pancasona

pancasona
Part 170 Tato Archangel


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nayla sudah berangkat ke kampus. Suasana di kelas masih sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sibuk dengan buku masing-masing, sebagian lainnya sedang mengobrol santai. Nayla segera duduk di kursi miliknya yang kemarin. Ia tengak-tengok menyapu pandang ke segala arah. Mencari sosok yang sedang ia tunggu. Arya. Beberapa kali Nayla melirik ke jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tetapi orang yang ia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Beberapa orang teman sekelasnya sudah mulai berdatangan dan memenuhi kursi yang masih kosong. Seolah posisi duduk saat hari pertama adalah penentu posisi duduk untuk hari berikutnya dan seterusnya. Mereka duduk di kursi yang sama, otomatis Arya juga akan duduk di tempat yang sama seperti kemarin, belakang Nayla. Masih terus menatap pintu kelas, ada 4 orang laki-laki yang memang satu kelas dengannya. Salah seorang di antaranya memperhatikan Nayla yang terlihat gelisah memandang ke arah pintu.


"Aku Rico," sapa laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Ketiga temannya hanya saling berbisik di belakang Rico. "Nayla," sahutnya tanpa menyambut uluran tangan Rico, hanya melirik, acuh tak acuh. Retno datang, lalu menyapa Nayla dengan antusias. Di belakangnya ternyata ada Arya juga. Nayla yang melihat pemuda itu datang, lantas berusaha merapikan rambutnya dan menunduk. Rico yang melihat sikap Nayla barusan, lantas menyadari akan posisi Arya. Arya berjalan santai melewati Rico, lalu duduk di kursinya yang kemarin.


"Kamu nge-kos di mana, Nay?" tanya Rico lagi, kembali berusaha bersikap manis pada gadis itu.


Saat dirinya akan menjawab pertanyaan Rico, kursi yang ia duduki ditendang agak kasar dari belakang. Nayla menoleh sedikit ke belakang dan agak bingung dengan sikap Arya barusan. Dari sudut ekor matanya, Arya beranjak lalu berdiri di sampingnya. "Geser!"


"Hah?" sahut Nayla dengan wajah kebingungan, mendongak menatap Arya dari tempatnya duduk.


"Aku bilang geser! Ngerti nggak? Aku mau duduk sini."


"Kenapa?" tanya Nayla dengan tampang polosnya.


"Eric mau pindah di kursiku," jawab Arya sedikit mengencangkan nada bicaranya. Pria yang bernama Eric agak kebingungan, namun tak lama dia mengiyakan perkataan Arya, dan pindah ke kursi itu. Nayla akhirnya menggeser tempat duduknya, memberi ruang pada Arya. Dalam deretan kursinya, memang hanya ada dirinya saja yang duduk di kursi depan.


Arya menempatkan dirinya duduk di kursi Nayla, meletakkan tasnya dan menatap Rico yang masih berdiri di depan mereka. "Apa lagi?!" tanya Arya dengan ekspresi tidak suka. Rico hanya mendengus sebal lalu mengajak teman-temannya kembali ke kursi mereka. Sementara Nayla melirik ke arah pemuda di sampingnya, dan Arya tetap bersikap dingin sambil mengeluarkan buku dan laptop miliknya. "Apa?" tanya Arya datar. Nayla hanya tersenyum sambil menggeleng. Ia juga melakukan hal yang sama seperti Arya, tetapi tidak ada yang tau bagaimana gembiranya wajah Nayla. Tersembunyi di balik rambutnya yang lurus dan panjang, digerai begitu saja.


Kedekatan mereka perlahan tapi pasti. Nayla merasa senang berada di dekat Arya, juga aman. Beberapa kali pemuda itu selalu ada di saat ia butuh, dan membantunya walau tidak diminta sekali pun. Di sisi lain, Wira masih berusaha mencari di mana dua orang itu berada. Ia terus terbang di langit sambil melihat keadaan di bawahnya. Matanya yang tajam mampu melihat orang yang dicarinya.


Nayla dan Arya kini sedang berjalan santai melewati taman kampus. Mereka hendak pergi ke kantin bersama. Nayla bersikeras akan mentraktir Arya makan siang karena telah membantunya semalam. Padahal Arya sudah menolak mentah-mentah, tapi ia akhirnya luluh juga. Arya berhenti berjalan, keningnya menunjukkan kerutan pertanda sedang berpikir. Ia lantas mendongak ke atas. Nayla otomatis ikut berhenti dan menatapnya heran, "kenapa, Ya? Kok berhenti?"


"Kamu denger nggak?" Arya mendongak ke langit karena merasa mendengar sesuatu yang aneh.


"Denger apa?"


"Kayak ada suara burung terbang di atas kita," sahutnya masih penasaran. Nayla ikut memperhatikan langit di atas mereka, dan tentu mereka tidak menemukan apa pun, karena Samael, alias Wira sudah lewat di atas mereka beberapa detik lalu. "Masa sih?" tanya Nayla bingung.


"Ya sudah, Yuk. Laper," ajak Arya lalu berjalan mendahului Nayla. "Ih, tungguin!" rengek Nayla mengejarnya.


"Di mana mereka berdua. Sudah ketiga kalinya aku memutari negeri ini. Tapi kenapa mereka tidak juga terlihat di mataku. Ini mustahil. Apakah ada yang menutupi keberadaan mereka?" gumam Samael berbicara sendiri.


Tidak ada yang bisa lolos dari mata Samael, matanya tajam dan mampu melihat dari jarak yang sangat jauh sekali. Dia belum juga melihat keberadaan Arya dan Nayla.


__________________


Kantin selalu ramai pada jam makan siang. Mereka berdua bahkan tidak mendapat kursi kosong. Arya menyapu pandangan ke sekitar, mencari celah agar mereka bisa duduk dan menikmati makan siang mereka. Tapi di sudut kantin, ia melihat Rico sedang menatap mereka berdua sambil menikmati makan siangnya. Mereka saling beradu pandangan hingga akhirnya Arya menarik tangan Nayla dan pergi dari kantin. "Loh kenapa?" tanya Nayla heran.


"Kamu nggak lihat ramai begitu? Mau duduk di mana kita?!" cetus Arya masih menarik Nayla menjauh dari kantin. Nayla menoleh dan memperhatikan kantin, ia melotot sambil menutup mulutnya, saat melihat Rico yang sedang menatap kepergian mereka berdua. "Astaga!" gumam Nayla.


"Apa?"


"Rico!"


"Kita makan di tempat lain," ujar Arya. Mereka akhirnya keluar dari gerbang kampus dan mencari warung tenda yang tak jauh dari kampus mereka. Sebuah cafe dengan nuansa tenda menjadi pilihan Arya. "Bang, baksonya dua. Sama es jeruk anget, ya, pinta Arya lalu duduk di kursi yang masih kosong. Nayla melirik pemuda itu dengan wajah keheranan saat mendengar es jeruk anget.


"Oke, Ya. Tumben kau makan di sini?"


"Kangen aku makan di sini. Tak boleh, kah?" tanya Arya dengan mengikuti logat Batak pemilik kedai bakso.


"Kupikir sudah lupa kau, samaku. Apalagi sudah ada pula gandengan kau sekarang ini," katanya lagi sambil melirik Nayla.


"Apa pula kau ini, Bang. Macam tak pernah lihat aku jalan sama cewek saja," elak Arya. Nayla sempat heran, karena baru pertama kalinya ia melihat Arya berbicara santai dan tersenyum. Tidak seperti Arya yang selama ini ia kenal. Datar, dingin, dan cuek.


"Halah, paling juga kau ajak si Retno itu. Kalau yang ini lain lah pastinya kan?" tanyanya lagi sambil meracik bakso pesanan Arya.


"Kamu sering ke sini?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Lumayan. Aku memang jarang makan di kantin. Malas ketemu anak-anak belagu," cetus Arya lalu mengambil sebatang rokok dari saku bajunya. Ia lantas menyulutnya dan kini asap tebal keluar dari mulut Arya. Nayla yang merasa risih dengan asap rokok, menghempaskan tangan ke depan wajahnya. Mengusir bau khas asap dari tembakau ini. Arya yang merasa gadis itu tidak suka ia merokok lalu membuang muka saat akan mengeluarkan asp putih dari mulutnya.


"Anak-anak belagu itu Rico?"


"Yah, salah satunya. Karena hampir semua anak kampus kita itu belagu. Mentang-mentang mereka anak orang kaya jadi sombong," jelas Arya. Nayla yang memang belum mengenal semua teman-temannya lantas hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Tapi aku kok ngerasa aneh, ya, sama Rico."


"Aneh bagaimana?"


"Tadi ... aku lihat mata Rico ... Ah, mungkin aku salah lihat." Bakso sudah siap disantap. Bang Ucok kembali mencandai Arya yang kini mengajak gadis lain selain Retno. "Neng, jangan salah sangka, dia itu walau mukanya garang, tapi hatinya hello kitty," katanya ke Nayla. Nayla hanya tersenyum sambil melirik ke Arya. "Apa pula kau, Bang. Sudah, aku mau makan. Jangan kau ganggu," elak Arya, mengaduk kuah bakso di hadapannya. Kedua pria ini terus menyela satu sama lainnya dan terus membuat Nayla tersipu malu. "Jangan didengerin, biasa dia begitu," bisik Arya. Nayla tertawa sambil menutup mulutnya.


Masuk beberapa orang wanita dengan penampilan modis dan gaul. Celana ketat dengan kemeja V-neck yang sedikit terbuka. Mereka sungguh berisik saat masuk ke dalam sini. Membuat Nayla sedikit risih dan sebal.


"Hey, lihat! Ada Arya di sini rupanya," kata salah saatu dari mereka. Arya yang sedang makan bakso hanya diam dan fokus makan, tanpa memperdulikan mereka. Wanita itu lantas duduk di samping Arya dan bertopang dagu menatap pemuda itu makan. "Laper, ya, sayang." Arya masih diam. Seolah di sampingnya tidak ada wanita lain selain Nayla.


"Mau sambel nggak?" tanya Arya ke Nayla yang duduk di sisinya yang lain. Nayla menggeleng dengan ekspresi tidak nyaman karena wanita di samping Arya justru tidak di tanggapi. "Ya sudah." Arya menuang sambal di mangkuknya, dan kemudian melanjutkan lagi makan. "Ih, Arya, kok aku dicuekin sih?" rengeknya manja.


"Duh, kok merinding. Kamu merinding nggak?" tanya Arya sambil memegang tengkuknya, ke Nayla. NAyla menggeleng dengan tampang polosnya. "Jangan-jangan ada setan! Bang Ucok, warung baksomu ada setannya, kah? Kok aku merinding nih sekarang?" teriak Arya ke Bang Ucok yang ada di depan gerobak bakso yang berada di luar. Pria Batak itu hanya tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan Arya yang sering sembarangan itu.


"Gladis! Udah ih. Sini!" panggil temannya. Wanita bernama Gladis itu lantas berdiri sambil menghentak-hentakan kaki ke bawah. Ia lalu mengajak teman-temannya pergi dari tempat itu.


"Itu salah satu contoh jelmaan kuntilanak. Kamu jangan deket-deket dia juga, bahaya," kata Arya setelah Gladis pergi dari sampingnya. Nayla lantas tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Arya.


"Kamu ih, Arya. Ternyata julid juga!" cetus Nayla sambil tertawa menutup mulutnya.


"Manusia macam itu mendingan nggak usah dikasih hati. Nanti malah ngelunjak." Mangkuk bakso sudah habis tak bersisa. Arya lantas menyeruput es jeruknya yang sudah tinggal setengah. "Buruan dimakan," katanya sambil melirik Nayla yang masih lambat memakan makanannya.


"Iya, sabar, Ya. Kamu itu makan cepat banget."


"Laper."


"Kamu sudah kenal banyak teman-teman kampus, Ya?"


"Mayan. Kebanyakan dari mereka ya teman-temen sekolah dulu. Macam Gladis, Rico, Retno, dan masih banyak lagi."


"Oh, kalian satu sekolah dulu?"


"Iya."


"..."


"Kamu habis ini balik?"


"Oh enggak. Aku mau ke perpus sebentar."


"Ngapain?" tanya Arya sambil menoleh ke belakang, di mana Nayla duduk.


"Mau pinjem beberapa buku, dari pada di kos ngelamun. Kebetulan aku juga suka baca."


"Oh."


"Kamu?"


"Eum, belum tau."


"Nggak bantuin bapak nyiapin jualan?"


"Itu mah malem."

__ADS_1


"Kalau begitu, temenin aku saja, yuk. Mau nggak?" tanya Nayla.


"Eum, bagaimana ya?"


"Ayok dong, Ya. Ikut. Biar aku ada teman. Takutnya nanti ada Rico di sana, atau siapa begitu."


"Ya sudah." Putung rokok yang tinggal sedikit Arya buang ke bawah dan ia injak agar bara apinya mati. Mereka akhirnya kembali ke dalam kampus setelah membayar bakso tadi.


Kampus tidak pernah sepi. Bahkan sampai sore sekali pun. Perpustakaan juga buka sampai pukul 17.00. Nayla yang sedang memilih buku selalu ditemani Arya. Dia duduk di sebuah kursi dan hanya menatap Nayla yang masih memilih buku di rak besar di hadapan mereka.


"Banyak amat!" seru Arya saat Nayla meletakkan beberapa buku di meja. "Mau kamu baca semua?"


"Iya. hehe."


Arya mengambil salah satu buku yang dipilih Nayla. Sampul buku yang menarik, membuat Arya penasaran. "Demon?" tanya Arya sambil membaca blurb di belakang buku itu. "Kamu suka cerita fiksi ginian?"


"Bagus, Arya. Ini seri ketiga yang aku baca. Seru."


"Seru apanya?" tanyanya lalu melempar buku itu kembali ke meja.


"Jadi di sini menceritakan tentang para iblis yang mau membuka segel 66 legion iblis. Ternyata banyak iblis yang menjelma atau bahkan merasuki manusia."


"Ah, fiktif! Percaya aja kamu!"


"Ih kamu nggak percaya! Bentar aku baca sedikit. Sambil tunggu hujan reda," pinta Nayla. Arya menyandarkan punggungnya di kursi, ia menatap jendela sampingnya yang memang sedang diguyur hujan lebat. Keputusan yang tepat, karena dia menerima ajakan Nayla ke perpustakaan. Jika tidak, pasti dirinya akan basah kuyup tadi. A


Arya mulai bosan, ia menggulung kemeja lengan panjangnya hingga siku. Nayla yang menyadari kebosanan Pemuda di depannya lantas tersenyum tipis. Tapi tiba-tiba ia melotot, saat melihat sebuah tato yang ada di pergelangan tangan Arya. Selama ini Nayla tidak melihatnya karena tertutup jam tangan yang biasa Arya pakai, namun sekarang Arya memang sedang tidak memakai jam tangan, dan ia memakai kemeja lengan panjang.


"Arya! Tato ini, kamu bikin di mana?" tanyanya agak histeris.


"Hah? Kenapa?"


"Aku pernah lihat simbol ini. Sebentar!" seru Nayla lalu membuka beberapa buku yang ada di depannya. "Nah! Lihat, sama, kan?!"


Arya lantas mengambil buku itu dan mengamatinya lekat-lekat. "Iya, sama. Ini simbol apa?" tanya Arya.


"Kamu nggak tau?"


Arya menggeleng pelan dengan sorot mata yang sangat penasaran.


"Ini sombol penangkal iblis."


"Apa?! Penangkal iblis?"


"Iya, jadi siapa pun yang memakai simbol ini ditubuhnya, maka iblis nggak akan merasukinya. Aku juga punya, tapi dalam bentuk liontin. Ini!" Nayla menunjukkan liontin yang dimaksud. Ia menatap gadis itu lantas tertawa. "Kamu itu terlalu ambisi sama cerita ini, Nay. makanya terus menghubung-hubungkan!"


"Ih, kamu! Sekarang aku tanya, tato ini kamu dapat dari mana?"


"Eum, ini tato aku bikin pas aku masih SMP, waktu itu ada study tour ke Bali. Di sana ada jasa tato gratis. Pas aku lihat contoh gambarnya, aku langsung setuju saja."


"Tapi ini beneran, Arya. Ini simbol penangkal iblis!"


Arya diam sejenak, ia kembali pada ingatannya beberapa tahun lalu. Ingatannya memang kuat, bahkan kejadian saat dirinya masih kecil juga masih dapat ia ingat sampai sekarang.


"Bagaimana? ada yang aneh nggak sama tukang tato itu?"


"Seingetku, pas dia lihat aku, dia cuma bilang, Archangel."


"Archangel?!"

__ADS_1


__ADS_2