
Abimanyu batuk-batuk. Netranya mulai perlahan terbuka. Ia melihat langit di atasnya, gelap. Mencoba kembali ke memori beberapa waktu lalu. Ia teringat saat ledakan yang membuatnya terlempar, rasa panas dan sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Tapi kini ia tidak merasakan apa-apa. Hanya tubuhnya masih terasa lemas. Suara Gio dan Adi terdengar nyaring, mereka berdua mendekat. Dan juga Nabila, Rizal, dan Ridwan. Mereka khawatir akan keadaan Abimanyu.
"Bagaimana? Oke, kan?" tanya Gio santai. Sementara Adi hanya memperhatikan tubuh Abimanyu, memastikan sudah tidak ada luka yang menempel di tubuhnya. "Aman kok. Cepet juga regenerasinya," kata Adi masih memeriksa tangan Abimanyu bahkan ia menyingkap kemeja Abi yang sudah koyak di beberapa bagian. Tubuh Abimanyu mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Untuk luka ringan itu akan otomatis pulih hanya beberapa menit setelah ia terluka, tapi kalau luka berat ia harus menyatu dengan bumi, asal dia masih bernafas, maka dia akan kembali pulih. Tapi tidak berlaku bagi pakaian yang ia pakai.
"Tunggu. Bang Abi kenapa baik-baik saja? Bukannya tadi ...." Ridwan kebingungan, menunjuk letak kobaran api yang masih menggelora karena api yang cukup besar.
"Haiish, sudah. Jangan dipikirin. Yang penting dia baik-baik saja, kan?" Gio merangkul Ridwan lalu mengajaknya ke mobil Rizal. "Hey, kalian mau di sini saja? Buruan pergi dari sini. Nanti mereka bisa datang lagi," jerit Gio pada orang-orang yang masih diam dengan pikiran masing-masing.
"Kita ke kantor polisi, Bang?" tanya Ridwan pada Abimanyu yang kini tengah di belakang kemudi.
"Sepertinya itu bukan ide bagus. Apalagi kalau nanti mereka tau kita punya ini," sahut Rizal menunjuk senjata api yang ada di dekat mereka.
"Lagipula, kita nggak punya cukup bukti untuk menjerat David dengan tuduhan yang kita punya. Takutnya justru kita yang akan mendekam di jeruji besi," tambah Nabila.
"Bukti, ya? Kita butuh bukti untuk menjerat kakek-kakek sakit jiwa itu?" Gio bergumam dengan smirk yang menyiratkan sesuatu. Sepertinya ia punya rencana di balik senyum itu.
"Menurut elu kita harus gimana sekarang, Gi?" Adi bertanya.
"Paman, bukan kita harus bagaimana, tapi kita harus ke mana?"
"Ke rumahku aja, Bang." Ridwan seolah memiliki jawaban dan tempat nyaman untuk mereka.
"Jangan. Soalnya aku yakin dia akan mencari kita lagi. Jadi kalau kita bersembunyi di rumah orang lain, itu berbahaya. Jangan sampai orang tua kamu terkena imbasnya, Wan."
"Itu benar. Kita harus menjauh dari pemukiman penduduk, tapi di mana? Home stay bahkan sekarang mulai ramai pengunjung. Desa ini sudah dibuka lagi untuk umum." Nabila cemas. Karena kejadian yang mereka alami sebanyak 2 kali itu benar-benar baru baginya. Selama ia menjadi polisi, baru kali ini ia menghadapi musuh yang terang-terangan menyerang di tempat umum.
"Santai. Gue punya tempat tepat dan aman," ujar Gio.
Gio kini yang memimpin mengemudi. Sebuah Toyota land cruiser keluaran 80an ini melaju dengan mulus di sebuah hutan yang tidak begitu rimbun pohonnya. Mereka bahkan tidak tau kalau akan dibawa ke mana. Semua diam dengan pikiran masing-masing. Hingga Gio membawa mereka ke sebuah rumah pohon di tengah hutan. Gio mematikan mesin mobil lalu turun. Mereka semua mengikuti Gio hingga menaiki tangga yang menuju ke pintu rumah di atas pohon yang termasuk pohon paling besar di hutan ini.
"Jra! Bajra!" jerit Gio dengan mengintip dari jendela. Hanya menunggu beberapa detik, pintu itu kini terbuka lebar. Menampilkan seorang pria yang seumuran dengan Gio, dengan mata sipit dan berkulit putih. "Apa lu?" tanya pria yang dipanggil Bajra lalu menatap rombongan di belakang Gio.
"Ada tamu itu, disuruh masuk dulu. Jahat banget sih tuan rumah," tukas Gio lalu ngeloyor masuk begitu saja melewati pemilik rumah yang sepertinya tidak suka kedatangan mereka. Gio langsung duduk di sofa hitam ruang tamu itu. Ia menepuk sofa sampingnya dan menyuruh yang lain duduk. "Anggap rumah sendiri," kata Gio santai.
"****!" umpat Bajra lalu duduk di kursi tepat di tengah ruangan. "Ada keributan apa sekarang?" Pertanyaan itu seolah mencerminkan keadaan sekarang yang mereka hadapi.
"Kok tau?" tanya Gio.
"Lah elu kalau ke sini kan cuma keadaan genting. Mana inget gue kalau lagi seneng?!" omel Bajra, kesal.
"Gini. Elu sudah dengar soal pembunuhan yang beberapa bulan ini ada di sini, kan, Jra?"
"Oh iya. Kenapa?"
"Kami tau siapa dalangnya, dan sekarang ...."
"Dan sekarang kalian dikejar-kejar mereka? Gitu, kan?"
"Nah itu paham. Makanya kami di sini dulu, ya. Sambil merencanakan langkah selanjutnya. Oke? Sip dah. Eh, laper gue. Makan dong," pinta Gio lebih ke arah menyuruh Bajra.
__ADS_1
"****!" umpat Bajra lalu beranjak ke belakang. Nabila mengikuti pemilik rumah karena merasa dia satu-satunya wanita di rumah ini.
Bajra adalah salah satu teman Gio. Ia juga hacker yang sudah pensiun dari dunianya. Lebih memilih pergi dari hiruk pikuknya dunia dengan membangun sebuah rumah pohon di sini. Sebelumnya mereka sudah sering bertemu. Bahkan Gio yang membawa Bajra ke desa ini. Menyelamatkan orang itu dari pembunuh yang mengincarnya beberapa tahun lalu. Bajra seolah mati dari dunia luar. Tidak ada yang tau kalau Bajra ternyata bersembunyi di sini, rumah pohon ini.
"Jadi apa yang ingin kalian tau?" tanya Bajra yang kini duduk di kursi dengan barisan layar monitor di sekitarnya. Ia memiliki ruang khusus untuk pekerjaannya. Mungkin sekarang itu bukan pekerjaan lagi baginya, tapi bagai sebuah candu. Ia sering mengamati seluruh desa, kota, bahkan dunia yang ingin ia temukan. Tidak perlu datang ke tempat itu, karena Bajra bisa mengetahui semua yang terjadi di suatu tempat.
"Panti asuhan Santo Yoseph," ucap Abimanyu, dingin. Bajra melirik ke pemuda itu. "Elu anaknya Arya, ya?" tanya Bajra. Abimanyu lantas menoleh dengan dahi berkerut saat mendengar nama ayahnya disebut.
"Anda kenal ayah saya?"
Bajra tak langsung menjawab, ia melirik sekilas ke Gio yang terlihat pura-pura tidak mendengar. Bajra tersenyum. "Kenal. Dia orang yang hebat." Jemari Bajra kembali menari di atas keyboard dengan terampil. Satu persatu layar monitor menampilkan gambar di beberapa tempat yang ingin mereka lihat. Salah satunya Rumah Sakit yang sejak tadi ingin mereka datangi.
"Ini tempat yang disinyalir paling mencurigakan. Rumah sakit rasanya bukan tempat yang harus kita telusuri. Justru ini," tunjuk Bajra ke bangunan bertingkat dengan beberapa anak kecil di sana. 'Siapa yang kita cari? Biar aku bisa liat fotonya untuk memudahkan pencarian."
Nabila menempatkan diri duduk di kursi samping Bajra dan mengeja nama-nama orang terkait. Dalam hitungan menit wajah orang yang ingin mereka lihat langsung muncul di layar monitor. Semua daftar riwayat hidupnya, silsilah keluarga dan semua yang berhubungan dengan orang itu.
"Jadi mereka semua anak panti asuhan di sana." Nabila mulai paham bagaimana David merekrut anggotanya dengan segala keterbatasannya.
"Betul. Semua anak panti yang sudah diadopsi dia rekrut lagi dan dijadikan tentara berani matinya sendiri. Luar biasa, Pak tua, ini." Bajra menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, memutar tubuhnya dikursi yang ia duduki. kursi yang memang dapat berputar dan menjadi hiburan tersendiri untuk Baajra.
"Bagaimana kalau kita datangi panti itu. Pasti mereka ada di sana, iya, kan?"
"Iya. Mereka pasti di sana, Jra, cek lokasi mereka. Bair kita bisa langsung cari ke titiknya. Nggak perlu cari lagi. Gila luas banget tempatnya."
Bajra kembali mengetik dan menampilkan aktifitas di dalam panti. Semua mata mencari keberadaan orang-orang yang teridentifikasi sebagai pelaku penyerangan kemarin.
"Itu Mahesa!" seru Nabila menunjuk seseorang yang berjalan di koridor. Yang lain terus mencari di monitor berbeda. Semua aktfitas di panti itu terpampang jelas. Dari ruang makan, aula, sampai tiap sudut kamar dapat mereka lihat dari monitor di depan.
"Tepat sekali. CCTV." Bajra mengiyakan pendapat dan analisa Rizal yang memang ditunggunya sejak tadi.
"Jadi kamu taruh CCTV di sana?" tanya Nabila tak habis pikir.
"Bukan cuma di sana. Di seluruh desa."
"Hah??!"
"Gila!"
"Eh, eh ... Gini. Si Bajra ini memang punya gangguan jiwa sih. Dia suka mengintip hidup orang, kerjaan dia dulu bikin candu. Jadi dia memang harus melakukan hal ini. Kalian tau kalau orang sakau karena narkoba? Nah dia ini sakau kalau nggak ngeliat kehidupan orang lain," jelas Gio, entah itu berlebihan atau tidak.
"Tapi kapan lu taruh CCTV di sana? Terus caranya?"
Bajra menunjuk ke tembok di sudut kanan mereka. "Karena itu!" Sebuah pengharum ruangan dan AC menjadi fokus mereka sekarang. "Gue selalu pasang CCTV di semua tempat yang pakai jasa service AC tempat gue, dan pengharum ruangan itu. Bukan cuma itu, air galon dan semua benda elektronik yang pernah gue service, pasti ada kamera CCTV nya."
"Psikopat!" gumam Nabila melirik sini ke pria di sampingnya.
"Whatever," sahut Bajra santai. Ia kembali mengetik beberapa kalimat dan menampilkan barisan angka dan huruf. Lalu sebuah PETA panti asuhan terpampang di depan mereka. "Kalian mau masuk ke sana, kan? Biar gue pandu, tanpa diketahui orang."
"Tunggu sebentar. Kita ke sana mau apa?" tanya Ridwan.
__ADS_1
"Tentu saja menculik David beserta pengikutnya."
"Tapi bukti? Harusnya kita hanya mencari bukti saja, kan?"
"Bukti? Ada kok. Rekaman semua kegiatan mereka ada di sini. Gue tinggal cari tanggal dan jam nya. Semua rencana mereka ada di sini. CCTV gue selalu hidup."
'Jadi selama ini elu tau soal kasus kasus ini?" tanya Gio.
"Tau."
"Tapi kenapa elu nggak lapor polisi?" bentak Gio, kesal. Ia bahkan hampir ingin memukul Bajra. KArena telah membiarkan sebuah kejahatan berlarut-larut.
"Itu bukan urusan gue, Gi. Lagian kalau sampai gue turun tangan, gue bisa mati. Lu lupa alasan gue ngumpet di sini? Gila saja kalau sampai gue keluar cuma buat nyelamatin kehidupan orang lain dan gue sendiri mati sia-sia!"
Abimanyu menahan tubuh Gio yang masih tersulut emosi. Ia paham alasan Gio semarah ini dan alasan Bajra bersikap seperti itu. "Sudah, paman. Yang paling penting sekarang kita harus hentikan mereka, bersama-sama. Kalau Om Bajra nggak bantu kita juga kita belum tentu bisa, kan?"
"Om? Astaga. Baru kali ini ada yang manggil gue sesopan itu," gumam Bajra, terus mengetik dan berusaha membobol beberapa sandi rahasia yang ia temukan di sistem komputer milik David. "Gila!" pekik Bajra.
"Kenapa?" tanya Adi, kini menggantikan posisi Nabila, duduk di sampingnya.
"David itu bukan komunitas perseorangan."
"Maksud lo?"
"Rupanya mereka punya semacam komunitas. "
"Komunitas apa maksudnya?"
"Gue nemuin ada semacam komunikasi rahasia dan banyak data yang mereka saling bagikan. Sebentar gue coba ambil filenya." Semua diam sambil menunggu hasil yang membuat mereka penasaran. Komunitas? Komunitas apa? Orang sakit jiwa, kan? Atau para psikopat seluruh negara?
Beberapa foto mulai terpampang di layar. Tak hanya foto tapi juga video. Bajra membuka sebuah foto yang ternyata kumpulan korban pembunuhan yang selama ini mereka cari. Bahkan bukan hanya pembunuhan yang dilakukan 7 dan setahun belakang, tapi juga 20 tahun lalu. Semua korban David ada di sana. Sengaja mereka abadikan dan mereka rekam tiap kejadiannya. Benar-benar gila.
"Gi, coba lu ikut buka ini," suruh Bajra. Adi mengalah dan membiarkan Gio duduk di kursinya.
Dua orang hacker yang sudah pensiun kini berkolaborasi mengungkap kasus yang awalnya mereka pikir hanya kasus biasa. Nyatanya semua kejadian seolah saling berhubungan.
"****! Mereka bener-bener membuat sebuah komunitas. Ini bukan lagi skala daerah, tapi nasional. Dan ... 'BD coorporation' kalian tau perusahaan apa ini?" tanya Gio menatap Abi dan Adi. Kedua pria itu menggeleng dengan tampang bingung.
"BD coorporation? Perusahaan apaan itu?"
"Black Demon Coorporation!" kata Gio menekankan pada tiap kata. Matanya penuh kebencian dan dendam saat mengucapkan kalimat itu. Adi dan Gio saling tatap. Nama itu membuat mereka bagai terlempar ke masa lalu. Nama Black Demon bagai menjadi momok yang menakutkan. Semua hal yang pernah terjadi dulu, seolah kembali masuk ke dalam ingatan mereka, terutama Adi dan Gio.
Beruntung Abimanyu hanya memiliki sedikit memori tentang Black Demon, karena saat tragedi itu terjadi dia belum ada di bumi. Tapi dia sering mendengar cerita itu dari ayahnya, ibunya dan dua orang pamannya itu.
"Nggak salah lu sebut nama itu?" tanya Adi memastikan. Raut wajahnya berubah serius.
"Yes, thats right. Gue coba kulik lagi, siapa orang-orang di balik black demon ini. Apa mereka orang-orang yang sama seperti black demon dulu, atau cuma namanya aja yang sama."
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan. Mereka masih ada di ruangan ini, diam dan menunggu hasil yang tengah Gio dan Bajra cari. Ini bukan komunitas dalam skala kecil, tapi sudah mencakup skala luas. Bahkan tak menutup kemungkinan kalau ternyata Black Demon Coorporation memiliki banyak cabang di luar negeri.
__ADS_1
"Ketemu!" Layar monitor menampilkan sebuah gedung bertingkat, bergaya mewah. Sebuah perusahaan yang bergerak di ekspor impor itu rupanya memiliki kegiatan gelap lain. Mereka cukup berpengaruh di pasar gelap, penjualan senjata api ilegal, perdagangan manusia, dan salah satu nama yang cukup berpengaruh dalam situs deep web. Penyetok film dan gambar yang tidak memiliki nurani. Menyediakan hiburan untuk orang-orang yang berjiwa sakit, karena menginginkan tontonan gila, seperti adegan pembunuhan dan mutilasi atau bahkan menguliti manusia. Mereka bahkan menerima jasa membunuh untuk orang yang mampu membayar dengan bayaran tinggi.
"Gila. Gue bakal bener-bener mati sekarang. ****!" umpat Bajra, frustasi.