
Gio dan Adi bergegas menuju tempat di mana Abimanyu memberikan titik koordinatnya. Dua pria itu kini sudah sampai di sebuah hutan tak jauh dari cafe mereka. Andrew sudah dihubungi. Tapi pasti akan memakan waktu untuk sampai ke sini.
"Bi?! Nggak apa-apa, kan?" jerit Gio sambil berlari ke arah pemuda yang masih duduk di tempatnya tadi, dengan tatapan kosong. Abimanyu hanya menunjuk ke potongan tangan yang masih tergeletak di depannya. Ia tidak berkutik sejak beberapa menit lalu. Apa yang ia lihat benar-benar mengerikan. Cincin di jari tangan itu, adalah milik Feliz. Ia tau karena sejak Feliz ada di cafenya, Abi terus memperhatikan semua yang ada dalam diri Feliz. Abimanyu memang seorang yang teliti dan sering memperhatikan hal hal kecil.
Adi dan Gio langsung berpencar menelusuri beberapa bagian hutan. Tak berapa lama sirine mobil polisi terdengar makin nyaring, mendekat. Tak hanya satu tapi ada sekitar 5 mobil polisi dan ambulance serta mobil dengan jendela yang ditralis besi. Mereka semua turun kemudian mulai mendekat, berpencar setelah mendapat penjelasan dari Gio dan Adi, karena Abimanyu terlihat masih terguncang. Bukan karena potongan tangan yang ia temukan, melainkan karena rasa bersalah. Rasa bersalah pada feliz.
"Aku sudah janji bakal jagain Feliz, Pak. Tapi sekarang dia ...." Andrew menepuk bahu Abi, berusaha untuk menguatkan.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Kita tidak bisa membuat keadaan yang sama seperti yang kita inginkan. Kadang ada banyak hal yang tidak bisa kita atur sesuka hati kita. Dan ini sudah takdir Feliz."
"Pak ... Bisma ada di rumah kami," kata Adi. Hal itu membuat Andrew dan tim segera bersiap untuk menjemput tersangka. Tapi sebelum itu, mereka mencari potongan tubuh lain milik Feliz dengan bantuan anjing pelacak. Dalam satu jam semua potongan tubuh itu sudah terkumpul. Tubuh Feliz dipotong menjadi 7 bagian dan dibuang dengan disebar di beberapa titik hutan. Darah Feliz sudah kering. Pembunuhan ini mematahkan pembunuhan sebelumnya. Hanya Feliz satu satunya korban yang dimutilasi.
"Kita jemput Bisma."
Sebagian polisi membereskan TKP, sebagian lagi ikut ke rumah Abimanyu, menjemput Bisma. Kehebohan pagi ini, membuat desa kembali gempar. Seolah olah tidak ada habisnya kasus pembunuhan yang menyerang desa itu. Bahkan sampai sekarang pembunuhnya belum tertangkap.
Mobil beriringan menuju rumah Abimanyu. Ada 4 mobil yang datang dan kini parkir di halaman rumah Abimanyu yang memang luas. "Dia udah elu iket, kan, Gi?"
"Sudah. Sebelum kita pergi tadi. Aman pokoknya."
Abimanyu memimpin untuk memasuki rumah itu lebih dulu, sebagai tuan rumah tentunya. Semua orang ikut waspada. Bahkan Andrew menyuruh beberapa anak buahnya untuk berjaga di sekitar rumah.
"Bisma di mana, Paman?" tanya Abi menyapu pandang sekitarnya dengan beberapa orang di belakangnya. "Di gudang. Sudah gue iket, kencang. yuk," ajak Gio yang kini berjalan lebih dulu menuju sebuah ruangan yang dekat dapur. Gio merogoh sakunya, bunyi gemerincing membuat yang lain ikut menatap ke tangannya yang masih berusaha mengeluarkan benda itu dari sakunya.
Kunci dimasukkan ke keyhole. Bunyi ceklek menandakan pintu ini sudah bisa dibuka. Saat Gio membuka lebar kunci itu, bukan pemandangan yang mereka inginkan, yang terlihat. Tapi hanya gudang dengan tumpukan barang bekas saja.
"Di?! Mana Bisma?" pekik Gio dengan pertanyaan yang ia sebenarnya tau jawabannya. Adi panik sama seperti Gio. Mereka adalah dua orang yang paling bertanggung jawab atas hilangnya Bisma, lagi. Seseorang yang sudah mereka incar sejak lama, justru kembali hilang di markas mereka sendiri. Itu adalah hal yang sangat bodoh!
"Nggak mungkin dia bisa kabur gitu saja. Gue yakin ada yang bantu dia lepasin," ujar Gio. Ia segera duduk di meja dan mulai menyalakan laptopnya. Gio mulai kembali pada kebiasaannya dulu. Beberapa waktu lalu, ia memasang kamera CCTV di beberapa sudut rumah. Terlebih ada tawanan di dalam rumah ini, maka Gio pikir alangkah lebih baiknya jika ia memasang keamanan ekstra.
"Kapan paman pasang CCTV di sini?" tanya Abi yang memang baru mengetahuinya.
"Beberapa jam lalu." Fokus Gio terus terbagi, tapi jemarinya tetap lincah memainkan keyboard dan kini keadaan di gudang beberapa waktu lalu terlihat di laptopnya.
__ADS_1
06.30
Bisma masih duduk di tempatnya. Terikat pada sebuah lemari besi usang yang sudah lama tidak terpakai lagi. Abi memang tidak berniat membuangnya karena itu warisan ayahnya sendiri. Kaki dan tangan Bisma diikat, bahkan kondisinya masih tak sadarkan diri. Gio mempercepat waktu dan kini dari pintu rumah sudah ada seorang pria yang berdiri di depan. Ia terus memakai masker dan topi. Ia memasukkan sebuah lempengan besi tipis dan dalam sekejap pintu terbuka. Ia bahkan tidak merasa cemas saat memasuki rumah ini. Bahkan ia terlihat seperti pemilik rumah saja.
Tidak perlu mencari ke tiap sudut rumah, ia langsung berjalan menuju gudang dan kembali membuka tempat ini dengan mudah. Pipi Bisma ditepuk, kasar. Hingga ia mengerang dan akhirnya tersadar. Mereka seolah dua orang tim yang saling bantu. Ikatan dilepaskan dan Bisma ia bawa pergi.
"Itu pasti orang yang dikejar Nabila semalam," ujar Abimanyu, yakin.
"Nabila?" tanya Andrew yang belum tau insiden pengejaran Bisma semalam. Abi menceritakan semua pada mereka yang ada di situ. Bahkan setiap detilnya.
"DARA? Jadi Nabila anggota DARA? Pantas saja. Aku merasa nggak asing sama wajahnya," tukas Andika. "Terus, gimana sekarang?" Jesika menanggapi.
"Kami bakal cari Giska. Karena jalan satu- satunya adalah memutus rantai pembunuhan ini. Nabila berpendapat, kalau pembunuhnya adalah seorang peniru kasus 20 tahun silam. Jadi dia akan membunuh dengan cara urut. Sesuai abjad nama korbannya."
"20 tahun lalu?"
"Iya, jadi ada kasus serupa, dan itu terjadi 20 tahun lalu. Kita harus memutus rantai pembunuhan ini. Jadi kami akan datangi Giska."
"Wow, aku tertinggal pesta rupanya?" Nabila muncul dari pintu dengan pakaian khas seorang guru pengajar.
"Ngapain?" tanya Abimanyu dengan tatapan datar.
"Ikut misi inilah. Cari Bisma. Aneh banget, kenapa pelaku bisa tau Bisma ada di gudang, ya? Padahal cuma kita aja yang tau, iya, kan, Bi?"
"Iya. mungkin dia dengar pas kami jelasin sama polisi tadi."
"Bu guru sudah selesai mengajar?" sindir Adi.
"Diem, lu!" Nabila masuk dan duduk di sebuah kursi yang kosong. "Kita bagi dua tim. Tim pertama mencari Giska, tim kedua mencari Bisma. Dan gue yang akan memimpin menjadi tim yang mencari Bisma. Pak Andrew lebih baik mencari Giska. Bahaya kalau ikut cari Bisma," Suruh gadis itu santai.
"Maksud kamu?"
"Saya tau Anda punya dendam pribadi dengan Bisma."
__ADS_1
"Eh, elu siapa ngatur-ngatur?"
"Iya, yang jelas Pak Andrew pasti setuju, kan?" tanya Nabila sambil melirik penuh arti pada Andrew yang berdiri di depannya. "Anda pasti ingin sekali menembak mati pemuda itu, pak ketua tim?"
"Bil?" Abimanyu mendelik karena kalimat Nabila makin menyudutkan Andrew.
"What? Gue salahnya di mana? Kalian nggak tau sih, orang pertama yang ingin pelaku mati, ya Pak Andrew, karena balas dendamnya belum tercapai. Betul, kan, Pak Andrew?" Semua orang saling lempar pandang. Tidak mengerti ke arah mana pembicaraan ini. Andrew makin gelisah. Berkali-kali ia mengelap peluh di dahinya dengan sapu tangan pink yang selalu ia bawa.
"Iya, dia benar. Saya ingin membunuh Bisma."
"Apa?"
"Kenapa?"
"Karena dia membunuh anak saya, Diva!"
ADIVA NATALIA
Seorang anak tunggal dari sepasang orang tua, ayahnya polisi, ibunya adalah seorang model. Tapi anak perempuan itu sangat jarang bertemu ayahnya. Karena posisi sang ibu yang hanya diakui sebagai selingkuhan ayahnya. Orang itu adalah Andrew. Andrew yang saat itu adalah intelejen mudah dan berbakat, harus pergi ke sebuah desa karena harus menangani sebuah kasus. Ia bertemu Indri yang ternyata seorang saksi pembunuhan kasus yang ia tangani dulu. Intensitas pertemuan mereka membuat mereka makin dekat. Akhirnya mereka menjalin hubungan bahkan saat kasus itu sudah ditutup. Istri pertama Andrew memang sudah lama pergi dari rumah, ia lebih mementingkan karirnya sebagai seorang pengusaha muda. Karena itulah, Andrew jatuh cinta dengan Indri. seorang wanita yang dewasa dan keibuan. Diva adalah anaknya dengan istri pertamanya. Tapi Diva ditelantarkan oleh ibu kandungnya. Dan saat Indri datang dan masuk ke dalam hidup Andrew, ia seolah menemukan istri yang ia idamkan. mereka akhirnya menikah di bawah tangan.
Sampai suatu ketika istri pertama Andrew kembali, dan mendapati ada Indri di rumahnya. Ia murka dan hampir mencelakai Indri. Akhirnya Indri mengalah dan pergi dari rumah itu. Diva yang saat itu masih kecil, tidak mengerti apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya. Ia kehilangan Indri. Diva memutuskan pergi mencari Indri, tapi di perjalanan ia di bunuh. Diva anak yang pandai di sekolah, mudah bergaul dan memiliki banyak teman. Sejak saat itu, Andrew kehilangan segalanya. Indri, DIva dan karirnya. Hidupnya hancur karena kepergian Diva.
"Bu Indri di mana sekarang?"
"Dia meninggal. kecelakaan mobil."
Pantas saja Andrew begitu semangat mencari Bisma dan kelompoknya. Ia ingin menghukum pembunuh putrinya.
'Ya sudah. Ayo kita bergerak."
"Kita jalan. Untung saja aku sudah pasang alat pelacak di jam tangannya." Nabila mengeluarkan sebuah tablet dengan titik koordinat yang ada di tangannya. Abimanyu kembali dibuat takjub atas tingkah Nabila. "Ini!" Nabila menyerahkan tablet itu ke Abi. Agar peemuda itu yang mencari Bisma. Langkah kaki Nabila terhenti saat terasa menginjak sesuatu. Ia mengangkat kaki kirinya ke atas dan mengambil benda itu. "Jepit rambut?"
"Ayo, Bil. Buruan!"
__ADS_1