
Ternyata mimpinya untuk berkumpul bersama sahabat sahabatnya dulu, pupus sudah. Feliz tak mampu berkata apa apa lagi. Ia kini hanya mampu duduk diam di kursi dekat jendela cafe Pancasona. Menikmati secangkir latte diiringi gerimis di luar. Pikirannya menerawang jauh. Bayangan masa lalu mulai ia ingat lagi. Masa-masa 7 tahun silam, saat dirinya dan sekelompok sahabatnya. Bukan langsung mengingat tragedi Siska celaka, melainkan jauh sebelum hal itu terjadi. Jika saja, tidak ada dendam di hati, maka hal mengerikan itu tidak akan terjadi. Mereka bersahabat bahkan dari sejak masuk sekolah dasar. Berawal dari persahabatan orang tua mereka, yang memang dari golongan orang terkaya di desa. Siska yang juga termasuk dari golongan borjuis, menolak bergabung dengan kelompok itu. Siska memang tipe introvert, apalagi hubungannya dengan Clarinta sudah buruk sejak awal.
Clarinta dan Siska adalah saudara sepupu. Orang tua mereka kakak beradik. Namun karena pembagian harta warisan yang dirasa tidak adil, maka orang tua Clarinta seolah menancapkan bendera peperangan dengan keluarga Siska. Clarinta sejak kecil sudah didoktrin untuk terus membenci Siska. dan terus membuat Siska tidak nyaman ada di sekolah. Clarinta juga mempengaruhi teman-temannya untuk menyiksa Siska. menekannya dan membullynya setiap hari.
Sampai pada suatu sore dengan kondisi cuaca yang gerimis. Kelas mereka yang sudah sejak sebulan lalu sering mengikuti kegiatan tambahan pelajaran, karena beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian sekolah, sedang beristirahat. kawan kawan Clarinta yang memilih berkumpul di toilet sekolah, seolah memblokade tempat itu hanya untuk mereka. Risna dan Eliza berdiri di dekat pintu, mengobrol sambil tertawa-tawa. Siska yang sejak tadi sudah menahan buang air kecil, terpaksa merangsek masuk ke sana. "Permisi," kata Siska melewati Risna dan Eliza. Dua gadis itu hanya melirik sinis ke arah Siska yang langsung sudah ada di dalam. Toilet ramai oleh teman-teman Clarinta. Mereka sontak menatap tajam Siska yang masuk ke dalam. Di sisi lain, Siska langsung masuk ke salah satu bilik toilet dan menuntaskan hajatnya.
Dari luar, Clarinta dan geng nya terus melontarkan kalimat yang melukai hati Siska. Segala hinaan dan fitnah kejam membuat Siska bahkan menangis tertahan di dalam. Ia bersembunyi dan takut keluar. Karena perlakuan buruk dari mereka sudah sangat sering diterima Siska, tapi dia hanya mampu diam saja.
"Buka!" teriak Clarinta sambil menggedor-gedor pintu toilet. Siska tetap diam, kini tubuhnya menahan pintu seolah olah takut pintu ini akan dibuka paksa. Dan nyatanya perkiraan dirinya memang tepat. Kini pintu ditendang dari luar, berkali-kali. Tak hanya Clarinta, semua orang bahkan bergantian melakukan hal itu hingga engsel pintunya mulai lepas.
Braaaak!
Siska jatuh tersungkur menghantam dinding toilet. Clarinta yang gemas, lantas menjambak rambutnya dan menarik Siska keluar. Entah kemasukan setan mana, Clarinta terus mendorong Siska dengan melontarkan kalimat jahat padanya. Mengatai kalau Siska adalah anak haram, Ibunya mempunyai simpanan, Ayahnya melakukan korupsi dan masih banyak fitnah kejam lainnya. Siska sempat melawan, ia balik mendorong Clarinta. "Kenapa kamu jahat sama aku, Inta?! Salahku apa?" tanya Siska diiringi derai tangis air matanya. Clarinta makin naik pitam, ia mendorong Siska kuat-kuat hingga Siska oleng. Tubuhnya menabrak pagar pembatas dan jatuh ke lantai bawah.
Semua orang terkejut. Membulatkan kedua matanya dan langsung berlari ke pembatas pagar lantai tiga yang memang lantai di mana kelas mereka berada. "Mati nggak itu?" celetuk Diva menoleh Clarinta yang berdiri di sampingnya. Clarinta tak menjawab, namun mengajak mereka semua pergi. Seolah tidak mengetahui kejadian itu. Mereka dipaksa tutup mulut. Riki berteriak saat melihat sahabat karibnya tergeletak di paving halaman samping sekolah. Ia menjerit meminta pertolongan dan Siska dibawa ke rumah sakit terdekat.
Kabar terakhir menyebutkan kalau Siska mengalami gegar otak dan harus dirawat lebih lama di rumah sakit. Clarinta dan yang lain masih terguncang, takut kalau saat Siska sadar mereka bersepuluh akan dibawa ke kantor polisi. Dan benar saja, polisi datang ke sekolah dan langsung membawa sepuluh orang itu untuk ditanyai beberapa hal. Clarinta memberitahukan orang tuanya dan mereka akhirnya menyewa pengacara.
Mereka terbebas dari segala tuduhan. Kurangnya bukti dan tidak adanya saksi membuat mereka bebas. Orang tua Clarinta menyewa pengacara kondang yang selalu memenangkan kasus. Tak peduli orang itu bersalah atau tidak. Memang uang selalu berkuasa. Uang mampu membeli keadilan.
Sementara itu kondisi Siska makin memburuk. Ia sering berteriak histeris dan sulit dikendalikan. Akhirnya Siska dipindahkan ke rumah sakit jiwa yang ada di kota. Orang tuanya sangat terpukul, bahkan keadilan untuk putrinya tidak ia dapatkan, kini putrinya juga harus mendapatkan pengobatan kejiwaan.
Seminggu setelah Siska masuk ke rumah sakit jiwa, rumor baru beredar kalau Siska melakukan bunuh diri di kamarnya. Ia ditemukan gantung diri dengan seprei ranjangnya sendiri. Riki adalah salah satu orang yang paling terpukul. Ia dan Siska sangat dekat. Sejak saat itu kematian mulai mengintai mereka semua. Diawali dengan kematian Diva, lalu Chandra, dan kematian Amel. Riki akhirnya ditangkap karena semua bukti mengarah padanya. ada bukti larutan racun yang ditemukan di kamarnya dan beberapa foto 10 orang itu yang sudah ia tandai dengan warna merah, yang ternyata darah dari masing-masing pemilik foto. Desa sempat gempar karena tiga pembunuhan ini. Pembunuhan berantai yang saling terhubung satu sama lain.
__ADS_1
Kasus ini dibawa ke kantor polisi pusat. Sejak Riki dibawa ke kantor polisi, desa kembali lebih tenang. Riki sempat ditahan di penjara, tapi dia kembali dibebaskan dengan beberapa syarat. Mengingat Riki adalah seorang anak di bawah umur dan permohonan dari orang tuanya. Dengan syarat Riki harus tetap wajib lapor, walau ia harus pindah ke luar kota. Riki memang dibawa orang tuanya pindah ke negara lain. Mereka membawa Riki berobat kejiwaan di salah satu rumah sakit ternama. Karena Riki didiagnosa menjadi pelaku sosiopat.
________
Feliz kembali pada kesadarannya di cafe Pancasona. Suara hiruk pikuk cafe membuatnya sedikit ingin menyingkir. Kepalanya berdenyut jika berada dikeramaian. Feliz berjalan ke toilet, berniat mencuci mukanya karena seharian ia tidak mandi. Niatnya yang ingin menginap di home stay harus pupus. Karena keselamatannya sedang terancam kini.
"Mau ke mana?" tanya Abi saat melihat gadis itu berjalan gontai.
"Toilet."
Abi hanya melirik sekilas dan terus mengamati keadaan sekitar. Mencurigai segala kemungkinan yang akan terjadi, atau pembunuh yang sebenarnya ada di sekitar mereka sekarang. "Bisma! Tolong awasi Feliz,"pinta Abi yang melihat Bisma sedang duduk karena barus saja menyuguhkan kudapan ringan ke pelanggan. "Siap." Bisma segera beranjak dan menuju toilet.
Beberapa menit berlalu. Abimanyu makin gelisah dan berkali kali melirik ke koridor yang terhubung dengan toilet. Akhirnya Abi menyuruh Ridwan menjaga meja barista sebentar. Karena ia harus memeriksa sendiri ke belakang. Langkah Abi pelan, malah mirip mengendap-endap. Suara di toilet justru terdengar sunyi. Hal itu yang membuat Abi makin cemas. Saat sampai toilet, ia langsung membuka pintu itu dan melihat Bisma yang tengah merintih kesakitan. Perutnya berdarah. Abi segera mendekat. "Astaga! Bisma! Ada apa? Mana Feliz?!" tanya Abi, ia melepas kemejanya dan menutup perut Bisma yang terus mengeluarkan darah. Abi menjerit meminta pertolongan.
Adi dan Gio yang melihat Abimanyu segera mendekat. Kini mereka bertiga berpencar mencari Feliz. Topografi desa yang dikelilingi pulau membuat pencarian mereka memakan waktu banyak. Terlebih pencarian hanya dilakukan 3 orang saja. Akhirnya Abi menyuruh Gio menghubungi Andrew dan meminta bantuan. Hanya butuh 20 menit, mobil polisi terdengar nyari di beberapa ruas desa.
"Ke mana, ya, kira-kira?" tanya Andika yang baru saja sampai. Tiga pria itu memang menunggu bantuan di batas desa. Mereka pun bingung harus spergi ke mana.
"Apakah mungkin mereka masih ada di sekitar cafe? Apa saja tempat terdekat dari cafe Pancasona?" tanya Jesika.
"Hanya ada sekolah, kantor pemerintah, dan gedung gedung perkantoran lain. Mana mungkin dia membawa Feliz ke tempat ramai seperti itu. Justru aku malah berfikir jika mereka sekarang ada di hutan. Apalagi kata Bisma tadi, Bisma sempat melihat arah perginya Feliz."
"Ya sudah. Kita susuri hutan di desa ini. Dan juga tempat-tempat kosong seperti rumah atau gedung yang tidak terpakai. Kalian juga cari di home stay. Bisa saja ia salah satu wisatawan yang menyewa homestay itu," suruh Andrew yang membagi tugas dengan terperinci.
__ADS_1
Semua bergerak sesuai komando. Abi mencari di sekitar hutan. Berkali-kali ia menekan dadanya. Ada semacam perasaan tidak enak dan salah yang ia rasakan. Ia merasa apa yang mereka lakukan tidak pada tempatnya.
_______
"Ridwan, sebaiknya kamu urus saja cafe. Pasti banyak pembeli. Aku baik-baik saja," kata Bisma yang kini sedang diobati oleh petugas medis yang datang beberapa menit lalu.
"Kamu yakin nggak apa- apa, Bisma?" tanya Ridwan cemas melihat Bisma meringis kesakitan.
"Santai, Bro. Udah sana."
Bisma menolak dibawa ke rumah sakit saat ambulance tiba. Ia bilang sangat tidak menyukai bau obat-obatan di rumah sakit. Karena sejak kecil ia sering sakit-sakitan. Beruntung karena luka robek di perutnya tidak terlalu dalam, maka Bisma hanya perlu diberi obat, antibiotik dan ditutup perban saja.
Ridwan memang kewalahan mengurusi cafe hanya berdua saja dengan Emil. Bahkan Emil terlihat sudah sangat kelelahan, wajahnya pucat. "Wan, gue ingin pingsan aja deh ini," gumam Emil yang duduk dengan nafas tersengal, mengelap peluh yang banjir di wajah dengan handuk kecil yang selalu tersampir di lehernya.
"Tenang saja, gue bantu, Mil." Ridwan mengambil alih membuat beberapa pesanan pengunjung. Emil juga ikut membantu mengantarkan pesanan ke masing- masing meja. Mereka kewalahan tapi tidak ingin menyerah dengan keadaan. Sama seperti Abi, Adi, Gio, Andrew dan semua orang yang ada di lapangan.
Bisma yang sedang tiduran di ruangan pribadi Abimanyu beranjak dengan perlahan karena rasa sakit di perutnya yang belum reda sepenuhnya. Ia mendekat ke jendela dan memperhatikan keadaan di sekitar cafe yang memang masih ramai. Sambil terus memegangi perutnya, Bisma berjalan keluar menuju toilet. Tangannya terasa masih lengket karena darahnya sendiri yang terlanjur mengering. Bisma melepaskan pakaiannya yang memang basah. Air membasahi kedua tangan Bisma sampai siku. Ia juga membasuh wajahnya dan kini terlihat lebih segar. Ridwan masuk ke toilet sengaja mencari Bisma.
"Tadi Bang Abi nelpon, katanya elu disuruh balik saja, Ma. Bawa saja itu mobil tua," tunjuk Ridwan ke mobil yang selalu terparkir di samping cafe. Bisma tidak menjawab hanya mengacungkan ibu jarinya ke atas. "Pakai baju dulu! Masa telanjang!" runtuk Ridwan lalu pergi meninggalkan toilet. "Kunci mobil ada di meja Bang Abi," jerit Ridwan yang kini sudah tidak lagi terlihat batang hidungnya. Kembali tenggelam dalam hiruk pikuk cafe.
Bisma mengambil baju dan jaket di loker karyawan yang memang disediakan untuk mereka semua. memakai sebuah kaus polo dan jaket denim. Ia merapikan rambutnya terlebih dahulu, lalu berjalan ke toilet, lagi. Bisma membuka salah satu bilik toilet lalu menyeringai. "Ayo kita pulang, Fel," ucap Bisma. ia menyeret gadis itu kasar. Tidak takut jika terpergok oleh teman-temannya atau orang lain. Lalu keluar dari pintu belakang cafe setelah mengambil kunci mobil yang dimaksud Ridwan tadi. Bagasi belakang Bisma buka, ia melempar Feliz kasar. Entah apa yang sudah Bisma lakukan pada Feliz, hingga gadis itu tidak terbangun walau sudah diperlakukan dengan begitu buruk. Beberapa bagian tubuh Feliz sudah lecet dan berdarah. Mobil dinyalakan dan Bisma membiarkan mesin mobil menyala untuk beberapa saat. Mobil ini memang jarang digunakan oleh Abi. Ingin menjualnya tapi mobil ini adalah warisan ayahnya. Bisma mulai melaju melewati cafe. Ia membunyikan klakson menyapa cafe. Di sana ada Ridwan yang sedang membawa dua cangkir kopi ke meja yang ada di halaman depan cafe. Ridwan melambaikan tangannya dan kembali ke rutinitasnya sendiri.
Bisma terkekeh karena ia berhasil kabur dari tempat itu tanpa dicurigai siapa pun. Ia menyetir sambil mengingat kembali actingnya beberapa waktu lalu. Abimanyu yang menyuruh Bisma mengikuti Feliz adalah bukan ide baik ternyata. Karena saat Feliz masuk, Bisma juga ikut masuk. Bisma mengunci pintu dan mulai mendekat ke bilik toilet tempat Feliz. Ia mengambil sebuah kunci inggris yang selalu diletakan di lemari yang ada di toilet. Bisma menyembunyikan di balik punggungnya, berdiri di depan pintu toilet itu dan menunggu Feliz keluar.
__ADS_1
Terdengar air yang mengalir dari kloset. Pintu dibuka. Feliz tersentak kaget saat melihat Bisma ada di depan pintu. "Kamu ... mau apa?" tanya Feliz dengan nada bergetar. Bisma tidak menjawab hanya menyeringai. Ia keluarkan kunci inggris yang ia genggam sejak tadi dan langsung menghantamkannya pada kepala Feliz sebelum gadis itu berteriak. Feliz langsung tak sadarkan diri dengan darah mengucur di kepalanya.