pancasona

pancasona
Part 120 I love you


__ADS_3

Alan menarik nafas dalam-dalam. "Dia awalnya adalah anak buahku, orang kepercayaanku. Aku menyuruhnya membawa Ellea dan Allea kembali ke sini, tapi ternyata dia berkomplot dengan Austin dan berkhianat."


"Kenapa bisa begitu, Kek?" tanya Ellea.


"Sampai sekarang kakek tidak tau apa alasannya. Yang jelas bukan karena tawaran uang yang besar."


"Tapi bagaimana nasib Ronal sekarang? Soalnya kemarin dia ...." Allea tidak melanjutkan perkataannya. Teringat peristiwa menjelang pagi di rumahnya, saat beberapa orang secara brutal menembaki Ronal dan teman-temannya. "Apakah mereka orang-orang kakek?" tanya Allea penasaran.


"Iya. Kakek selalu menempatkan orang untuk berjaga di rumah itu. Menunggu dan terus memperhatikan siapa saja yang datang ke sana. Dan juga jika suatu saat nanti kamu pulang, Allea. Satu hal yang perlu kalian tau, kalau Ronal itu juah lebih kuat dari yang kalian kira."


"...."


"Apa mungkin penembak runduk yang itu? Saat kami ada di depan pintu?" Vin ikut bertanya.


"Iya, benar."


Sarapan pagi ini berlangsung cukup lama. Selain menyantap kudapan di meja makan, mereka juga saling bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tentu dengan pertanyaan beruntun dari Vin, Abimanyu, dan Ellea.


"Jadi karena sebuah flash disk? Nyawa kami dalam bahaya?" tanya Ellea, heran. "Tapi soal perseteruan kalian? Aku dengar kakek dan Austin pernah terlibat perkelahian antar gangster?"


"Itu bukan flash disk biasa. Di sana ada banyak informasi rahasia, tentang semua bisnis gelap kami. Di mana banyak petinggi dari beberapa negara yang terlibat. Kalau sampai flash disk itu jatuh ke tangan Austin, dia akan mengacaukan beberapa negara. Kakek yakin dia akan meraup keuntungan atas masalah ini. Austin itu licik. Pertikaian itu karena memperebutkan flash disk itu juga. banyak anak buahnya yang tewas, begitu juga anak buah kakek. Kakek berhasil mengambilnya, kakek sembunyikan di rumahmu, Ellea. Di dalam sebuah kotak musik. Ronal sepertinya sudah mengambilnya," jelas Alan panjang lebar.


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kek?" tanya Vin.


"Kita harus temukan flash disk itu!"


_______________


Malam ini dan malam seterusnya mereka menginap di rumah Alan. Tempat ini cukup jauh dari keramaian dan pusat kota. Alan memiliki banyak rumah di berbagai penjuru negara. Dia adalah salah satu mafia terkenal dan terkaya di komunitasnya. Kamar Allea dan Ellea terpisah. Begitu juga kamar Abimanyu dan Vin. Kamar yang mereka tempati ada di lantai 2. Malam semakin larut, karena lelah, mereka berusaha tidur dengan keadaan tenang, tanpa takut akan teror seperti yang sudah-sudah. Mereka yakin kalau tempat ini akan aman segala penyusup yang akan masuk. Austin, Ronal, dan semua orang-orang suruhan mereka. Penjagaan di rumah ini diperketat.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar di balik pintu kamar Ellea. Gadis itu yang memang belum tidur, lantas berlari kecil ke sumber suara. Saat pintu dibuka, wajah pemuda yang ia cintai muncul. Ia membawakan segelas cokelat hangat di tangannya. "Biyu? Ngapain?" tanya Ellea heran, walau gelas di tangan Abimanyu sudah merupakan jawaban dari pertanyaannya. Tapi ia ingin mendengar dari mulut Abi sendiri.


"Buat kamu," kata Abi menyodorkan gelas itu. Ellea menerimanya tapi sekaligus menarik tangan Abi untuk ikut masuk ke kamarnya. "Eh, kenapa?" tanya Abi dengan raut kebingungan.


Ellea membawa pemuda itu ke balkon kamarnya, "Aku nggak bisa tidur. Temenin ngobrol sebentar, ya."


"Oh oke," sahut Abimanyu lalu mendekat ke tembok pembatas. Gadis itu naik dan duduk di sana. Meneguk cokelat hangat buatan Abimanyu. "Enak. Masih tetap enak. Kamu tau, Biyu, kalau aku udah kangen minuman buatan kamu ini sejak beberapa waktu lalu."


Abimanyu menunduk dengan menyembunyikan senyumnya. Menoleh ke arah Ellea yang kini duduk di sampingnya. Ia berpindah dan kini ada di hadapan Ellea. Tangan Abi melingkar ke pinggang gadis itu, mencoba melindunginya agar tidak terjatuh ke bawah. Ellea meletakan gelas itu di sampingnya. membalas perlakuan Abi dengan melingkarkan tangannya di leher pemuda itu.


"Aku nggak nyangka kalau kita ketemu lagi seperti ini. Tadinya aku sengaja nggak nyari kamu, karena aku pikir kamu sedang fokus merawat ibumu. Tapi ternyata ... kamu lagi kesulitan gini, Ell. Maaf. Seharusnya saat kamu sudah lama nggak kasih kabar, aku tetap cari tau kabar kamu. Bukan malah diam saja," runtuk Abi menundukkan kembali kepalanya, merasa bersalah.


Ellea menangkupkan kedua tangannya di pipi Abimanyu. Mendekatkan dahi mereka hingga kini menempel. Ia tersenyum, sementara Abi hanya tersenyum getir. "Sstt. Ini bukan salah kamu sepenuhnya. Keadaanku memang saat itu sulit, Biyu. Bukan sengaja menghilang dari kamu tanpa kabar," jelas Ellea, lembut, mengelus pipi Abimanyu yang terlihar gosong karena terpapar sinar matahari.


Netra keduanya saling bertemu, tangan kiri Abi memegang pipi kiri Ellea, mendekatkan bibirnya pada gadis itu. Abimanyu mengecup bibir ranum Ellea, gadis itu membalas ciuman itu menjadi makin dalam. Kecupan yang awalnya ringan, makin dalam dan membuat mereka tenggelam dalam suasana. Nafas keduanya sudah mulai tersengal, hingga akhirnya Abimanyu melepas bibirnya dari Ellea. Ia tetap mengelus pipi Ellea, "I love you, Ellea."


Ellea menatapnya tak percaya, kalimat itu belum pernah Abi ucapkan sejak dahulu. Walau mereka sama-sama tau kalau keduanya memiliki perasaan yang sama. Tapi hal ini memang ditunggu Ellea. Dan Abi baru benar-benar mengucapkannya. Ia memang sangat menyayangi Ellea. Bahkan makin lama, makin dalam rasanya. "I love you too." Ellea segera berhambur memeluk Abimanyu. Pemuda itu mengangkat tubuh Ellea dan menggendongnya berputar di balkon berdua saja. Malam yang panjang dan malam paling membahagiakan bagi keduanya.


Ellea sudah ada di balik selimut tebal itu. Abi duduk di tepi ranjang dan mengelus kepala gadis itu dan memberikan kecupan selamat malam di keningnya. "Good night, Sayang."


Pipi Ellea meronta saat Abi memanggilnya 'sayang'. Ini adalah hal yang cukup jarang terjadi. Abi lantas mematikan lampu, dan pergi keluar. Ia hendak kembali ke kamarnya, tapi memutuskan turun ke bawah, untuk mengambil segelas air untuknya sendiri.


Abi merasakan hawa dingin di sekitarnya, Ia memegang tengkuk dan mulai menyapu pandang ke sekitar. Di ujung pintu keluar, ada sesosok pria yang ia kenali. Beberapa kali ia melihat fotonya ada di ponsel Ellea, dan ada di salah satu foto keluarga rumah ini. Adrian. Ayah angkat Ellea. Ia menatap Abimanyu nanar, lalu menoleh ke luar halaman. Tangannya menunjuk ke arah luar. Penasaran, Abi mendekat. Adrian tidak mengatakan apa pun, hanya menunjuk dengan wajah datar dan sedikit terlihat muram.


Abi lalu membuka pintu. Angin semilir berembus cukup kencang. Udara malam memang terasa lebih dingin dari pada saat siang hari, terlebih saat ini mereka dekat dengan laut. Ia melingkarkan tangan di depan dada, menahan angin yang akan langsung menembus dadanya. Berjalan ke sekitar halaman ini. Kembali Abi menoleh ke tempat di mana Adrian berdiri. Namun ia sudah tidak ada di sana. Abi lalu menatap ke depan lagi, dan Adrian sudah ada di pintu gerbang. Ada beberapa penjaga yang masih terjaga di sana. Abi melangkah perlahan mendekat.


Mereka saling bertegur sapa, dan mengobrol basa basi. Namun saat tatapannya mengarah ke langit gelap di ujung sana, Abi menangkap pergerakan aneh di langit itu. "Apa itu?!" kata Abi, menunjuk langit. Mereka menoleh dan memicingkan mata serempak. "Damn! that's a ballistic missile!" jerit salah satu dari mereka. Sontak satu orang lainnya menekan tombol berwarna merah yang ada di dekat pos jaga. Suara alarm berbunyi. "Remove the ballistic missile. Now. "


Abi hanya bisa diam, ia tidak mengerti tentang keadaan ini. "Sir, you better go back inside. Warn others, there is an attack!" kata penjaga gerbang itu ke Abimanyu. Abi mengangguk, ia segera berlari masuk ke dalam. Tapi di saat yang bersamaan, sebuah rudal mendarat tepat di tengah halaman. Ledakan terjadi.

__ADS_1


"Oh, no!" jerit salah satu anak buah Allan, saat melihat tubuh Abimanyu terkena ledakan rudal yang datang dari langit.


Di sisi lain, semua penghuni rumah keluar dari kamarnya. Ellea segera mencari keberadaan Abimanyu, tapi saat sampai di kamar Abi, hanya ada Vin di sana, tengah menatap jendela yang mampu melihat ke halaman depan. "Vin, mana Abi?!" tanya Ellea.


Vin menoleh ke Ellea, di sana sudah ada Allea juga bersama Alan. Vin menutup mulutnya dan menunjuk ke halaman depan. "Abi!" hanya satu kata itu yang mampu ia ucapkan. Ellea segera berlari mendekat ke Vin dan menyaksikan kobaran api di tengah halaman. Allea dan Alan juga mendekat. Semua terkejut melihat pemandangan itu. "Astaga, Abi kena rudal?" tanya Allea seolah tidak percaya.


Saat Ellea hendak menyusul Abi keluar, Vin menahan tangan Ellea. "Ell, Abi nggak apa-apa, elu tau, kan, bagaimana kemampuan dia bertahan hidup? Jangan khawatir," kata Vin mencoba agar Ellea tidak panik.


"Tapi, Vin. Dia kena rudal loh. Bukan lagi pistol atau senjata lainnya."


"Kemarin dia kena bom juga baik-baik saja, Ell."


"Astaga! Gila! Dia itu manusia bukan, sih?" tanya Allea saat melihat sesosok tubuh keluar dari kobaran api di bawah sana. Yah, Abimanyu keluar dengan santai, menepuk tubuhnya yang masih terbakar api. Beberapa anak buah Alan mendekat dan menyemprotkan alat pemadam kebakaran yang tersedia di pos penjaga dan beberapa sudut rumah. Mereka sama terkejutnya saat melihat Abi berhasi selamat, bahkan masih bisa berjalan dengan santainya.


"Its oke. I am alright," ucap Abimanyu santai dan membuat mereka diam tak percaya. Ia lantas berjalan mendekat ke pintu rumah, dengan pakaian yang robek dan banyak gosong di sana sini. Tubuhnya penuh jelaga, tapi tanpa luka.


"Wow, this is a crazy," tukas penjaga rumah itu. Abi menoleh lagi ke mereka, " Hey, we must be vigiliant. the attack will come again, right?" Pertanyaan itu membuat mereka kembali berpencar, mengambil senjata dan membuat pertahanan agar rumah ini tidak kebobolan lagi.


"I hope the missile wasn't the first and last time," gumam Alex, penjaga pos pertahanan. Ia bersama rekannya yang lain mulai berbaris di sekeliling rumah, mulai mengambil senjata.


Ellea dan yang lain turun ke bawah, untuk memastikan keadaan Abi baik-baik saja. Walau baik Ellea dan Vin tau kemampuan Abimanyu yang satu ini. Ellea berhambur memeluk pemuda yang wajahnya sudah hitam legam karena jelaga. Ia masih menepuk-nepuk tubuhnya karena masih mengeluarkan debu dan asap sisa kebakaran tadi.


Ellea berhambur memeluk Abimanyu dengan segala rasa khawatir dan ketakutannya. Ia khawatir dan takut terjadi hal buruk pada Abi. "Hey, aku nggak apa-apa, sayang," kata Abi mencoba menenangkan gadisnya. Ellea melepaskan pelukannya dan menatap Abi dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Hey, kamu, kan tau, Ell? Aku penumpas kejahatan yang nggak akan semudah itu mati," kata Abi lagi, melirik ke Vin yang kini tersenyum getir.


"Abi kok bisa selamat tanpa lecet apa pun?" kini pertanyaan lain terlontar dari Allea.


"Sudah. sebaiknya kita bersiap. musuh bisa datang sewaktu-waktu. Ayo, ikut kakek." Alan berjalan ke bawah tangga. Darci keluar dari sana, dan kini mempersilahkan mereka masuk. "Ayo, Bibi!" ajak Allea ke Darci yang hanya diam di luar.


Darci tersenyum, lalu membelai kepala Allea lembut. "Kalian saja dudlu, Bibi akan berjaga di sini. alian harus jaga diri, oke?"

__ADS_1


Mata Allea segera berkaca-kaca, ia sedih saat kalimat itu terucap dari mulut Daarci. Karena itu artinya bisa saja Darci akan mati saat mereka datang. Serangan rudal tadi membuktikan kalau apa yang mereka inginkan pasti akan terwujud. "Enggak. Bibi harus ikut. Kita pergi bareng!" pintu Allea setengah memohon, menarik tangan Darci. Sementara Darci berusaha melepaskan tangan gadis situ dengan berat hati. Karena jika tidak ada yang menutup pintu rahasia itu, maka persembunyian mereka kan ketahuan. Dan itu adalah tugas Darci sekarang. Darci menatap Vin, seolah memberikan isyarat agar dirinya membawa Allea masuk ke dalam menyusul yang lain. Vin mengangguk, memeluk Allea sambil berusaha melepaskan tangannya dari Darci. Kekuatan Vin tentu sangat mudah membawa Allea pergi sekarang. Denagn sedikit menyeret tubuhnya yang masih berada di dalam pelukannya, Vin terus membawa Allea masuk ruangan itu. Di saat terakhir, Darci melambaikan tangannya sambil tersenyum ke Allea. Pintu ia tutup. Allea menjerit, dan meronta agar Darci bisa ikut bersamanya. Tapi Vin makin kuat menarik Allea dan kini mereka berhasil menyusul yang lain. Allea terus menangis, hingga sang kakek akhirnya mendekat. "Darci itu kuat, dia pasti bisa bertahan, Allea. Mereka tidak mengincarnya, tapi mengincar kita. Terutama kalian berdua," terang Alan menatap dua cucunya bergantian.


Pria yang sudah berumur 65 tahun itu lantas membelai kepala Allea yang tangisnya kini mulai mereda. Mereka kembali masuk lebih dalam. Hanya ada lorong panjang, tapi tetap ada lampu di atasnya. Dan akan menyala saat mereka mulai mendekat. Alan sengaja membuat jalur penyelamatan diri seperti ini. Karena para musuhnya tidak akan membiarkan hidupnya tenang. Hidupnya dan keluarganya sejak dulu selalu tidak tenang. Yah, inilah jalan hidup yang dipilih Alan.


__ADS_2