
Kompor dinyalakan, air yang direbus oleh Nayla sebentar lagi mendidih. Racikan kopi yang sudah ada dalam cangkir hanya tinggal menunggu diisi oleh air panas yang mendidih. Dua sendok teh kopi yang akan disiram air panas, lalu baru ditambah gula. Begitulah ritualnya membuat kopi sejak dahulu. Racikan kopi ini adalah yang disukai ayahnya dan akan selalu dirindukan sang ayah dari Nayla.
Aroma kopi mulai tercium, hingga ke pangkal hidung Arya. Ia yang masih terlelap dalam tidur, mulai menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya.
"Pagi," sapa Nayla melirik sekilas ke arah pemuda itu. Ia melanjutkan acara membuat kopinya.
"Eugh! Udah pagi?" tanya Arya sambil menggumam. Ia menyapu sudut matanya, membersihkan dari *** mata yang mungkin ada di sana.
"Kopi kamu," kata Nayla sambil menyodorkan cangkir kopi ke meja. "Mandi sana, kuliah, kan?"
Arya duduk, merentangkan kedua tangannya ke atas lalu menguap. "Kuliah." Ia meraih cangkir kopinya dan menghirup aromanya sedikit. Kopi panas itu dicecapnya hingga mulutnya seolah merasakan kenikmatan seorang pencinta kopi.
"Ya udah, mandi sana."
"Nanti."
Hening. Keduanya sama - sama diam dengan pikiran masing - masing. Saling menikmati kopi dan pagi yang tengah mereka hadapi bersama. Suatu keadaan yang tidak biasa dan jarang terjadi.
"Eum, Arya ... Terima kasih, ya."
"Sama-sama." Ia tak bereaksi banyak, sorot matanya yang kosong seperti menyiratkan ada sesuatu yang ia pikirkan. Ia kembali teringat Wira. Kedatangan orang itu yang secara tiba-tiba, membuat tanda tanya besar dalam benaknya. Apalagi setelah dia melihat tato di pergelangan tangan Wira kemarin. Tato yang sama seperti yang ia punya. Arya kembali bergelut dengan pikirannya sendiri. Teringat juga perkataan Nayla yang sangat menggebu jika membahas tentang tato ini. Mungkin dia memang harus mulai mempercayai perkataan Nayla?
Arya terkekeh. Hingga membuat gadis di dekatnya itu mengerutkan dahi, heran. "Kenapa?"
"Nggak apa apa." Kembali Arya memasang wajah dingin. "Aku numpang mandi. Tapi nanti pulang dulu ke rumah, ganti baju. Kamu mau berangkat duluan atau gimana?" Sebuah pertanyaan yang lebih menjurus ke ajakan untuk berangkat bersama sebenarnya. Karena Arya tau, kalau mobil Nayla belum diambil dari bengkel.
"Bareng."
"Oke." Ia beranjak ke kamar mandi. Meninggalkan Nayla yang masih duduk menatapnya.
****
Kemeja kemarin sudah diganti dengan yang baru. Lebih bersih dan wangi tentunya. Membuat Nayla yang kini duduk di jok belakang motor Arya, makin menempel padanya.
Pelataran parkir kampus timur sudah hampir penuh. Tempat ini adalah tempat parkir yang biasa mereka pakai selama ini, karena paling dekat dengan kelas mereka. Nayla turun dari motor, lalu menyapu pandang ke sekitar. Ia sedikit mengernyitkan kening sambil meletakan tangan kanannya di atas dahinya, saat mendapati beberapa orang sedang berkerumun di sebuah kelas yang letaknya ada di sebelah kelas mereka. "Ada apa, ya?" gumam Nayla sambil memberikan helm pada Arya. Arya yang melihat gadis itu aneh, lantas mengikuti arah tatapannya. Ia lantas melihat Wira sudah ada di Tenga kerumunan itu. Bersama Putra dan Retno.
"Yuk, ke sana," ajak Arya, berjalan lebih dulu. Nayla mengekor sambil menahan rasa penasarannya yang sudah ada di ubun-ubun.
"Ada apa sih?" Bisik bisik mulai terdengar di kerumunan itu. Ruangan di dalam terlihat penuh sesak, namun hanya ada di bagian dekat pintu saja.
"Permisi." Arya menyusup ke celah-celah kerumunan mahasiswa yang mengantre di depan pintu. Ia melambaikan tangan terlebih dahulu ke arah Putra yang sudah ada di dalam bersama yang lain. Beberapa polisi sudah ada di dalam, ada beberapa orang yang memakai pakaian yang serba tertutup dengan tulisan FORENSIK di belakang kemejanya.
"Ada apa sih?" tanya Arya sambil memperhatikan sekitar mereka.
"Ada yang mati."
"Siapa?"
"Ferdie. Darahnya habis dihisap, hih, ada vampire," bisik Putra ke Arya yang berdiri di sampingnya.
"Tapi, kejadiannya belum lama," cetus Wira. "Kalian lihat itu?" tunjuknya ke lantai yang terdapat bekas ceceran darah dari Ferdie. "Masih basah, dan belum kering."
"Ferdie datang jam berapa emangnya?" tanya Nayla.
"Baru aja, Nay. Belum lama. Soalnya aku ketemu dia di depan tadi pas berangkat. Sekitar satu jam lalu," jelas Retno.
"Sebaiknya kita keluar," perintah Arya saat melihat beberapa anggota polisi menatap ke arah mereka, curiga.
__ADS_1
Koridor kampus menjadi sunyi, beberapa orang memilih tinggal di kelas Ferdie untuk melihat perkembangan selanjutnya. Karena kegiatan kuliah hari ini akan ditiadakan, hanya saja seluruh mahasiswa tidak boleh meninggalkan gedung ini, karena harus dimintai pertanyaan dari beberapa petugas.
Keempat mahasiswa itu kini duduk di perpustakaan. Tempat itu mendadak ramai oleh beberapa mahasiswa lain yang memilih menghabiskan waktu di tempat ini, menghindari polisi, dengan berpura-pura sibuk dengan buku di hadapan mereka. Padahal mereka sibuk dengan gadget di antara kedua lutut mereka. Menonton beberapa cuplikan film blue dengan meminimalisir suaranya agar tidak di dengar yang lain. Padahal teman di sebelahnya juga melakukan hal yang sama.
Mereka berempat memilih lantai atas, tempat biasa Nayla menghabiskan waktu dengan tumpukan buku fiksi ilmiah kesukaannya. Namun mendadak ia juga fiksi religi yang menghubungkan dengan malaikat dan kisah epicnya.
"Kalian percaya vampire, kan?" tanya Putra antusias. Nayla dan Retno mengangguk cepat, pertanda sangat menikmati pembicaraan yang akan mereka bahas ini. Dalam pikiran Retno, vampire dalam bayangannya adalah mirip Edward Pattinson yang tampan dan tidak menghisap darah manusia. Film itu memang sukses menarik kaum hawa untuk mendapat jodoh seorang vampir. Berbeda dengan Nayla, ia sangat menyukai makhluk jenis ini, karena cara mereka hidup, kebiasaan, serta ciri khasnya dan ia juga tau cara membunuh mereka. Baginya ia sangat menunggu momen untuk memburu makhluk penghisap darah itu.
"Tapi apa pun yang membunuh Ferdie bukan vampire," cetus Wira sambil menatap ke arah lain.
"Yah, memang. Dia bukan vampire, tapi dhampire!" tukas Nayla semangat.
"Dhampire? Apa itu? Kenapa kamu bisa bilang begitu?" Arya yang penasaran, mulai tertarik dengan semua isi kepala Nayla. Dan ingin mengorek semua informasi lebih dalam yang gadis itu punya.
"Dhampire adalah keturunan vampir dengan manusia, di mana mereka memiliki ayah seorang vampire dan ibu manusia. Tapi konon kekuatan mereka sama kuatnya seperti vampire, bahkan lebih besar. Kenapa aku bilang lebih besar, karena mereka tidak takut dengan cahaya matahari." Ia membetulkan posisi duduknya sambil menatap ketiga temannya itu, "Ferdie dibunuh kurang lebih dalam satu jam terakhir, bukan? Sementara ini sudah siang. Matahari sudah muncul, dan vampire ... tidak akan sebodoh itu keluar untuk menantang matahari, selapar apa pun mereka!" Penjelasan Nayla cukup membuat mereka paham akan apa yang sedang dihadapi. Wira hanya menarik kedua sudut bibirnya, menatap gadis itu yang memiliki karakter hampir berbeda dengan Nayla terakhir yang ia kenal. Wira juga sependapat dengan perkataan Nayla.
"Kalau yang benar membunuh Ferdie itu dhampire, itu berarti dia ada di antara salah satu dari kita. Aku yakin dia kuliah di tempat ini juga, dan kita harus waspada." Arya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Atau kita coba pecahkan kasus ini?" tanya Nayla bersemangat. Arya langsung meliriknya dingin, seolah tidak sependapat dengan perkataan gadis itu. Entah kenapa Nayla suka sekali menantang bahaya. Begitu yang ada di pikiran Arya sekarang.
"Kamu ini ...." Akhirnya Arya melontarkan kalimat kekesalannya, dan ditanggapi senyum lebar gadis situ dan entah kenapa jantungnya berdetak kencang. Desiran hatinya terasa aneh. Ia baru pernah merasakan hal ini.
"Kenapa? Nggak ada salahnya, kan? Apalagi ini ada di lingkungan kampus kita, berbahaya juga untuk kita, kecuali kamu bukan manusia, tidak perlu khawatir." Kalimat itu sontak menyindir Wira yang kini merasakan serak di tenggorokannya.
"Kenapa?" tanya Nayla yang menyadari reaksi aneh dari Wira. "Kamu bukan manusia?"
"Kamu bilang apa sih? Kamu pikir aku dhampire? Gila!"
"Mungkin bukan dhampire, tetapi ...." Ia memajukan tubuhnya ke arah Wira. "Makhluk aneh lain."
Semua orang saling tatap dan melihat Wira curiga, dan berakhir dengan tawa Nayla yang membuat satu sama lain menarik nafas kesal. "Kalian serius banget! Aku kan cuma bercanda," cetus gadis itu dengan kekehan yang tak kunjung habis.
***
Mereka sepakat untuk menyelidiki kasus ini secara diam-diam. Perkataan Nayla memang masuk akal, dan rasa penasaran mereka kini sudah terpupuk dalam dan besar. Mereka mulai menyusuri semua hal tentang Ferdie, siapa dia, bagaimana kesehariannya, siapa saja teman dekatnya, siapa saja musuhnya. Dan kini mereka menjadi detektif dadakan.
"Ferdie punya pacar, namanya Naomi."
"Naomi anak komunikasi? Yang rambutnya blonde itu?"
"Yes, thats right!"
"Kalau musuh bagaimana?" tanya Nayla memotong diskusi Putra dan Retno.
"Ada satu, katanya aku pernah lihat mereka berantem di halaman belakang. Rian. Laki-laki yang waktu hari pertama kuliah deketin Nayla di kantin," jelas Arya. Nayla menatap langit-langit, sambil mengingat apa yang diucapkan Arya barusan. Tak lama ia kemudian mengangguk, pertanda ingat.
"Kenapa mereka berantem? Pasti ada alasannya, kan? Lagi pula Rian kan memang sumber masalah," cetus Retno yang seperti paham pemuda itu.
"Tau dari mana Rian sumber masalah?"
"Lah siapa sih yang nggak kenal Rian? Dia, kan, tukang buat onar di kampus sejak dulu. Aku denger gosip soal dia, dia itu **** boy, dan sering ribut sama sesama mahasiswa, apalagi kalau menyangkut cewek cantik," tambah Retno.
"Oke, kita masukan Rian dalam daftar yang patut untuk kita curigai, sambil kita selidiki lagi bagaimana Rian selama ini!" saran Nayla. "Ada lagi?"
"Stefan, Niko, Anjas, dan Tris. Kita harus selidiki mereka semua."
"Oke, bagi tugas! Masing-masing ikuti mereka, nanti kita kumpul lagi di sini, bagaimana?' tanya Wira.
__ADS_1
"Setuju," seru Nayla bersemangat.
"Tapi jaga jarak, jangan sampai mereka tau kalau kita sedang ikuti. Kita nggak tau siapa di antara mereka yang ternyata seorang dhampire! Terutama kamu!" cetus Arya lalu menunjuk Nayla.
"Kok aku?" tanyanya heran.
"Karena hanya kamu yang paling bersemangat dalam hal ini, dan kamu pasti akan gegabah dalam bertindak." Nayla menyela, namun hanya mengerucutkan bibirnya mendengar kalimat menyebalkan keluar dari mulut Arya, tetapi dalam lubuk hatinya, ia menyetujui hal itu, hanya saja egonya menolak semua itu. Yah, begitulah wanita.
"Sok tau!"
'Memang iya, kan?"
"Hey, sudah. Ayok kita bertindak!" potong Wira. Ia segera meraih tas ransel yang diletakkan di meja, turun ke tangga dan memulai semua rencana yang sudah mereka susun rapi tadi. Ia bertugas mengikuti Stefan dan Niko, karena mereka berdua adalah sahabat karib.
Nayla juga menyusul langkah Wira, untuk menyelesaikan tugasnya. Ia memilih menguntit Rian. Arya kemudian beranjak, dan berjalan hampir mensejajari Nayla yang kini sudah keluar dari perpustakaan.
"Apa?" tanya Nayla sedikit sinis ke pemuda di sampingnya.
"Hati-hati." Arya langsung mempercepat langkahnya dan menghilang di ujung koridor, untuk mencari Anjas. Nayla hanya berdecih sambil mengambil jalan sebaliknya. Mereka harus melakukan tugas masing-masing tentu dengan prosedur keamanan yang sudah disepakati. Tris adalah bagian Retno dan Putra. Mereka berdua adalah yang paling lemah dan memang harus bekerja bersama agar menjadi maksimal. Tetapi Putra adalah yang paling cerdas di antara mereka dalam hal mengumpulkan informasi melalui laptopnya.
***
Nayla menemukan Rian dengan cepat, dia sudah hafal di mana saja **** boy itu biasanya mangkal. Kantin. Bersama tiga orang teman karibnya yang dulu pernah hampir menggodanya saat pertama kali masuk kuliah. Kantin cukup ramai, tapi tidak penuh sesak. Setidaknya Nayla bisa mendapat kuris untuk dirinya sendiri setelah memesan soft drink untuk menyamarkan acara menguntitnya.
Terakhir kali ia melihat Rian aneh. Dan kali ini adalah waktu yang tepat untuk mencari tau siapa sebenarnya pemuda itu. Mata hitam yang ia lihat tempo hari merupakan salah satu hal aneh yang ingin Nayla ketahui. Rian itu dhampire atau kerasukan iblis?
Ia memilih sebuah meja yang tidak begitu jauh dari Rian berada. Meja empat pemuda **** boys itu paling riuh di antara yang lain, setiap ada mahasiswi yang melintas di dekat mereka, akan menjadi bulan-bulanan untuk digoda. Ada yang memilih diam, ada yang membalas dengan perkataan sinis. Nayla terus memperhatikan Rian sejak tadi. Milkshake rasa bubble gum yang ia pesan mampu menutupi sorot matanya yang bagai CCTV ke Rian. Sesekali Nayla menunduk agar sikapnya tidak terendus mereka. Sampai akhirnya Rian memperhatikan Nayla. Smirk diperlihatkan berikut dengan sorot mata Rian yang berubah hitam semua. Itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja, dan tidak akan terlihat jelas jika tidak dilihat dengan seksama. Rian beranjak. Mendorong kursi yang ia duduki ke belakang, kerah kemeja ia betulkan lalu berdeham, karena ia berniat mendekat ke Nayla yang sedang sendirian. Nayla menyadari kalau dirinya akan menjadi target Rian. Ia tetap berusaha memasang sikap santai, walau sebenarnya jantungnya berdegung sangat kencang.
Kursi di depan Nayla di tarik mundur, Rian kemudian duduk di depan gadis itu. Bau belerang tercium di pangkal hidung gadis itu. Udara sekitarnya mendadak terasa panas. Nayla tersenyum sinis.
"Tumben sendirian?" tanya Rian, basa basi.
"Memangnya kenapa?"
"Pengawal mu nggak ikut?"
"Arya? Dia sibuk."
"Baguslah kalau begitu."
"Kamu tau kabar kematian Ferdie?"
Rian menarik nafasnya, lalu menatap ke luar kantin, di mana banyak mahasiswa mondar mandir setelah menjalani interogasi oleh polisi. "Yah, mati dengan kehabisan darah. Aneh, kan? Mungkin di sekolah kita ada vampire?" katanya seolah meremehkan, ia terkekeh dengan sikap masa bodoh.
"Mungkin. Itu yang sedang polisi cari. Tapi kalau iblis di kampus ini, justru ada," kata Nayla dengan menekan pada kata iblis tadi. Rian langsung menatapnya dingin. Ia menarik sebelah bibirnya lalu berdecih. "Iblis? Yah, kamu sudah menemukan banyak mahasiswa yang kurang ajar sepertinya. Sampai sampai kamu bilang begitu."
"Bukan. Bukan iblis seperti itu yang aku maksud. Tapi iblis secara harfiah. Kau tau, Rian, kalau ada beberapa iblis yang bisa merasuki tubuh manusia. Menguasai kehidupan manusia itu untuk jalan hitam."
'Wow, benar, kah?"
"Yah, itu benar. Dan aku menemukan satu yang seperti itu!" kata Nayla tegas, sorot matanya menatap dingin ke arah Rian. Rian bersikap sama. Sikapnya berubah dingin menanggapi gadis itu.
"Bagaimana kamu tau, ******!" bisik Rian sambil mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan. mendekat ke Nayla yang terkesan santai menghadapinya.
"Cih, aku melihatnya. Kau pikir aku gadis bodoh?" sinis Nayla, menantang Rian. "Dan, asal kau tau, kau tidak akan bisa menyakitiku. Jadi kalau kau masih ada di tubuh itu, bersiaplah. Akan aku buat kamu keluar dari sana dengan cara menyakitkan!" Nayla mengikuti cara Rian berbicara tadi dengan penuh keyakinan. Ia lantass beranjak dan pergi dari tempat itu. Karena bukan Rian yang sedang mereka cari. Tetapi Rian adalah salah satu targetnya nanti.
Rian menatap kepergian gadis itu dengan tatapan dendam. "Awas kau!" ancamnya menggumam sendiri.
__ADS_1
***