
Anjas mulai mendekati Nayla, gigi runcingnya kembali ia perlihatkan dan siap menerkam mangsanya. Nayla menelan ludah, bagaimana pun ia juga memiliki rasa takut sebagai manusia. Melihat keadaan makin tidak baik, otomatis Wira harus bertindak. Ia harus melindungi Nayla, dan Arya. Itulah tugasnya datang ke bumi.
Tangannya yang terikat di belakang, mulai mengeluarkan hawa panas hingga mampu membakar tali kencang yang ada di pergelangan tangannya. Hangus menjadi abu. Tetapi ia tetap dengan posisi yang sama. Nayla memejamkan mata, pasrah. Saat Anjas mulai mendekat ke lehernya, Wira langsung berdiri dan menendangnya hingga menabrak lemari di dekat mereka, roboh. Terjadilah perkelahian sengit antara klan Dhampire dengan Wira seorang diri. Nayla terheran heran saat melihat Wira sudah mampu melepaskan diri dari ikatan kencang itu. Sementara dirinya masih terikat kencang di tempatnya. Ia berusaha melepaskan dirinya, namun ikatan ini justru makin kencang mengikatnya. Pergelangan tangannya mulai memerah.
Wira hampir kewalahan karena tenaga Dhampir sungguh kuat, terlebih karena bukan hanya gigi mereka yang tiba-tiba keluar dari rahangnya, tapi kuku tajam mereka kini mampu dijadikan senjata melukai Wira. Jika saja tidak ada Nayla, pasti kini mereka semua sudah mati di tangan Wira. Tidak mungkin Wira mengeluarkan kemampuannya sekarang.
"Aw!" erang Wira saat lengannya terkena gigitan Niko. Darah Wira kini dicecap Niko, namun bukannya merasakan enak, Niko justru mengernyit dan menunjukkan reaksi tidak suka dengan rasa darah Wira.
"Kau!" pekik Niko seolah tau siapa jati diri Wira. Dengan sigap Wira meraih sebuah potongan kayu panjang lalu menusuk tepat di jantung Niko hingga ia memekik kesakitan dan akhirnya tewas. Anjas menjerit kesal karena Niko tewas di depan matanya sendiri. Saat Anjas hendak menerjang tubuh Wira, tiba-tiba dari arah samping, Arya muncul dan langsung menebas kepala Anjas. Di tangannya ada sebuah pedang panjang yang telah dia pinjam dari salah satu ruangan dosen yang ia lewati tadi.
"Huh, untung saja!" kata Arya sambil melihat kepala Anjas menggelinding hingga sampai di kaki salah satu teman mereka. Tiga Dhampire lainnya mendesis, mereka lantas menyerang Wira dan Arya. Nayla yang tidak bisa melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya hanya pasrah dan menonton pertunjukkan di depannya itu. Ia melirik ke kursi di sampingnya, bekas tempat penyekapan Wira tadi. Dahinya berkerut saat melihat sisa bekas tali pengikat itu terbakar. Keduanya. Tali yang ada di tangan dan kaki Wira hanya tersisa sedikit dengan bekas terbakar. Nayla kembali mengarahkan tatapan matanya pada pemuda yang baru beberapa hari ini ia kenal. "Siapa dia sebenarnya?" tanyanya dalam hati.
Semua Dhampire akhirnya tewas di tangan mereka berdua. Untuk menghilangkan jejak, mereka berencana membakar mayat itu. Wira membantu Nayla melepaskan ikatan gadis itu, sementara itu Ucok datang bersama Putra dan Retno.
"Wah, kami melewatkan pertunjukan rupanya," cetus Ucok.
"Oh, tentu belum, Bang. Bantu aku singkirkan mayat-mayat ini," sahut Arya. Ucok lantas mendengus sebal. Mereka membawa mayat itu ke belakang gedung ini. Bersama sama mengumpulkannya dan membakar mereka hingga hangus tak bersisa. Tak butuh waktu lama untuk membakar hangus tubuh para Dhampire ini.
"Kenapa sih, kalian terus berurusan sama hal seperti ini?" tanya Ucok saat mereka duduk di taman belakang, dengan teh botol dingin di tangan mereka. Arya terkekeh, Putra dan Retno tidak menjawab hanya sibuk dengan gadget di tangan mereka. Nayla melirik ke Wira yang duduk di depannya.
"Apa cuma ada mereka saja?" tanya Arya.
"Maksudmu Dhampire itu?" tanya Wira menanggapi pertanyaan Arya. Ia mengangguk dan meneguk habis teh dingin di tangannya itu. Putra berdeham. " Mereka adalah yatim piatu, di daftar mahasiswa, mereka sudah kehilangan orang tua sejak beberapa tahun lalu."
"Dan akhirnya mereka saling menemukan, lalu membentuk klan sendiri, begitu?" tanya Wira ke Putra. Putra hanya mengangguk ragu menanggapinya.
"Kalau kalian ragu, tunggu saja," cetus Ucok.
"Maksud abang?"
"Kalau memang mereka punya anggota keluarga lain yang berjenis sama, maka pasti mereka akan mendatangi kalian untuk balas dendam," jawab Ucok, dengan keyakinan penuh.
"Wira, aku mau ngomong pribadi," pinta Nayla langsung beranjak dan berjalan ke sudut taman, jauh dari yang lain. Wira terkejut, menatap teman temannya satu persatu lalu mengikuti Nayla. Arya menatap mereka dingin. Lalu Ucok menyenggol kaki Arya sambil tersenyum. "Apa?" tanya Arya.
"Cemburu, ya?" bisik Ucok, lalu ditanggapi dengan tawa sinis Arya.
Merasa tempat ini jauh dari teman-temannya, Nayla lantas berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu Wira sampai. "Kenapa?" tanya Wira heran sambil sesekali melirik ke Arya yang masih mencuri pandang pada mereka berdua.
"Aku mau tanya."
"Nanya apa?" tanya Wira tidak nyaman.
"Bagaimana kamu bisa melepaskan diri tadi? "
Sontak Wira diam sejenak, tidak mungkin dia mengatakan hal sebenarnya pada gadis di depannya ini. Apalagi dengan keterbatasan ingatan Nayla, Wira takut Nayla akan menjauhinya dan rencananya akan berantakan. "Aku punya cara melepaskan diri, Nay. Yah itu bakat dari ayahku," sahut Wira berusaha santai.
"Dengan membakarnya?"
"..."
__ADS_1
"Kamu bukan seorang perokok, dan aku yakin kamu nggak menyimpan pematik apa pun di saku mu, kan? Jadi dari mana api itu?"
"..."
"Wira?"
"Sulap."
"Hah?!"
"Yah, sulap. Aku mempelajarinya sedikit-sedikit. Dulu aku pernah mengikuti sirkus saat masih kecil." Yah semua orang tau kalau Wira berbohong. Nayla juga merasakannya. Ia terus menatap sinis pemuda itu, dan Wira terus menjelaskan semua alibi yang ia punya. Menceritakan hal hal yang mungkin bisa membuat gadis situ berhenti curiga.
"Rian! Menurut kamu bagaimana dia?"
"Apa maksudmu?"
"Aku yakin kamu tau siapa sebenarnya Rian, kan?" tanya Wira yang akhirnya memiliki celah untuk mengelak dari semua tuduhan Nayla.
"Yah, dia dirasuki iblis."
"Apa rencanamu, Nay?"
"Entah lah. Aku masih belum tau harus bagaimana. Yang pasti iblis situ harus keluar dari tubuh Rian."
"Kamu tau, Nay? Kalau Rian itu seharusnya sudah mati beberapa hari lalu?" tanya Wira, ia sontak langsung kembali menutup mulutnya. Dia sudah ceroboh mengatakan hal ini pada Nayla, tapi ini satu satunya Nayla tidak terus membahas tentang caranya melepaskan diri dari ikatan dari Anjas tadi. Karena ikatan itu memang sangat kuat, tidak bisa melepaskan begitu saja. Dan ia telah membakarnya, bodohnya Wira tidak membakar habis tali pengikat itu, dan meninggalkan jejak, hingga akhirnya Nayla melihatnya.
"Bagaimana kamu tau kalau Rian seharusnya sudah meninggal beberapa hari lalu?"
"Maksud kamu?"
"Eum, nggak apa apa." Wira kembali bersama yang lain diikuti Nayla dengan pikiran yang masih bingung.
Mereka kembali dan mendapat tatapan heran dari yang lain. Ucok juga sudah pamit karena warung baksonya tidak ada yang menjaganya, takutnya pelanggannya kabur nanti.
"Kalian kenapa? Ada masalah?" tanya Retno menatap Nayla dan Wira bergantian. Keduanya hanya menggeleng, menjawab keresahan teman temannya. Arya hanya diam tak banyak bicara, membuat Nayla berfikir yang tidak tidak. Apalagi mendengar kalimat Wira tadi. Apa maksudnya? Pertanyaan itu terus ada dalam benaknya, namun akhirnya mereka harus segera pulang. Kasus kematian mahasiswa kampus ini, pagi tadi dianggap sudah selesai. Setidaknya mereka merasa aman karena Dhampire ini sudah mereka musnahkan. Anjas dan Niko membunuh Freddie karena telah melihat kedok mereka berdua. Anjas dan Niko takut rahasia mereka terbongkar, lantas membunuh Freddie tanpa sengaja. Mereka bahkan tidak melenyapkan mayat Freddie karena terlalu panik, takut ketahuan.
****
Nayla baru saja membeli nasi bungkus untuk makan malam, ia kembali ke kos sekitar pukul 18.30, berjalan sendirian di jalan raya. Ia putuskan membeli makan tak jauh dari kos nya. Mobilnya belum juga diambil dari bengkel, makin lama Nayla makin malas mengendarai mobilnya sendiri. Apalagi ia kini merasa nyaman jika terus di antar jemput Arya. Hanya saja sikap Arya tadi agak berbeda. Dia banyak diam dan pergi begitu saja setelah menurunkan Nayla.
Langkahnya ringin menuju pintu gerbang kos. Ia melirik sedikit ke samping kiri, sebuah bayangan mirip manusia Nayla rasakan di sudut itu. Ini bukan pertama kali ia merasakan keanehan ini, tapi sudah beberapa kali. Dengan langkah cepat, ia segera membuka pintu gerbang dan buru buru masuk ke kamarnya. Ia langsung mengunci kamarnya dan menutup semua korden.
Ia kembali mengintip dari lubang kunci. Penasaran apakah sosok tadi mengikutinya sampai kamar. Rupanya di depan pintu kamar Nayla sudah ada tubuh yang berdiri di sana. Sontak ia mundur sambil menutup mulutnya. Ia berusaha tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya berkecamuk. Ia tidak tau apa dan siapa yang ada di depan kamarnya saat ini.
Nayla mencari ponselnya. Ia berusaha menghubungi Arya, namun baru saja panggilan itu tersambung, Pintu kamarnya didobrak kasar. Suara Arya dari balik telepon tidak lagi dihiraukan Nayla, ia hanya menggenggam benda pipih itu di tangannya. "Rian?!" pekik Nayla, tak percaya. Pemuda itu tersenyum sinis, menampilkan smirk mengerikan yang membuat Nayla sedikit gentar.
"Kamu mau apa?" tanya Nayla lantang.
"Tentu saja mencarimu, Nayla. Ah, iya, aku masih ingat perkataanmu di kampus tadi. Sebenarnya aku ingin membunuhmu tadi di kampus, tapi ternyata begitu banyak iblis yang sedang mencarimu, ya? Waw, aku yakin kamu adalah makhluk berharga hingga menjadi rebutan semua kaumku."
__ADS_1
"Apa? Rebutan? Apa maksudmu?"
"Oh kamu nggak tau? Kalau para iblis sedang mencari kamu, Nay?"
"Kenapa?"
"Entahlah, aku juga nggak tau. Bagaimana kalau kamu ikut aku, biar kita tau apa mau mereka?" tanya Rian dengan penawaran yang sama sekali tidak menguntungkan Nayla. Nayla tersenyum sinis.
"Silakan saja, kalau kamu bisa membawa aku keluar dari kamar ini," tantang Nayla dengan kepercayaan diri penuh. Mendengar itu, Rian yang hendak melangkah mendekati Nayla, lantas tiba-tiba tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri. Ia menatap ke bawah di mana kakinya berpijak.
"Apa ini?" tanya Rian mulai kesal. Nayla tertawa dengan penuh kemenangan. Ia lantas mengambil kursi dan duduk di depan Rian yang tidak bisa berkutik. Kedua bola mata Rian berubah hitam, kulit wajahnya mulai menampilkan gurat warna hitam yang ada di sepanjang urat nadinya.
"Sekarang kita ngobrol! Dan peraturannya, kamu harus menjawab semua pertanyaanku dengan jujur!" suruh Nayla. Rian berdecih, ia makin tidak suka dengan Nayla karena kepintaran gadis itu memasang perangkap iblis di depan pintu kamarnya. Nayla mengambil sebuah pistol mainan yang ia beli beberapa waktu lalu. Pistol air yang sudah ia isi amunisi. Rian tertawa melihat benda itu ada di tangan Nayla. Merasa diremehkan, Nayla menembak wajah Rian dengan air yang sudah dia isi penuh. Rian menjerit kesakitan. Karena sebenarnya itu bukan air biasa. Air suci yang sudah didoakan dan sangat ampuh melukai iblis, membakar kulit mereka perlahan hingga melepuh di dalamnya. Mungkin tubuh Rian tidak bereaksi apa apa, padahal jika iblis yang ada di dalamnya terlihat, maka wajahnya sudah melepuh karena air tersebut.
Menyadari situasi kos nya tidak aman untuk aksi interogasinya, Nayla menyumpal mulut Rian dengan kain. Lingkaran perangkap itu akan aman dimasuki Nayla, tapi tidak bagi iblis, mereka tidak akan bisa melepaskan diri dari lingkaran itu.
Sebuah motor berhenti di depan kamar Nayla. Itu adalah Arya yang baru saja datang dengan tergesa gesa setelah mendapat panggil Nayla yang aneh tadi. Arya terkejut saat melihat Rian sudah ada di dalam kamar Nayla dengan pintu kamar Nayla yang terbuka dan engselnya rusak.
"Masuk, Ya!" panggil Nayla sambil melambaikan tangannya ke pemuda yang masih memegang helm di tangannya.
"Ada apa ini?" tanya Arya kebingungan.
Nayla berjalan keluar lalu menarik tangan Arya agar masuk ke dalam. Gadis itu lantas menceritakan semua kejadian itu dari awal hingga akhir.
"Kita hubungi Wira aja, gimana?" tanya Arya meminta persetujuan Nayla. Rian lantas menggeleng cepat sambil menggeram ingin mengatakan sesuatu. Nayla menatap heran lalu melepaskan kain dari dalam mulut Rian.
"Jangan!" cegah Rian.
"Kenapa?!"
"Karena dia bukan manusia!" sahut Rian. Kedua manusia itu langsung melirik ke Rian.
"Apa maksudmu?" tanya Arya.
"Kamu tanya aja ke pacarmu itu," tunjuk Rian ke Nayla yang diam tak menyahut. Arya beralih menatap Nayla meminta penjelasan. Nayla menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kasar.
"Aku juga nggak yakin, Ya. Masih aku selidiki."
"Kamu nggak sadar, ya? Kalau dia muncul karena menginginkan kalian berdua?" tanya Rian.
"Kamu berdua?" Kembali pertanyaan Rian terlontar tanpa jawaban pasti dari Rian maupun Nayla.
"Tunggu! Tadi kamu bilang, kalau para iblis sedang mencari aku? Lalu apa hubungannya sama Arya?!"
"Aku belum selesai bicara, Nayla sayang. Kalian berdua yang sedang diincar semua iblis di bumi ini. Yah, setidaknya itu yang aku dengar dari desas desus selama ini."
"Jadi Wira itu ibllis juga?" tanya Arya.
"Kalian ingin tau? Kalau begitu lepaskan aku!" perintah Rian. Arya menatap ke karpet yang ada di depan pintu, lalu melirik ke Nayla. "Ayo, lepaskan. Maka aku akan beritahu semua informasi yang aku punya. bagaimana?"
__ADS_1
"Maaf, tapi, aku tidak sudi bekerja sama dengan iblis!" Kembali tembakan air suci mengenai tubuh Rian. Jeritan Rian membuat Arya tidak nyaman, beberapa kali dia melihat ke luar dari jendela kamar Nayla. Ia lalu menghentikan Nayla, menggeleng. "Kita bawa dia pergi dari sini. Terlalu beresiko di sini, Nay." Nayla mengangguk pertanda setuju. "Terus ke mana kita bawa dia, Ya?"
"Aku punya ide."