pancasona

pancasona
Part 4 Camping horor


__ADS_3

Kami mulai menyiapkan semua perbekalan yang akan dibawa. Paling tidak kami harus menginap di sana, karena jarak ke tempat itu juga cukup jauh, dan aku sendiri tidak tau kapan makhluk itu akan muncul. Kalau menurut apa yang kudengar dari Kak Bintang dan Kak Roger, 'dia' muncul saat lewat tengah malam. Khas makhluk supranatural pada umumnya. Entah kenapa aku merasa kalau apa yang akan kami hadapi nanti adalah ruh atau hantu. Kami sepakat akan membawa 1 mobil saja. Kak Rayi juga sudah berganti pakaian, menggunakan kaus milik Kak Bintang. Kami harus segera berangkat sebelum malam.


Perjalanan sudah kami tempuh selama satu jam. Kak Bintang dan Kak Rayi duduk di depan, sementara aku dan Kak Roger di belakang. Aku lebih banyak diam, sambil memegang gawai di tangan. Terlintas di pikiran untuk memberikan kabar ke Papa, kalau aku akan pulang terlambat. Karena hari ini Papa memang ada di rumah. Sejak Mama meninggal, Papa lebih sering di rumah. Hanya melakukan kegiatan di kantor tanpa pergi keluar kota atau keluar negeri. Kami juga bukan tipe orang yang melakukan tahlilan di rumah. Mungkin gaya modernisasi memang sudah mendarah daging dalam keluargaku. Bahkan aku tidak tau, Tuhan mana yang Papa sembah.


Berkali-kali aku menatap benda pipih ini, memainkannya di tanganku, sambil sesekali menatap jendela di samping.


"Mau ngabarin orang rumah? Buruan gih. Nanti kalau udah masuk hutan, udah susah sinyalnya," kata Kak Roger yang sepertinya melihat sikapku sejak tadi. Kak Rayi melirik sedikit ke belakang, karena dia duduk di depanku. Sementara Kak Bintang yang sedang menyetir hanya menatapku dari spion tengah. "Kamu belum ngabarin rumah, Bil? Wah, kita nggak mau kalau sampai dikira culik kamu loh," kata Kak Bintang menambahkan.


"Sudah kok, Kak," sahutku dengan memaksakan senyum. Kak Rayi yang melihatku hanya diam. Aku mengalihkan tatapanku ke jendela, menghindari sorot mata tajam Kak Rayi di depanku.


"Aku dengar, Mama kamu belum lama meninggal, ya?" tanya Kak Bintang, lagi.


"Sstt, Tang!" tukas Kak Rayi memberikan kode untuk tidak membahasnya. Kak Binta meliriknya, "kenapa? Gue cuma tanya. Sorry, Bil, kalau mengingatkan." Kak Bintang dan Kak Rayi terlihat berdebat dengan bahasa isyarat.


"Nggak apa-apa kok, Kak," sahutku agar mereka menghentikan pertengkaran itu.


"Tau nih, pada! Eh, Bil, berarti elu ini indigo gitu, kah?" tanya Kak Roger, dia membetulkan posisi duduknya hingga akhirnya menghadapku. Aku hanya mengangguk, tanpa memandangnya. "Sejak kapan elu bisa lihat setan dan kawan-kawannya?" tanyanya lagi.


Pertanyaannya otomatis membuatku terkekeh dan menatap Kak Roger yang terlihat serius dengan pertanyaannya. "Kenapa? Bener, kan, setan itu banyak jenis. Dan yang kemarin di sekolah bisa kita kategorikan setan juga, kan?" tanyanya sambil menatapku dan dua pria di depan kami. Kak Rayi tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Otak se-ons begitu mikirnya dah, kamu hati-hati kalau ngomong sama Roger, Bil," tukas Kak Rayi sambil menatap jendela sampingnya.


"Heh! Elu juga penasaran kan, Yi. Makhluk apa yang menyerang sekolah kita, sampai ada korban. Si Faza ditanya malah planga-plongo saja!"


"Tapi, bener kata Roger, Bil. Memangnya makhluk apa yang menyerang Faza kemarin?" tanya Kak Bintang. Kali ini dia ikut menoleh ke arahku.


Aku berdeham, menyiapkan penjelasan untuk mereka. Entah jika nanti aku akan dicap wanita gila atau suka berhalusinasi, tetapi aku tentu tidak mungkin menyembunyikannya dari dua pria ini. Apalagi mereka nanti akan menghadapi makhluk aneh lainnya.


"Wendigo." Suara Kak Rayi membuat dua sahabatnya melirik padanya.


"Apa lu bilang?" tanya Kak Roger bingung.


"Iya, makhluk yang kalian pertanyakan itu namanya Wendigo."


"Hah?"


"What? Kata siapa lu?!"


"Nabila. Dan gue melihat sendiri bagaimana wujud dan keganasan mereka."


"Dan Kak Rayi juga membunuh dua wendigo," tambahku yang membuat dua sahabat Kak Rayi melongo.


"Rayi? Bunuh apa tadi?"


"Wendigo! Budek apa gimana sih lu!" tukas Kak Bintang sebal.


Sementara Kak Rayi hanya tersenyum melihat tingkah dua sahabatnya itu. Nyatanya sikap mereka lucu. Aku pun mengakuinya.


"Tunggu! Tunggu! Bisa nggak lu kasih penjelasan maksud Nabila tadi, Yi? Elu nggak bilang apa-apa sama kita loh!" sindir Kak Roger, dengan tatapan sebal.


"Oke, jadi gini kakak kakak semua," kataku memulai penjelasan agar situasi bisa lebih dimengerti mereka berdua, " Wendigo adalah salah satu makhluk supranatural, dalam artian mereka bukan sejenis setan atau ruh. Tapi mereka bisa dibilang, eum ... apa ya, Kak Rayi?" tanyaku sambil menepuk bahunya.


Kak Rayi membetulkan posisi duduknya dan agak terkejut dengan sikapku barusan, sepertinya. "Ehem, mereka bisa dikategorikan monster mungkin, ya? Kayak vampire atau werewolf begitu. Karena mereka nyata, bisa kita pegang, dan melukai manusia. Kalian tau nggak, kalau Wendigo ini makan manusia?"


"WTF!"

__ADS_1


"Sumanto modern dong?"


"Serah elu nyebutnya apa," sahut Kak Rayi dengan menghempaskan tangan ke samping. Celetukan teman-temannya mungkin sudah biasa ia dengar, atau mereka berempat mungkin punya karakter sama satu lain.


"Terus elu bunuhnya bagaimana, Yi? Pakai air suci? Atau bawang putih? Eh, pisau perak? Mungkin?" tanya Kak Roger antusias. Aku tertawa lepas dibuatnya. Kak Rayi bahkan sampai melirik padaku sambil ikut tersenyum.


"Gue tembak kepalanya."


"*****. Eh, kok lu punya pistol?!" tanya Kak Bintang meliriknya tajam.


"Bukan punya gue, tapi punya Nabila."


"Hah?!" pekik dua pria itu bersamaan.


"Elu cewek apaan sih, Bil?! Gila! Sangar amat! Segala pistol elu punya, terus tau soal wendigo-lah, atau perhantuan lainnya," ungkap Kak Roger.


"Hehe. Aku cewek biasa kok, Kak, BAhkan nggak populer amat, buktinya Kak Roger kan nggak tau aku."


"Elu juga nggak tau gue, kan? Sebelum kenal Rayi?"


"Tau. Kak Roger ini kan atlet basket, sama kayak Kak Bintang? Pas acara baskset ball open tournament kan aku nonton."


Kak Roger melongo, dan mencondongkan sedikit tubuhnya padaku, membuatku agak risih dan heran pada sikapnya yang tiba-tiba seperti ini. "Serius lu? Astaga, elu ternyata fans gue, Bil. Luar biasa," katanya sambil tepuk tangan. Gayanya sungguh menyebalkan, tapi justru membuatku tertawa.


Kak Bintang menimpalinya dengan segala cacian khas mereka. Tiga pria itu terlihat menyenangkan, dan jujur saja, aku nyaman berada di antara mereka. Aku diam-diam memang memperhatikan beberapa orang di sekolah, orang-orang yang menonjol dengan bakat yang mereka miliki. Seperti Kak Rayi, yang merupakan orang yang aku kagumi di regu taekwondo sekolah, Kak Roger yang selalu bergaya sombong dengan semua kelebihannya sebagai pemain basket terbaik di sekolah, Kak Bintang yang juga seorang vokalis band, dan suaranya sangat merdu, atau bahkan Kak Faza yang merupakan kutu buku di sekolah. Dia adalah kutu buku yang tampan. Pendiam dan memang tidak banyak gaya seperti teman-temannya yang lain. Yang pasti mereka orang-orang yang baik, jauh dari predikat senior sombong dan menyebalkan.


_________________


Kami mulai memasuki kawasan hutan. Ada sebuah palang dengan sebuah tulisan 'Dilarang masuk' tapi sepertinya tetap ada orang yang memasukinya. "Bukannya nggak boleh masuk, ya? Tulisannya itu tadi?" tanya Kak Rayi menunjuk papan kayu yang kami lewati tadi.


"Padahal udah ada larangan loh, Kak. Kenapa kalian nekat?" tanyaku heran, agak kesal.


"Huh, Yah memang salah kami, Bil. Harusnya nggak ke tempat ini. Kami cuma pengen melihat pemandangan danau itu, ada beberapa orang yang posting foto di sana, dan itu bagus banget, *****! Makanya kami pengen nyobain datang ke sini dan melihatnya secara langsung."


"Cari masalah lu pada," kata Kak Rayi ketus.


"Kita berdoa aja. Semoga kita bisa menemukan Kak Faza," sahutku. Dan akhirnya tidak ada lagi pembicaraan kami. Mobil mulai masuk lebih dalam ke hutan. Ada jejak bekas dilewati kendaraan, dan kemungkinan memang dulu daerah ini adalah tempat yang banyak dikunjungi orang. Bahkan aku juga melihat beberapa tulisan dari papan kayu, arah penunjuk jalan.


Aku mencari informasi yang mungkin ada tentang tempat ini. Kasus aneh, kematian, atau orang hilang yang mungkin bisa diambil kesimpulannya, agar memudahkan kami menemukan sumber masalah yang membuat Kak Faza menghilang.


Mobil mulai meninggalkan area hutan, dan berganti ke padang rumput luas. Sinar matahari cukup menyilaukan, namun terasa sejuk. Karena ternyata jendela di samping ketiga pria ini terbuka lebar. Aku bahkan tidak menyadarinya karena terlampau asyik dengan ponsel. Beberapa kisah tentang tempat ini kutemukan, berkat bantuan Om Gio. Hanya saja, sinyal makin lama makin sulit di dapat. Dan kini malah sudah hilang. Terpaksa aku meletakkan gawai dan memasukkan kembali ke dalam tas. Menikmati pemandangan tempat ini yang jujur saja memang indah. Pantas saja mereka bersikeras datang ke sini walau sudah ada palang penghalang di depan. Dan aku juga tau, kenapa tempat ini sekarang ditutup.


Mobil berhenti, tepat di dekat danau. Kami turun dan mulai membongkar barang bawaan masing-masing. Mereka juga mulai membuat tenda yang sudah dibawa sebelumnya. Sepertinya agak kesulitan untuk memasangnya, karena ini tenda terbesar yang pernah kulihat. Atau karena aku saja yang tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini sebelumnya.


Tenda yang akan mereka dirikan hanya 1 buah, dan tenda ini besar sekali. Dan tentunya mewah. Karena di dalamnya ada kasur untuk kami, dan tiap orang mendapat jatah satu kasur empuk yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di dalam tenda juga akan disediakan alat memasak yang aman dan beberapa kursi juga. Wah, camping yang mewah tentunya. Karena itu, maka mereka bergotong royong untuk membuat tenda itu berdiri dengan baik.


Sementara aku, hanya menonton sambil menyusuri tempat ini sekilas. Melihat-lihat danau yang letaknya tepat di depan kami. Tempat ini memang sangat cerah, tetapi udaranya justru terasa dingin dan sejuk. Kabut terlihat jelas di depanku, seolah kami sedang berada di atas awan. Terlihat indah dan menghipnotis. Aku sempat berdecak kagum karena baru kali ini melihat pemandangan indah seperti ini yang justru berada di sebuah danau, bukan di atas gunung.


Suara berdeham terdengar jelas di sampingku, rupanya Kak Rayi sudah ada di sebelahku, ikut menatap keindahan alam di depan kami. Aku menoleh kepadanya, dan melirik ke belakang kami, di mana dua pria di sana sedang kerepotan dengan penyusunan tenda yang super besar itu. "Mereka selalu begitu, kak?" tanyaku bermaksud menunjuk dua pria di belakang kami.


Kak Rayi menoleh ke belakang dan tersenyum, "Iya, mereka selalu begitu. Maaf, ya, kalau mereka banyak tanya atau membuat kamu sedikit rishi, barang kali."


"Nggak apa-apa kok, Kak. Aku malah suka ngeliatnya. Lucu." Tawa berhasil kulepaskan pelan, dan Kak Rayi juga melakukan hal yang sama.


"Maaf, ya, kalau kamu ikut repot sama acara ini."

__ADS_1


"Ah, nggak apa-apa kok. Kebetulan ini bukan hal pertama yang aku lakukan dalam menangkap makhluk seperti ini."


"Yah, wendigo saja baru pertama kali aku lihat kemarin. Hehe." Kak Rayi kembali melebarkan bibirnya sambil sesekali melirik ke arahku. Aku bisa melihatnya dari ujung ekor mataku ini. Namun pemandangan danau di depan sangat sayang untuk dilewatkan. Karena aku yakin, jika malam tiba maka danau itu justru akan menjadi mimpi buruk yang nyata.


"Hm, mungkin Kak Rayi bakal sering ketemu makhluk aneh lainnya, kalau terlalu sering bareng sama aku," candaku dan balas menatapnya. Jarak kami tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu meter saja. Dari sini aku mampu melihat jelas, wajah Kak Rayi. Eum, dia memang ... tampan.


"Dan, aku pasti menunggu saat seperti itu."


"Cih, Kak Rayi memangnya nggak takut? Sok tangguh, ya?" sindirku yang sebenarnya tidak serius.


"Wah, nggak takutlah. Kalau aku takut, nanti kamu gimana? Lagian masa aku takut, namanya laki-laki harus melindungi dong. Iya, kan?" Ia kembali menoleh ke arahku, kali ini dengan tatapan dalam.


Aku bingung harus menjawab apa, padahal ini adalah pertanyaan mudah. Hanya saja, pemandangan di depan sangat menghipnotisku. Danau dan ... Kak Rayi.


"Oh iya, kak. Aku tadi sempat baca beberapa artikel tentang tempat ini. Sebelumnya memang ada beberapa kasus orang hilang di sini. Dulu, sebelum tempat ini ditutup," kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Waw, terus gimana?"


"Hey, lihat! Tendanya jadi dong!" seru Kak Bintang pada kami berdua. Otomatis aku dan Kak Rayi menoleh dan sangat terkesima dengan hasil buatan mereka. Tenda itu benar-benar disulap menjadi tenda yang mewah.


"Kita ke sana, yuk," ajak Kak RAyi padaku.


Aku pun menurut, dan juga penasaran bagaimana isi tenda besar itu. Dan rupanya mereka membuatnya menjadi tempat yang nyaman di tengah keadaan menyeramkan. Yah, setidaknya kami akan berada di satu tenda besar ini. "Gimana, Bil?" tanya Kak Bintang, bagai tuan rumah yang hendak menjual mansion-nya.


Aku mengangguk sambil memperhatikan tiap sudut tempat ini. "Awesome. Ini bukan pemecahan kasus,, ya. Tapi liburan menyenangkan malah."


"Tuh, kan, apa gue bilang," sahut Kak Roger, bangga.


"Enak aja! Nabila lagi puji gue!" timpal Kak Bintang, tidak terima.


"Udah. Udah! Bil, istirahat dulu deh. Kamu pilih aja mau tidur di sebelah mana," ungkap Kak Rayi berdiri di depanku dan melihat ke beberapa kasur empuk itu.


"Eum, oke. Aku di situ aja," tunjukku ke sebuah kasur yang berada agak jauh dari kasur lainnya. Ketiga pria itu menatap ke arah kasur pilihanku. Kak Roger segera mengeluarkan kalimat kocaknya lagi. "Nah, bener emang pilihan elu, Bil. Jangan deket-deket sama Bintang dia kalau tidur sambil jalan, bahaya. Terus jangan tidur deket Rayi juga, dia suka ngorok. Berisik banget!"


Kak Rayi melempar sepatunya ke Kak Roger, "sembarangan lu! Bukannya elu yang ngorok, setan!" umpatnya kesal. Dan Kak Roger hanya tertawa lebar melihat sahabatnya marah.


__________


Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Hawa dingin mulai menusuk tulang, dan aku yakin malam nanti akan lebih dingin dari saat siang. Api unggun sudah dibuat, tentu dengan keamanan yang terjamin.


"Kenapa kalian nggak pakai tenda ini aja kemarin, bukannya lebih aman kalau bareng-bareng gini, ya? tanyaku. Kami mulai membuat barbeque sederhana untuk mengisi perut kami yang mulai keroncongan.


"Nih, si Gila! Lupa bawa tenda, jadi kami beli tenda pas di jalan. YA udah, gitu deh hasilnya," umpat Kak Roger, menunjuk Kak Bintang.


"Kan udah gue siapin, lah elu main buru-buru pergi aja. Jadi ketinggalan, kan? Pakai nyalahin orang segala!"


"Kan gue bilang, cek bawaan, lah elu malah asyik main hand phone aja. Jomblo aja sok sibuk!"


"Kupret! Elu juga jomblo, gila!"


Kembali keramaian tercipta dari dua sahabat itu. Rupanya memiliki teman, terlihat menyenangkan. Karena selama ini aku bahkan jarang mengobrol dengan orang lain.


"Eh, kalian nyium bau ini nggak?" tanya Kak Rayi sambil menggerakkan hidungnya. Kami berhenti dan mulai melakukan hal yang sama seperti Kak Rayi.


"Iya, bau lumpur!"

__ADS_1


__ADS_2