
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Semua orang sudah kelelahan bahkan sudah mulai sangat mengantuk.
Akhirnya mereka pun memutuskan untuk istirahat. Sebelum melanjutkan perjalanan esok hari
Apri dan Ozan yang masih belum sadar
dibawa masuk ke dalam tenda.
Mereka semua sudah yakin, jika dua teman itu sudah benar-benar sadar, sehingga tidak perlu lagi untuk diikat seperti sebelumnya.
Suasana hutan kembali hening. Tidak ada lagi suara berisik dari Ozan maupun Apri. Mereka semua mulai berusaha untuk tidur karena perjalanan mereka masih cukup panjang, dan mereka pun sudah sangat ingin pulang. Hanya saja itu semua bagai mimpi yang akan suit diwujudkan.
Baru beberapa jam mereka tidur, tiba tiba terdengar suara aneh di luar tenda. Orang yang pertama kali melihat, adalah Diah. Diah mengerjap, dahinya mengkerut, dan sedang menajamkan pendengarannya. Posisinya masih sama, tidak bergerak sedikitpun. Diah melirik sekitar tanpa merubah posisi. Kali ini karena penasaran Diah mulai bergerak untuk memeriksa kondisi Apri.
Tapi ternyata Apri masih tertidur. Bahkan belum bergeser dari posisinya.
Diah yang mulai bingung, lantas menatap sekitar dan melihat teman-temannya sudah tertidur.
Entah mengapa rasa kantuknya kini menghilang. Dia menatap jam di pergelangan tangan. Rupanya dia baru tidur sekitar 30 menit. Diah merasa waktu tidurnya masih sangat kurang.
Tapi entah mengapa dia justru tidak bisa tidur lagi sekarang.
Diah mulai gelisah, perasaannya tidak tenang, lalu tiba-tiba dari luar tenda ada sekelebat bayangan yang melintas. Diah langsung melihat ke arah bayangan itu menghilang. Dia penasaran pada apa yang ada di luar sana. Kini Diah akhirnya duduk sambil memperhatikan sekitar. Api unggun yang ada di luar ternyata mampu menampilkan bayangan yang bisa tertangkap.
Bentuknya seperti manusia hanya saja bagian tubuhnya terlihat lebih besar dan kakinya justru sangat kecil, senada dengan kepalanya yang juga sama kecilnya. Jika saja itu manusia rasanya itu bukan ukuran manusia normal pada umumnya.
Diah mulai takut dia lalu membangunkan teman-temannya. Tapi sayangnya mereka semua terlelap tidur.
__ADS_1
Mereka semua memang sudah sangat kelelahan sehingga memang sangat sulit untuk dibangunkan. Tapi Diah tidak pantang menyerah. Dia terus membangunkan mereka sampai salah satu dari temannya akhirnya terbangun.
"Apa sih, Di!" omel Rea yang akhirnya tidak tahan lagi karena tubuhnya terus digoncangkan oleh Diah. Usahanya berhasil membangunkan Rea, walau harus menahan bising nya omelan Rea.
"Sssst! Jangan berisik!"
"Kenapa sih?!" Rea masih terlihat kesal karena acara tidurnya berantakan karena Diah.
"Sorry, sorry! Tapi Re ... Aku lihat ada bayangan tadi. Takut, Re. Makanya aku bangunin kalian, tapi kalian tidur terus. Untung aja kamu bangun," sahut Diah berbisik.
"Emangnya kamu melihat apa? Bayangan apa sih?" tanya Rea yang masih belum menyadari tentang ketakutan yang dialami oleh Diah.
"Nggak tahu! Bayangan yang aneh, manusia tapi bukan manusia. Dia ada di luar dari tadi, mengelilingi tenda kita. Aku takut kalau dia berniat jahat atau jangan-jangan dia .. ," ucap Diah tanpa meneruskan kalimatnya.
"Jangan jangan apa?" tanya Rea yang mulai menyadari ada hal serius sekarang.
"Jangan ngaco deh. Setan apalagi sih? Enggak cukup apa, kejadian kesurupan tadi? Lagian kamu ngapain sih bangun. Harusnya kamu tidur, jadinya kamu nggak usah ngeliat yang enggak enggak lagi," kata Rea yang sebenarnya mulai takut tapi berusaha untuk terlihat santai.
"Aku kebangun. Terus ada suara aneh, Re. Eh, ternyata malah ada bayangan aneh itu. Makin takut dong, jadi nggak bisa tidur lagi!"
"Hm ... Mungkin salah lihat, Di. Udah ya. Balik tidur lagi aja," bujuk Rea yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Rasanya kejadian kesurupan yang baru saja selesai tadi, sudah membuat tenaganya terkuras habis. Jadi Rea tidak siap untuk kejadian lain pasca kejadian kesurupan tersebut. Dia lebih memilih untuk mengalihkan semua agar tidak lagi ada pembahasan mengenai hal-hal yang lainnya. karena konon jika
manusia sedang membicarakan sosok astral, maka yang dibicarakan itu akan muncul. Jujur saja Rea tidak siap dengan hal itu. Apalagi tubuhnya memang sudah sangat lelah. Dia benar-benar ingin istirahat dan tidur yang cukup lama.
Hanya saja itu tidak berlaku untuk Diah. Diah yang sebenarnya takut, tapi lebih penasaran malah mengajak Rea untuk memeriksa keluar tenda. Akhirnya terjadilah perdebatan di antara keduanya. Apakah mereka akan tetap memeriksa keluar atau mereka melupakan hal itu dan kembali melanjutkan tidur saja.
__ADS_1
Diskusi yang masih berlangsung tiba-tiba berhenti saat ada sebuah suara berdebum seperti benda yang jatuh dari langit terdengar menggema di sekitar mereka. Diah dan Rea saling tatap dengan bahasa isyarat yang ditularkan dari sorot mata keduanya.
Mereka tidak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya tatapan mata dan anggukan kepala maupun gelengan
seolah sudah mewakili kata-kata yang hendak mereka ucapkan.
Hingga akhirnya mereka berdua sepakat untuk memeriksa keluar tenda. Pintu resleting dibuka pelan, berusaha agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun dengan membuat gerakan menjadi lebih hati-hati.
Diah berada di posisi depan. Di belakangnya mengekor lah Rea yang sebenarnya tidak setuju dengan ide tersebut. Tapi dia terpaksa mengikuti apa yang Diah katakan. Karena bagaimana pun juga akan lebih berbahaya. Jika Diah pergi keluar seorang diri untuk memeriksa apa yang terjadi.
Rea tentu masih punya hati, dan cemas jika ada hal buruk yang menimpa temannya lagi. Kini Diah sudah keluar tenda. Rea menyusul setelahnya. Kedua gadis itu hanya berdiri di depan tenda sambil menyapu pandang sekitar.
Tidak ada hal yang aneh sejauh yang mereka lihat sekarang. Hanya ada kegelapan, suara binatang malam
, dan juga gemerisik daun kering yang tertiup angin.
Saat Rea hendak mengajak Diah untuk kembali ke tenda, Diah justru menahan tangan Rea, dan menunjuk ke salah satu sudut gelap hutan. "Itu lho, Re! kamu lihat, kan," ucap Diah berbisik dengan tangan yang mencengkram kuat lengan Rea agar mau berbalik badan dan menatap ke arah yang Diah tunjuk.
"Apa sih, Di! Enggak ada apa-apa kok, cuma daun yang ketiup angin. Ya udah ayo kita masuk. Aku masih ngantuk tahu!"
"Tunggu! Kamu lihat dulu! Itu dia, Re! Bayangan yang aku lihat tadi! Iya bener!"
Rea penasaran, sekalipun di otaknya selalu menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat itu, tapi hati kecilnya justru penasaran.
Akhirnya Rea menatap ke arah yang ditunjuk oleh Diah. Setelah diamati lebih dekat, sosok yang ada di ujung sana memang Sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Diah. Tubuhnya manusia, hanya saja kepalanya berbentuk kecil, lebih kecil dari ukuran kepala manusia normal. Tangan dan kakinya juga terlihat sangat kurus tapi anehnya tubuh yang terlihat besar sekali. Dia bersembunyi di balik pohon, rimbunnya kegelapan malam yang membantunya menyamarkan sosoknya.
"Astaga! Itu apa?!" gumam Rea sambil
__ADS_1