pancasona

pancasona
Part 87 Risna terancam


__ADS_3

Rumah sakit tempat Risna menginap adalah satu-satunya rumah sakit terbesar di daerah ini. Masih dalam lingkup desa, tapi cukup ramai karena banyak warga dari daerah lain juga datang ke sini jika mengalami masalah kondisi kesehatan.


Penjagaan cukup ketat di depan ruangan Risna. Ia ditempatkan di ruangan khusus VIP. Hanya perawat dan dokter saja yang bisa keluar masuk seenaknya.


Kakinya di gips. Membuat ruang gerak nya terbatas. Ia nampak tidak mempermasalahkan hal itu karena ada tiga polisi yang terus berdiri di depan kamarnya. Risna hanya tiduran sambil bermain ponsel miliknya untuk membunuh waktu.


Andrew dan tim hendam menengok Risna sekaligus menanyakan hal-hal yang dirasa penting untuk proses penyelidikan. Ia menjawab semuanya dengan baik sesuai apa yang terjadi, saat sebelumnya mereka berkunjung. Tapi mereka belum puas atas jawaban Risna kemarin. Sementara Risna masih tidak menyangka kalau Gibran adalah seseorang dari masa lalunya. Yang tidak lain adalah Riki.


Abimanyu datang bersama Maya. Maya bersikeras menjenguk Risna karena juga tidak menyangka kalau hal itu terjadi pada orang-orang terdekatnya. Gibran yang terkenal sebagai senior yang supel, baik, dan termasuk idola di sekolah, mendadak menjadi tersangka atas rangkaian kasus pembunuhan yang ada di desa ini. Mereka berdua masuk ke ruangan Risna.


Ruangannya cukup luas. Selain ada AC yang membuat ruangan ini sejuk, ada juga sofa, kasur untuk penunggu pasien dan kulkas mini. Abimanyu menatap papan di bawah yang menempel di ranjang pasien.


"Delona Risna" Nama terang Risna serta tanggal lahir dan tanggal dia masuk.


"Saya bener-bener nggak sangka kalau Gibran adalah Riki," cetus Risna memainkan selang infus yang menempel di tangan kanannya.


"Aku juga, Kak Risna. Setau aku Kak Gibran orang yang baik," sahut Maya yang kini memilih duduk di pinggir ranjang Risna. Mereka terlihat cukup dekat.


"Kamu nggak apa-apa, May?" tanya Risna memperhatikan gadis di sampingnya dari atas ke bawah.


"Aku baik-baik aja, Kak. Kakak tuh yang parah. Kakinya aja mirip mummi gitu. Memangnya apa yang udah dilakuin Kak Gibran kemarin?"


Abimanyu hanya diam, memperhatikan sambil duduk agak jauh. Memilih sofa sebagai tempat ternyaman bersama Andika. Jesika dan Andrew berdiri di dekat dua gadis itu.


"Jadi kamu kenal Riki?" tanya Jesika dengan sebuah pertanyaan yang membuat Risna mati kutu. Ia terlihat gelisah dan takut.


"Kamu bisa ceritakan tentang kejadian 7 tahun lalu?" Kali ini Andrew melontarkan pertanyaan yang tak kalah telak dari Jesika.


"Kak ...," panggil Maya dengan menggenggam tangan Risna yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan kosong. Ia berusaha menyadarkan Risna dari lamunan Risna sendiri. Gadis dengan kaki digips itu, terlihat seperti ingin menghindar dari berondongan pertanyaan dari para polisi ini, jika membahas tentang kejadian 7 tahun lalu itu. Risna menatap Maya. Wajahnya sendu. Mencoba mencari perlindungan dan semangat dari Maya. "Nggak apa-apa. Lebih baik Kak Risna ceritain aja semua. Siapa tau bisa membantu. Kak Risna jangan takut."


Risna mengangguk. Menatap kosong ke sudut lain ruangan. Ia membutuhkan banyak keberanian untuk sebuah kisah itu. Yah, kisah pilu itu.

__ADS_1


"Dulu, kami punya temen namanya Siska. Dia sahabat karib Riki. Ke mana mana mereka selalu berdua. Siska anak orang kaya, tapi dia keliatan biasa biasa aja. Dandanan dia bahkan jauh dari kata mewah." Risna menarik nafas panjang, cerita pasti akan panjang untuk diceritakan kembali.


"Sore itu, aku sama teman-teman baru aja selesai Les. Duduk di dekat toilet sekolah. Niatnya cari udara segar dengan cara cuci muka. Siska dateng ke toilet sekolah sendirian. Clarinta yang emang nggak suka sama Siska sejak awal, sengaja bikin Siska jatuh pas dia lewat di depan kami. Dia kepleset. Karena lantai kamar mandi yang licin, kepala Siska ampe kena tembok toilet. Dia berdarah." Risna menghentikan perkataannya, air mukanya makin tak menentu.


"Terus?" pinta Maya yang terlihat sama tertariknya seperti yang lain.


"Siska nggak apa-apa. Dia cuma diem sambil terus nutupin luka di kepalanya. Siska mulai nangis pas Clarinta deketin dia. Cindy juga ikut deketin Siska sama seperti Clarinta. Di saat itulah, Clarinta mulai ngomong kasar dan bahkan kotor. Awalnya kami diam. Tapi karena terbawa suasana, kami jadi ikut-ikutan mereka berdua buat bikin Siska makin nangis."


"Siska nggak melawan?" Jesika makin dibuat penasaran.


Risna menggeleng dengan air mata yang sudah banjir lagi. Maya memberikan tissue yang ia bawa dari dalam tas.


"Ngeliat Siska yang diem aja, justru malah bikin kami makin terus menyerang dia. Segala hinaan bahkan gosip yang beredar di keluarga nya, tentang Siska yang anak haram dari perselingkuhan ibunya sama laki laki lain juga terus kami bilang ke Siska. Sampai akhirnya Siska nggak dengan jatuh dari pagar yang ada di luar toilet. Toilet itu memang ada di lantai dua."


"Terus?"


"Kami bingung dan kabur. Ninggalin Siska sendirian. Aku juga takut kalau nolongin Siska saat itu, karena Cindy terus narik tangan aku dan ngajak aku pergi."


"Pas kami mau pulang, Riki dateng. Dan besoknya kami denger kalau Siska dirawat di rumah sakit karena mengalami gegar otak ringan. Dan seminggu setelahnya justru aku denger kalau Siska masuk ke rumah sakit jiwa karena terus menerus histeris."


"Kami dicurigai. Tapi orang tua Clarinta menyewa pengacaran dan kasus itu ditutup karena nggak ada bukti."


Maya terlihat terkejut. "Maya permisi ke toilet dulu!" Ia segera keluar kamar tanpa menoleh lagi. Hal itu membuat Risna merasa lebih bersalah lagi. Maya dan dirinya memang cukup dekat. Ia merasa sudah mengkhianati persahabatan nya dengan Maya. Maya pasti kecewa padanya.


"Gosipnya Siska bunuh diri. Kami nggak tau lagi kabar dia setelah itu."


Abimanyu yang penasaran lantas mendekat. "Kamu masih inget, kan, siapa aja teman teman kamu itu?"


Risna mengangguk sambil menatap Abimanyu. "Karena yang aku denger ada 10 orang yang melakukan hal itu ke Siska. Entah itu kalian cuma nonton atau turut andil melukai dia. Sebutkan siapa aja orang-orang itu."


"Hania, Giska, Eliza, Diva, Chandra, Amel, Feliz, Cindy, Clarinta, dan ... Aku."

__ADS_1


"Oke. Diva, Chandra, dan Amel meninggal nggak lama setelah itu, kan?" lanjut Abimanyu.


"Iya, setelah kabar kalau Siska bunuh diri. Mereka bertiga meninggal berurutan. Mulai dari. Diva lalu Chanda terakhir Amel," sahut Andrew membantu analisis Abi.


"Belum lama ini, Cindy sama Clarinta," tambah Jesika. "Udah lima orang, dan Risna sebagai korban berikutnya."


"Boleh aku minta data anak anak yang udah dibunuh itu?" tanya Abi ke Andrew. Andrew yang awalnya ragu lantas mengiyakan hal itu.


Andika meletakan beberapa map dan kertas tentang penyelidikan ini. Walau awalnya hal itu mereka ragukan, tapi melihat Abimanyu juga cerdas, maka mereka membolehkannya. Terlebih Andrew tidak keberatan sebagai kepala tim.


Abi mulai membaca dan mengurutkan data demi data. Mengurut pembunuhan dari korban pertama hingga Risna. Setelah mempelajari beberapa lama, mata Abi membelalak. "Ketemu!" kata Abi yang membuat seluruh orang di ruangan ini penasaran.


"Apa?"


"Riki membunuh tapi ini bukan pembunuh acak. Jadi aku pikir kita bisa mematahkan pembunuhan ini atau bahkan menyangka pelakunya kalau kita tau siapa korban selanjutnya. Dan Risna adalah target selanjutnya. Pasti dia bakal kembali ke sini."


"Kenapa kamu berasumsi ini bukan pembunuhan acak?" tanya Andrew.


"Karena Riki membunuh mereka dengan sistematis. Dan sesuai urutan."


"Urutan?"


"Iya, lihat nama mereka," kata Abi dengan menunjuk nama nama korban Riki yang telah tiada.


"Abjad?!" pekik Jesika dan menatap Abi tak percaya.


"Tepat sekali. Riki membunuh dengan urut. Sesuai nama abjad paling depan. Ardiva Natalia, Bianca Chandra, Citra Amelia, Cindy Santika, Clarinta Oktarina, Delona Risna. Nama mereka adalah sesuai abjad, bukan?"


"Bener juga, ya!" sahut Andika seolah tak percaya pada apa yang ia dengar. Risna juga terlihat makin gelisah.


"Kalau Risna gagal dia bunuh, lalu gimana?" bisik Andika.

__ADS_1


"Gue yakin, Riki bakal muncul lagi di sekitar Risna."


__ADS_2