
Setelah menceritakan semua yang terjadi dari awal, mereka masih terlihat terkejut dengan kenyataan yang tidak disangka sebelumnya. Rupanya mereka tidak hanya sekedar tersesat saja, melainkan masuk ke dalam alam lain yang membuat mereka tidak bisa segera diketemukan selama ini.
"Pantas aja, kita seolah-olah diputar-putar terus selama ini, bahkan kita nggak pernah bisa menemukan tim lain. Itu benar-benar gak masuk akal," ucap Leni.
"Iya, Len. Bener. Apalagi dengan banyaknya kejadian kejadian aneh yang selama ini kita alami, itu juga termasuk hal yang mengerikan. Soalnya aku juga nggak pernah kesurupan kayak kemarin," jelas Apri.
"Iya, bukan cuman kesurupan aja yang membuat momen kita kemarin itu kelihatan mengerikan. Munculnya makhluk makhluk yang menyeramkan itu juga termasuk. Aku sama Rea nih salah satunya."
"Kalian lihat apa?" tanya Ayah Rea menatap putrinya yang sejak tadi diam.
"Bukan apa apa, Ayah. Cuma bayangan aja nggak penting," ujar Rea terlihat apatis.
Ayah Rea lantas menatap putrinya dengan tatapan curiga. Hingga akhirnya lamunan nya pun buyar karena panggilan dari teman-teman Rea yang meminta penjelasan lebih lanjut mengenai apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu sebelumnya.
Tidak hanya itu saja, senior juga penasaran dengan penjelasan ayah Rea, menunggu dengan sabar untuk mendengar kisah apa yang sebenarnya diketahui oleh pria tersebut. Mereka juga ingin tahu tentang sosok pria yang telah memberikan peta palsu itu kepada Dana. Karena mereka merasa tidak memiliki rekan satu angkatan yang memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan oleh Dana tadi.
"Jadi ... Maksud Om tadi mengenai orang itu, apa, ya?" tanya Dana yang sudah mulai gelisah.
Ayah Rea tersenyum, lalu menatap mereka semua bergantian. Dia menarik nafas dalam dalam, kemudian dikeluarkan cepat. ""sebenarnya saya tidak mengetahui tentang siapa orang itu. Hanya saja begitu Dana menjelaskan mengenai ciri-cirinya, saya teringat kalau orang dengan ciri-ciri seperti itu diantara kita semua. Mungkin kalian tidak mengetahuinya atau tidak menyadari tapi saya melihatnya sejak tadi," jelas Ayah Rea.
Sontak semua orang terkejut, mereka saling pandang dengan Tatapan yang tidak percaya. Tapi bukan berarti mereka tidak mempercayai perkataan Ayah Rea. Justru sebaliknya, Mereka ingin tahu penjelasan yang lebih lanjut lagi. Hari ini merupakan hal teraneh yang pernah terjadi selama mereka menjadi panitia untuk perpeloncoan Maba.
Perpeloncoan merupakan sebuah tradisi yang sudah turun-temurun dilakukan oleh senior yang bertujuan untuk mendekatkan diri dengan Junior. Walaupun tidak jarang para senior akan melakukan hal-hal aneh dalam artian menyuruh para juniornya untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa, tapi tidak akan ada unsur kekerasan fisik yang akan menyakiti para mahasiswa baru. Perpeloncoan biasa disebut ospek.
Mahasiswa baru alias maba akan mengikuti serangkaian kegiatan orientasi sebelum aktif memulai perkuliahan. Umumnya, kegiatan ini bersifat wajib.
Orientasi mahasiswa baru dikenal juga dengan istilah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau Ospek. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kehidupan perkuliahan.
Dunia kampus memiliki banyak perbedaan dengan pendidikan di bangku sekolah, mulai dari metode belajar, jadwal kelas, pakaian, hingga budayanya. Inilah yang akan dikenalkan kepada mahasiswa baru saat mengikuti ospek.
Diharapkan setelah menjalani orientasi mahasiswa baru, para maba bisa memahami sistem perkuliahan dan beradaptasi mengikuti kehidupan kampus yang dinamis dengan cepat. Ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan dengan mengikuti ospek. Mulai dari mengetahui sistem perkuliahan, mengenal keadaan di sekitar kampus, mendapat teman baru, dan mengenal senior.
Setelah orientasi pada tingkat universitas, mahasiswa baru juga akan mengikuti orientasi di tingkat fakultas dan jurusan. Biasanya waktu untuk ospek di tingkat jurusan dan fakultas lebih lama dibandingkan orientasi di tingkat universitas.
Jika tingkat universitas berlangsung dalam beberapa minggu, tingkat fakultas dan jurusan bisa berlangsung selama dua bulan hingga satu semester, tergantung kebijakan yang berlaku.
Tujuan ospek di tingkat fakultas dan jurusan ini adalah agar setiap mahasiswa baru dapat saling mengenal dengan teman-teman satu angkatan.
S
eperti yang sedang mereka lakukan sekarang.
__ADS_1
" Apakah Om melihat dia ada di sini? di tempat ini?" tanya Sena selaku ketua organisasi BEM, yang juga bertugas sebagai ketua dari kegiatan kali ini.
"Yah, dia ada di sini tadi. Hanya saja sekarang ... Dia sudah menghilang," jelas Ayah Rea sambil menyapu pandang ke sekitar.
Otomatis semua orang menatap sekitar, mencari sosok yang memang sebenarnya sudah tidak ada disekitar mereka. Hanya saja mereka masih penasaran dan ingin sekali mengetahui seperti apa orang itu.
Hari beranjak petang, setelah tim Dana diketemukan mereka semua akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke bandara. Acara yang sebenarnya sudah selesai beberapa hari yang lalu kini menjadi mundur hingga hampir 1 minggu lebih lamanya. Sebagian besar mahasiswa baru sudah pulang lebih dulu. Begitu juga dengan sebagian senior yang memang tugas saat itu. Tim pencarian memang sudah menyisir tempat tersebut setiap hari selama 1 minggu terakhir. Banyak yang ikut sebagai tim pencarian kali ini karena mereka juga sudah meminta bantuan kepada pihak Kepolisian. Untungnya para korban sudah ditemukan dengan selamat dan sehat walafiat. Kini mereka tinggal pulang dari meninggalkan Pulau Kalimantan dengan berjuta cerita.
Para korban kini sudah bisa bernafas lega, hanya saja untuk sementara waktu mereka tidak ingin diganggu pertanyaan dari pihak kepolisian ataupun kampus mengenai apa yang telah terjadi kepada mereka. Setidaknya penjelasan singkat sebelum mereka pulang sudah dirasa cukup. Mereka perlu istirahat. Baik fisik maupun mental mereka masih terguncang. Sehingga pihak kampus memperbolehkan mereka untuk beristirahat lebih dahulu di rumah selama satu pekan sebelum mereka berangkat kuliah. Kegiatan ospek memang sudah berakhir dan acara di pulau Kalimantan kemarin merupakan acara terakhir yang sengaja digelar oleh panitia. Pada awalnya panitia akan mengadakan acara di hutan tersebut dengan diakhiri salam perpisahan dan juga penyambutan mahasiswa baru di kampus mereka. Akan ada beberapa perayaan yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. Hanya saja setelah apa yang terjadi semua itu batal dan acara ospek berakhir saat itu juga.
***
Rea dan juga ayahnya segera pulang menaiki mobil setelah dijemput oleh sopir pribadi keluarganya. Tidak banyak pembicaraan di antara mereka berdua selama berada di dalam mobil menuju ke rumah. Ayah Rea bisa untuk mengerti dan memahami situasi dan kondisi putrinya yang masih tergoncang akibat kejadian tersebut. Walau demikian pria paruh baya itu mencurigai Rea. Ada sesuatu yang bunyikan oleh putrinya.
Tapi dia tidak ingin memaksakan jika Rea belum bisa menceritakan hal itu kepadanya. Melihat fotonya selamat itu saja sudah cukup baginya karena dia tidak ingin kehilangan lagi apalagi Rea sudah tidak memiliki Ibu. Ibunya meninggal dunia kecelakaan 5 tahun yang lalu. Sebuah pukulan berat yang dialami oleh keluarganya. Untungnya mereka berdua bisa bekerjasama sebagai ayah dan anak dan tetap kompak sekalipun keduanya merasa kosong.
Mobil pun sudah sampai ke halaman rumah besar keluarga Rea. Seorang wanita paruh baya dengan memakai daster tergopoh-gopoh mendekati Rea. Dia adalah asisten rumah tangga keluarganya yang sudah mengabdi sejak Rea masih kecil. Kan umurnya bisa dibilang lebih tua daripada kedua orang tua Rea. Sehingga Rea memanggilnya Budhe Siti.
" Neng. Alhamdulillah akhirnya Neng pulang juga!" seru Budhe Siti sambil terus memperhatikan wajah hingga sekujur tubuh wanita muda itu. Rea sudah dianggap seperti anak sendiri. Perhatian Budhe Siti mirip dengan apa yang sering dilakukan oleh ibunya dulu. Sehingga sekalipun Ibunya sudah tiada, Rea tidak kurang latihan dari orang-orang di sekitarnya.
Ayah hanya tersenyum saat melihat putrinya diberondong banyak pertanyaan oleh pembantunya. Dia tidak heran melihat sikap Siti yang selalu memperlakukan Rea istimewa. Siti sudah merawat Rea sejak Rea masih bayi. Itulah mengapa kedekatan keduanya terlihat cukup erat. Terlebih lagi karena dulu adalah seorang wanita karir, yang jarang berada di rumah. Jadi Rea lebih sering berinteraksi dengan Siti selama ini. Walau demikian Ibu Rea tetap menjadi dan melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu dengan sangat baik.
""Sudah makan belum neng makan dulu ya. Bude sudah masak makanan kesukaan Neng Astaga baru beberapa hari kok bisa sekurus ini sih!" kata Siti sambil memperhatikan wajah Rea yang terlihat lesu.
Rea merupakan anak yang sedikit manja. Hanya saja dia tidak bisa melakukan hal itu dihadapan ayahnya. Jadi setelah ibunya tiada, sifat manjanya justru diperlihatkan kepada Siti yang untungnya Siti pun menyambutnya tanpa beban.
Mereka pun akhirnya makan di meja makan. Rea terlihat lahap dalam menyantap makanannya. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian Siti kembali ke ruang makan.
"Pak, ada Pak Haga di luar," ucap Siti lalu tak lama sosok yang bernama Haga pun muncul.
Kedua ayah dan anak itu lantas menoleh lalu tersenyum begitu melihat sosok pria bertubuh atletis berjalan mendekat. Haga terlihat bersemangat dengan beberapa kantung plastik di tangan kanan dan kirinya.
"Dari mana lo?"
"Gue habis jalan jalan kemarin ke Swiss. Nah, ini oleh oleh buat keponakan, Om, yang paling cantik." Haga menatap Rea sambil mengedipkan sebelah mata.
"Heh!" bentak Ayah dari gadis tersebut.
"Ya Allah, Bib! Kenapa sih? Kan Rea udah gue anggap anak gue sendiri!" bela Haga yang seolah olah mengerti apa yang ada di pikiran Habibi.
Habibie lantas menatap sinis Haga, dia lantas melanjutkan makannya memang hanya tinggal sedikit lagi.
__ADS_1
"Makan, om?" Rea menawari Haga makan malam bersama dengan keluarganya. Namun Haga justru melirik ke arah Habibie yang kembali menatapnya tajam.
"Udah kenyang," sahut Haga datar.
"Hasha ke mana kok nggak ikut?"
"Oh, dia ada acara di kantornya. Apalah, Om juga nggak ngerti. Anak Om yang satu itu memang sibuknya luar biasa. Bahkan dia udah mirip sama ibu-ibu pejabat."
" Memangnya anak lu berapa?" Sindir Habibie.
" lah kan anak gue ada dua. Hasya sama Rea. Gimana sih lo!"
Mendengar pertengkaran ayahnya dan juga sahabat ayahnya itu, akhirnya Rea bisa tersenyum. Hal ini membuat Habibie menjadi lebih lega. Karena artinya Sudah ada kemajuan untuk kondisi mental yang mungkin terbentuk akibat kejadian yang telah dialami kemarin.
"Sudah Kenapa sih kalian suka sekali berkelahi?" tanya Rea menatap ayahnya serta tamu mereka malam ini.
" Tanya saja sama ayahmu. Kenapa dia selalu sinis sama Om, kalau om berbuat baik sama kamu. Memang Ayahmu itu nggak suka aja sama Om!" sindir kepada pria yang duduk di seberangnya.
Rea hanya tersenyum dan membuat Habibie juga ikut tersenyum.
"Oh ya, Re. Kamu kenapa? Sakit? Kok pucat gitu?" tanya Haga sambil mengamati lekat lekat wajah gadis muda itu.
Rea menatap ayahnya lalu melirik ke arah Haga yang memang duduk di sampingnya. Melihat sikap pria yang terlihat tidak nyaman, Haga pun mulai menyadari kalau pertanyaan itu seharusnya tidak terlontar dari mulutnya.
"Eh, kenapa? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Haga sambil menatap dua orang itu bergantian.
Setelah makanan Habibi habis, dia lantas menjelaskan hal yang memang tidak Haga ketahui sebelumnya.
"Rea habis terkena musibah, waktu ospek kemarin."
"Astaga! Musibah apa? Oh, kamu ospek? Terus ada masalah apa? Hah? Cerita, Bib!" paksa Haga.
Habibi menarik nafas panjang. Menutup sendok dan garpu miliknya pertanda mengakhiri sesi makan malamnya. "Rea ada acara ospek di hutan, tapi dia tersesat sama kelompoknya. Mereka baru ditemukan satu minggu setelah kejadian," jelas Habibi.
"Astaga! Tersesat! Tapi kamu baik baik aja, kan? Ada yang luka? Lecet?'"
Mendapat perhatian demikian, Rea hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Tapi kok bisa tersesat? Kalian salah jalan? Atau lewat jalur yang nggak sesuai?" tanya Haga.
"Bisa dibilang begitu. Eum ... Tapi aku melihat hal aneh, Yah," kata Rea dan berhasil menarik perhatian dua pria di dekatnya.
__ADS_1
"Hal aneh apa, Sayang? Mau cerita sama Ayah?" tanya Habibi berusaha tenang seperti biasanya.
"Kemarin Rea melihat ada sumur yang ditutup. Tapi anehnya di sana ada namaku." Rea menatap dua pria di dekatnya. Sementara dua pria itu justru tampak terkejut hingga melotot.