
Clarinta adalah anak kls 3 IPS 2, SMU Purnama. Dia salah satu anak terkenal di sekolah. Selain cantik, dia juga sangat pandai menari. Entah tari modern ataupun tradisional. Beberapa kali Clarinta berhasil menyabet piala lomba antar sekolah. Bahkan sampai luar kota, dan pernah juga menjuarai juara 3 lomba menari tingkat nasional yang di adakan di Bali.
Polisi datang dari kota, karena kasus kematian warga desa ini yang makin lama makin menarik perhatian orang banyak. Dalam satu bulan ini, sudah ada 2 orang remaja yang meninggal dengan cara yang sama. Keduanya meninggal dengan pembuluh darah yang pecah. Hingga darah keluar dari mata, hidung, telinga, mulut korbannya.
"Jadi Cindy sama Clarinta sama sama meninggal dengan cara yang sama?" tanya Adi yang kini sedang berkumpul dengan semua pegawai cafe. Cafe agak sunyi karena beberapa orang tengah diinterogasi. Bahkan gerbang desa ditutup, dan dijaga beberapa anggota polisi lain. Bukan hanya di sana, tapi beberapa titik yang memungkinkan tempat keluar masuk dari desa ini keluar, juga dijaga ketat. Siapapun yang masuk dan keluar desa, akan ditanya terlebih dahulu oleh petugas.
"Rumornya begitu. Tadi gue denger dari Akbar, katanya gitu. Kalau kematian Cindy kemarin, katanya diduga dari racun. Makanya beberapa bagian tubuhnya keluar darah, kan? Dan ada kemungkinan Clarinta juga sama. Karena tanda tandanya seperti itu juga."
Akbar adalah salah satu kenalan Gio, dia seorang ahli forensik yang cukup terkenal dikalangan kepolisian.
Clarinta ditemukan meninggal di ruang kesenian sekolah. Saat dia dan beberapa anak anak grup seni tengah beristirahat karena baru saja latian. Dua minggu lagi mereka akan mengikuti lomba tingkat nasional dan Clarinta adalah salah satu bagian penting dalam tarian itu. Kini, mereka harus mencari pengganti Clarinta hanya dalam waktu 2 minggu.
"Kenapa bisa waktunya berdekatan, ya?" gumam Bisma. Mereka duduk di halaman dengan menikmati secangkir kopi buatan Abimanyu. Padahal baru beberapa jam mereka buka, cafe tadi cukup ramai. Apalagi para polisi juga ada di sini, karena cafe ini salah satu tempat ramai dan banyak didatangi orang-orang di desa. Sambil menunggu giliran diinterogasi, mereka menikmati sarapan, dan kopi masing-masing.
Tapi kini, suasana sudah sunyi kembali. Pelanggan banyak yang pergi kembali ke aktifitasnya, ada yang harus ikut ke kantor polisi terdekat karena memiliki informasi lebih banyak, ada juga yang memilih pulang ke rumah karena takut menjadi korban selanjutnya.
Polisi tidak mengatakan apa pun, tapi desas desus itu terus terdengar dari mulut ke mulut. Bahwa ada pembunuh yang mengincar penduduk desa.
"Makanya banyak orang bilang, kalau ada pembunuh di desa kita," timpal Emil.
"Mengerikan!" gumam Ridwan.
"Tunggu! Pak Andrew mana? Bukannya dia paling semangat dan seolah tau sesuatu?" tanya Adi tengak tengok.
"Iya, dia nggak keliatan beberapa hari ini."
"Jangan-jangan ...." Bisma tidak meneruskan kalimatnya tapi tatapannya seolah mengatakan sesuatu.
"Hei, jangan sembarangan kalau ngomong. Udah udah! Ayok kita beresin cafe," suruh Abimanyu lalu beranjak dari duduknya. Cangkir kopi nya telah tandas dan rasanya pembicaraan ini hanya akan menimbulkan praduga yang akan membuat fitnah jika diteruskan.
Abimanyu memanggil beberapa tukang kayu untuk membantu memperbaiki cafenya. Dan sementara, pelanggan akan menempati halaman cafe karena renovasi ini.
_____
Hari menjelang sore. Semburat merah terlihatĀ di langit. Cafe sudah kembali ramai. Memang biasanya pagi, sore, dan malam hari adalah waktu yang ramai pengunjung datang. Saat pagi hari, banyak pekerja yang selalu menyempatkan sarapan, karena di rumah mereka tidak sempat sarapan. Mencari hal praktis dan cepat. Siang hari adalah jam sibuk untuk pegawai cafe Pancasona saat makan siang. Sementara malam hari, adalah waktu yang pas untuk menikmati kopi dan melepas penat setelah seharian lelah karena aktifitas masing-masing.
Sebuah mobil parkir di ujung. Mobil yang asing dan belum pernah dilihat sebelumnya oleh Abimanyu dan beberapa warga desa itu cukup menyita perhatian.
"Siapa, ya?"
Belum sempat pertanyaan itu dijawab, turun tiga orang yang memakai kemeja hitam. Kacamata hitam dan satu orang di sana membuat Abimanyu mengernyitkan kening. "Pak Andrew? Sama siapa, ya?" gumam Abimanyu.
Dari penampilannya mereka seperti agen penyelidik karena ada sebuah pistol yang ada di pinggang wanita itu, walau tertutup oleh outher hitam panjangnya.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja cafe. Abimanyu menoleh ke Ridwan yang sedang mengelap meja yang ada di dekatnya. "Ridwan! Tamu," tunjuk Abi dengan satunya ke arah meja terluar dari halaman.
Ridwan menatap sebentar ke arah gerombolan Pak Andrew, mengangguk ke Abi, lalu segera ke meja itu dengan buku menu dan catatan di tangannya.
"Sore, Pak. Mau pesan apa?"
Andrew menatap Ridwan lalu mengambil buku menu. "Kopi tiga."
"Itu saja, Pak?"
"Kalian pesan apa?"
"Itu dulu saja."
"Baik. Permisi."
Saat Ridwan hendak masuk untuk mengatakan pesanan pada Abi, seorang gadis remaja berteriak memanggil namanya. Ia masih memakai seragam sekolah dan juga tas di punggungnya.
"Kamu ngapain?" tanya Ridwan.
Maya berlari tergopoh-gopoh mendekat. Rambutnya yang dikuncir dua bergerak tak beraturan dengan keringat di dahinya. "Minta duit," kata Maya menengadahkan tangan kanannya.
"Buat apaan?"
"Aku mau ekskul, Kak. Buat beli jajan," rengek gadis itu manja.
"Loh bukannya tadi udah dikasih uang sama ibu?"
"Habis buat bayar iuran kas. Ayo, Kak. Buruan. Udah ditunggu ini aku." Maya menoleh ke belakang. Di sana ada seorang laki-laki yang memakai seragam sama seperti dirimu.
"Itu siapa?" tanya Ridwan ke arah laki-laki yang berdiri di pinggir jalan dengan sepeda di tangannya.
"Itu kak Gibran. Senior aku. Tadi ekskul dia yang jadi pemandunya."
"Sejak kapan kamu ikut ekskul?" tanya Ridwan menyelidik. Ia paham sekali kalau adiknya termasuk anak yang malas mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran. Tapi tiba-tiba Maya ikut ekskul. Itu aneh.
"Ya ampun, kakak. Udah sebulan ih. Aku ikut band. Udah buruan ah. Mana duitnya. Udah ditungguin kak Gibran," kata Maya dengan menghentak hentakan kaki.
Abimanyu mendekat. "Kenapa, Wan?"
"Ini, Bang. Si Maya minta duit jajan tambahan." Ridwan merogoh kantung celananya. Memberikan selembar uang berwarna hijau."Nih. Jangan pulang terlambat. Nanti Ibu nyariin."
"Siap, Bos," kata Maya dengan gaya hormat layaknya seorang prajurit. "Aku pergi, ya. Pamit dulu, Bang Abi." Maya tersenyum lebar ke Abimanyu yang ditanggapi senyum simpul si pemilik cafe.
__ADS_1
"Dia siapa, Wan?" tanya Abi ke pemuda yang kini mengayuh sepeda, dengan Maya yang ada di boncengan nya.
"Kata Maya namanya Gibran. Kakak kelas yang ngajarin ekskul nya, Bang. Maya ikut Band sekolah."
"Wah, bagus dong. Oh, iya. Pak Andrew pesan apa."
"Astaga. Kopi 3. Lupa."
Abi tersenyum lalu berjalan ke meja barista membuat pesanan.
Cafe mulai ramai. Sehingga Abimanyu mengantar pesanan kopi itu sendiri. Karena Ridwan sedang membereskan meja lain yang sudah ditinggalkan pengunjung tadi. Ada beberapa pecahan gelas karena tersenggol anak kecil yang barusan datang bersama kedua orang tuanya. Sepertinya mereka wisatawan yang akan menginap di homestay yang ada di hutan dekat air terjun. Di dekat air terjun itu memang dibangun beberapa homestay yang memang sebagai fasilitas untuk pengunjung. Homestay itu milik Pak Hermawan, salah satu orang terkaya di desa yang kini menetap di kota.
"Silakan." Abi meletakan tiga buah cangkir kopi ke meja Andrew.
"Terima kasih."
"Ada kemungkinan dia pembunuhnya."
"Sebentar, Abimanyu!" panggil Andrew menahan Abi yang hendak pergi. Abimanyu berbalik. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
"Boleh kita ngobrol sebentar?"
Abi mengernyitkan kening. Ia lantas duduk di kursi samping Andrew. Meletakan nampan di meja dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Ada apa, ya?"
"Kamu sudah lama tinggal di desa ini, kan?"
Abi tak langsung menjawab, menatap ketiga orang itu bergantian. Kemudian baru mengangguk pelan. "Yah, lumayan, Pak."
"Apa ada warga baru di desa ini?"
"Warga baru?" jawab Abi dengan pertanyaan lagi.
"Iya, warga baru. Mungkin pendatang yang berumur masih muda. Di luar wisatawan, ya."
"Hm, sebentar. Sejauh ini rasanya tidak ada pendatang baru."
"Kau yakin?"
"Iya, Pak. Memang banyak wisatawan yang datang. Apakah itu termasuk?"
"Kamu bisa memberikan data setiap wisatawan yang datang, terutama yang menginap."
"Oh tentu bisa. Saya kenal dengan Pak Marwan yang bertanggung jawab mengurus homestay milik Pak Hermawan. Sebentar saya hubungi orangnya." Abimanyu beranjak meraih telepon genggamnya dan menghubungi Pak Marwan.
"Eum, bagaimana kalau kita pindah saja ke dalam. Rasanya terlalu berbahaya jika informasi ini bocor," saran Abi dengan memperhatikan suasana cafe yang makin ramai.
Andrew dan kawan kawannya setuju akan hal itu. Mereka pindah ke dalam, tepatnya di ruangan Abi. Abi memang memiliki ruangan pribadi. Untuk mencatat pengeluaran, pemasukan cafe dan bahan yang harus dibeli.
Ada sebuah sofa panjang dan meja. Dan sebuah whiteboard yang menempel di dinding. Tempat ini sangat cocok untuk markas polisi.
Pak Marwan memberikan sebuah buku tamu berisi data pengunjung yang menginap di homestay itu. Andrew, Jesica, dan Andika mulai membaca dan menganalisis data itu. Mencari keterikatan hubungan dengan korban. Andika mengeluarkan laptopnya dan mulai menelusuri semua informasi lewat internet. Dari sekolah, asuransi, pekerjaan, dan tiap detil data yang ada di meja.
"Hm, sepertinya nggak ada yang aneh. Mereka memang pengunjung yang ingin wisata saja. Nggak lebih," gumam Jesica.
"Iya, nggak ada sangkut pautnya sedikitpun sama korban. Semua data udah aku lihat. Nggak ada yang mencurigakan, Ndrew." Andika menjambak rambutnya sendiri.
Andrew menatap Abimanyu yang masih menatap buku tamu itu. "Bi, yakin? Nggak ada pendatang baru di desa ini? Bukan cuma dalam dua atau tiga bulan ini saja. Tapi mungkin setahun atau dua tahun lalu?" Andrew masih penasaran.
Abimanyu memikirkan perkataan Andrew barusan. Berusaha mengingat hal yang mungkin terlewat dari pengelihatannya. Hingga sampai ia teringat sebuah wajah.
"Sebentar. Warga baru, ya?" tanya Abimanyu lagi.
"Iya. Bagaimana? Ada?"
"Siapa, Bi?" tanya Pak Marwan bingung.
"Anak tadi! Yang sama Maya. Aku baru pernah lihat dia."
"Anak yang mana, Bi?" tanya Pak Marwan.
"Eum, kalau nggak salah namanya Gibran. Kakak kelas Maya, berarti kelas 3. Wajahnya asing. Pak Marwan tau?"
"Gibran? Sebentar." Pak Marwan menatap langit-langit. Ia termasuk sesepuh desa yang paling tau setiap detil warganya. "Oh dia? Gibran itu sudah ada di sini setahun lalu."
"Anak siapa dia, Pak?"
"Bapak nggak tau. Dia pindah sendirian. Waktu itu datang sama paman nya, tapi sekarang dia tinggal sendiri. Katanya sih, pamannya Gibran kerja di kota."
"Di mana rumahnya, pak?"
"Itu, bekas rumah Pak Zainal. Katanya mereka itu saudara Pak Zainal."
"Pak Zainal? Bapaknya Riki?" tanya Andrew.
"Nah bener! Keluarganya Riki."
__ADS_1
"Riki siapa?" tanya Abi penasaran.
"Kamu nggak tau siapa Riki?" tanya Pak Marwan. Abimanyu menggeleng.
"Dia itu tersangka pembunuhan 7 tahun lalu!"
"Jangan-jangan Gibran itu saudara Riki? Dan datang ke sini untuk balas dendam," ujar Jesica.
"Atau malah, Gibran itu Riki?"
"Ndik! Kau coba periksa data Gibran."
Andika mengangguk. Jemarinya leluasa mengetik di laptopnya. Hingga matanya terbelalak. "Astaga. Ternyata nama panjang Gibran ... Gibran Rikiawan!"
______
Andrew dan timnya bergerak ke rumah Riki. Mereka sudah mengantungi petunjuk penting dalam penyelidikan ini. Pak Marwan kembali ke rumah. Sementara Abimanyu justru pergi ke SMU Purnama. Ia mengajak Gio dan Adi. Cafe dititipkan ke Ridwan. Abi sengaja tidak menceritakan hal ini pada Ridwan. Takut Ridwan panik.
Karena Maya mungkin dalam bahaya. Maya terlihat sangat dekat dengan Riki alias Gibran. Dan itu berbahaya. Abi menyadari tatapan mata Gibran yang tidak biasa. Abi tidak suka melihat pemuda itu sejak awal. Ternyata dugaannya beralasan.
"Anjiiir! Bisa gitu, ya!" seru Gio setelah Abi menceritakan semuanya. Perjalanan mereka tidak akan lama untuk sampai sekolah Maya.
"Gila! Masih kecil aja dia udah bunuh orang. Bener-bener psikopat!" ungkap Adi yang duduk di samping Gio.
Abimanyu yang duduk di jok belakang, hanya diam. Walau sebenarnya hatinya bergemuruh. Ia cemas akan keselamatan Maya. Bagaimana pun juga, Maya sudah dia anggap adiknya sendiri. Maya anak yang supel, ramah, mudah bergaul dan baik. Dia selalu membuat orang sekitarnya senang. Bahkan Abi sering cemburu melihat kedekatan Ridwan dan Maya. Ia sempat berfikir, kalau saja dia punya adik, mungkin akan sama seperti Ridwan dan Maya.
Mobil sampai di SMU purnama. Mereka parkir di halaman dekat gerbang. Suasana sudah sunyi. Hanya ada beberapa motor dan mobil saja. Mereka bertiga segera masuk. Di saat yang bersamaan, Abi menabrak Nabila yang berjalan berlawanan dengannya.
"Astagaaa!" jerit Nabila kesal.
"Eh, maaf, maaf!" kata Abi lalu membantu membereskan buku yang dipegang Nabila jatuh ke lantai.
"Kamu ngapain di sini, Mas?" tanya Nabila heran. Ia tidak jadi marah karena melihat Abimanyu yang menabraknya.
"Eum, loh, kamu ngajar di sini? Aku pikir di SD?"
"Itu Ayasi sama Sintia. Kalau aku memang ngajar di sini."
"Oh. Eum, ruang seni di mana? Band?"
"Seni? Mau cari siapa?"
"Maya!"
"Oh. Itu di ujung koridor. Lantai atas," tunjuk Nabila ke belakang.
"Oh di sana? Oke. Makasih!" Abi segera berlari ke arah yang Nabila tunjuk. Sementara Nabila menatapnya bingung. "Ada apa sih?"
Ruang seni.
Abi mendekatkan telinganya di pintu. Masih ada suara orang yang tengah berlatih band di dalam. Ia segera memutar kenop pintu. Ia segera masuk.
Netranya liar mencari keberadaan Maya dan Gibran. Hingga salah satu guru mendatanginya. "Cari siapa, Mas?"
Disaat yang bersamaan Nabila masuk ke ruangan itu juga.
"Maya mana?" tanya Abi gelisah.
"Oh Maya sudah pulang, Mas. Sejam lalu malah."
"Apa? Pulang?!" Abi menekan kepalanya dan meraih telepon genggamnya. "Paman, udah pulang. Coba telpon ibunya Maya!" suruh Abi.
"Ada apa, ya?" tanya Pak Andi selaku Guru seni musik.
"Dia mau jemput Maya, Pak Andi." Nabila menarik tangan Abimanyu dan membawanya keluar.
"Ada apa sih?!" tanya Nabila bingung. Baru kali ini ia melihat Abimanyu dengan tampang kebingungan dan gelisah. Biasanya ia selalu melihat pria ini dengan tatapan dan ekspresi wajah yang teduh dan tenang. Tapi kali ini lain.
"Maya dalam bahaya!"
"Maya? Memangnya kenapa?"
Abi menatap Nabila, diam dan menggeleng. "Nggak apa-apa!" Ia segera berjalan turun ke bawah.
"Tunggu! Jelasin! Ada apa sama Maya?!" Nabila menarik tangan Abimanyu. Hingga mereka berdua saling berhadapan.
"Ck. Ini menyangkut pembunuhan tempo hari!"
"Perempuan itu?" tanya Nabila balik, memastikan bahwa yang mereka bicarakan adalah Clarinta. Abi mengangguk cepat.
"Gibran! Gibran tersangka utama!"
Tangan Nabila mendadak lemas. Tubuhnya seorang mati rasa. Ia baru mengerti kenapa Abi begitu gelisah.
Walau Nabila baru beberapa hari di desa itu, ia sudah hafal bagaimana murid-muridnya. Terutama Maya. Ia memang kerap melihat Maya dan Gibran bersama sama. Gibran terlihat perhatian dan baik pada Maya. Itu terlihat jelas.
"Ikut aku! Sepertinya aku tau ke mana mereka!" kata Nabila yakin.
__ADS_1