pancasona

pancasona
25. Apri kesurupan


__ADS_3

"Fauzan! Kesurupan!" jerit Apri sambil menunjuk belakang mereka. Dana menoleh, bertepatan dengan Fauzan yang muncul dan langsung menyerangnya.


Perkelahian pun terjadi di antara Fauzan dan Dana. Keributan itu membuat semua orang terbangun dari tidurnya.


Hana, Hani dan Bledoz segera melerai keduanya, terutama Fauzan yang bertingkah brutal dan terus saja ingin menyerang siapapun yang mendekatinya. Akhirnya Fauzan berhasil diikat di sebuah pohon besar yang tak jauh dari tenda mereka. Dia terus berteriak.


"Dia kenapa sih? kok bisa jadi kayak gini?" tanya Hana menatap Dana dan Rea


bergantian. Sementara Apri sedang ketakutan sendiri sambil menjauhi mereka, dia tidak berani mendekat bahkan menatap mata Fauzan.


Dana menggeleng karena dia memang benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi, dia justru menatap Rea yang sedang panik melihat Fauzan terus


berteriak.


"Aku juga nggak tahu. Tadi aku sama Apri lagi ada di sana," tunjuk Rea ke arah yang memang mereka pakai untuk buang air kecil Apri sebelumnya. "Terus tiba-tiba Fauzan yang ada di seberang sana, ngeliatin kita berdua. Tapi tatapan matanya aneh. Dia menyeramkan. Entah kenapa tiba-tiba dia langsung lari ke arah kami berdua. Ya jujur aja kita takut dong ngelihat Fauzan yang seperti itu. Aku sama Apri jadi ikut lari deh ke sini."


"Wah jangan-jangan Fauzan kesurupan!" cetus Blendoz.


Mereka semua memang menjadikan Fauzan pusat perhatian. Jeritan Fauzan yang tidak kunjung berhenti membuat suasana hutan menjadi lebih bising. Semua orang terbangun walaupun sambil menguap dan menahan kantuk. Ini masih tengah malam, dan mereka seharusnya masih tidur nyenyak.


"Terus gimana dong? Siapa yang bisa nyembuhin orang kesurupan?" tanya Ita menatap mereka semua bergantian.


"Gue nggak tahu. Boro boro nyembuhin orang kesurupan, salat aja nggak pernah," ucap Hana menimpali.


"Terus gimana dong? Nggak mungkin, kan, kita biarin Fauzan kayak gini terus sampai pagi?" tanya Leni meminta penjelasan dan rencana selanjutnya.


"Ya kalau sampai pagi dia sadar, syukur deh. Kalau enggak sadar juga, gimana? Masa kita harus di sini terus sih!" cetus Diah.


"Eh yang namanya orang kesurupan itu pasti capek. Gue yakin besok pagi dia udah sadar kok. Udah, kita biarin aja dulu. Yang penting dia kita ikat terus kita awasin. Takutnya tiba-tiba dia nyerang kita pas kita tidur, kan bahaya!" tambah Hani.


"Tapi kasihan, ya?"

__ADS_1


"Iya, kasihan. Tapi lebih kasihan kita semua kali, kalau dia nyerang kita kayak tadi. Solidaritas nya disingkirin dulu, Ta! Dia bukan Ozan, tapi setan!" Perkataan Hani memang ada benarnya.


"Gimana menurut kamu, Dan?" tanya Rea meminta keputusan ketua tim.


"Hm, bener sih. Kata Hani. Lagipula di antara kita nggak ada yang bisa sembuhin Ozan, kan? Untuk keamanan bersama biar dia kita ikat gini dulu sambil nunggu dia stabil dan mungkin bisa sadar nanti."


"Iya benar. Lebih baik sekarang kalian balik lagi ke tenda. Biar kita cowok-cowok yang jaga," ucap Blendoz dengan penuh bijaksana.


"Eh, Apri mana?" tanya Leni sambil tengak tengok sekitar.


"Di tenda mungkin. Dia pasti shock banget. Biar aku lihat ke tenda."


"Tenangin dia dulu, ya, Ta!" jerit Rea karena Ita sudah terlanjur berjalan menuju tenda mereka. Sementara Ita hanya mengacungkan jempol ke atas tanpa menoleh.


Suara Fauzan masih terdengar bahkan sampai ke dalam tenda. Apri yang memang ketakutan, memutuskan bersembunyi dan tidak mau terlibat dengan apa yang terjadi pada Fauzan. Di antara mereka bersepuluh, memang Apri adalah orang yang paling penakut, dan juga polos.


"Ya sudah, kalian juga balik aja ke tenda. Lanjutin tidurnya," suruh Dana ke teman teman perempuan. Tapi tatapan Dana lebih tertuju pada Rea. Hanya saja Rea tidak memperhatikan hal itu. Dia justru segera berbalik, kembali ke tenda diikuti Ita, dan Diah.


"Rencana lo apa, Dan? Kalau misal besok Ozan masih kayak gitu," ucapan Hana yang menjadi sebuah pertanyaan membuat Dana menarik nafas dalam.


"Itu dia yang bikin gue bingung. Di antara kita kan, nggak ada yang ngerti tentang ginian. Gue cuma berharap, besok Ozan udah waras lagi. Entah apa yang bikin dia kayak gitu, terserah deh. Yang penting besok dia harus balik lagi kayak semula."


"Ini mah yakin gue, dia kesambet setan! Jangan jangan hutan ini banyak setannya!" tukas Hani sambil memperhatikan sekitar.


"Ye, yang namanya hutan di mana mana ya pasti angker. Wingit. Apalagi yang model gini nih," cetus Blendoz sambil menatap ke atas. Kedua tangannya berada di lengan, seperti sedang memeluk tubuhnya sendiri karena takut.


"Pertanyaan gue, kalau Ozan besok masih kayak gitu. Kira-kira apa yang harus kita lakuin? Bukannya besok kita bakalan lanjutin cari jalan pulang, ya?" tanya Hana.


"Ya udah, bawa aja kayak gitu. Tetep kita ikat. Sumpal juga mulutnya. Biar nggak memancing binatang buas."


"Eh, kenapa nggak sekarang aja? Kalau tiba tiba ada beruang muncul gimana?"

__ADS_1


"Astaga, mana mungkin. Yang penting ni api masih nyala. Aman."


"Aman dari binatang buas, tapi bukan dari setan, ya?" tanya Hani


"Lo mah setan mulu! Udah tahu, kalau kita lagi di tempat ginian, malah dia bahas mulu! Bego!" umpat Blendoz sambil melempar Hani dengan batu kerikil di bawah kakinya.


"Aduh! Astaga sakit, bego!" balas Hani. Dia mengelus kepalanya karena merasa nyeri pada bagian pelipisnya. Berniat hendak membalas perlakuan Blendoz, Hani ikut mencari kerikil di bawah kakinya. Tangannya menjulur ke bawah, meraba tanah di bawahnya dan berhasil mengambil sesuatu yang terasa keras. Tapi merasa bentuknya agak aneh, Hani menatap benda yang ia pegang saat ini.


"SETAAAN!" jerit Hani lalu melempar benda itu dan melompat menjauh.


Tentu semua orang ikut terkejut melihat reaksi Hani yang tiba tiba seperti itu.


"Apa sih?" tanya Blendoz, terkejut hingga menekan dadanya yang seakan akan hampir saja keluar.


"Iya! Bikin kaget aja!" tambah Hana yang menepuk nepuk dadanya.


"Itu ... Itu!" tunjuk Hani pada benda yang baru saja ia lempar.


Semua orang menatap ke arah yang Hani tunjuk. Karena kegelapan malam, benda itu tidak terlalu terlihat jika dilihat dari kejauhan. Akhirnya satu per satu mendekat sambil terus memperhatikan apa yang membuat Hani terkejut tadi.


Begitu sudah berada pada jarak kurang lebih 1 meter. Hana langsung menjerit seperti apa yang dilakukan oleh adik kembarnya itu. Blendoz juga melakukan hal yang sama. Dia bahkan lari terbirit-birit sampai ke depan tenda milik para gadis. Hanya Dana saja yang melihat masih berdiri di tempatnya.


Dana terus memperhatikan benda itu. Sebuah benda dengan ukuran sebesar jari kelingking manusia itu bergerak-gerak.  Benda itu memang tampak seperti jari manusia. Itu lah yang membuat semua orang ketakutan.


Baru beberapa detik berlalu kini ada suara jeritan dari tenda para gadis.


Kini Diah, Leni dan Ita berlari keluar dari tenda sambil terlihat ketakutan.


Blendoz yang berada di depan tenda mereka lantas meraih tangan Diah dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan gemetaran Diah menunjuk ke arah tenda. 


"Apri ... Apri kesurupan," ucap Diah dengan wajah yang sangat panik.

__ADS_1


__ADS_2