pancasona

pancasona
Part 24 Kalimantan


__ADS_3

Sebuah mobil Land Rover khususnya seri Defender berhenti tak jauh dari kami. Seseorang keluar dari pintu kemudi, dan langsung menatap kami dalam. Opa Hans melambaikan tangan padanya, pria tersebut mengangguk. Sepertinya dia orang yang akan mengantar kami ke rumah Om Dewa.


Aku membuka ponsel yang sejak tadi kumatikan. Sebentar lagi hari beranjak malam. Matahari mulai bergeser dari peraduan. Dalam perjalanan ke rumah Om Dewa, aku hanya fokus pada benda pipih di tangan. Pesan pesan dari Kak Rayi, dan beberapa teman sekolah mampu membuat bibirku melebar. Tapi masih dapat ku tahan karena tidak ingin merusak suasana duka seperti sekarang.


Bagi Papa, Om Gio, Opa, dan tante Jean posisi Om Dewa cukup penting dalam hidup mereka. Seperti halnya Bang Abi. Entah mengapa, aku belum bisa melupakan sepenuhnya semua kenangan itu. Walau saat itu aku masih kecil, tapi kematian Bang Abi secara tidak langsung penyebabnya adalah aku.


Kami sampai di sebuah perkampungan. Setelah mendengar penjelasan mereka, ini adalah rumah orang tua Om Dewa. Rumah Om Dewa dan tante Rani yang sebenarnya berada di kompleks perumahan yang agak jauh dari sini. Ibu Om Dewa menginginkan jenazah putranya dikebumikan di kompleks pemakaman keluarga, yang sudah ada sejak turun temurun kakek buyut mereka.


Tempat itu cukup jauh dari kota. Masih banyak pepohonan di sekitar. Walau dalam kaca mataku, Kalimantan memang identik dengan hutan. Tapi saat sampai Bandara tadi, aku melihat perkotaan yang sama seperti di kota besar pada umumnya. Tetapi tempat tinggal Om Dewa memang berada di pedalaman desa.


Berada di kawasan jantung pegunungan Meratus membuat hawa sekitar cukup dingin. Entahlah, apa karena aku terbiasa tinggal di Ibukota, yang terkenal panas, atau memang di sini memiliki hawa yang sejuk. Mungkin keduanya. Aku merapatkan sweeter saat turun dari mobil.


Di harapan kami ada sebuah rumah yang cukup besar dan luas, mereka menyebutnya Balai Adat. Di sini tinggal beberapa kepala keluarga dalam satu bangunan, yang tentu keseluruhan bangunannya terbuat dari kayu.


Beberapa orang keluar dari rumah itu. Opa Hans berjalan lebih dulu sebagai tetua dari kami semua. Saling sapa dan jabat tangan sebelum akhirnya kami dipersilakan masuk ke dalam. Suasana di dalam rumah cukup ramai. Di tengah ruangan besar setelah pintu masuk, ada seseorang yang sudah terbujur kaku, di kelilingi beberapa orang. Jenazah Om Dewa akan dimakamkan nanti malam. Menunggu kedatangan kami, begitu menurut Ayah Om Dewa sendiri.


Tante Rani diam, duduk di dekat jenazah suaminya. Menatap kosong ke tubuh tak bernyawa itu. Tante Jean mendekat sambil mengajakku.


"Ran ...," panggil tante Jean, dan terus mendekat ke Tante Rani. Wanita berpakaian serba hitam tersebut menoleh dan langsung berhamburan memeluk Tante Jean. "Yang sabar, ya. Kamu harus kuat," bisik Tante Jean berusaha menguatkan Tante Rani yang sedang sangat terpukul. Aku dapat melihat jelas, bagaimana kesedihan itu tergambar di wajah wanita itu. Tante Rani masih muda, dan harus menjadi janda karena kematian suaminya. Bahkan sampai sekarang mereka belum memiliki keturunan. Setiap tante Rani hamil, selalu saja ada musibah.


Aku hanya duduk di samping mereka, mendengarkan tiap detail penjelasan Tante Rani dari awal kejadian tersebut. Sambil memandang wajah Om Dewa yang tertutup kain putih transparan dengan kapas yang menyumpal hidung, dan telinga.


"Jadi, Om Dewa dimakamkan malam ini juga, tante?" tanyaku memotong pembicaraan mereka.


Keduanya lantas menoleh, dan akhirnya aku mendapat perhatian dari tante Rani. "Astaga, Nabila! Maaf, tante kira kamu siapa." Tante Rani lalu memelukku yang sebenarnya sudah cukup lama di sini. Aku mengerti kondisinya sedang tidak baik, jadi aku tidak sakit hati atau marah saat menjadi obat nyamuk di antara keduanya.


"Turut berduka cita, tante," sahutku membalas pelukannya.


"Iya, kamu yakin Dewa dimakamkan malam-malam begini? Nggak tunggu pagi aja, Ran?" tanya tante Jean.


"Harus malam ini, Jean. Udah adatnya begini. Aku kan cuma tamu, dan harus nurut semua peraturan keluarga besar Dewa."


"Hei, kamu istri Dewa! Kok tamu sih?" tanya Tante Jean sinis. Tante Rani hanya tersenyum nanar.


"Ya begitulah, aku nggak mungkin menentang mereka. Kata Bapak, malam ini juga harus dimakamkan. Karena berbahaya kalau sampai jenazah Dewa menginap di rumah, nggak baik, katanya."


Tante Jean menarik nafas panjang lalu menoleh padaku. Aku hanya mengangguk menanggapi. Mungkin ini memang sudah peraturan di desa ini. Jika masih berada di bawah jam 12 malam, maka jenazah orang yang meninggal di desa ini harus segera dimakamkan. Lain halnya jika meninggal di atas jam 12 malam. Bisa dimakamkan esok harinya.


Beberapa orang mulai beranjak dan terlibat diskusi dengan bahasa yang tidak ku mengerti. Papa lantas mendekat dan mengajakku ke ruangan lain bersama Tante Jean. "Taruh dulu barang kalian di kamar. Nanti kita datang ke pemakaman Dewa," jelas Papa.


"Sekarang, Pa?" tanyaku, Papa lantas mengangguk.


Tante Rani mengantar kami ke kamar yang memang disiapkan untuk tamu. Itu pun atas komando dari seorang wanita tua dengan bahasa Banjar yang khas.


"Tante sejak kapan bisa bahasa Banjar?" tanyaku saat kami bertiga berjalan di koridor rumah besar ini. Karena aku tau, kalau Tante Rani berasal dari Jawa, sama seperti kami.


"Setahun setelah menikah sama Om Dewa, Bil. Kenapa?"

__ADS_1


"Wah, cepat juga bisa paham bahasa sini."


"Iya, karena sehari-hari dengar obrolan dan pengucapan bahasanya, jadi tante cepat bisa."


Koridor rumah ini memiliki beberapa pintu yang kutebak adalah kamar dari penghuni rumah ini. Aku tidak bisa membayangkan mereka sanggup hidup rukun bersama-sama seperti ini. Karena aku tinggal berdua saja dengan Papa, masih kerap bertengkar.


Kamar ini cukup luas. Dengan jendela berukuran satu meter yang memperlihatkan suasana di belakang rumah ini. Dominan pepohonan yang tinggi-tinggi. Cukup rindang dan asri, jika siang hari, dan cukup menyeramkan di malam hari, seperti sekarang.


"Bil, kalau kamu capek, nggak usah ikut ke pemakaman. Di sini aja, istirahat," cetus tante Jean, sambil meletakkan tas bawaannya dan mengambil jaket tebal dari dalamnya.


"Iya, Bil. Mending kamu di rumah aja. Udah malam, kamu juga kelihatan capek tuh," sambung Tante Rani menunjuk wajahku yang memang kelelahan setelah perjalanan panjang tadi. Aku diam, sambil mempertimbangkan saran mereka.


"Ya udah deh. Aku di sini aja." Akhirnya aku menurut, karena benar apa kata mereka, aku lelah. Ingin istirahat, dan kamar ini cukup nyaman rasanya. Apalagi dengan suasana sekitar yang tenang.


_________


Kini hanya aku saja di ruangan besar ini, sendirian. Mereka semua sudah pergi sejak 15 menit lalu. Papa juga mengerti keinginanku untuk tinggal di kamar.


Aku berbaring sambil memegang benda persegi di tangan, menekan keyboard dan mengetik dengan gerakan cepat, bibir terus tersenyum karena berbalas pesan dengan Kak Rayi.


Hingga tiba-tiba layar ponsel berganti menjadi wajahku, dan ada tombol merah gang bergerak minta disentuh dengan dua pilihan menerima atau menolak. Yah, Kak Rayi melakukan video call tanpa memberitahu terlebih dahulu. Aku segera duduk, merapikan rambutku yang berantakan, bahkan aku berlari lebih dulu ke sebuah cermin besar di tengah kamar. Lalu kembali lagi ke ranjang besar tadi.


"Lama banget!" kata Kak Rayi sedikit melotot saat aku sudah menggeser layar ke bawah.


"Hehe. Habisnya kaget, tiba-tiba video call. Nggak bilang dulu ih!"


"Kak Rayi lagi chating sama mereka juga?"


"Iya tadi. Gimana? Roger penasaran sama Kalimantan katanya tuh!"


"Oke, undang aja."


Layar akhirnya terbagi menjadi empat, dan muncul wajah tiga pria tersebut.


"Wuih, Nabila! Asik nih yang lagi liburan ke Kalimantan," kata Kak Roger yang sedang ada di kamarnya.


"Enak aja liburan! Suasana duka ih! Sembarangan Kak Roger nih!" cetusku sebal.


"Iya emang, nggak ada akhlak ni bocah!" sambung Kak Bintang, dengan background taman.


"Kak Bintang lagi di mana? Syahdu banget kelihatannya."


"Oh ini? Lagi di cafe. Suntuk di rumah. " Dia lantas memperlihatkan keadaan sekitarnya dengan banyak lampu Tumbler warna warni. Cukup mengesankan.


"Besok kita dinner di sana, ya sayang," kata Kak Rayi. Kak Rayi sendiri sedang ada di ruang tengah rumahnya. Aku hapal sekali sofa nya.


"Kok Kak Bintang sendirian? Nggak ajak Kak Rayi sama Kak Roger?"

__ADS_1


"Mereka nggak mau. Lagian aku lagi pengen sendiri."


"Cie pengen sendiri. Lu lagi galau kenapa lagi, bro?" tanya Kak Roger.


"Bacot!"


"Ye, udah gue perhatiin, malah kasar. Aku tu nggak bisa dikasarin," rengek Kak Roger dengan wajah memelas. Sontak kedua orang itu mampu membuat tawaku meledak.


Tapi itu tidak berlangsung lama, karena aku segera berhenti tertawa dan mempertajam pendengaran.


"Kenapa, Bil?" tanya Kak Rayi yang melihat suasana wajahku berubah.


"Kalian dengar nggak?" tanyaku pada mereka. Tiga pria itu diam, dengan ekspresi sama mendekatkan ponsel masing-masing.


"Denger apaan?" tanya Kak Bintang.


"Ada yang ketuk jendela kamarku," bisikku sambil menoleh ke tempat yang ku bicarakan itu.


"Yang bener lu, Bil. Jangan bercanda," ujar Kak Roger.


"Coba cek, Bil. Mungkin cuma orang iseng," suruh Kak Bintang.


"Eh, jangan sayang! Biarin aja. Cuekin!" larang Kak Rayi.


"Jadi gimana nih, aku cek atau nggak!"


"Cek!"


"Jangan!"


"Astaga, kalian berdua malah berantem. Bil, cek, sambil tunjukin layar ke sana. Kita lihat bareng!" tutur Kak Roger.


Akhirnya aku menurut kata Kak Roger. Aku lantas beranjak dengan perlahan. Berusaha tidak menimbulkan bunyi sekecil apa pun. Mendekat ke jendela yang memang sudah tertutup sejak aku masuk tadi.


Jendela kayu itu kubuka perlahan, kini hamparan pepohonan terlihat di depan mata. Walau ini sudah malam, tapi karena sinar bulan purnama maka keadaan di luar mampu kulihat dengan jelas. Namun ada sesuatu di sana. Di atas pohon yang tampak asing bagiku. Hanya saja aku anggap itu bayangan pohon lain yang berbentuk tubuh besar. Layar ponsel ku sorot ke depan. Mereka bertiga juga dapat melihat apa yang ada di depanku.


"Wuih, gelap dan sepi banget. Bener-bener mirip kalau kita lagi camping," kata Kak Roger takjub.


"Bil, itu apa?" tanya Kak Rayi menunjuk ke arah yang aku pun tidak paham.


"Mana?" tanyaku.


"Di atas pohon!"


Degh! Otomatis aku mulai tidak enak. Karena jika apa yang dimaksud Kak Rayi adalah tempat yang tadi aku lihat, maka itu hal aneh. Karena kini setelah aku perhatikan, bayangan gelap yang kupikir adalah kumpulan pohon, justru memiliki titik merah di tempat yang simetris. Seperti sepasang mata merah menyala.


"Bil, tutup jendelanya!" suruh Kak Bintang.

__ADS_1


__ADS_2