pancasona

pancasona
47. Desa Tabuk Hilir


__ADS_3

Tak Butuh waktu yang lama, mereka pun akhirnya mulai mendekati cahaya terang tadi. Rupanya benar, bahwa cahaya kuning yang mereka lihat memang sebuah lampu bohlam. Lampu tersebut berasal dari sebuah rumah kayu yang berdiri tegak sendiri.


"Permisi, Pak, Bu?" sapa Hana sambil mengetuk pintu rumah itu agak keras.


"Apa nggak apa-apa kita bertamu tengah malam gini? Mungkin yang punya rumah lagi tidur," cegah Rea saat Hana mulai menambah kekuatannya untuk mengetuk pintu rumah itu.


Hana berpikir sejenak, Lalu menyetujui perkataan Rea.


" Terus gimana dong? Gue capek tahu," ucap Ita sambil duduk di teras rumah tersebut.


Dana menatap semua teman-temannya yang memang sudah kelelahan termasuk dirinya juga. Rea menatap Dana yang terlihat sedang berpikir keras. Hingga akhirnya mereka berdua saling tatap bertemu dalam satu pandang.


Ada bahasa isyarat yang di sampaikan keduanya. Seakan berdiskusi di dalam hati dan saling memahami walau tanpa suara. Diskusi itu berakhir dengan sebuah gelengan kepala dari Dana.


"Kita bangun tenda di sini aja," kata Rea.


"Di sini?" tanya Hana sambil menunjuk halaman rumah tersebut. Halaman rumah tersebut memang cukup luas. Ditambah dengan rumput yang rapi karena di potong rutin.


Mereka semua menatap sekitar. Ada sedikit kecurigaan karena hanya melihat rumah tersebut saja yang berdiri di tengah-tengah hutan. Tidak ada rumah rumah lain di sekitar layaknya pemukiman warga yang biasanya ada. Hanya saja mereka sudah terlalu lelah untuk memikirkan berbagai kemungkinan buruk lainnya. Yang mereka butuhkan sekarang adalah istirahat. Apalagi hari sudah hampir pagi. Mereka sudah mulai sangat mengantuk dan ingin sekali merebahkan tubuh di mana saja asal bisa dipakai untuk beristirahat.


Akhirnya tanpa pikir panjang dan diskusi lebih lama lagi, merekapun mulai mendirikan tenda di halaman rumah tersebut. Sekalipun demikian mereka tetap berusaha untuk meminimalisir suara agar tidak mengganggu penghuni rumah tersebut.


Setelah tenda berdiri mereka pun mulai masuk ke tenda dan beristirahat. Hanya ada 2 tenda yang mereka dirikan untuk tidur malam ini.


2 tenda saja rasanya sudah cukup mereka tidur. Sama seperti sebelumnya satu tenda berisi para pria, lalu tenda satunya berisi para wanita. Untuk malam ini tidak ada yang berjaga seperti sebelumnya. Karena mereka semua sudah sangat kelelahan. Mereka hanya bisa berdoa agar Tuhan melindungi mereka saat mereka sedang tidur nanti. Juga berharap agar Fauzan tidak mengejar mereka sampai ke tempat tersebut.


"Eh, tapi Ozan nggak akan cari kita ke sini, kan?" tanya Apri saat mereka sudah akan bersiap untuk tidur. Mereka berlima sudah menempati tempat masing-masing. Tidur berjajar dengan posisi yang sama. Di samping kanan ada Rea di sebelah Rea, ada Apri lalu Diah kemudian Ita dan di ujung adalah Leni. Mereka sudah masuk ke dalam sleeping bag masing-masing.


" Kayaknya sih nggak. Kalau emang Ozan bakap terus mengejar kita, seharusnya dia juga mengikuti kita, pas kita keluar dari hutan tadi kan?" kata Rea dengan penuh keyakinan.


"Iya sih.Bener juga."


"Tapi aneh gak sih menurut kalian? Kenapa tiba-tiba Ozan nggak ngejar kita lagi? Padahal waktu di hutan Dia kelihatan membabi buta mengejar kita," timpal Leni.


"Iya, memang aneh. Tapi kita semua nggak tahu jawabannya apa. Setidaknya kalau pun dia udah enggak ngejar kita lagi, kita bisa bernapas lega," cetus Diah.


"Iya, bener."


Di tenda satunya diskusi pun sedang berlangsung. Mereka tidak membahas mengenai Ozan yang berhenti mengajar saat mereka keluar dari hutan tadi. Justru mereka Sedang membahas mengenai tempat yang sedang mereka tempati sekarang. Terutama rumah yang sedang ada di belakang tenda mereka.


" Gue rasa ini rumah enggak berpenghuni deh. Rasanya mirip rumah yang udah lama nggak di tempati. Kalian lihat, kan, tadi terasnya, kotor," jelas Blendoz menganalisa.


"Iya sih. Kotor. Tapi masa lampunya nyala sih. Kan kalau udah nggak berpenghuni, lampunya mati juga," tambah Hana.


"Mungkin yang punya rumah lagi pergi jauh, dan sengaja nyalain lampu rumahnya," cetus Hani.


"Iya, mungkin juga. Kita lihat besok aja gimana. Semoga sih ada orang di rumah itu, jadi setidaknya kita bisa minta bantuan."


"Semoga aja. Ya sudah, kita tidur dulu. Kita butuh istirahat juga. Perjalanan kita masih jauh," ujar Dana.

__ADS_1


Akhirnya mereka semua tidur dengan posisi terlentang, berada di dalam sleeping bag yang sudah di bawa dari rumah.


Tubuh yang lelah membuat mereka semua langsung dapat tidur dengan nyenyak. Bahkan dengkuran dari mereka saling bersahutan satu sama lain.


Di luar tenda, suasana tampak sunyi. Namun ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik jendela.


Beberapa jam berlalu. Rea tiba tiba segera membuka mata saat mendengar seseorang yang sedang memanggil namanya. Dia terkejut, dan langsung duduk sambil memperhatikan sekitar. Setelah bangun tidur, dia memang sering terbangun tiba tiba selama ini.


"Astaga! Di mana aku?!" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Namun begitu dia melihat sekitar, ada teman-teman yang lain. Akhirnya dia sadar kalau dia sedang ada di Kalimantan bersama teman-teman kuliahnya.


Rea lantas menatap sekitar tenda karena mulai tampak adanya cahaya. Dia pun mulai sadar kalau hari sudah pagi.


"Hei, bangun! Udah pagi!" kata Rea sambil menepuk teman-temannya yang masih terlelap.


Suara Rea yang berisik membuat mereka semua terganggu dan akhirnya bangun walau dengan malas-malasan.


"Iya iya, Re. Bentar ih. Kumpulin nyawa dulu," tandas Ita dengan mata masih tertutup.


Leni yang sudah bangun, memutuskan duduk terlebih dulu, bersama Diah. Mereka sudah mulai membuka mata walau rasa kantuk masih terasa menggelayut mata. Sementara Apri masih tiduran bersama Ita, dengan dalih ingin mengumpulkan nyawa lebih dulu.


Rea yang sudah sadar sepenuhnya, lantas memutuskan untuk keluar dari tenda, karena penasaran pada situasi di luar tenda. Terutama dia ingin melihat apakah di rumah tersebut ada penghuninya atau tidak.


Resleting dibuka, udara dingin langsung masuk ke dalam tenda dan berhasil membuat teman-teman Rea menjerit kedinginan.


Rea hanya terkekeh karena sengaja melakukan hal itu agar mereka semua terbangun dari rasa kantuk yang masih menggelayut. Tapi dia lantas menutup kembali resleting tersebut. "Buruan keluar. Kalau nggak aku bongkar ni tenda," ancam Rea.


"Rea bawel!"


"Re? Udah bangun?" tanya Dana dengan senyum ramah.


"Eh, U - Udah. Kalian pagi banget bangunnya?" tanya Rea basa basi.


"Iya nih. Oh iya, kenalin. Ini Pak Warto dan Bu Yuni. Mereka pemilik rumah ini," tunjuk Dana ke rumah di belakang tenda yang semalam sudah mereka datangi.


Rea mengangguk lantas mendekat ke mereka. Sebagai seorang pendatang di tempat tersebut Rea pun berusaha untuk seramah mungkin menanggapi 2 orang tersebut. Dia mengulurkan tangan dan menyalami mereka satu persatu sambil memperkenalkan diri. Pak Warto dan Bu Yuni berpenampilan layaknya warga desa biasanya. Pakaian mereka sederhana. Bahkan terkesan sedikit kumal. Karena warnanya yang sudah pudar. Tapi tentu pakaian tersebut bersih. Bukan Pakaian kotor atau compang-camping layaknya orang gila pinggir jalan.


" Jadi gimana?" tanya Rea melirik ke arah teman-temannya yang lain.


" Pak Warto dan Bu Yuni sudah menjelaskan semuanya, Re."


"Maksudnya menjelaskan yang bagaimana?" tanya Rea yang tidak begitu paham dengan maksud Dana.


"Kita sekarang ada di Tabuk hilir."


"Tabuk hilir? Eum, beda, ya, sama Tabuk hulu? Rumah Pak Wiryo."


"Oh, beda, Mba. Walau namanya sama tapi desa ini dan desa Tabuk hulu adalah tempat yang berbeda. Bapak hulu ada di seberang Utara hutan. Tapi pun saling mengenal satu sama lain," jelas Pak Warto.


"Oh begitu. Tapi ... Pak, kenapa di sini cuma ada rumah bapak saja? Warga desa yang lain ke mana?" Rea menatap sekitar dan tetap tidak menemukan rumah lain yang ada di tempat tersebut selain rumah Pak Warto.

__ADS_1


"Rumah lain ada di seberang sana, Re. Memang rumah Pak Warto ini agak menjauh dari rumah-rumah warga yang lain. Tapi warga desa lain ada di sebelah sana. Kami bahkan sudah ngecek kok ke sana," jelas Dana terlihat tanpa beban lagi sekarang.


Rea mengangguk-angguk pertanda dia mengerti. Mendengar diskusi panjang yang terjadi diantara mereka, Apri, Ita, Leni dan Diah lantas segera keluar dari tenda. Mereka pun sama terkejutnya seperti reaksi Rea tadi.


"Nah ini nih. Baru pada bangun astaga. Anak gadis bukannya bangun pagi-pagi, masak, cuci piring, cuci baju malah baru bangun. Keduluan ayam berkokok tahu," ejek Hana.


"Lo pikir gue pembantu lo!" cetus Leni sinis.


Setelah semuanya sudah berkumpul, Dana pun menjelaskan kembali informasi apa yang ia dapat tadi.


Desa Tabuk Hilir adalah nama desa tersebut. Desa itu memang tidak banyak dihuni oleh manusia. Hanya ada sekitar 40 kepala keluarga yang ada di desa tersebut. Posisi Desa mereka yang jauh dari jalan raya dan juga dikelilingi oleh hutan lebat membuat Desa mereka sedikit terisolasi dari dunia luar. Tapi menurut penuturan Pak Warto, Warga desa di Tabuk Hilir juga kerap pergi ke pasar tradisional terdekat.


Kedatangan rombongan Rea dan teman-teman disambut baik oleh warga sekitar. Mereka pun juga sudah menceritakan semua yang mereka alami kepada Pak Warto dan Bu Yuni. Terutama mengenai Fauzan yang kini masih berada di hutan tersebut.


Mereka lantas diajak menemui Kepala Desa yang terletak di tengah-tengah desa, sedikit jauh dari rumah Pak Warto dan Bu Yuni. Rumah Pak Warto dan Bu Yuni bagaikan sebuah gapura desa yang menjadi penanda kalau Desa Tabuk Hilir ada di sana.


Rumah-rumah di desa tersebut sama seperti rumah-rumah di pedesaan lainnya. Bangunannya masih terbuat dari kayu. Belum ada rumah permanen yang dibuat dengan batu bata dan lantai keramik seperti rumah modern biasanya ditemui di kota besar. Rumah-rumah di desa tersebut Hanya berdindingkan kayu. Lantainya masih lantai tehel lama yang berwarna gelap. Rumah-rumah tersebut berjajar rapi di sepanjang kanan kiri Jalan Setapak. Tidak ada jalanan ber aspal. Di desa tersebut masih menggunakan kerikil-kerikil kecil yang disebar di sepanjang jalan. Bahkan sejak tadi mereka tidak menemukan satupun kendaraan bermesin yang ada di desa tersebut. Mereka masih menggunakan gerobak atau sepeda untuk beraktivitas di sekitar.


Mereka pun kini sudah berada di rumah kepala desa. Secangkir teh hangat yang masih mengepul tercium aromanya sampai ke Pangkal hidung. Ditambah dengan pisang goreng hangat yang tersaji di meja buatan tangan Ibu Kepala Desa.


"Pak Warto sudah menjelaskan mengenai kedatangan Kalian tadi," ucap kepala desa tersebut.


Mereka bersembilan duduk di kursi kayu yang berada di ruang tamu rumah kepala desa. Hanya rumah tersebut saja yang tampak lebih lebar dari rumah-rumah lainnya. Ada beberapa pajangan seperti lukisan dan wayang kulit yang terpampang di dinding kayu sekitaran mereka.


"Oh, benar, kah, Pak? Maaf kalau kedatangan kami mengganggu warga desa di sini dan juga kepala desa. Kami memang benar-benar tidak tahu harus pergi ke mana. Kami sudah tahu arah pulang, tapi teman kami tiba-tiba bertindak aneh dan seolah-olah menghadang kami agar kami tidak keluar dari hutan tersebut," jelas Dana.


Bapak kepala desa tersenyum. Dia juga mengangguk seolah memahami situasi dan kondisi mereka.


"Hutan itu memang bukan hutan sembarangan. Bahkan warga desa kami juga tidak berani melangkahkan kaki masuk ke hutan tersebut. Ada sesuatu yang jahat di dalam sana. Hanya saja Kalian tidak perlu khawatir. Karena sesuatu yang jahat itu tidak akan bisa keluar dari sana. Dia hanya akan bisa menyerang di dalam hutan tersebut."


"Oh ya? Yang benar, Pak?" tanya Hani tampak antusias.


"Iya, betul."


"Wah, pantas saja teman kami tidak mengejar kami lagi semalam!"


"Iya betul Pak. Dia hanya berdiri pinggir hutan dan berlari mengejar kami seperti sebelumnya. Dia hanya memperhatikan kami saja yang pergi dari hutan itu."


Mereka saling bersahutan menceritakan hal-hal yang sudah mereka alami di dalam hutan tersebut.


" itu memang benar. Hutan itu memiliki sebuah sumur tua, yang dahulu kala digunakan untuk memenjarakan seorang iblis yang bernama Amon. Dia adalah makhluk yang sangat berbahaya. Bahkan saat ia berada di dalam sumur itu saja, Amon bisa mempengaruhi makhluk di sekitar untuk patuh padanya dan melakukan semua yang diperintahkan olehnya. Oleh sebab itu seorang Kyai di desa sebelah melakukan sebuah pagar gaib yang mengelilingi hutan tersebut. Tujuannya agar Amon tidak akan bisa keluar dari hutan itu selama-lamanya. Hanya saja penjara untuk Amon itu sedikit demi sedikit rusak dimakan usia. Jalan satu-satunya adalah untuk tidak mendatangi hutan tersebut apapun yang terjadi. Bahkan dulu pernah ada sebuah kisah tragis yang menimpa sebuah desa jauh dari hutan itu."


" kisah tragis Seperti apa Pak?"


"Saat itu Amon berhasil keluar. Dia meminjam tubuh seseorang yang pas untuk dirinya. Orang itu juga yang telah membuat Amon bisa keluar dari penjara nya. Dia lantas mendatangi sebuah desa, lalu melakukan pembantaian di mana-mana. Banyak sekali korban jiwa saat itu. Mereka semua meninggal dengan cara yang mengenaskan."


"Astaga. lalu kenapa Amon sudah kembali lagi ke sumur itu, Pak?" tanya Blendoz antusias.


" orang yang dirasuki kemudian sadar. Bahkan jiwa orang itu Amon rasuki membawanya kembali masuk ke dalam sumur tersebut."

__ADS_1


" ternyata ada orang yang bisa mengeluarkan Amon dari penjaranya ya?"


"Yah, bisa. Hanya ada 1 tiap generasi manusia yang memiliki jiwa murni yang bisa mengeluarkan Amon dari penjara tersebut. Sebenarnya jiwa murni yang ia miliki bukan hanya untuk mengeluarkan Amon dari penjaranya. Tapi jauh lebih hebat daripada itu. Setelah kejadian itu dia memiliki tanda di tengkuknya. seperti simbol tato aneh. Dan barangsiapa orang yang memiliki tato tersebut ditengkuknya, maka dia adalah orang yang bisa mengeluarkan Amon dari penjaranya. "


__ADS_2