
[Nay, pulang ya. Papah sakit.]
Sebuah pesan singkat yg kuterima pagi ini mampu membuatku uring uringan.
Perasaanku tidak menentu. Aku mencemaskan papah.
Papah sakit apa ya? Karena beliau jarang menderita sakit yang membuat Mama dan adikku harus menghubungiku seperti sekarang. Jika sudah sampai begini pasti lah bukan penyakit yang enteng. Kuputuskan pulang sore nanti setelah kuliahku selesai.
Tiiinnn!!
Suara klakson motor wira. Dia sudah menjemputku rupanya.
Segera aku keluar kamar kos dan sedikit berlari menghampirinya.
Dia tersenyum hangat. Membuat pagiku lebih baik lagi.
Kami berangkat ke kampus.
Tinggal 2 minggu lagi wira menjadi asdos di kelas ku. setelah ini dia akan bekerja di tempat lain. Otomatis, aku tidak akan bertemu dia saat kuliah.
Ada Jen yg berdiri tidak jauh dari parkiran motor. Dia senyum melihat kami. Seperto sengaja menunggu kedatangan kami, terutama Wira pastinya.
"Hai kak Jen. Apa kabar?" sapaku setelah kami saling berhadapan.
"Baik, Nay. Kamu gimana?"
"Sehat."
Jen melirik ke wira, seperti ada yg akan mereka bicarakan.
"Mmm... Aku balik kelas duluan ya. Dah!" pamitku lalu melambaikan tangan ke mereka. Sadar kalau aku bukan bagian dari obrolan tersebut, dan aku tidak mempermasalahkan nya.
"Eittsss.. Tunggu!" kata Wira menarik tanganku. Dia lalu mencium keningku sambil senyum.
"Gitu doang?" tanyaku sambil mengerucutkan bibir.
"Kamu mau yang lebih. Kayak semalam itu? Oke," katanya lalu berjalan mendekat.
Aku langsung berlari menghindar sebelum dia mendekat padaku.
Jen pun tertawa lepas melihat kami berdua.
\=\=\=\=\=\=\=
Pov wira
"Kenapa Jen?" tanyaku.
Aku yakin dia menungguku di sini karena ada alasan nya, dan pasti penting.
"Ada tugas, Ra!!"
"Ke mana?"tanyaku
"Purwakencana!"
"Ada masalah apa?" tanyaku.
Ya, selain menjadi asdos di kampus ini. aku juga mempunyai pekerjaan lain, aku seorang hunter.
Pemburu apa?
Aku Memburu manusia yg melenceng dari kehidupan normal dan merugikan orang lain.
Dan kasus kali ini.. Ada teror di sebuah desa yg ada di kota Purwakencana, di mana itu adalah kota kelahiran Nayla. Entah ini kebetulan semata atau takdir Tuhan, apa pun yang aku lakukan selalu berhubungan dengan gadis itu.
Beberapa perawan menjadi tumbal untuk sebuah ilmu hitam.
Memang tidak sampai meninggal, namun mereka diperkosa oleh pelaku agar ilmu nya bertambah kuat.
Jen dan aku adalah kaki tangan Hans.
Hans mendirikan sebuah organisasi yg dikhususkan untuk masalah seperti ini.
Hans sudah kuanggap seperti ayah sendiri. Walau jika dihitung secara matematika umurku jauh lebih tua daripada Hans. Tapi dia selalu memotivasiku untuk hidup lebih baik lagi.
Dan Jen, sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Jika ada masalah, aku selalu curhat ke Jen. Terutama masalahku dengan Nayla. Dia sangat memahami situasi antara aku dan Nayla selama ini. Dia juga yang memiliki ide untuk membuat Nayla cemburu. Dia juga yang meyakinkan ku kalau Nayla juga sebenarnya mencintaiku, hanya saja dia masih ragu akan masa lalu ku itu. Hanya butuh waktu agar Nayla bisa menerimanya, dan itu semua memang terbukti benar.
"Ya udah, nanti sepulang kuliah aku ke sana," kataku ke Jen.
"Oke."
Jen lalu kembali naik ke mobilnya. Dia juga ada tugas di kota lain.
Aku mulai mengajar seperti biasa. Rasanya semangatku bertambah jika masuk kelas ini. Bagaimana tidak, di kelas ini ada pujaan hatiku yg sudah mengisi hari hariku selama beberapa bulan ini.
Adanya Nayla membuatku bisa merasakan rasa yang belum pernah lagi kurasakan selama beberapa puluh tahun belakangan. Bahagia, senang, emosi, takut.
Takut? Ya aku takut kehilangan dia.
semua rasa itu selalu kurasakan jika ada bersama Nayla.
Namun satu yg pasti,aku tidak bisa terlalu lama jauh darinya.
Aku tidak bisa, jika sebentar saja tidak melihatnya. Bahkan jika aku sangat merindukan dia, aku bisa nekat datang ke kost nya malam malam tanpa sepengetahuan nya, dan yg kulakukan hanya melihat nya tidur lelap.
Mungkin aku terlalu posesif. Itu kata Jen. Tapi inilah caraku mencintainya.
Selama di kelas kulihat Nayla agak lain, seperti ada yg mengganggu pikirannya.
Dia tidak fokus dan sering melamun.
Apa lagi sekarang? Semoga bukan hal buruk yang bisa menggoyahkan perasaannya lagi.
______
Kelas usai dan langsung kutemui Nayla.
"Mau balik langsung atau mau ke mana dulu?"tanyaku.
Dia diam masih membereskan buku buku di meja.
__ADS_1
"Sayang...?" panggil ku pelan.
"Hmm... Iya. Aku anterin ke stasiun aja ya," katanya terlihat ada beban yang mengusiknya.
"Stasiun? Mau ngapain? Kamu mau ke mana?"tanyaku heran.
"Aku mau mudik. Papah ku sakit."
"Gak usah naik kereta. Aku antar aja ya. Kita naik mobil."
Kenapa serba kebetulan begini?
Aku juga berencana akan ke kota yg sama dengan Nayla.
Kupacu motorku menuju kost Nayla.
Sebelumnya aku meminta Arya untuk datang ke sini membawa mobilku dan beberapa pakaian ganti untukku.
Sambil menunggu Nayla berkemas, aku duduk di balkon kamarnya sambil menatap jalanan di hadapan.
Tak lama, arya datang.
"Sayang, aku ke bawah dulu. Arya udah sampai."
Dia hanya mengangguk.
Setelah bertukar kendaraan, Arya kembali pulang naik motorku.
Aku hendak naik ke kamar Nayla, tapi dia malah sudah berdiri diambang pintu dengan sebuah koper kecil di tangannya.
Ku bawakan kopernya dan memasukan nya ke dalam mobil
"Siap?" tanyaku.
"Siap."
Kujalankan mobil ku dengan kecepatan agak tinggi karena jarak tempuhnya lumayan jauh.
Sepanjang perjalanan Nayla banyak bercerita tentang keluarganya. Yang sebenarnya aku sudah tau lama, diam diam aku mencari tau tentang kehidupan Nayla, semua hal tentang dia.
Dia punya seorang adik perempuan yg masih duduk di bangku SMU.
Papahnya mempunyai usaha rumahan kain batik dan membuka toko tidak jauh dari rumahnya.
Ibunya seorang penari Jawa yg sangat cantik. Seperti Nayla. Beliau juga membuka sanggar tari di dekat rumahnya.
Nayla sangat cerewet. Tapi aku suka mendengar celotehannya. Padahal aku sudah tau semua.
Hidupku terasa lebih ramai kini mendengar semua cerita yang ia sampaikan. Entah itu remeh atau bahkan penting.
\=\=\=\=\=
Selama hampir 5 jam perjalanan kami tempuh, dan kini kami sudah memasuki kota Nayla.
Nayla yg tertidur nyenyak di sampingku, lalu kubangunkan perlahan.
"Sayang... Bangun.. Kita udah sampai."ku belai kepalanya lembut.
Dia bereaksi, sambil mengerjap ngerjapkan matanya, lalu tersenyum.
Kebiasaan dia kalau bangun tidur ya seperti ini.
"Mmm... udah sampai? oh iya.. Bentar lagi sampai rumahku ya, "kata nya dengan senyum sumringah.
"Iya, kita langsung aja ke rumah kamu kan?" tanyaku
"Iya dong. Oh iya, Yang, kamu ada kerjaan apa di sini? Kok bisa pas gini?" tanyanya.
"Mmm. Nanti aja ya ceritanya."
Dia pun menurut.
Itu salah 1 hal yg kusukai dari nya.dm dia tidak terlalu berisik dan ngeyel jika aku sudah mengatakan sesuatu. walau jika dia marah, itu sangat membuat tenagaku terkuras habis agar mendapat maaf darinya.
Tak lama, kami sampai di sebuah rumah sederhana bertema klasik.
Jujur, rumah ini mengingatkan ku pada rumahku dulu.
ya walau pun kuakui kalau rumah Nayla dipoles lebih indah dari rumahku di masa lalu, namun suasana nya sungguh sama. Kerinduanku sedikit terobati di sini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pov Nayla
Sampai di halaman rumahku, sudah ada Mayla yg sedang menyapu teras.
"Dek!" panggilku.
"Mba Nayla!" dia kaget lalu berlari menghampirku.
Kami saling berpelukan melepas rindu.
"Kirain bakal sampai malem, mbak?"
"Kebetulan tadi kuliah cuma bentar, terus ada yg mau nganterin juga ke sini. Jadi cepet deh sampainya,"kataku senang.
"Cieeee.. mbak Nayla udah punya pacar ya. kenalin dong."pinta Mayla manja.
Aku menoleh ke Wira yg masih berdiri di halaman.
"Eh, kok di situ. Sini masuk. May, ini wira.. Wira ini Mayla, adikku,"kataku memperkenalkan mereka.
Mereka berjabat tangan dan berkenalan.
Ku ajak wira masuk ke rumah. Lalu kupersilahkan duduk di ruang tamu.
"Mamah mana? Belum pulang? papah gimana?" tanyaku.
"Papah udah sehat kok mba. Mangen aja kayaknya sama mba Nay. Udah jaga toko lagi tuh. Mamah ya biasa, paling bentar lagi pada pulang. Eh mas wira, mau aku bikinin apa? Teh kopi?"
"Kopi boleh," jawab Wira sopan.
__ADS_1
"Oke.."sahut Mayla lalu berjalan ke belakang.
"eh eh eh. Kakakmu ini gak ditanyain?kejam nya dirimu?" tanyaku sambil teriak. Mayla dengan cueknya berjalan ke dapur tanpa memperdulikan ku.
Dasar!! Adik yg menyebalkan.
Wira terlihat melihat sekeliling rumahku sambil senyum senyum.
"Kenapa?"tanyaku heran.
"Rumah kamu enak. Jadi inget rumahku dulu."
"Mmm.. Emang kayak gini bentuknya?" tanyaku penasaran.
"Ya hampir mirip 70% sama. Cuma rumah kamu lebih bagus. udah tersentuh gaya modern sedikit."
Ceklek
"Eh, ada tamu."
Mamah muncul dari pintu depan dengan membawa sebuah kantung kresek di tangannya.
"Tamu jauh, Mah," kataku lalu berpelukan dengan mamah.
"Kamu sehat kan?"
"Sehat."
"Lho ini siapa, Nay?" tanya mamah sambil menatap Wira.
Wira lalu berdiri dan salim sama mamah.
"Saya Wira, tante..."
"Oh wira.. Silahkan duduk. Jadi Nayla pulang bareng Wira?"
"Iya, tan. Kebetulan saya ada keperluan juga di sekitar sini. Jadi sekalian."
Aku tidak begitu menghiraukan obrolan mereka.
"Mah, bawa apa. Jajan ya?"tanyaku sambil melongok kantung yg mamah bawa.
"Ih... kamu! Masih aja kayak anak kecil." mamah menepis tanganku membuatku memajukan bibir.
Mayla lalu masuk dengan nampan berisi minuman dan cemilan.
"Diminum mas," katanya sopan.
"Punyaku mana?"tanyaku sebal karena hanya ada 1 cangkir saja yg dibawa Mayla.
"Bikin sendiri. Manja deh.."
"Eh ini anak. awas ya nanti. Tunggu pembalasanku!!"sahutku lalu masuk ke kamar dengan menyeret koper ku tadi.
Mamah dan Wira hanya senyum.
"Maklum ya, nak Wira. Mereka ya gitu, berantem terus kalo ketemu. Tapi kalau gak ketemu kangen katanya."
Setelah itu aku tidak mendengar lagi pembicaraan mereka.
Aku masuk ke kamarku yg sudah lama tidak kulihat.
Rasanya kangen.
Sambil berdiri di dekat jendela kamarku yg lebar ini, aku memandang ke luar.
Banyak kenangan yg kuingat mulai dari aku kecil hingga besar dirumah ini.
Tok tok tok
"Hayo ngelamunin siapa ya."suara wira terdengar jelas di dekatku.
Rupanya aku lupa menutup pintu kamar dan kini dia sudah berdiri di pintu sambil bersedekap.
Aku hanya menoleh dan tersenyum tipis.
Dia lalu masuk dan seketika memelukku dari belakang.
"Eh.. Ra? Kamu ngapain masuk? Nanti mamah lihat gimana???" tanyaku sambil berusaha menolak kebiasaan kami selama ini.
"Udah, tenang aja. Mamah kamu lagi pergi sebentar, dan tadi udah nitipin anak gadis nya ke aku."
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Oh iya, katanya tadi mau cerita. Urusan kamu di sini apa?" tanyaku.
"Iya nanti aku cerita,"katanya masih dengan posisi yg sama.
Keadaan hening.
"Kamu tidur?'' tanyaku.
Wira tak menjawab, akhirnya kugoyang goyangkan tubuhnya.
"Mmm... Diem aja kenapa sih, Nay. Aku nyaman banget kalau lagi gini. Pasti aku langsung ngantuk."
Aku memutar bola mataku heran dengan pernyataan wira barusan.
Namun, samar samar aku melihat dari luar jendela seperti ada seseorang yg berdiri di sana.
Kumajukan kepalaku, dan kini tubuhku. Alhasil mendapat protes dari wira keran aku banyak gerak.
"Ra!! Itu siapa ya?" tanyaku sambil menunjuk ke luar.
Spontan wira membuka matanya lalu ikut melihat.
"Shiitttt!!!" umpatnya.
Lalu dia setengah berlari keluar kamar. seperti mengejar orang tadi.
Siapa sih dia?
__ADS_1
Dan kenapa sikap Wira begitu?
Aneh.