
"Bil, tutup jendelanya!" suruh Kak Bintang. Aku segera menutup kembali jendela tersebut, mengunci serta menjauh, dengan tetap menatap papan kayu di depan was-was.
"Bil, sayang? Kamu nggak apa-apa?" tanya Kak Rayi akhirnya mengembalikanku pada kesadaran. Ponsel kembali kuatur sehingga aku dan mereka dapat saling tatap. Berkali-kali aku menatap ke arah jendela dan ke layar ponselku.
"Elu sama siapa di kamar, Bil?" tanya Kak Roger.
"Sendirian, Kak. Yang lain lagi ke pemakaman Om Dewa."
"Wah, di rumah itu sama siapa lagi? Kalau bisa usahakan jangan sendirian, Bil. Setidaknya biar kamu ada teman," cetus Kak Bintang, meneguk minuman berwarna mocca di hadapannya. Dia pun sama cemasnya seperti Kak Rayi sekarang.
"Bener, sayang. Kamu coba keluar, cek ada siapa di rumah itu. Jangan sendirian kalau bisa," tambah Kak Rayi. "Perasaan aku nggak enak."
Aku mengangguk lantas keluar kamar dengan ponsel di genggaman. Diam sambil memperhatikan ke kanan dan kiri. Sunyi. Ada beberapa suara namun terdengar jauh. Sepertinya beberapa anggota keluarga Om Dewa berada di kamar masing-masing. Yah setidaknya sedikit melegakan karena masih ada manusia di rumah ini.
Aku terus berjalan ke ruang tengah tadi, berharap ada manusia lain yang dapat ku temui. Karena betul kata mereka, kalau aku harus bersama seseorang. Aku bahkan tidak tau siapa dan apa yang ada di luar jendela tadi.
"Kira-kira apa tadi, ya?" tanya Kak Roger membuka kembali diskusi, aku sesekali melirik ke layar ponsel namun tetap mencari tempat aman untuk diriku sendiri.
"Kalian lihat nggak tadi?" tanya Kak Rayi.
"Duh, kagak. Justru pas gue mau lihat, Nabila udah keburu nutup jendelanya," sahut Kak Roger.
"Gue sih sekilas lihat. Walau nggak begitu jelas, soalnya gelap, kan? " timpal Kak Bintang.
__ADS_1
"Gelap atau makhluknya juga hitam? Jadi nggak begitu jelas?" tanya Kak Rayi.
"Eh, Bil, yang kamu lihat bagaimana bentuknya? Coba ceritain deh, biar aku coba googling ini. Siapa tau ketemu apa itu." Kak Bintang mulai membuka laptopnya dan mengetik sesuatu. Aku lantas sampai di ruang tengah tadi, rupanya ada seorang ibu yang sedang beres-beres ruangan ini. Dia menoleh padaku dan aku pun tersenyum. Aku duduk di sebuah kursi. "Bentar, Kak. Aku bantuin ibu itu beres-beres," kataku lalu meletakkan ponsel di lantai. Layar sengaja ku hadapkan ke tengah ruangan, agar mereka juga dapat melihatku di sana.
"Saya bantuin, Bu," sahutku ikut memungut beberapa sampah air mineral dan permen yang berserakan di lantai kayu. Dia hanya tersenyum, tetap membersihkan ruangan ini. Begitu ruangan ini sudah bersih, ibu tersebut mengucapkan terima kasih dan hendak pergi ke belakang. "Eum, maaf, Bu." Aku menahan tangannya yang hendak meninggalkanku. Jujur saja, aku mulai takut. Ibu itu menoleh dan mengerutkan dahinya. "Ibu mau temani saya di sini, sampai Papa saya pulang dari pemakaman?" tanyaku lebih ke memohon. Beliau menatapku agak lama, lalu tersenyum dan mengangguk.
"Ibu buatkan teh hangat dulu, ya. Dingin," ujarnya, mengelus pucuk kepalaku dan pergi ke belakang. Tentu aku tidak bisa melarangnya lagi, karena dari ucapannya tadi, ibu itu pasti akan kembali dan menemaniku sebentar.
Ponsel kembali kuambil, keempat pemuda itu masih setia di sana. Tetapi Kak Bintang sudah pindah tempat, dia berada di balik kemudi. Sementara itu Kak Rayi juga sudah pindah ke kamarnya.
"Hai semua, maaf lama," sapaku. Mereka kembali fokus padaku dan melanjutkan diskusi ini. "Tadi bagaimana Kak Bintang? Bentuk yang aku lihat?" tanyaku lagi. Kak Bintang mengangguk.
"Biar gue saja yang cari, itu Bintang udah naik mobil, mau balik ke rumah dia. Sudah malam," sahut Kak Roger. Kak Roger yang sudah berada di atas kasur, membuka ponsel keduanya. Sementara ponsel yang sedang dipakai untuk panggilan video, ia letakan bersandar pada bantal di sampingnya.
"Mariaban? Hantu apa, Kak?"
"Dia makhluk berbulu, suka sama darah dan suka membunuh manusia. Kalau bahasa nasionalnya, dia ini mirip gendruwo, Sayang. Bagaimana? Sama nggak sama Mariaban? makhluk tadi yang kamu lihat?"
Aku diam sambil mengingat lagi makhluk tersebut. Rasa-rasanya apa yang dijelaskan Kak Rayi memang sama seperti yang tadi kulihat, walau terlihat samar, tapi aku yakin itu memang Mariaban. "Eum, kak ... apa matanya merah?" tanyaku. Kak Rayi mengangguk mantap. Aku lantas menekan kepala menahan pusing yang tiba-tiba datang.
"Sayang ... kamu nggak apa-apa?"
"Aku ... nggak apa-apa kok. Cuma kaget saja, rasanya aku masih capek banget, dan males buat berurusan dulu sama hal-hal begitu, tapi kok susah banget, ya," gumamku, menjambak rambutku sendiri.
__ADS_1
"Terus bagaimana? Gih, kamu cari orang di rumah itu. Masa nggak ada sih? Bukannya tadi kamu bilang di rumah itu yang menempati banyak kepala keluarga, nggak mungkin, kan, kalau mereka semua pergi ke pemakaman?" tanya Kak Bintang. Dia lantas keluar dari mobil, rupanya dia sudah sampai ke rumahnya.
"Ada, kak, itu tadi ibunya lagi bikinin aku teh. Tapi kok lama banget, ya? Apa pakai tungku, masak airnya?" tanyaku pada diri sendiri sambil menatap ke lorong gelap penghubung ruangan ini, kamar dan berakhir ke dapur.
"Ibu siapa?" tanya Kak Roger.
"Yang tadi itu loh, kak, yang beresin ruang tengah bareng aku."
Mereka bertiga diam dengan tatapan aneh. Sehingga memunculkan tanda tanya besar lain di pikiranku. "Kenapa kalian diam begitu?" tanyaku.
"Bentar ... bentar. Ibu ibu yang bantuin beresin ruang tengah? Serius lu, Bil?"
Kali ini aku yang diam, sungguh aneh jika pertanyaan itu muncul dari Kak Roger. Padahal sebelum aku membantu tadi, ponsel sengaja kuletakan menghadap ruang tengah, agar mereka tau aku di mana dan sedang apa. Aku yakin ibu tadi juga terlihat di kamera, karena kami tidak begitu berjauhan saat beres-beres ruang tengah.
"Sayang ... kamu tenangin diri kamu dulu. Coba kamu cek di sekitar, apa ada orang lain selain kamu dan ... ibu tadi?"
"Kak, maksudnya apa? Kalian kenapa meragukan ibu itu? Kalian lihat, kan, tadi? Waktu aku beres-beres di sana?" tanyaku sambil menunjuk luasnya ruang tengah.
"Iya, kami lihat kamu, tapi nggak ada ibu yang kamu maksud itu, Bil." Kalimat Kak Bintang membuat jantungku berdesir dan lemas. Hawa sekitar mendadak makin tipis sehingga rasa dingin kian terasa pekat saja.
"Yang bener?" tanyaku mencoba memastikan sekali lagi. Mereka lantas mengangguk yakin, walau Kak Rayi justru menatapku nanar. "Jadi kalian nggak lihat ibu tadi?"
"Bil, mungkin dia bukan manusia ...," sambung Kak Bintang.
__ADS_1