pancasona

pancasona
Part 169 Pertemuan Nayla dan Arya


__ADS_3

Di sebuah desa yang berada di kaki gunung merapi, ada seorang wanita. Muda, cantik, dan pintar. Berasal dari keluarga terpandang di desanya. Tahun ini, adalah tahun pertama dia memasuki jenjang perkuliahan. Ini adalah hari pertamanya kuliah. Langkahnya mantap dengan senyum tipis yang tak kunjung usai sepanjang ia berjalan menuju kelas. Ia sangat bahagia, karena telah menjadi seorang mahasiswi di perguruan tinggi negeri yang sudah lama ia idam-idamkan. Walau sebenarnya kedua orang tuanya tidak begitu setuju jika putri semata wayangnya harus berpisah jauh dari mereka dan pergi ke kota untuk melanjutkan study nya.


Kelas sudah mulai ramai oleh mahasiswa. Mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan. Beberapa sudah saling akrab karena merupakan teman sejawat atau sudah saling berkenalan saat masuk ke dalam kelas ini. Gadis itu sampai di depan kelas. Menatap ruangan besar itu yang sudah ramai. Ada rasa khawatir, dan sungkan. Karena dirinya tidak mengenal satu pun orang di dalam sana. Dia termasuk seorang wanita introvert.


Di ujung koridor, ia melihat seorang pria tua yang membawa beberapa buku di tangannya dengan tampang sangar, terlihat seperti seorang guru baginya, ia berpikir mungkin itu salah satu dosen di sini. Akhirnya dia masuk ke dalam, menerobos beberapa pria dan wanita yang menghalanginya, mencari sebuah kursi yang masih kosong yang ternyata berada di urutan paling depan. Ia segera duduk dan meletakan tas di meja. Tatapannya terus ada di pintu tadi, berharap pria tua yang ia lihat tadi tidak masuk ke ruangan ini.


Tiba-tiba tiga orang pria yang sesama mahasiswa mendekatinya. Mereka terlihat urakan dalam kaca matanya. Membuat dirinya bergidik ngeri melihat tiga pria itu. "Neng, kenalan dong. Namanya siapa? Cantik banget sih?!" ujar salah satu pria itu. Sementara kedua temannya terus menatapnya seperti seorang singa lapar yang hendak memangsa korbannya.


Namun sebuah kursi kosong yang ada di sampingnya ditendang seseorang yang ada di belakangnya. "Heh! Pergi kalian! Nggak usah macem-macem! Jangan ganggu dia!" katanya, setengah mengancam.


"Yaelah, Ya! Nggak asyik lu ah. Gue cuma kenalan doang, apa salahnya?"


"Berani lu ngelawan gue?! Gue bilang pergi, ya pergi!" omelnya lagi, kali ini dia sampai berdiri dengan sebuah buku di tangannya, hendak melempar mereka dengan benda tersebut. Tanpa diperintah lagi, tiga pemuda itu pergi, walau sambil menggerutu. Ia kembali duduk sambil melirik gadis di depannya.


"Udah nggak apa-apa. Mereka biasa gitu, iseng."


"..."


"Aku Arya," ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke samping gadis itu. Ia menyambut uluran tangan itu dengan kepala sedikit menunduk, "Nayla. Makasih, ya."


"Santai."


Seorang wanita paruh baya kemudian masuk dan membuat ruangan hening. Mata kuliah mereka dimulai pagi ini.


____________


Jam kuliah telah berakhir, semua mahasiswa keluar dari kelas bergantian. Nayla masih membereskan beberapa barang miliknya. Tanpa ia sadari Arya sejak tadi bergerak melambat, sesekali melirik ke gadis yang duduk di depannya itu. Hingga saat sebagian besar dari teman-teman mereka keluar kelas, Arya beranjak sambil menenteng tas ransel miliknya, dan segera keluar kelas. Nayla juga tak lama berjalan tak jauh di belakang Arya. Gadis itu mencari kantin, karena sejak tadi perutnya sudah keroncongan minta diisi. Sarapan susu dan sereal saja tak cukup baginya.


Arya berhenti sejenak sambil melihat sekeliling. Ia sengaja melakukan itu agar Nayla berjalan lebih dulu di depannya. Dan kini gantian Arya yang mengikuti Nayla ke mana ia pergi. Tentu dengan menjaga jarak. Cukup mudah menemukan kantin, karena letaknya memang tidak begitu jauh dari kelas mereka. Nayla segera memasuki kantin itu dan mencari kursi yang masih kosong. Setelah dirinya duduk, tanpa disadarinya, ada beberapa gerombolan pria lain yang kini membuat gadis itu merasa terpojok. "MABA ya? Cantik banget! Kenalan dong. Gue Rian! Gue kakak tingkat elu, jadi kalau elu ada masalah, kasih tau gue saja," kata salah seorang dari mereka. Nayla masih bergeming. Kepalanya menunduk, dan merasa risih dengan keadaan sekarang. Kembali ada pria-pria menyebalkan yang mengganggunya. Parasnya memang cantik, tak heran kalau dia menjadi sasaran mata lelaki. "Sombong amat ini cewek. Apa gagu kali, ya? Ditanya diem saja!"


Nayla makin tidak nyaman, ia ingin pergi namun bingung harus bagaimana. Akhirnya dia beranjak dari duduknya, "maaf, kak. Permisi, saya ada urusan lain." Tapi ia malah dihadang oleh mereka. Empat orang itu mengelilingi Nayla seolah tidak mengizinkannya pergi sampai mereka selesai mengerjainya. Tiba-tiba salah satu dari mereka dijambak kasar oleh Arya dan menariknya mundur ke belakang. "Heh! Kurang saja lu! Berani lu sama kita?" tanya temannya yang lain.


Arya hanya tersenyum sinis, lalu memukul rahang orang tadi hingga mulutnya berdarah. Pukulannya kuat dan bertubi-tubi membuat dua orang lainnya terkapar. Tidak ada yang berani mendekat atau melerai mereka semua. Keributan akhirnya pecah di kantin, saat teman-teman berandalan itu melihat kejadian ini. "Mundur!" suruh Arya dengan menunjuk Nayla yang masih berdiri di dekatnya. Arya di keroyok, tapi dia masih bisa bertahan dari serangan seniornya. "Gila si Arya. Bener-bener dah!" ucap seorang wanita yang berdiri di dekat Nayla.


"Kamu kenal Arya?" tanya Nayla yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya terhadap lelaki itu. Sudah dua kali Arya membelanya dalam sehari ini.


"Kenal banget. Lah dia mah saudara aku. Ya emang begitu orangnya. Gampang emosi. Eh, kita kan sekelas, ya?" tanya gadis itu sambil menatap Nayla lekat-lekat.


"Masa sih? Aku nggak tau."


"Iya. Kamu yang duduk di kursi paling depan tadi, kan? Di depan Arya. Kenalin, aku Retno." Mereka akhirnya saling berkenalan yang menjadi akrab. Keributan di kantin ini akhirnya sampai ke telinga dosen wali masing-masing. Banyak pihak yang melaporkan hal ini dan akhirnya mereka digiring untuk dimintai penjelasan. "Ikut saya ke kantor!" jerit seorang pria dengan tampang garang. Pria yang dilihat Nayla tadi pagi. Semua yang terlibat segera mengikuti pria itu. Arya menyapu sudut bibirnya yang robek, lalu mengambil tas nya yang tadi sengaja dijatuhkan asal. Ia sempatkan melirik ke Nayla yang masih berdiri bersama dengan Retno. Tatapan Nayla sungguh meneduhkan hati, ia ingin mengatakan sesuatu tapi sungkan. "Aku nggak apa-apa," kata Arya menatap gadis itu lalu segera menyusul yang lain.

__ADS_1


Dalam waktu satu hari, nama Arya menjadi cukup dikenal. Hampir semua orang menilai kalau dia berandalan dan urakan. Karena sampai berani mencari masalah dengan seniornya. Mereka diberi nasehat panjang lebar tentu sekaligus peringatan untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mereka tadi. Arya keluar dari ruangan itu dan sedikit terkejut melihat Nayla sudah ada di depan, menunggunya.


"Ngapain?" tanya Arya.


"Eum, tunggu kamu. Aku ... aku mau bilang ...."


"Makasih? Iya, kembali kasih. Santai saja lagi," ujar Arya memotong perkataan Nayla barusan. Ia berjalan lebih dulu dan tentu gadis itu mengikutinya terus.


"Bukan, Arya." Saat mulut Nayla menyebut namanya, Arya menjadi terpaku. Ia menelan ludah sambil menekan dadanya. Tiba-tiba jantungnya seolah berdesir, hingga membuatnya merasa tidak nyaman. Ia lantas menoleh, dan kini mereka saling berhadapan dengan jarak satu meter. "Terus?"


"Maaf." Kepala Nayla kembali menunduk, ia merasa sungkan dan tidak enak pada pemuda itu. Karena dirinya, maka Arya sampai mendapat masalah. Arya lantas menaikkan dagu gadis itu, hingga kedua pasang mata mereka saling bertemu. "Aku nggak suka kamu selalu menunduk begitu. Aku melakukan itu, biar kamu belajar melawan. Jangan cuma diam saja kalau ada orang yang memperlakukan kamu nggak baik. Biar kamu nggak selalu disepelekan sama orang lain. Ngerti? Jadi jangan harap aku bakal terus ngelakuin seperti tadi! " tegas Arya, menghempaskan wajah Nayla dan kembali membuat gadis itu terkejut. Sikapnya yang berubah-ubah sungguh aneh bagi Nayla. Kadang Arya terlihat manis dan baik, tapi ia bisa menjadi kasar dalam sepersekian detik setelahnya. Sungguh tidak bisa ditebak.


"Arya, sebentar!" panggil Nayla sambil menahan tangan pemuda itu. Arya otomatis menoleh dan menatapnya heran. Nayla mengambil sebuah plester dari tas nya. Ia lalu merobek bungkusnya dan segera memasang ke sudut bibir Arya yang terluka. "Biar nggak infeksi. Dan terima kasih buat hari ini." Gadis itu segera pergi dari hadapan Arya, meninggalkan Arya seorang diri dengan posisi yang sama seperti tadi. Ia tetap bergeming dalam beberapa menit sebelum akhirnya meraba bekas plester dari Nayla tadi. Akhirnya senyum tipis terbentuk di wajahnya. Ia segera pergi ke pelataran parkir untuk mengambil motornya.


____________


Nayla menyewa sebuah rumah kos. Sebuah lingkungan yang memang menyewakan rumah kos untuk ditinggali, baik untuk pekerja atau anak kuliah. Bentuknya seperti huruf U dengan tiap kamar yang cukup nyaman dan bisa disebut rumah. Ada teras, ruang TV dan kamar yang menjadi satu, tapi dengan ukuran yang cukup besar, kamar mandi dan ada sebuah ruangan kecil untuk dapur. Ia memang harus merogok kocek yang dalam untuk menyewa tempat ini selama setahun penuh.


Sore ini Nayla hendak keluar untuk mencari makan malam dan camilan. Ia bukan tipe wanita yang bisa memasak. Jangankan membuat sebuah hidangan, memasak air saja kadang bisa gosong. Sejak dulu segala sesuatu yang ia butuhkan selalu disediakan orang tuanya. Ia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga apa pun karena kedua orang tuanya cukup kaya raya dan selalu memanjakan Nayla dengan semua fasilitas terbaik. Itulah yang menjadi salah satu alasan kalau kedua orang tuanya sulit melepaskan putrinya untuk berjauhan dengan mereka. Padahal Nayla sudah dewasa, dan sudah sepantasnya mandiri.


Ia menaiki sebuah mobil, hanya memakai setelan piyama tidur bermotif hello kitty dengan model celana panjang, dibalut cardigan hitam, lalu memakai sendal bulu yang menutupi jemari kakinya. Terkesan santai dan memang inilah gayanya.


Nayla masih belum hafal tentang kota ini. Ini adalah pertama kalinya dia berada di kota lain, sendirian. Berbekal google maps, ia yakin tidak akan tersesat dan bisa kembali ke rumah kos dengan aman. Ia sampai di sebuah tempat yang cukup ramai menjajakan makanan tenda. Untungnya Nayla bukan termasuk orang yang suka memilih makanan. Walau dia anak orang kaya, tetapi makanan kaki lima pun tidak masalah buatnya. Ia memilih sebuah tenda penjual ayam penyet yang tidak begitu ramai. Sementara warung tenda lain penuh sesak.


"Eum, apa ya, adanya apa saja ya, Pak?" tanya Nayla sambil melongok ke isi gerobak di depannya. Sang pemilik warung tenda menyebutkan semua menu itu, beserta semua informasi yang ia punya tentang semua makanan itu. "Pak, es batunya ini," kata seorang pemuda yang baru saja datang. Saat Nayla menoleh ia melotot, begitu juga pemuda itu. "Arya?" tanya Nayla sedikit bingung karena bertemu dengannya di tempat ini.


"Iya, beli makan?" tanya Arya santai.


"Hooh, kamu?"


"Ini warung tenda bapakku, ya di sini aku bantuin lah. Pak, ibu katanya nggak bisa ke sini, punggungnya masih sakit. Biar Arya yang gantiin," ujarnya ke bapak tadi.


"Wah, kenal sama Arya di mana, nduk?" tanya Bapak itu yang malah tidak menghiraukan perkataan anaknya.


"Teman kuliah, Pak," sahut Nayla.


"Oh. Begitu."


"Eum, saya pesan ayam bakar saja, Pak. Sama es jeruk hangat," pintanya, dan mampu membuat Ayah Arya kebingungan saat mendengar es jeruk hangat.


"Es jeruk hangat?"

__ADS_1


"Iya, es jeruknya dibuat hangat dulu, Pak, terus kasih es batu di atasnya, tapi jangan banyak-banyak. Namanya es jeruk hangat, hehe."


"Oalah. Baik, neng." Arya yang juga mendengar hal itu ikut tersenyum.


"Eum, makan sini, ya, Pak," kata Nayla lagi.


"Oh, nggih. Silakan duduk dulu. Tunggu, ya, Neng. Nang, buatkan es jeruk hangat buat si Eneng," jerit bapak itu ke putranya. Arya kerap dipanggil dengan sebutan 'Nang', panggilan dalam bahasa Jawa yang artinya anak lelaki.


Awalnya Nayla berniat hanya membeli makanan saja dan segera pulang, tetapi saat mengetahui kalau Arya anak pemilik warung tenda, ia seolah ingin berlama-lama di tempat ini. Sesekali ia mencuri pandang ke pemuda yang sedang membuat pesanannya. Ia memang terlihat sangar saat ada di kampus, tapi ternyata dia termasuk anak yang berbakti pada kedua orang tuanya dan tidak malu saat ayahnya hanya seorang penjual ayam penyet pinggir jalan.


"Jualannya dari jam berapa, Pak?" tanya Nayla saat Pak Muh sedang membakar ayam pesanannya. Warung tenda dengan nama 'Ayam Penyet Pak Muh' sudah menjadi bocoran kalau pria itu bernama Pak Muh. Dalam percikan api yang berterbangan, Pak Muh dengan santainya menjawab semua pertanyaan Nayla. Nayla sebenarnya termasuk anak yang supel dan ramah, hanya saja ia butuh waktu menyesuaikan diri. Kecuali orang yang ia ajak bicara terlihat lebih terbuka, seperti Pak Muh ini. Maka Nayla dengan mudah berbaur dengannya. Mereka berbincang seputar kota ini, Nayla menceritakan tentang asalnya, dan segala pembicaraan ringan lainnya. Pak Muh juga menanggapi dengan baik dan antusias. "Wah itu desa termasuk desa yang bagus, Neng. Maju dalam banyak hal. Bapak walau nggak sekolah gini, sering baca koran dan pernah dengar nama desa Neng itu."


Gelas berisi es jeruk hangat sudah tersaji di depan Nayla. "Makasih, Ya." Arya tidak menanggapi lalu kembali ke pekerjaannya. Ia membantu membereskan meja bekas makan orang, merapikannya dan mengelapnya agar pengunjung lain tidak terganggu.


"Nah, silakan dimakan, Neng," kata Pak Muh dengan memberikan piring yang berisi ayam bakar lengkap dengan lalapan dan sambalnya. "Terima kasih, Pak. Bapak sudah makan?" tanya Nayla.


Pak Muh tersenyum, "sudah."


Nayla lantas menoleh ke Arya yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Seolah mengetahui apa yang dipikirkan Nayla, Pak Muh langsung menjawab, "Arya sudah makan tadi, Neng. Tapi paling nanti kalau warung sudah tutup, dia makan lagi. Jangan khawatir, Arya itu jago makan," bisik Pak Muh, dan berhasil membuat Nayla tersenyum.


Gadis itu segera menyantap makanannya. Sesekali ia juga mengobrol dengan Pak Muh, sementara Arya hanya diam duduk di sudut lain tentu sesekali ia juga memperhatikan keakraban Nayla dan ayahnya.


Hari sudah malam, Nayla masih berada di warung tenda ini padahal makanannya sudah habis. Sampai akhirnya ia sendiri yang merasa sungkan, saat mulai banyak pengunjung yang berdatangan ke warung tenda milik Pak Muh. Nayla pamit setelah membayar semua makanannya. "Ya, pulang dulu, ya," pamit Nayla saat Arya sedang sibuk membuat minuman untuk pelanggan. Pemuda itu hanya mengangguk, dan meliriknya sekilas. Nayla mendengus sebal, karena sikap cuek Arya yang kelewat batas.


Nayla segera naik ke mobilnya dan pergi dari tempat ini. Dan benar saja, ia tersesat. Beberapa kali ia belok di tikungan yang dia anggap benar, justru malah membuatnya makin jauh dari rumah kosnya. Saat ia memakai jasa google maps, pun sama. Ia terus diputar-putarkan hingga akhirnya dia menyerah. Hampir menangis, ia tetap terus mencoba berputar arah, atau setidaknya dia ingin kembali ke warung tenda Pak Muh tadi. Siapa tau Arya atau Pak Muh bisa membantunya pulang.


Tiba-tiba ia mendengar letusan dan merasa mobilnya berjalan miring. Nayla akhirnya memarkirkan mobil di pinggir jalan. Ia keluar dan memeriksa ban mobilnya. "Duh, bocor lagi!" runtuknya sambil menjambak rambutnya sendiri. "Mana sepi banget. Bagaimana dong ini," rengeknya dan hampir menangis.


Nayla yang bingung harus berbuat apa, lantas hanya jongkok di depan ban mobilnya yang kempes. Ia tidak tau cara mengganti ban mobil dan tidak tau harus minta tolong pada siapa di tempat ini.


"Kenapa?" tanya seseorang. Saat Nayla mendongak, Arya ada di depannya. Ia segera menyapu air matanya, dan menyembunyikan matanya yang sembab. "Bocor bannya."


"Ada perkakas buat mobil nggak?" tanya Arya sambil jongkok melihat kondisi ban mobil Nayla.


"Di bagasi," tunjuk Nayla, masih menutupi wajahnya dengan menundukkan kepala. Arya lantas mengambil semua peralatan yang ia butuhkan dan juga ban pengganti yang memang ada di bagasi mobil Nayla. Sementara Arya mengganti ban mobil, Nayla hanya jongkok di sampingnya, dan memperhatikan Arya terus.


"Sudah. Kamu itu mau ke mana sih? Sampai ke tempat gini?" tanya Arya heran.


"Aku nyasar. Nggak tau jalan, Ya," ucap Nayla dengan nada manja.


"Hm. Memangnya tinggal di mana?"

__ADS_1


"Di sini," tunjuk Nayla sambil mengulurkan google maps miliknya.


"Kejauhan ini muternya. Ya sudah, aku anter. Kamu ikutin aku dari belakang," suruh Arya lalu kembali ke motornya yang membawa beberapa keranjang di jok belakang.


__ADS_2