pancasona

pancasona
51. Tragedi desa Riri


__ADS_3

"Suara apa itu?" tanya Ita dan membuat semua orang membisu.


Mereka semua saling tatap sambil menajamkan pendengaran masing-masing untuk bisa mengetahui suara apa yang terdengar di tengah berisiknya air hujan di luar.


"Ada yang lari-lari di luar ya?" tanya Diah meminta pendapat yang lain. Bisa saja apa yang Diah dengar hanya dia saja yang mendengarnya seorang diri.


Namun rupanya teman-teman yang lain pun Mendengar hal tersebut. "Iya. Kayak ada orang yang main di genangan air hujan deh," tukas yang lainnya berpendapat.


Hal ini membuat mereka penasaran. Alhasil Dana beranjak dari duduknya. Dengan langkah yang mengendap-ngendap, dia mengintip dari balik jendela. Semua orang memperhatikan gerak-gerik Dana juga ekspresi wajahnya yang akan bisa menjelaskan mengenai situasi di luar rumah.


Tentu saja mereka semua ketakutan. Berada di desa mati yang penghuninya bukanlah manusia adalah hal buruk kedua yang mereka alami setelah tersesat di hutan. "Gimana, Dan? Ada apa di luar?" tanya Hani penasaran.


"Ada ... orang. Eh, orang atau setan, ya?" dana malah balik bertanya. Dia sendiri tidak yakin dengan apa yang sedang dia lihat sekarang.


Melihat hal tersebut Rea yang sejak tadi sudah penasaran akhirnya beranjak menyusul Dana. Rea pun melihat apa yang Dana lihat. Di luar rumah, tepatnya di halaman rumah tersebut, ada sesosok anak kecil yang sedang berlarian di depan seakan-akan sedang bermain hujan-hujanan. Rea pun akhirnya mengerti mengapa Dana tidak bisa menjawab dengan kepastian atas apa yang dia lihat sekarang. Karena Rea pun merasakan hal yang sama.


"Gimana, Re?"


"Eum, Aku nggak tahu anak kecil itu manusia atau bukan. Yang jelas kondisi wajahnya nggak sama seperti warga desa yang lain. Coba kalian lihat sendiri saja," suruh Rea.


Sontak semua orang kini berbondong-bondong pergi ke jendela. Mereka yang penasaran akhirnya memberanikan diri untuk melihat sosok anak kecil yang disebutkan oleh Rea.


Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya memperhatikan tingkah laku anak kecil tersebut yang sedang bermain air hujan layaknya anak manusia normal.


" mungkinkah dia manusia satu-satunya?" tanya Blendoz.


" Masa sih Ada anak kecil yang tinggal di tempat menyeramkan begini dan bisa bertahan lama di sini?"


" iya, rasanya enggak masuk akal kalau dia manusia. Tapi wujudnya mirip manusia sih."


" Terus gimana dong. Apa yang harus kita lakuin?"


" kita samperin dia aja."


"Re, Jangan sembarangan deh lo. Kalau dia setan gimana? Siapa tahu kalau tiba-tiba kita samperin dia, wujudnya bakalan berubah kayak yang lain. Kan serem."


"Ya udah. Kalian tunggu di sini aja. Biar gue yang samperin," kata Dana tegas.


"Aku ikut!" pinta Rea dan langsung menyusul Dana yang kini sudah sampai ke pintu.


Mereka berdua tidak langsung membuka pintu. Keduanya saling menatap seolah-olah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu tersebut dan menemui sosok anak kecil yang ada di luar. Dana mengangguk diikuti juga dengan Rea.

__ADS_1


Akhirnya Dana membuka pintu tersebut dengan perlahan. Derit suara kayu yang Sudah usang terdengar memekakkan telinga. Rea tetap berdiri di belakang Dana. Begitu pintu tersebut dibuka sepenuhnya, anak kecil yang masih bermain di luar lantas menoleh. Mereka bertiga saling pandang dan diam selama beberapa saat.


Dana lantas perlahan berjalan mendekat. Namun anak itu masih berdiri di tempatnya sambil memperhatikan Dana dan Rea. Hingga akhirnya mereka berdua sudah sampai di teras rumah. Tidak berani melangkah lebih jauh apalagi dengan kondisi hujan lebat di luar. Anak kecil itu tidak bergerak dari posisinya, membuat Rea akhirnya melambaikan tangan, sebagai sebuah isyarat agar dia mau mendekat. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan agar anak itu tidak merasa takut padanya. Walau sebenarnya justru sebaliknya. Para anak muda kota ini yang takut pada anak tersebut. 


Melihat reaksi anak itu yang sangat polos, membuat Rea mulai melunak. Dia bahkan berpikir kalau seandainya anak itu memang satu-satunya manusia yang ada di antara warga desa tersebut adalah hal yang sangat masuk akal.  Mengingat bagaimana bentuk dan rupa anak itu yang sangat normal, tidak ada tanda tanda menyeramkan seperti yang terlihat pada semua warga desa yang mereka temui sejak tadi. Rea melangkah mendekat, namun Dana menahannya sambil menggeleng pelan, pertanda sebuah larangan halus untuk gadis itu. Tapi Rea hanya tersenyum, seakan-akan menyuruh pemuda di hadapannya itu untuk tidak terlalu mencemaskannya. 


Hujan yang awalnya deras dan disertai kilat yang menyambar berubah menjadi reda. Hanya meninggalkan gerimis kecil yang tidak akan membasahi tubuh jika berada di bawahnya. Tanpa ragu-ragu Rea terus berjalan menuju ke anak kecil itu. Sementara anak tersebut tidak ada tanda-tanda akan melawan atau melakukan hal apapun saat melihat Rea sedang mendekat. Dia hanya berdiri dan terus menatap Rea yang terus melebarkan senyum. 


Begitu sudah sampai di depan anak tersebut, Rea lantas jongkok agar sejajar dengan nya. "Hai, aku Rea. Nama kamu siapa?" Pertanyaan itu tidak hanya sekedar sebuah kata-kata, tapi Rea juga melakukan sentuhan fisik dengan membelai kepala anak perempuan itu dengan lembut. Merasa tidak mendapatkan penolakan, Rea lantas kembali melontarkan pertanyaan lain. 


"Kamu kok sendirian? Orang tua kamu di mana? Kamu tinggal di sini?" 


Gadis kecil itu menoleh ke belakang, lalu menunjuk ke sebuah rumah kosong yang memang tidak memiliki penearangan seperti rumah rumah lain. Sejak mereka berada di desa tersebut, rumah yang ditunjuk anak kecil itu memang tampak kosong tidak berpenghuni.


"Kamu tinggal di sana?" tanya Rea menebak.


Tapi gadis itu menggeleng cepat. "Tidak. Aku tinggal di hutan sana," tunjuknya ke arah belakangnya. 


Mata Rea berbinar, rupanya gadis itu mulai menanggapinya. Hal ini juga membuat Rea yakin satu hal. Dia memang manusia. Dia tidak sama seperti para warga desa. 


"Di hutan? Kamu tinggal sendirian?"


Gadis kecil itu mengangguk pelan, mengepalkan kedua tangannya dan memainkannya sebagai bentuk luapan rasa cemas dan takut. 


"Riri."


"Riri? Wah, nama kita hampir mirip!" tukas Rea lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Riri yang tampak kotor tidak terawat. Rea menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dana yang melihat adegan dramatis tersebut lantas penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak ada lagi rasa takut seperti yang sebelumnya dirasakan. Begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Satu persatu dari mereka keluar rumah untuk melihat dengan jelas siapa anak kecil yang dipeluk oleh Rea. 


"Oh, ya. Itu teman-teman aku. Jangan takut, ya. Mereka baik kok," jelas Rea saat melihat gelagat Riri yang sedikit mundur saat Dana mendekati mereka. 


Teman-teman yang lain mendekat. Rea pun beranjak sambil tetap berada di sisi Riri. Bahkan Riri sekarang memegangi tangan Rea terus. Dia merasa nyaman saat berdekatan dengan Rea. 


"Namanya Riri. Dia manusia," ujar Rea berbisik. 


"What!"


"Serius?"


"Anak kecil sendirian di desa setan ini? Kok bisa?"


Pertanyaan teman-temannya memang masuk akal, dan Rea sendiri juga penasaran dengan apa yang terjadi pada Riri, sampai-sampai dia tinggal di hutan seorang diri. Rea bisa menebaknya karena tidak ada orang lain yang ada bersama Riri sejak tadi. 

__ADS_1


"Masuk dulu, yuk. Riri belum makan, kan?" tanya Rea lembut. Riri menggeleng, lalu mengikuti langkah Rea memasuki rumah tersebut. 


Sampai di dalam, Riri diberi makanan yang memang masih ada, dan layak untuk dikonsumsi manusia. Sejak melihat belatung dan mengingat kalau mereka sudah menyantapnya sejak sarapan tadi, membuat nafsu makan mereka hilang sepenuhnya. Tapi tidak bagi Riri. Dia terlihat sangat kelaparan. Seolah olah belum makan berhari hari. Mereka hanya menatap Riri iba. Bagaimana bisa ada anak kecil seperti Riri yang bertahan hidup di hutan seorang diri. Apalagi dengan kondisi desa yang dipenuhi zombi. Yah, itulah sebutan yang terus diberikan Hani sejak mengetahui semuanya. 


Riri sudah menghabiskan seluruh jatah makan malam mereka yang sempat dibiarkan begitu saja. Kini gadis kecil itu sudah kenyang. Bahkan bersendawa yang justru membuatnya tampak lucu, sehingga mereka semua tertawa lepas setelah kejadian mengerikan yang telah  mereka lalui bersama. 


"Sudah kenyang?" tanya Rea sambil terus memperhatikan kedua bola mata Riri lekat-lekat. Riri mengangguk lalu tersenyum tipis. "Alhamdulillah."


"Alhamdulillah," seru Riri mengikuti perkataan Rea. 


"Eh, mau ini?" tanya Diah sambil menyodorkan susu kotak rasa cokelat pada anak kecil itu. Tentu saja Riri mengangguk cepat dan tampak sangat bahagia mendapatkan minuman itu. Kemunculan Riri seolah olah bagai penyejuk di kala kondisi mencekam yang mereka alami. Mereka mulai sedikit melupakan ketakutan akan warga desa. Walau tidak sepenuhnya lupa, hanya sedikit teralihkan.


"Oh ya, Riri. Kakak boleh tanya beberapa hal?" tanya Rea yang memulai interogasinya. 


Riri mengangguk sambil menikmati susu coklatnya. 


"Riri tinggal sama siapa selama ini di hutan?"


"Sendiri."


Rea dan teman-temannya saling tatap. Jawaban itu terdengar memilukan saat terucap dari mulut seorang anak perempuan berumur delapan tahun di hadapan mereka. Bisa dibayangkan bagaimana Riri bisa hidup seorang diri dan tinggal di hutan. Itu semua pasti bukan hal yang mudah. 


"Orang tua Riri di mana?" tanya Leni. Kini semua orang duduk di dekat Riri tanpa rasa takut dan cemas lagi. 


"Udah nggak ada. Mereka sama seperti warga desa yang lain."


"Ya ampun."


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ri? Kenapa warga desa menjadi seperti itu?"


"Eum, itu ... Karena ada orang jahat yang datang ke desa kami beberapa tahun yang lalu. Dia membunuh semua orang, tapi semua orang nggak sadar kalau mereka sudah meninggal." Riri pun menceritakan mengenai semua yang terjadi di desanya. Mengenai kedatangan orang jahat yang disebutkan Riri tadi, cukup membuat mereka terkejut. Dan mereka langsung teringat dengan Fauzan yang kini sedang menjadi orang jahat yang mengerikan, yang tinggal di hutan. Tapi hutan di mana Fauzan berada dengan hutan tempat Riri tinggal tidak sama. 


Desa tersebut merupakan desa yang makmur, damai, dan rukun. Walau jauh dari pusat kota, bahkan jauh dari desa - desa lain di sekitar, tapi kehidupan mereka menyenangkan. Tidak terpengaruh gadget dan jaringan internet tidak selama nya membuat manusia tersiksa. Justru warga desa itu lebih produktif dengan berbagai kegiatan bercocok tanam, berternak, dan banyak lagi hal lainnya. Saking mereka sangat produktif, mereka tidak perlu pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Sayuran hanya tinggal memetik di depan rumah. Sawah pun ada. Ada peternak ikan, ayam, dan hewan lain. Seperti sapi dan kambing. Mereka tidak membutuhkan uang sebagai sarana jual beli. Karena kebanyakan mereka melakukan perdagangan dengan cara barter. Semua berjalan dengan lancar selama beberapa dekade, bahkan sudah turun temurun sejak kakek nenek mereka terdahulu. 


Kehidupan tenang tersebut terusik saat tiba-tiba ada seseorang yang muncul ke desa mereka dengan kondisi yang berantakan. Tubuhnya terluka seperti telah berkelahi hebat dengan seseorang.


Orang itu datang dari arah hutan. Dia lantas pingsan saat warga desa sedang mulai aktivitas setiap pagi. Otomatis semua orang cemas melihat kondisi orang asing tersebut. Mereka pun menolongnya. Membawa orang tersebut ke rumah kepala desa. Di rumah Kepala desa dia diobati dan diberikan makanan, sehingga kondisinya perlahan membaik.


Tidak ada satupun orang yang mengetahui dari mana asal-usul orang asing tersebut. Namanya adalah Jaka. Tapi melihat dari karakter dan sikap Jaka, warga desa menerimanya dengan baik. Dia bahkan sudah dianggap seperti warga desa seperti yang lain. Jaka tinggal di rumah kosong yang sedang mereka tempati sekarang. Dia kerap membantu dalam berladang atau pun mengurus ternak. Tidak perlu upah berupa uang, tapi Jaka dibayar dengan cinta kasih semua warga desa. Jaka tidak perlu lagi memikirkan tentang makanan. Karena setiap hari ada saja yang memberinya makan. Kehidupan mereka berlangsung normal seperti biasanya. Hingga pada suatu malam semua berubah menjadi petaka.


Jaka tiba-tiba keluar dari rumah tengah malam, dan membunuh semua warga desa satu persatu. Tak terkecuali keluarga Riri. Untungnya saat itu Riri bersembunyi di dalam lemari pakaian. Saat gadis kecil itu melihat Jaka membunuh kedua orang tuanya, Riri langsung bersembunyi menyelamatkan diri. Jaka yang saat itu sedang terburu-buru untuk membunuh seluruh warga desa, melupakan Riri yang saat itu lolos dari kebrutalannya. Riri terus bersembunyi di dalam lemari. Dia ketakutan. Itulah mengapa dia tidak berani keluar. Dari dalam rumahnya, lirik memperhatikan semua apa yang dilakukan Jaka pada seluruh warga desa.

__ADS_1


Jaka mengumpulkan semua warga desa di tengah jalan. Tepatnya di jalan berbatu yang ada di depan rumah tersebut. Begitu semua jasad sudah terkumpul, Jaka membacakan bacaan yang terdengar aneh di telinga Riri. Bahasa yang digunakan Jaka bukanlah Bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang ada di nusantara. Anehnya satu persatu dari warga desa yang sudah tewas kembali bangkit.


Mereka bersikap seperti biasa layaknya saat masih hidup. Mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Riri yang saat itu ketakutan melihat kedua orang tuanya yang bersimbah darah, dengan kondisi anggota tubuh yang terluka, bahkan lehernya nyaris putus, hanya bisa bersembunyi di dalam kamarnya. Riri tidak pernah pergi dari rumahnya bahkan keluar dari kamarnya hingga esok hari.


__ADS_2