pancasona

pancasona
Part 167 Samael


__ADS_3

"Kenapa Paman bisa bilang begitu? Memangnya ibu siapa?" tanya Abimanyu antusias.


"Lihat!" tunjuk Gio.


Sebuah artikel menyebutkan bahwa ada 200 malaikat yang jatuh ke Bumi, yang disebut "Fallen angels" atau "The Sons of God".Beberapa di antara mereka adalah kelompok "Pengintai" atau The Watchers. The Watcher merupakan kelompok pengintai yang diutus Tuhan untuk memantau kehidupan di bumi secara langsung.


Samyaza adalah malaikat yang jatuh karena pemberontakan yang ia lakukan pada Tuhan. Menurut kitab Henokh, Samyaza kemungkinan besar nama lain untuk setan yang awalnya merupakan identitas yang diciptakan dalam pelayanan Allah, ia adalah penjaga takhta Allah, namun kemudian jatuh dari langit karena kesombongannya sendiri menurut beberapa tradisi Ibrahim.


Samyaza tidak mungkin salah sebagai nama lain untuk setan, yang sebagian orang percaya artinya adalah "mengusir/terusir" dari langit sebelumnya (alasan yang ditawarkan meliputi penolakan untuk sujud kepada Adam ). Sama seperti Lucifer.


Samyaza memiliki 2 objek/jiwa yang jatuh terpisah dari surga, ketika jatuh di bumi salah 1 jiwanya pengikut iblis yang menyesatkan manusia di bumi, dan jiwa yang satunya lagi yang jatuh ke bumi adalah sebagai anak-anak Allah yang memilih datang ke bumi untuk memperistri seorang manusia.


"Jadi ayah itu adalah Samyaza?"


Mereka bertiga saling melempar pandangan satu sama lain. Tidak ada keterangan lain tentang siapa Samyaza dan bagaimana wajahnya. Tapi di antara banyaknya nama malaikat yang jatuh, hanya nama Samyaza yang paling berkesan di benak mereka. Nama dan karakter yang mirip sekali dengan Arya.


Di dalam kitab itu, Samyaza membuat sumpah yang mengikat dirinya sendiri dan kelompoknya.


"Dan Samyaza, yang adalah pemimpin, berkata kepada mereka: Aku takut kamu tidak akan setuju untuk melakukan perbuatan ini, dan saya sendiri akan harus membayar hukuman dosa besar. Dan mereka semua menjawab dan berkata: . Marilah kita semua bersumpah, dan semua mengikat diri kita dengan kutukan bersama untuk tidak membuang rencananya ini tetapi untuk melakukan hal ini." Kemudian bersumpah mereka semua bersama-sama dan mengikat diri dengan kutukan mereka sendiri.


Allah-pun Geram dan memerintahkan malaikat Jibril ( Gabriel ) untuk menyebabkan manusia raksasa pada waktu itu mengobarkan Perang Saudara:


'Lakukanlah perlawanan terhadap orang-orang terkutuk itu, dan juga terhadap anak-anak zina itu: dan musnahkan [anak-anak percabulan dan] anak-anak dari Watchers itu dari semua laki-laki di antara mereka [dan menyebabkan mereka untuk pergi]: Buatlah agar mereka berperang satu sama lain sehingga mereka dapat saling menghancurkan dalam pertempuran: untuk hari yang panjang yang tidak pernah mereka miliki'.


"Lihat juga ini," tunjuk Gio ke artikel lainnya.


"Lilith?"


Lilith adalah wanita Mesopotamia, demon berelemen angin dan badai yang selalu dikaitkan dengan penyakit, dan kematian. Ada juga cerita bahwa Lilith adalah istri pertama dari Adam, bukan Hawa. Di zaman Mesopotamia, Lilith pertama kali muncul sebagai spirit/roh badai bernama Lilitu, biasanya memangsa anak dan wanita, biasanya keluar mencari korban di malam hari (night class demon). Lilitu mempunyai gairah **** yang tinggi terhadap pria, tapi sayangnya tidak bisa bersetubuh dengan normal. Ia diciptakan sama seperti Adam, sama-sama dari tanah. Sehingga karena hal inilah, membuat Lilith menjadi tidak mau tunduk pada Adam karena merasa sederajat. Membangkang dan pergi meninggalkan Adam. Sementara Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.


"Terus?"


"Banyak versi yang menjelaskan ke mana Lilith setelah meninggalkan Adam. Ada yang bilang dia pergi ke laut merah, ada yang bilang dia menikah dengan malaikat lain, seperti salah satu the Watcher," jelas Gio sambil menatap Abimanyu dalam.


"Mereka terus menerima kutukan dari Allah, dengan menjalani kehidupan, mati dan hidup berkali-kali. Selama 100 tahun sekali mereka akan dihidupkan lagi, dan kemudian kembali mati. Begitu terus, sampai kiamat terjadi."


Abimanyu menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya penuh dengan banyak hal. Tentang ayahnya dan ibunya. Semua bagai tercampur menjadi satu. "Lebih baik kita tidur, sudah malam," ujarnya lalu beranjak ke kamarnya. Vin dan Gio memandang Abi yang terlihat kacau. Mereka kembali berkutat pada artikel tentang apa yang mereka cari tadi.


"Om Gio, waktu dulu masih dekat sama orang tuanya Abimanyu nggak mengalami kejadian aneh, begitu?"


"Hm, sering malah. Asal lu tau, dekat sama Arya dan Abi itu hampir sama aja. Sama-sama setor nyawa. Mereka selalu dikelilingi hal buruk, musuh-musuh aneh, bahkan entah berapa kali gua hampir mati dulu, ya sama seperti sekarang."


"Nggak pernah menyinggung soal masa lalu ayah Abi, begitu?"


"Enggak, Vin. Gue rasa bener, kalau sekali pun Arya memang seorang malaikat yang jatuh, ingatan dia bener-bener dihapus saat dia menjalani kehidupan dia yang baru. Dia bahkan sama sekali nggak menonjol. Padahal dia sama Wira hampir sama. Dalam hal kemampuannya, ya. Jadi Arya ini lebih menutup diri, dia seolah nggak mau terekspose."

__ADS_1


"Kalau semua dugaan kita bener, berarti Abimanyu itu anak malaikat yang dikutuk, ya, Om?"


"Yah, wajar saja kalau darahnya beracun. Eh, kalau kita yang minum darahnya, mati juga nggak, ya?"


Vin meliriknya dingin, "Om cobain gih!" katanya lalu merebahkan tubuhnya di sofa panjang di sudut lain. "Vin ngantuk, Bye!"


_______________________


Abimanyu berada dalam sebuah hutan dengan posisi yang cukup tinggi untuk dapat melihat bumi dari tempatnya berdiri. Hamparan awan putih bagai permadani indah yang menyejukkan mata. Ia duduk di sebuah batu besar, sambil memperhatikan sekelilingnya. Rasa penasaran mulai masuk ke sanubarinya. Ia berpikir kalau sedang berada di alam mimpi. Akhir-akhir ini ia memang sering mendapat mimpi yang aneh. Terkadang mimpi itu justru akan berlanjut esok hari nya. Seperti potongan film dan ia menjadi penonton yang terlibat di dalamnya.


Hutan pinus di belakangnya, terlihat damai dan sejuk di pandang mata. Kabut tipis terlihat dan membuat efek pada mulutnya. Seolah asap keluar dari mulut Abi saat ia membukanya. Ia memeluk lengannya karena sensasi dingin yang cukup menusuk tulang.


Tiba-tiba ia mendengar kepakan sayap yang cukup besar di belakang. Abi otomatis menoleh dan melihat seorang pria dengan sayap besar sedang berjalan mendekatinya. Dahinya berkerut, seolah memikirkan sesuatu. Dalam benaknya, Abi seperti pernah melihat wajah pria itu.


"Abimanyu Maheswara?" tanya sambil berjalan mendekat padanya. Pemilik nama itu mengangguk pelan, ragu karena dipanggil dengan seluruh nama aslinya. Jarang sekali ada orang yang memanggilnya dengan nama belakangnya.


"Anda ...?" tanya Abi sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Mungkin kamu mengenalku sebagai Wira."


Abi cukup tercengang, karena ia baru menyadarinya kalau pria di depannya ini adalah Wira, sahabat ayahnya, sekaligus mantan kekasih ibunya. Hanya saja, penampilan Wira yang berubah drastis, membuat Abi tidak langsung mengenalinya.


"Tapi kau bisa memanggilku, Samael."


Samael digambarkan sebagai "murka Tuhan" dan termasuk ke dalam archangel kelima alam Briah. Nama Samael terkadang sering disalahpahami dengan Camael, salah satu archangel juga. Anggapan Samael sebagai wujud suci. Dia memiliki 12 sayap dan bertugas menjaga semua bangsa kecuali Israel. Samael juga diduga menikahi Lilith saat Lilith meninggalkan Adam.  


"Kau Samael?" tanya Abi lagi. Ia merasa pernah bertemu Wira, tetapi wujudnya tidak seperti ini. Wira yang kini ada di hadapannya terlihat berbeda. Lebih bersinar dan memiliki aura wajah yang teduh. Berbeda dengan Wira yang dulu ia temui. Dengan sayap yang ada di punggungnya, Abi berpikir bahwa dia juga salah satu dari Archangel. Itu berarti dia juga tau tentang ayahnya.


"Mana Ayahku?" tanya Abi, menatap liar ke belakang Wira. Wira hanya tersenyum sambil menundukkan kepala. Kakinya bermain pada rumput basah di bawah mereka.


"Dia nggak ada di sini. Belum saatnya dia ke sini, Bi."


"Maksudmu?"


"Kamu sudah tau tentang kami, bukan?"


"Hm, entah lah. Itu hanya sebuah diskusi dari beberapa sumber. Tapi kami belum tau yang sebenarnya. Mungkin Anda bisa memberitahu apa yang terjadi pada saya, Samael?"


Wira tertawa sampai-sampai membuat Abi kebingungan. Karena ia merasa tidak ada bagian yang lucu dari tiap perkataannya tadi.


"Kau mirip Arya." Wira ikut duduk di batu besar tadi. Netranya menatap lurus ke depan, menatap barisan awan yang indah dan mengagumkan. "Kami memang pernah menjadi malaikat yang dikutuk Tuhan. Semua memiliki cerita masing-masing. Dan saat kami berada di bumi, kutukan itu masih berlaku bahkan sampai seumur hidup, jika kami masih tergoda duniawi. Cinta sesama, nafsu, dan semua sifat buruk manusia. Kutukanku sudah berakhir, karena aku melepas semua nafsu duniawi itu. Dan juga dengan pengorbanan yang beberapa kali kulakukan dulu, Tuhan mengangkatku kembali ke surga."


"Lalu di mana ayah dan ibuku?"


"Aku tidak tau, Bi. Yang jelas mereka masih harus menjalani kutukan mereka hingga mereka bertaubat dan melepaskan nafsu duniawi. Kedua orang tuamu saling mencintai. Aku pun sempat mencintai ibumu. Maka dari itu, kami dikutuk. Harus menjalani cinta segitiga dalam beberapa kali kehidupan. Mungkin kisah cintaku dengan Nayla kemarin adalah yang terakhir. Karena sekarang di hatiku sudah tidak ada lagi Nayla, dan perasaan apa pun kepada makhluk lain. Kini, aku hanya menyembah Tuhan. Dan sepenuhnya semua kuberikan padanya. Bahkan jiwaku sendiri."

__ADS_1


"..."


"Jika umurmu panjang, pasti kau akan bertemu lagi dengan Arya dan Nayla di kehidupan mereka selanjutnya. Tapi aku tidak yakin kalau mereka akan mengenalimu. Aku juga tidak yakin, apakah kamu akan berumur panjang. Banyak rintangan di depanmu, Bi. Masalah kemarin bukanlah akhir dari segalanya. Masih banyak hal buruk yang akan kau temui di masa mendatang. Apalagi kau dan kekasihmu itu bukan manusia biasa. Dia Nephilim, sementara kau adalah anak Archangel. Banyak iblis dan makhluk lain ingin mendekati kalian. Tentu dengan niat buruk."


"...."


"Berita tentang darahmu yang bisa meledakkan iblis sudah terdengar di semua telinga setan di penjuru dunia. Mereka akan menghindari mu, tapi makhluk lain, aku yakin tidak akan. Mereka justru ingin memusnahkan mu. Berhati-hati lah. Kau punya kemampuan yang terpendam di dalam dirimu sendiri. Itu semua akan terbuka seiring berjalannya waktu."


"Kemampuan? Seperti apa?"


Wira menatap ke langit, "sebaiknya kau kembali." Tangannya menutupi mata Abimanyu. Pandangan Abi gelap. Lalu ia merasakan tubuhnya di guncang pelan dengan suara panggilan dari mulut Ellea.


"Biyu? Bangun. Ke cafe nggak?" tanyanya. Abi menatap gadis itu lalu sekitar. Sedikit terkejut karena ia sudah ada di kamarnya. Jendela di luar sudah menampakan sinar mentari pagi dengan posisinya yang terbuka membuat udara pagi masuk ke dalam, membuat segar hawa kamarnya.


Ia segera duduk, dengan wajah tegang. Ellea yang sudah mengenal Abi sejak lama, paham bahwa telah terjadi sesuatu pada kekasihnya. Ia membelai pipi Abi dengan lembut. "Kenapa, Biyu?" tanyanya. Abi menatap Ellea, lalu menggenggam tangan gadis itu. "Nggak apa-apa, Ell. Aku cuma mimpi. Aneh."


"Mimpi apa, sayang?" tanya Ellea.


"Om Wira."


'Om Wira? Dia itu, kan, teman ayah sama ibumu, Bi?"


"Iya. Entah di mimpiku ini memang dia yang datang atau cuma bunga tidurku saja, Ell. Tapi Om Wira datang dengan wujud berbeda. Dia punya sayap juga di punggungnya."


"Maksud kamu dia, malaikat?!" tanya Ellea setengah berteriak.


"Hm iya. Dia bilang begitu. Dan, kamu tau, Ell? Kalau ayah dan ibuku juga sama seperti dia?'


"Hah?! Yang bener, Biyu? Kamu tau dari mana?" Ellea benar-benar terkejut dan tidak menyangka kalau apa yang terjadi pada dirinya juga terjadi pada kekasihnya. Abimanyu menceritakan semua kejadian semalam, tentang diskusi mereka bertiga dan semua bukti yang diberikan Yudistira. Ellea membaca dan melihat semua foto tentang wajah yang mirip Arya di beberapa dekade lalu. Ia juga tercengang dengan semua penuturan Abimanyu.


"Jadi mereka bertiga malaikat yang dikutuk. Waw, benar-benar kebetulan yang nggak bisa diduga, ya. Aku nggak sangka, kalau kisah cinta orang tua mu begitu dramatis. Tapi, kenapa kamu murung begitu, Biyu?"


Abimanyu menarik napasnya dalam-dalam, tersenyum dan menggeleng. "Aku cuma nggak sangka saja, kalau suatu hari nanti kedua orang tua ku itu bisa hidup lagi. Menjalani kehidupan mereka dengan normal lagi. Apa mungkin aku bisa ketemu mereka lagi, Ell?"


"Siapa yang tahu, Biyu? Apalagi apa yang ada di dalam dirimu, bisa membuatmu hidup lebih lama lagi dari manusia normal. Dari sebuah buku yang aku baca, kamu bukan manusia seperti yang lain. Memang wujud kamu manusia seutuhnya, tapi ... kamu bakal hidup abadi. Aku takut," ujar Ellea dengan mata berkaca-kaca. Abi memegang kedua pipi Ellea dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa, sayang? Apa yang bikin kamu takut?"


"Saat kamu tetap hidup, aku rasa aku nggak akan bisa seperti kamu. Suatu hari nanti aku pasti akan mati. Aku bukan kamu, Biyu. Aku nggak bisa temenin kamu selamanya."


"Sttt! Kamu ini bilang apa sih? Jangan berpikir itu sekarang. Semuanya belum jelas, Ell," tukas Abi dengan menutup bibir Ellea dengan jari telunjuknya.


"Tapi kalau itu bener ...," tambah Ellea lagi. Abi langsung memeluknya erat. Tak membiarkan kata apa pun terus terucap di bibirnya. Apa yang Ellea katakan, kemungkinan memang bisa terjadi, Abi juga takut jika ia benar-benar hidup abadi. Ia akan sendirian. Ditinggalkan orang-orang terdekatnya. Sama seperti Arya, yang melebur ilmu pancasona itu karena ingin normal.


"Lah, malah pada pelukan pagi-pagi. Sarapan, yuk!" Vin muncul dari balik pintu dengan tampang segar, habis mandi.

__ADS_1


__ADS_2