pancasona

pancasona
18. kericuhan


__ADS_3

"Kok kamu disini?" itu adalah kalimat kedua yang terlontar dari mulut Manda.


"Kenapa?" tanya Haga balik.


Manda menggeleng sambil melongo.


PROOK ...


PROOK ...


PROOK ...


Suara tepuk tangan terdengar nyaring memenuhi ruangan. Bahkan beberapa pengunjung Resto menoleh. Ada yang bisik- bisik, ada yang terus menatap mereka, ada juga yang bersikap acuh.


"Waw ... Reuni yang mengharukan. Pangeran kamu udah dateng rupanya Manda. Jadi sebenarnya siapa yang menguntit? AKU ATAU DIA!!" teriak Beni sambil menunjuk Haga yang masih sibuk menatap setiap inci wajah Manda.


BUUUG!


Lagi- lagi pukulan keras mengenai wajah Beni. Kali ini Manda yang mulai geram. Tapi kali ini Beni tidak sampai jatuh tersungkur, hanya terseret mundur beberapa langkah. Disekanya darah yang kembali mengalir dari sudut bibirnya sambil menyeringai. Ibu jarinya dihisapnya pelan, hingga darah yang tadi diusapnya ditelannya dengan dingin.


Manda terus menatap tajam Beni lalu orang- orang yang datang bersama Beni maju dan menyerang Manda dan Haga. Terjadilah baku hantam diantara mereka. Sekalipun Manda dan Haga hanya berdua saja, mereka berhasil memukul mundur Beni dan kawanannya.


"Awas kalian berdua!!" ancam Beni lalu berlalu meninggalkan Resto bersama teman - temannya.


Haga mendekat ke Manda dan membantunya membereskan barang-barang Manda yang tercecer karena perkelahian tadi. "Kamu nggak apa- apa kan, Ai?" tanya Haga lembut.


Dipandanginya wajah Manda yang selalu tertunduk sejak tadi. "Ya ampun, kamu luka?" tanya Haga cemas sambil menatap wajah Manda yang sedikit lebam. Saat Haga akan menyentuh pipi Manda, ditepisnya tangan Haga dengan kasar. "Aku nggak apa-apa" jelas Manda lalu beranjak hendak meninggalkan Resto dengan wajah yang campur aduk.


Namun, Haga menarik tangan Manda dan otomatis memmbuat langkah nya terhenti.


"Mau sampai kapan kamu mau menghindariku, Ai?" tanya Haga getir.

__ADS_1


Manda mendengus kasar, "SELAMANYA!!" Ucap Manda dengan menaikkan nada bicaranya 1 oktaf. Tiba-tiba Haga menarik Manda kedalam pelukannya dan memeluk Manada erat.


Manda diam sejenak, dia seperti nya terkejut atas perlakuan Haga yang tiba tiba. Namun beberapa menit setelah kesadarannya pulih, didorongnya Haga dengan kasar. Hanya saja, tenaga Manda tak mampu membuat Haga melepaskan Manda begitu saja.


"Aku nggak akan ngelepasin kamu lagi, Ai... Nggak akan!" bisik Haga pelan ditelinga Manda.


Kini mereka berdua sudah duduk bersama disebuah meja yang kosong dengan ramen dihadapan mereka masing-masing. Tak banyak percakapan diantara mereka. Percakapan pasif yang dibuat Haga, tak mampu membuat Manda bersikap ramah dan lembut padanya. Wanita memang makhluk yang ingin dimengerti dengan cara yang sulit dimengerti. Sabarkan hatimu Haga. Hehe.


Selesai menyantap ramen, Haga mengantarkan Manda pulang. Mereka berjalan kaki sepanjang perjalanan pulang. Karena letak rumah Andre tidak begitu jauh. Sambil menikmati suasana gemerlap malam kota Tokyo dengan pemandangan sakura disana sini. Manda memeluk tubuhnya sendiri karena udara yang semakin dingin. Sekalipun ini bukan musim dingin, Jepang tetap saja dingin baginya. Melihat hal itu, Haga dengan sigap melepas jaket tebalnya dan memakaikan nya di punggung Manda. "Eh... Nggak usah." tolak Manda halus.


Haga menyunggingkan senyum tipis melihat reaksi Manda yang mulai melunak. "Nggak apa- apa ,Ai. Jangankan dingin, kangen ke kamu yang udah bertahun -tahun aja bisa aku tahan. Hehe" rayu Haga sambil mengedipkan sebelah matanya ke Manda. "Gembel!!" ucap Manda malu-malu sambil mencubit pinggang Haga. Haga tertawa sambil menahan tangan Manda yang otomatis mata mereka saling bertemu, dan kontak mata yang hanya berlangsung beberapa detik itu membuat keadaan hangat. Bagai ada alunan musik romantis dengan bunga sakura yang berguguran disekitar mereka. "Oh iya, kamu ngapain disini?" tanya Manda mengalihkan pembicaran. "Dipanggil Pak Andre" jawab Haga santai. Mendengar hal itu, Manda sedikit mengerutkan keningnya dan menatap Haga sebentar.


"Awalnya aku tolak, karena aku punya tujuan ke tempat lain. Tapi, Pak Andre maksa banget, jadi ya apa boleh buat. Tapi setelah udah disini aku sama sekali nggak nyesel. Karena ada kamu."


Lagi-lagi Manda melirik Haga yang sedang mengulum bibirnya. Dan alhasil cubitan bertubi- tubi kembali mendarat diperut dan pinggang Haga.


Sesampainya didepan rumah Andre, dimana Manda menginap, ternyata ada Habibi, Kevin, Andre dan Pak John sedang memanggang barbeque di halaman rumah.


"Wa alaikum salam..." sahut mereka. "Eh, Haga! Gimana kabarnya? Wah ketemu disini juga." seru Kevin sambil bersalaman dengan Haga seperti biasa. "Alhamdulillah sehat, kau gimana, Bro?" tanya Haga balik. "Yah gini deh Bro, seperti biasa." jawab Kevin sambil merentangkan kedua tangannya kesamping.


"Gaya lu...!" hardik Manda sambil menoyor kepala Kevin lalu berjalan menuju pemanggangan barbeque. Bau daging panggang membuat cacing di perut Manda kembali bergeliat. "Hm... Enak banget nih." seru Manda sambil mendekat ke Habibi yang sedang asik memanggang daging.


"Kamu udah makan?" tanya Habibi.


"Udah sih tadi. Tapi laper lagi. Hehe" ujar Manda sambil tersenyum bersama Habibi.


Habibi melirik ke Haga yang sedang mengobrol bersama Kevin, lalu tak lama menyikut Manda yang berdiri disampingnya. "Itu orangnya?" bisik Habibi sambil mendekat ke telinga Manda.


"Orang apaan?" tanya Manda balik dengan ekspresi heran.


"Orang itu tuh. Yang bikin kamu galau sedunia akhirat. " canda Habibi.

__ADS_1


PLAAAAK


"Apaan sih, Bib?" rengek Manda sambil memukul lengan Habibi.


Keakraban mereka membuat perhatian Haga kembali tertuju pada wanita pujaannya itu.


Kevin yang menyadari perubahan raut wajah Haga lalu mendekat ke Haga. "Tenang aja Bro. Mereka nggak ada hubungan apa- apa. Manda mah free. Jomblo sejati. " ujar Kevin sambil menepuk bahu Haga. "Tapi keliatannya mereka akrab banget ya, Bro" kata Haga seolah meragukan penuturan Kevin. "Percaya Gue deh. Habibi emang suka sama Manda, tapi Manda... Cuma suka sama Elu. "terang Kevin mantap.


"Ah, bisa aja Elu ,Bro." elak Haga sambil meninju pelan dada Kevin.


Mereka berdua akhirnya berkumpul bersama Habibi dan yang lain.


"Hei... Haga ya?" sapa Habibi sambil mengulurkan tangan kanan.


Haga menyambut uluran tangan Habibi dan mereka pun saling berjabat tangan dan berkenalan.


Pak John berdehem sambil melirik Manda. "Napa Om. Ngeliatinnya gitu amat?" sindir Manda dengan cueknya sambil menyantap daging panggang buatan Habibi.


"Hm... Manda Manda... " ungkap Pak John sambil menggaruk tengkuknya. Sedangkan Andre malah cekikikan sambil melihat Manda yang asik makan tanpa tau maksud dari Pak John.


"Dia emang nggak peka, Pah." sindir Andre sambil menunjuk Manda dengan dagunya.


"Eh siapa maksud Lo?" tanya Manda sambil melotot menatap Andre.


"Lah emang Elu kan kagak peka, Man. Payah banget deh, gitu aja kagak ngerti."sindir Andre lagi.


" Emang kenapa sih?" tanya Manda dengan wajah polosnya.


"Yaelah, Manda ... Manda... " kata Andre gemas sambil mengacak acak rambut Manda.


"Aaaah Andreeeee...." teriak Manda sebal.

__ADS_1


Malam ini mereka menghabiskan waktu dengan memanggang barbeque bersama. Canda tawa serta celotehan satu sama lain membuat malam dingin ini menjadi terasa lebih hangat. Pertemuan Haga dan Manda membawa kisah baru diantara mereka. Perjuangan Haga belum berakhir, justru baru akan dimulai sekarang. Tekad Haga sudah bulat untuk kembali mengambil perhatian Manda lagi. Tidak akan dia lepaskan lagi Manda seperti dulu. 


__ADS_2