pancasona

pancasona
Part 199 Blue Hole


__ADS_3

Kunci keenam, berada di tengah lautan luas. Biasanya orang orang menyebutnya Blue Hole. Sebuah tempat yang akan tampak indah jika dilihat dari atas, namun jika menyelami dalamnya lautan tersebut, akan ada banyak misteri yang mengerikan dan membuat beberapa orang lebih memilih menjauh atau mencari tempat lain ketimbang di sana. Lubang bawah laut dalam dan besar yang terletak 70 kilometer dari pesisir salah satu pantai yang cukup ramai pengunjung. Tepatnya, di tengah-tengah atol Lighthouse Reef. Atol merupakan sebutan untuk pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna sebagian atau seluruhnya.


Blue Hole ini memiliki diameter lebih dari 300 meter dan kedalaman hingga 125 meter. Begitu besarnya, fenonema alam ini bisa terlihat jelas dari luar angkasa karena jernihnya perairan di tempat ini. Kedalaman Blue Hole ini menjadikannya sebagai sinkhole [lubang terbentuk tiba-tiba] terdalam kedua di dunia, setelah Dragon Hole di Laut China Selatan. Selain berukuran raksasa, struktur ini terletak di tengah terumbu karang terbesar kedua di dunia dan menjadi situs warisan dunia. Fenomena alam seperti Blue Hole sebenarnya adalah lubang dalam dan besar dari sisa-sisa Zaman Es. Lubang raksasa tersebut terbentuk saat permukaan air laut masih rendah. Berjuta tahun kemudian, ketika permukaan air laut naik akibat es mencair, lubang tersebut terendam air dan membentuk gua kapur yang dalam di dasar laut. Bentuknya lingkaran, dengan bagian tengah yang terlihat gelap dan mengerikan, menjadi daya tarik tersendiri bagi para penyelam.


Mereka sudah menaiki sebuah kapal sewaan yang cukup besar. Sampai di dataran batu karang yang memutari lubang dalam tersebut. Keadaan saat ini sedang sepi. Biasanya ada beberapa penyelam dan pelancong yang datang ke tempat ini bersama kelompok mereka. Tapi untuk hari ini, hanya ada mereka saja. Ini sedikit menguntungkan bagi mereka tentunya. Karena ruang gerak mereka akan lebih leluasa mencari kunci keenam.


Kaki telanjang mereka mulai merasakan tajamnya batu batu karang di bawah. Kaca mata hitam bertenger di hidung dan juga tak lupa topi untuk melindungi dari teriknya matahari.


Nayla terus menggandeng tangan Arya. Keduanya berjalan perlahan sambil memperhatikan langkah masing masing. Sesekali Nayla tersenyum saat menatap pemuda di sampingnya itu. Sorot mata keduanya penuh cinta, walau terkadang sikap Arya tampak dingin dan cuek, tetapi Arya sangat menyayangi gadis itu. Dari dulu hingga sekarang.


Di sis lain, Ellea tampak gusar. Dia sesekali menguap, dan terlihat ada lingkaran hitam di bawah matanya. Ellea kembali mengalami insomnia, dan hal ini sudah beberapa malam terjadi. Abi makin khawatir setiap hari, apalagi ia sering mendapati kekasihnya lebih banyak diam dan melamun. Sejak dia tau kalau dirinya adalah seorang Nephilim, karakter Ellea mulai berubah. Menjadi lebih pendiam, dan termasuk irit bicara. Bahkan ia tak lagi bersikap manja kepadanya. Padahal Abi cukup merindukan rengekannya, dan sikap kekanak kanakan Ellea yang sering ia tunjukan saat sedang kesal, atau menginginkan sesuatu. Tapi sekarang, Ellea lebih dingin dari sebelumnya. Dan lagi penjelasannya kemarin, membuat Abi makin bingung.


Ruas ruas jari Abimanyu mulai menelusup ke jemari Ellea. Gadis itu terlonjak kaget, menoleh ke pemuda di sampingnya sambil tersenyum tipis. Sejuk dan damai saat melihat senyum di bibir kekasihnya. Tiba tiba kilas bayangan masa lalu memenuhi ingatan Abimanyu, saat pertama kali mereka bertemu di cafe. Hari itu adalah hari di mana Abi baru beberapa hari menginjakkan kaki di kota, meninggalkan dunianya dan kehidupannya di desa Amethys. Ellea adalah gadis pertama yang benar benar menarik perhatiannya. Dan semua terus mengalir seiring berjalannya waktu.


"Kamu inget, nggak Ell. Waktu pertama kali kita ketemu di cafe?"


Ellea menatap langit sambil mengulang kembali memori itu, ia lantas mengangguk dengan dahi berkerut. "Kenapa memangnya?" tanya Ellea sambil terus menatap pemuda yang berjalann di sampingnya.


"Itu saat pertama kali aku jatuh cinta sama kamu," cetus Abimanyu sambil menyentuh ujung hidung Ellea singkat. Tentu gadis itu makin mengerutkan dahinya sambil tersenyum tipis." serius?" tanya Ellea tidak percaya.


"Ye, kamu ini memang nggak percayaan sih!" tambah Abi mencubit kedua pipi Ellea, gemas.


"Habisnya aneh loh. Tumben tumbenan kamu sedramatis ini, nggak seperti Biyu yang biasanya," elak Ellea. Sambil menatap Biyu-nya intens.


"Ya bukannya gitu, cuma lagi keinget saja. Dan, lucu saja, Ell, kalau ternyata kita sekarang terus bersama sama. Kamu nyangka nggak?"

__ADS_1


"...."


"Bahkan sudah banyak hal yang kita alami bareng bareng. Dari menghadapi Kalla, para gengster, werewolf, hm, banyak." Mereka masih berjalan jalan di atas batu karang yang tersusun rapi di bawah mereka. Bahkan sebenarnya mereka sedang berada di tengah tengah lautan luas.


"Huum. Udah banyak yang kita lewati. Bahkan sangat banyak, jauh dari manusia manusia normal yang lain. Permasalahan kita bukan tentang orang ketiga, atau aku yang marah karena kamu lupa janji nonton kita. Tapi permasalahan kita tentang hidup dan mati seseorang, bahkan banyak orang."


Kalimat Ellea membuat lidah Abi kelu. Ia sadar kalau apa yang dikatakan Ellea memang benar. Mereka bahkan tidak banyak menjalani kehidupan layaknya manusia normal. Mereka jarang bertengkar karena masalah remeh, atau tentang rasa cemburu bahkan sikap kekanan kanakan salah satu dari mereka tidak menjadi pemicu masalah. Memang seharusnya mereka bersyukur akan hal itu. Mereka tidak terjerat dalam hubungan toxic seperti para muda mudi yang seumuran dengan mereka. Tetapi, bagaimana pun juga, sebuah masalah dalam suatu hubungan itu bagai bumbu dalam percintaan. Ibarat masakan yang tanpa garam akan hambar rasanya. Begitu juga sebuah hubungan pria dan wanita. Semau itu asal tidak berlebihan, akan baik bagi semua pihak.


"Ell ...." Abimanyu berhenti, keduanya berdiri berhadapan. Ellea kembali memberikan tatapan aneh pada pemuda di depannya. Hal ini membuat teman temannya menatap kedua pasangan pria dan wanita tersebut. Abi menatap kedua bola mata Ellea dalam dalam. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu dan mencium jemari Ellea pelan. "Ell, kamu mau menikah sama aku?" tanya Abimanyu dan sontak membuat Ellea melotot tak percaya.


"...."


"Aku tau kita sudah pernah membahas hal ini. Dan kamu juga sudah mengiyakan dulu, tapi rencana kita ini akhirnya tertunda karena banyak hal. Tapi sekarang, aku benar benar mau menikahi kamu. Eum, mungkin bukan di sini, tapi setelah dari sini. Kita menikah, bagaimana?"


Mata Ellea berbinar, bahkan kini berkaca kaca. Ini bukan lamaran romantis atau pertama kalinya mereka membahas tentang pernikahan atau bukan ajakan Abi yang pertama kali. Tapi saat ini merupakan momen yang sangat tepat, dan Ellea butuhkan. Ia tak menjawab pertanyaan Abimanyu, tapi segera memeluk tubuh Abimanyu dengan erat.


"Wow! Yeaah!" jerit Gio antusias. Bagaimana pun juga, dia adalah saksi dari perjalanan cinta Abimanyu dan Ellea. Gio juga turut bahagia. Tentu Arya dan Nayla juga senang dengan hal itu. Nayla bahkan memeluk pinggang Arya erat. "Sayang, dia mirip kamu, ya. Dingin tapi romantis," celetuknya sambil masih menatap pasangan yang baru memberikan kabar bahagia di depan mereka. Arya menoleh ke Nayla lalu tersenyum sambil geleng geleng kepala.


"Aku masih merasa bersalah ke Abimanyu," kata Arya dengan sorot mata datar menatap putra mereka.


"Tentang?"


"Kita yang pergi ninggalin dia. Aku yakin, pasti berat saat kita pergi dulu. Kita ninggalin anak kita di umurnya yang baru menginjak  dewasa. Bahkan dia belum sepenuhnya dewasa. Masih banyak hal yang belum aku ajarkan dulu. Tapi kita justru lebih dulu pergi."


Nayla mengeratkan pelukannya. "Arya, kamu tau kalau ini memang sudah takdir, kan? Lagi pula kamu lupa? Kalau kamu memiliki teman teman yang sangat baik. Bahkan mereka rela menyerahkan semua kehidupan dan masa depan mereka hanya untuk menemani Abimanyu." Nayla dan Arya kini beralih ke Gio yang lantas memberikan selamat kepada sepasang muda mudi itu. Wajah Gio terlihat tulus.

__ADS_1


"Kamu lihat Gio? Walau dia kasar, ceplas ceplos, tapi dia adalah orang yang selama ini merawat Abi kita. Dan hasilnya kita bisa lihat sama sama, kalau anak kita menjadi seorang pemuda yang baik, tangguh, dan kuat. Dan tentu saja pengorbanan Adi juga ssama berartinya seperti Gio. Sampai ia menghembuskan nafas terakhir pun, Adi masih berusaha melindungi Abimanyu."


"...."


"Entah bagaimana kita harus mengucapkan terima kasih untuk mereka. Bahkan rasanya terima kasih saja tidak cukup. Atau seluruh harta yang kita punya juga nggak bisa menebus semua pengorbanan mereka berdua. Abi, adalah seorang anak yang kuat, tangguh, baik dan tulus. Dia lahir dari rahimku, kamu ayahnya, dan mereka berdua yang membantu kita merawatnya."


"Kamu benar. Mereka adalah sahabat terbaik yang kita punya."


Gio menoleh ke Arya dan Nayla, lalu melambaikan tangannya agar pasangan suami istri abadi itu mendekat dan bergabung dengannya. Ikut merayakan euforia kebahagiaan Abi dan Nayla, di tengah kondisi buruk yang sedang mereka alami. Pelukan dan air mata bahagia membuat mereka melupakan sebentar masalah yang ada di depan mata.


Abi dan Ellea sudah mantap, akan menggelar pernikahan sederhana setelah pekerjaan mereka di blue hole itu selesai. Bagi Abi, ia merasa sudah tidak lagi ada alasan untuk mengulur lagi pernikahan mereka. Tapi bagi Ellea, ia justru merasa sudah tidak lagi memiliki waktu banyak untuk menikmati madu pernikahan bahagianya bersama Abimanyu. Firasatnya terus tidak nyaman. Ia terus dibayangi hal buruk yang mungkin akan terjadi nanti.


______________


Mereka sudah memakai baju penyelam. Wira berdiri dipinggir, dan menatap datar ke arah lingkaran gelap di bawah mereka. Tenangnya air laut justru menyiratkan sesuatu yang mendalam dan misterius di sana. "Siap?" tanya Gio menatap Wira. Wira mengangguk dan memakai peralatan menyelamnya.


Mereka mulai menyelam ke dalam lubang tersebut. Gelap, dan sunyi. Ada beberapa ikan ikan kecil yang berada di dekat karang karang di sekitar mereka. Inchi demi inchi mereka periksa. Mereka semua merupakan perenang sekaligus penyelam yang handal. Dan ini adalah kegiatan menyelam pertama mereka yang sudah lama mereka tinggalkan sebelumnya. Tentu semua orang di sini sangat antusias.


Sampai akhirnya Gio menemukan sebuah lubang, yang mirip gua yang berada di dalam lubang gelap itu. Ia memberikan isyarat ke semua teman temannya. Dan itulah tujuan mereka. Masuk ke dalam lubang, keadaan makin gelap. Senter yang berada di kepala mereka nyalakan. Mereka terus masuk ke dalam, menelusuri gua tersebut. Waktu mereka hanya sampai 50 menit saja.


Makin dalam mereka masuk ke dalam gua, membuat mereka sedikit cemas, karena waktu yang terus berjalan sangat mengkhawatirkan. Oksigen mereka yang terbatas adalah salah satu hal utama yang mereka takutkan. Mereka terus masuk ke dalam, sesekali mereka berhenti karena terdapat beberapa gambar di dinding yang memang sangat menarik perhatian mereka. Gambar gambar itu meyakinkan mereka kalau apa yang mereka cari memang ada di tempat ini.


30 menit sudah mereka berada di dalam air. Wira menghentikan mereka dan memberikan isyarat kalau mereka harus kembali ke permukaan. Oksigen mereka tidak kuat lagi untuk menyelam lebih dalam lagi. Perdebatan ini tidak begitu pelik, namun cukup alot. Karena beberapa memilih meneruskan perjalanan, beberapa lainnya justru setuju untuk kembali ke atas. Gio, Abi dan Arya memilih untuk meneruskan perjalanan mereka, namun Wira dan para wanita meminta kembali saja ke permukaan. Karena mereka tidak punya cukup waktu, tapi belum sempat mereka mendapatkan kesepakatan, ada bayangan melintas di atas mereka. Karena seluruh gua ini memang dikelilingi bebatuan karang yang letaknya tidak begitu berdekatan, ada beberapa lubang yang memang ada di atas bawah dan samping mereka. Bayangan melintas di atas mereka terus mondar mandir dan membuat mereka penasaran. Sampai akhirnya Abi mengintip dan memeriksa melalu lubang sempit di atas mereka. Abi lantas kembali dan memberikan isyarat kalau yang sedang ada di atas mereka adalah ikan hiu. Akhirnya mereka mau tidak mau harus terus masuk ke dalam gua itu.


Dengan perlahan mereka meninggalkan lorong gua sambil memeriksa ke sekitar, terutama bagian atas. Dan hiu tadi masih saja ada di atas seolah mengikuti mereka.

__ADS_1


Sebuah getaran keras terasa mengguncang sekitar. Mereka berhenti sambil merasakan getaran tersebut yang makin terus terasa. Sampai akhirnya mereka sadar kalau semua guncangan tadi berasal dari hiu yang sejak tadi mengikuti mereka.  Semua panik, dan makin mempercepat berenang. Sampai pada akhirnya mereka sampai di sebuah titik terang di ujung lorong. Apa pun itu, mereka seolah pasrah. Waktu mereka yang semakin sempit dan dengan adanya ikan hiu yang sudah mengincar mereka, membuat gerakan mereka makin cepat.


Sinar terang tadi terus diikuti, sampai akhirnya mereka menemukan ujung lorong gua. Dan di tempat ini, mereka bisa menghirup udara sebanyak banyaknya. Rupanya ada gua lain di ujung lorong. Dan, mereka memiliki kesempatan lebih banyak di sini. Kesempatan bertahan hidup, hanya saja bagaimana mereka bisa kembali ke permukaan? sementara oksigen mereka sudah tidak cukup lagi untuk menyelam.


__ADS_2