
Rea penasaran, sekalipun di otaknya selalu menyuruhnya untuk segera pergi dari tempat itu, tapi hati kecilnya justru penasaran.
Akhirnya Rea menatap ke arah yang ditunjuk oleh Diah. Setelah diamati lebih dekat, sosok yang ada di ujung sana memang Sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Diah. Tubuhnya manusia, hanya saja kepalanya berbentuk kecil, lebih kecil dari ukuran kepala manusia normal. Tangan dan kakinya juga terlihat sangat kurus tapi anehnya tubuh yang terlihat besar sekali. Dia bersembunyi di balik pohon, rimbunnya kegelapan malam yang membantunya menyamarkan sosoknya.
"Astaga! Itu apa?!" gumam Rea
Sosok itu terlihat memunggungi Diah dan Rea. Hanya saja sekalipun sosok itu hanya terlihat belakang tubuhnya, tapi Rea dan Diah sudah sangat yakin kalau itu bukanlah manusia.
Mereka berdua bingung dengan apa yang harus dilakukan. Mereka hanya membeku, berdiri di tempat, sambil menatap sosok di depan. Sekalipun jarak mereka cukup jauh, tapi Diah mulai merasa gelisah. Diah ingin kabur kembali masuk ke dalam tenda, tapi tubuhnya seakan ditanam di atas tanah yang ia pijak.
"Re ... Gimana nih," rengek Diah sambil memeluk lengan Rea dan mulai ketakutan.
"Ssst! Diem dulu, Di. Jangan panik. Kita harus tetap tenang."
"Tenang gimana sih?! Itu setan loh, Re. Nanti kalau kita dibunuh gimana?" Pertanyaan Diah memang hasil dari hobinya yang suka menonton film horor. Sugesti di pikiran nya telah terpatri, bahwa setan, hantu dan sejenisnya bisa melukai manusia, bahkan sampai menghilangkan nyawa.
"Ih, jangan berlebihan! Mana ada setan bisa bunuh manusia! Kebanyakan nonton film horor kamu tuh!" elak Rea.
"Ih, bener, Re! Mana setannya ngeri banget lagi!"
Masih fokus dengan sosok di ujung sana mereka tidak sadar kalau kini ada yang sedang melempar mereka. Rea yang menyadari pertama kali, mengelus kepalanya karena terkena sebuah benda keras yang terjatuh di atas kepala.
__ADS_1
Rea mendongak, menatap ke atas. Sontak Rea melotot saat melihat ada sosok lain di atas, tepat di atas mereka. Ada sebuah tubuh menjuntai dari batang pohon paling atas dengan posisi terbalik. Yang membuat ngeri adalah tingginya pohon yang hampir mencapai 50 meter, membuat sosok di atas hampir mirip batang pohon yang menjuntai ke bawah. Bedanya, sosok itu memiliki kepala yang sekarang sedang melotot menatap Rea dan Diah.
Dua gadis itu menjerit dengan suara keras. Hanya saja mereka tidak bisa beranjak dari tempat mereka berdiri, hanya mampu berteriak sambil menunggu bantuan tiba.
Akhirnya beberapa orang yang berada di dalam tenda kini keluar setelah mendengar jeritan tersebut. Mereka semua mendekat ke Diah dan Rea sambil bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Mana ah? Nggak ada!" kata Hana sambil menunjuk ke atas.
"Iya, di depan sana juga nggak ada apa apa. Kalian mungkin salah lihat."
"Gimana bisa salah lihat? Jelas jelas kami berdua lihat dua sosok itu!" elak Diah ngotot.
"Buktinya mana? Nggak ada tuh! Coba kalian lihat," cetus Hani.
"Sudah. Sudah. Lebih baik kita bikin sarapan dulu, sebelum melanjutkan perjalanan. Lagipula ini sudah pagi. Jadi kita harus bergegas pergi dari sini," kata Dana tegas.
"Kalian berdua gimana? Baik baik aja, kan? Masih ada, kah, hal yang dirasakan?" tanya Dana pada Fauzan dan Apri. Keduanya hanya menggeleng pelan dengan wajah lesu dan sedikit pucat.
"Ya sudah. Kita bagi tugas. Perempuan bikin sarapan, laki-laki bongkar tenda, jadi kita semua bisa selesai bersamaan. Setelah ini kita semua langsung pergi," titah Dana tegas.
Mereka semua tidak ada yang menghilang ataupun membantah perkataan Dana. Semua orang segera melakukan yang sudah disuruh oleh pemimpin mereka. Para pria mulai membongkar tenda, memasukkan barang-barang mereka ke dalam tas untuk persiapan pulang. Sementara para wanita sedang sibuk dengan urusan dapur membuat makanan untuk sarapan.
__ADS_1
Walau hanya sekedar semangkuk mie instan dengan telur di atasnya. Tidak lupa juga menyediakan kopi panas agar perjalanan mereka bisa lebih bersemangat lagi. Terlebih setelah malam panjang yang telah mereka lalui, kurangnya tidur tentu akan berpengaruh pada kesehatan mereka selama perjalanan mencari jalan keluar.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Sekalipun demikian suasana di sekitar mereka tidak menunjukan tanda-tanda langit yang cerah. Karena matahari tidak bisa menembus barisan pohon di sekitar mereka. Sekalipun demikian, mereka masih bersyukur karena pandangan di sekitar sudah lebih jelas terlihat, walau tidak seperti yang diharapkan. Setidaknya mereka tidak lagi membutuhkan senter atau api untuk bisa melihat sekitar.
Selesai sarapan mereka juga merapikan tempat itu untuk terakhir kalinya. Api unggun segera dipadamkan agar tidak menimbulkan kebakaran hutan. Sampah juga sudah mereka bereskan, dan kini mereka sudah bersiap untuk pergi dari tempat itu.
Mereka kembali berbaris satu persatu dengan Dana yang berada di posisi paling depan. Di belakangnya diisi oleh perempuan dan laki-laki dengan posisi yang selang-seling. Akhirnya Hana berada di urutan paling belakang. Dia bertugas untuk mengawasi semua barisan yang ada di hadapannya.
Mereka mulai berjalan dengan mengikuti arah kompas. Tempat tujuan mereka adalah ke arah utara dan Dana yang berada di posisi paling depan menjadi petunjuk jalan. Dia terus memegang Kompas di tangan kanannya sambil berjalan menyusuri hutan.
1 jam perjalanan terlewati sudah mulai lelah, namun tetap bersemangat untuk terus melanjutkan perjalanan. Di kanan dan kiri masih sama, didominasi dengan pohon-pohon tinggi dan juga semak belukar.
Satu jam kedua, mereka mulai lelah dan Apri tiba-tiba langsung jatuh duduk di tanah. Semua sempat panik dan menjauhi Apri karena takut jika Apri kembali kesurupan seperti sebelumnya.
"Kenapa sih kalian jauhin aku?Aku capek tahu. Jangan lihatin aku terus dong. Tatapan kalian sungguh mengerikan."
"Ini lo, kan, Pri?" tanya Hani yang berdiri di belakang Apri.
"Yaiyalah! Ini gue! Siapa lagi sih?" tanya Apri mulai kesal dengan perlakuan semua orang padanya.
"Eh ... Kalian sadar nggak sih? Kok ini kayak tempat camp kita tadi?" tanya Leni.
__ADS_1
Alhasil mereka semua menoleh ke sekitar. Mencoba memperhatikan dengan seksama. Apakah yang dikatakan oleh Leni benar atau tidak. Atau dia hanya salah mengira saja. Tapi rupanya mereka mulai sadar kalau kawannya itu memang benar. Padahal mereka sudah berjalan jauh sekali hampir 2 jam perjalanan. Tapi ternyata mereka kembali lagi ke tempat semula.