
Malam yang cukup menegangkan sudah mereka lewati dengan begitu dramatis. Pagi ini mereka bersama-sama memperbaiki rumah Yudis yang cukup berantakan. Bahkan simbol-simbol penangkal werewolf mereka buat ulang di beberapa sudut. Seperti pintu, jendela dan semua jalan keluar masuk yang memungkinkan mereka datang.
Gio datang dengan tampang lesu dan lingkar hitam di bawah matanya. Beberapa kali ia terlihat menguap menahan rasa kantuk yang amat dahsyat. Sudah dapat dipastikan kalau semalaman pasti dia tidak tidur.
"Wow, ada apa ini?" tanya Gio saat melihat kondisi rumah ini tidak sama seperti saat kemarin ia tinggalkan.
"Biasa. Ada serangan, Om," sahut Vin santai, sambil memukul daun pintu dengan palu.
"Gimana di sana?" potong Abi yang memang penasaran dengan keadaan para Lycanoid yang sudah mereka kumpulkan semalam.
Gio duduk di kursi yang ada di teras, menarik nafas panjang dan mengembuskannya kasar. Allea muncul dengan nampan yang berisi beberapa cangkir kopi. "Diminum dulu, Om, biar segeran."
'Terima kasih, All." Gio meraih satu cangkir kopi buatan Allea. Ia mengernyit, sambil menatap sekitar dan juga ke dalam melalui jendela, "Ellea mana?"
"Oh, dia lagi istirahat. Kecapekan."
"Kenapa memangnya?"
Abimanyu menempatkan diri duduk di kursi samping Gio, "mungkin Ellea belum terbiasa sama kemampuannya yang baru. Semalam dia habis-habisan ngeluarin kekuatannya, dan sekarang masih tidur."
"Wow, nggak sangka kalau dia bisa sehebat itu," puji Gio sambil terus menyesap kopi hangat miliknya.
"Tapi semua ada konsekuensinya," sahut Yudis yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Mereka menghentikan sejenak kegiatan mereka, dan berdiskusi hal ini terlebih dahulu. Allea kembali masuk ke dalam untuk melihat kondisi Ellea dan Maya yang sama-sama masih tidur di kamar mereka. Keduanya terlihat sangat kelelahan akibat kejadian semalam. Tenaga mereka bagai terkuras habis.
"Jadi siapa mereka?" tanya Abi menatap ke Rendra. Pemuda itu yang kini menjadi satu koloni dengan Abi, lantas duduk begitu saja di sebuah batu yang ada di depan teras, peluhnya terlihat membanjiri wajah dan tubuhnya yang sedang bertelanjang dada. Barisan ototnya tampak menonjol. Biasanya kaum hawa akan sangat terkesima melihat tubuh macam Rendra yang atletis ini.
"Mereka Dante dan Danial. Mereka berdua adalah anggota pack terlemah, dan kini Ares kembali kehilangan anggotanya lagi. Tapi ini tentu bukan kabar bagus, karena aku yakin, dia dan Ax pasti akan lebih gencar menularkan manusia agar berubah."
"Hm. Paman sendiri bagaimana? Semalam?"
Gio menatap lurus ke depan, mengingat hal luar biasa yang ia alami semalam bersama para makhluk mengerikan itu. "Yang pasti, semua orang yang kita tangkap memang bagian dari Lycanoid. Mereka berubah secara bersamaan setelah terdengar lolongan serigala. Untung jeruji besi di penjara mampu membuat mereka tidak ke mana-mana."
"Lolongan serigala? Bukannya mereka berubah jika terkena sinar bulan, atau melihat bulan purnama, Om?" tanya Vin.
"Entahlah, gue juga nggak ngerti. Tapi inget banget, setelah suara itu muncul, mereka mulai tidak terkendali dan berubah wujud. Beberapa penjaga di sana sempat kebingungan, tapi untuk gue berhasil meyakinkan mereka. Dan sekarang, semua warga pasti sudah tau tentang teror werewolf ini. Kalian tau, kan, kalau gosip akan cepat tersebar di desa ini. Apalagi tentang hal buruk seperti ini, jadi kita harus bersiap menenangkan mereka. Ough, gue butuh tidur sekarang!" gerutu Gio. Wajahnya sudah kacau sekali, dan dia memang benar-benar butuh tidur.
__________
__ADS_1
Abimanyu dan Vin datang ke cafe. Mereka sudah absen beberapa hari karena masih sibuk dengan masalah ini. Jadi cafe memang tetap buka dan di urus sementara oleh Joe, Rain, dan Marchel. Suasana cafe masih sama seperti biasanya. Ramai oleh beberapa pengunjung, tapi terlihat sedikit aneh. Beberapa dari mereka tampak lebih pucat dari biasanya.
Rendra menyusul dua temannya itu. Ia juga menyadari keanehan di cafe milik Abimanyu ini. Mereka sadar, sekarang mereka benar-benar harus bertindak lebih tegas. Dan warga memang seharusnya sudah tau tentang tragedi yang menimpa desa. Untuk saling menjaga dan waspada jika ada dari mereka yang ternyata Lycanoid baru.
"Lah, kok ke sini, Ren?" tanya Vin yang terkejut melihat Rendra muncul.
"Kita harus kumpulkan warga dan memeriksa mereka satu persatu untuk mencari Lycanoid. Aku yakin Ares lebih gencar mengambil korban-korbannya. Dan kalau kita nggak bergerak cepat, seluruh warga desa pasti sudah diubah oleh mereka!"
"Bagaimana cara kita tau siapa saja Lycanoid?"
"Aku bisa mengendusnya, tapi dari jarak dekat. Dan sebenarnya aku curiga dengan semua manusia di tempat ini," bisik Rendra sambil menatap sekitarnya.
"Kenapa?"
"Mereka semua terinfeksi!"
"WTF!" umpat Vin.
"Kau yakin, Ren?" tanya Abi, memastikan lagi.
"Yah, lihat wajah mereka. Pucat. Artinya mereka sebentar lagi akan kelaparan dan harus makan. Yang pasti malam nanti akan lebih berat dari malam sebelumnya. Ares benar-benar mengibarkan bendera perang pada kita!"
"Waw, itu sangat menghibur, kawan," cetus Vin.
Mereka akhirnya pergi ke rumah kepala desa dengan mengendarai mobil Abimanyu. Cafe ia tinggalkan dengan sebuah pesan ke Joe, kalau mereka harus menutup cafe sebelum malam hari.
"Pak Yudis ke mana?" tanya Abi sambil fokus ke kemudinya.
"Dia sedang meracik ramuan untuk Maya. Dan kalau bisa untuk warga yang belum terlanjur minum darah manusia."
"Apakah itu akan berhasil, Ren?" tanya Vin.
"Tenang saja. Dia cukup handal. Semoga saja, ramuan itu bukan hanya untuk menahan hasrat untuk berubah dan membunuh, tapi benar-benar menyembuhkan mereka."
"Yah, semoga saja."
Sampailah di rumah kepala desa. Namanya Ronal. Pria itu berumur 50 tahun dengan menjabar sebagai kepala desa selama 2 periode. Tubuhnya yang tegap dan gagah sangat cocok dijadikan seorang pemimpin. Ronal juga salah satu teman Arya dulu. Maka dari itu, Abi yakin kalau dia bisa diandalkan. Karena mereka sekarang sangat membutuhkan seseorang yang mempercayai hal aneh dan tidak masuk akal. Karena tidak semua orang akan mempercayai cerita werewolf yang kini berkeliaran di lingkungan mereka, kan?
"Loh, Abi?! Tumben kau ke sini?" tanya Ronal begitu dia membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
"Ada hal penting yang harus kami bicarakan, Pak," kata Abi serius.
"Yah, sudah bisa terbaca dengan kedatanganmu. Mari masuk," ajak Ronal.
Rumah Ronal ada di dekat gerbang desa, maka dari itu dia jarang mengetahui keadaan di dalam desa jika tidak ada orang yang melaporkannya. Apalagi Ronal termasuk orang sibuk yang juga sering pergi ke kota atau desa lain.
"Jadi ada apa? Kalian tidak membawa ******* lagi ke desa kita, kan?" sindirnya, yang masih mengingat kejadian lampau yang sudah memporak-porandakan desa mereka.
"Yah, kurang lebihnya hampir sama, Pak. Kali ini kita kedatangan tamu, yang sudah membuat warga desa yang lain berubah menjadi makhluk mengerikan. Bapak ingat kematian Pak Rahmat?"
"Ya. Lalu?"
"Beberapa warga desa banyak yang menghilang, kan? Mereka sudah berubah, bukan menjadi manusia seutuhnya lagi."
"Maksud kalian, mereka menjadi ... zombie?"
"Werewolf, lebih tepatnya."
"Apa?! Kalian nggak bercanda, kan?" desah Ronal masih tidak yakin atas perkataan mereka bertiga.
"Kami serius!"
"Eum, baiklah. Beri aku bukti, baru aku akan percaya."
"Kita sudah nggak punya waktu lagi untuk membuktikan, karena sekarang juga, kita harus mengumpulkan warga untuk memilih, mana warga yang masih murni manusia, mana yang sudah terinfeksi. Dan, saat malam datang, anda akan tau kebenarannya, Pak."
"Bi, Pak Kades nggak tau soal penjara semalam?" bisik Vin.
"Hm, entahlah."
"Penjara? Kenapa?"
Dan cerita tentang beberapa warga yang kini sudah ada di dalam jeruji besi, menjadi topik hangat bagi mereka. Dan, untuk meyakinkan Ronal, mereka memutuskan pergi ke penjara guna memberikan dia bukti.
"Kalian pergi saja dulu. Aku harus mencari watcher. Pasti dia salah satu warga di desa ini," kata Rendra.
"Watcher?!"
"Orang yang menjadi kaki tangan werewolf dan musuh dalam selimut manusia. Pasti dia yang sudah mencorat coret simbol di rumah Pak Yudistira. Aku harus segera menemukannya, kalau tidak, dia akan melakukan hal yang sama lagi nanti." Perkataan Rendra memang sangat masuk akal.
__ADS_1
"Oke."
Mereka berpencar untuk melakukan tugas masing-masing. Rendra yang terbiasa bergerak sendiri mulai menelusuri pengkhianat yang sudah merugikan mereka, hingga Lycans bisa masuk ke rumah Yudis. Ia yakin, kalau orang itu ada di antara mereka. Dan Rendra harus segera menemukannya. Karena sekuat apa pun mereka membuat penangkal werewolf, jika masih ada wathcer di antara mereka, maka semua akan percuma.