sayuran rebus di piring tersebut. Riri memperhatikan dengan seksama, dia berharap salah melihat. Tapi saat dia memeriksa lebih teliti rupanya apa yang dia lihat memang seperti apa yang dia pikirkan.


"Astaga!" pekiknya langsung berdiri dan menjauh. Sita yang melihat reaksi temannya hanya menatap bingung, masih sambil mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Kenapa?" tanya Sita yang agak kesulitan berbicara.


"Sit! Lepehin!" kata Riri sambil berbisik.


Riri mendekat kembali, tapi tengak tengok sebelum memberitahu mengenai apa yang dia maksud.


"Jangan di makan! Gado gadonya ada belatungnya!" bisik Riri dengan penuh ketakutan. Dia berharap kalimatnya tidak di dengar oleh pemilik warung.


"Hah? Masa sih?" tanya Sita lalu memeriksa makanan miliknya. Dia hanya membalik sekali gado gado itu dan langsung menemukan hewan kecil yang kini sedang menggeliat di bumbu yang menyiram sayuran rebus. Sita langsung muntah muntah karena merasa jijik.


"Loh kenapa? Kamu sakit, Sita?" tanya Bu Mawar yang tiba tiba sudah ada di dekat mereka.


Sita dan Riri sedikit gelagapan di tanya begitu. Mereka berdua tidak langsung menjawab. Bu Mawar lantas meletakkan dua gelas besar es teh manis ke hadapan mereka. "Ya sudah minum dulu saja," suruh nya lagi.


Untungnya Bu Mawar segera kembali masuk, karena ada pembeli lain. Sita Mengandung es teh miliknya. Tapi seketika Riri menahan tangan Sita dan menyuruh Sita untuk lihat ke dalam gelas teh tersebut. Mereka berdua pun saling menatap dengan kedua mata yang melotot.


"Pulang aja yuk, Ri," ajak Sita.


"Ayo!"


Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan warung tersebut setelah meninggalkan uang 10.000-an. Padahal gado-gado tersebut tidak habis dimakan. Begitu juga dengan es tehnya. Siapa juga yang mau memakan makanan busuk seperti itu.


Sepanjang perjalanan pulang Sinta terus mengoceh tanpa henti. Dia tidak habis pikir dengan apa yang baru saja mereka alami.


"Itulah, Sit! aku bilang kan tadi, kalau apa yang kita alami itu bukan mimpi! Itu memang kenyataan. Semua warga desa di sini Sudah dibunuh sama Pak Jaka. Dia juga yang membuat orang tua kita dan warga lain bisa hidup kembali.

__ADS_1


"Jadi kita tinggal sama siapa, Ri? Kalau orang tua kita memang sudah meninggal? Jelas-jelas mereka hidup seperti biasanya!"


"Enggak! Pasti ada hal aneh kok. Aku juga menemukan itu pada ibuku. Aku yakin kamu juga akan menemukan itu pada orang tuamu nanti."


Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Walau demikian setidaknya baik Riri dan Sita tidak sendirian di desa tersebut. Mereka bukan satu-satunya manusia yang hidup di tempat itu.


"Jujur aku takut, Ri."


" aku pun juga sama. Tadinya aku pikir, cuma aku saja yang masih menjadi manusia di desa kita."


" Terus rencana kamu apa?"


" Aku juga belum tahu, Sit. Kita lihat dulu Seperti apa perkembangannya nanti malam."


"Oke."


Mereka berdua pun memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Sebentar lagi hari akan beranjak sore. Para orang tua yang bekerja di ladang pasti akan pulang. Begitupun dengan orang tua Riri. Saat sampai di rumah Riri hanya berdiam diri di dalam kamar. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


Sampai Akhirnya orang tuanya pun pulang. Semua berjalan seperti biasanya. Hingga saat Riri hendak tidur, dia pun berpamitan pada orang tuanya yang sedang ada di ruang tengah dengan kesibukan masing masing. Tidak ada hal yang mencurigakan sejauh ini. Kalau Riri sudah yakin kalau orang tuanya bukan lagi orang tua yang selama ini dia kenal.


Karena lelah Riri pun tertidur. Dalam tidur lelap nya, dia mendengar suara berisik di luar kamar. Riri segera terbangun dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia mengintip dari balik jendela, dan akhirnya menemukan pemandangan yang sebelumnya pernah dilihat. Kali ini teman-temannya bersimbah darah dan diletakkan begitu saja di tengah jalan. Bahkan Riri melihat Sita yang sedang dibopong di bahu ayahnya. Hanya saja kondisinya tidak baik-baik saja. Ada cairan yang mengalir dari bagian tubuh Sita. Kalau Riri tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi dia yakin kalau itu adalah darah dari sahabatnya.


Riri melihat Jaka sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Sontak mereka bertiga langsung menoleh ke arah rumah Riri. Ayah Riri mengangguk setelah mendapatkan instruksi dari Jaka. Dia lantas berjalan kembali ke rumah. Melihat hal itu Riri mulai ketakutan. Tanpa pikir panjang dia segera keluar dari kamarnya, jalan menuju ke dapur. Di sana Riri membuka pintu belakang rumah, dan berlari sekencang mungkin meninggalkan rumah dan desanya. Riri tidak tahu harus pergi ke mana. Dia kini sudah kelelahan setelah berlari cukup lama.


Riri kini berada di hutan yang agak jauh dari desanya. Untungnya sejak kecil dulu, Riri kerap berada di hutan ini bersama ayahnya untuk mencari kayu bakar. Riri berharap kalau orang-orang itu tidak menemukannya. Dia tidak ingin lagi kembali ke desa. Bahkan dia tidak ingin lagi bertemu dengan orang tuanya. Semua orang sudah berubah. Menjadi makhluk mengerikan yang akan berubah wujud Saat tengah malam. Sejak saat itu kirim tinggal di hutan. Sesekali dia kembali ke desa untuk melihat apa yang terjadi di tempat tersebut sekaligus mengambil beberapa barang miliknya. Dia tentu butuh pakaian, selimut dan peralatan untuk bisa membuat tempat berteduh. Akhirnya dia berhasil membuat sebuah rumah kecil yang hanya muat untuk dirinya sendiri. Dia juga mampu bertahan di hutan dengan makanan yang seadanya. Untungnya dia berhasil menemukan pohon buah yang tumbuh sekitar. Sesekali dia juga menemukan seperti ayam yang memang masih bisa ditemukan di tempat tersebut.


"Jadi ... Orang tuamu juga menjadi seperti mereka? Tapi ... Kakak kok nggak lihat mereka? Kamu bilang rumah kamu yang cat hijau itu, kan?" tanya Rea sambil menunjuk arah rumah Riri.


"Iya, Kak. Orang tuaku jatuh ke jurang, jadi mereka nggak akan kembali lagi ke sini."


"Lalu ... Jaka! Di mana dia?"


"Pak Jaka pergi beberapa bulan lalu. Tapi dia pernah datang lagi ke sini, entah untuk apa."


"Kapan dia ke sini?"


"Beberapa hari lalu, Kak. Hanya saja wajahnya terlihat lebih muda," ujar Riri.


"Lebih muda? Apa jangan jangan yang dilakukan Jaka itu adalah salah satu bentuk tumbal untuk umur panjang misalkan?"


"Bisa jadi tuh! Kalau memang tiba tiba yang namanya Jaka bisa berubah jadi muda. Gile, mirip vampir aja!"


"Semoga Jaka itu nggak datang ke sini sekarang!"


"Hei ... Orang orang mau pada ngapain tuh," bisik Hana saat dia sedang mengintip di jendela.


Otomatis mereka semua serempak mendekat ke jendela. Mereka penasaran tentang apa yang sedang dilihat oleh Hana. Apalagi setelah mendengar kisah Riri barusan, membuat mereka makin cemas dengan kondisi mereka sekarang.

__ADS_1


__ADS_2