
Semilir angin mulai terasa dingin. Matahari sudah mulai turun dari langit. Cuaca yang awalnya panas kini mulai redup.
"Hidayat, kaku ingat, kapan mereka muncul?" tanya Wira serius.
"Yah, saat tengah malam. Persis pukul 00.00. Mereka mulai berdatangan entah dari mana," jelas Hidayat. Wajahnya masih memancarkan ketakutan yang teramat sangat. Ia terus memperhatikan sekitar. Terutama keadaan di luar ruangan. "Sebentar lagi malam, kita harus bertahan di dalam sini. Jangan sampai mereka tau kalau kita ada di sini!" cetus Hidayat.
"Memangnya kamu yakin, kalau mereka bakal datang lagi nanti malam?" hanya Ellea.
"Sangat yakin! Kalian pikir selama ini aku di mana? Aku nggak bisa ke mana mana. Dan tiap malam, aku harus sembunyi. Jangan sampai mereka menemukan kita! Kecuali kalau kalian pengen mati, silakan!"
Arya menatap jam dipergelangan tangannya. "Kita harus mengambil perbekalan untuk semalam. Dan semua barang yang dibutuhkan. Stok makanan kita tidak cukup sampai malam."
"Bener juga. Tapi lebih baik kita kubur dulu mayatnya," tunjuk Gio ke sosok tubuh yang masih teronggok di lantai.
"Ayok, Paman. Abi bantu."
"Oke, kita bagi tugas. Para wanita ambil makanan di caravan, bawa semua yang dibutuhkan, selimut atau apa pun. Gio sama Abi bisa kuburkan dia berdua aja?" tanya Wira.
__ADS_1
"Aku ikut! Bagaimana pun juga, Endri saudaraku!" cetus Hidayat semangat.
"Oke, Hidayat ikut Abi dan Gio. Sementara aku dan Arya akan menyusuri tempat ini dan sekitar, mencari senjata atau apa pun yang bisa digunakan. Perasaanku nggak enak. Aku takut terjadi hal buruk nanti malam," jelas Wira. Mereka pun setuju dan sependapat dengan ide Wira. Dengan penjelasan dari Hidayat tadi, sudah cukup membuat mereka yakin, ada hal aneh di desa ini. Desa ini jika siang hari tampak damai dan tentram, tapi tidak jika malam hari. Akan ada makhluk mengerikan yang berkeliaran di desa ini. Bahkan bisa menculik dan membuat manusia yang berkeliaran di dalam desa mati mengenaskan. Sungguh mengerikan!
Abi, Gio dan Hidayat pergi ke tanah lapang yang agak jauh dari tempat mereka menemukan mayat Endri tadi. Mereka sudah membawa cangkul dan peralatan lain untuk menyelesaikan tugas itu. Tidak akan sulit karena baik Gio dan Abi adalah pria tangguh dan kuat. Sementara Hidayat hanya melihat acara penguburan Endri dengan tangis air mata. Meratapi kesedihannya dan kepergian Endri untuk selamanya.
Nayla dan Ellea berlarian pergi ke tempat caravan mereka parkir semalam. Ada di gerbang desa yang memang tidak begitu jauh dari tempat mereka istirahat tadi. Beberapa kali mereka menoleh ke samping kanan, kiri, bahkan belakang. Mereka makin waspada pada apa yang ada di sekitar mereka. Ini bukan sebuah tur wisata yang menyenangkan, tapi mengerikan.
Pintu Caravan dibuka, Nayla segera masuk bersama Ellea. Mereka lantas segera mencari semua benda yang dibutuhkan. Setidaknya untuk semalam. Makanan, selimut, dan semua perbekalan yang dirasa penting untuk mereka nanti.
Semua makanan di masukan ke dalam tas. Aneka sarden, makanan kaleng, mie instant dan air mineral. Mereka terlihat bergegas dan terkesan terburu buru. Sampai pada akhirnya, Ellea melihat sesuatu datang mendekat. "Nayla! Itu!" tunjuknya ke hutan yang ada di samping desa, hutan yang berbatasan langsung dengan desa ini. Segerombol manusia keluar dari rimbunan pohon lebat di sana. Bentuknya mengerikan, sama seperti mayat Endri tadi.
Ellea menatap jam di pergelangan tangannya. "Mungkin mereka datang saat malam, dan lihat, sekarang sudah mulai gelap, Nay," tunjuk Ellea ke jendela di samping mereka.
"Apa yang harus kita lakukan, Ell," gumam gadis itu, menatap makhluk di luar sana yang sedang masuk ke desa.
Kuburan untuk Endri sudah siap. Terakhir Abi meletakan sebuah batu besar sebagai nisan untuk mayat tersebut. Ia mengelap peluh di dahinya sambil mengibas topi yang tadi ia kenakan ke wajah. Agar bisa merasakan angin untuk membuat wajahnya lebih segar karena kerja keras yang ia lakukan barusan.
__ADS_1
Gio menatap ke langit yang mulai gelap. Begitu juga dengan Hidayat. Ia mulai gugup dan tengak tengok sekitar. "Kita balik sekarang aja!" ajak Hidayat pada mereka berdua.
Abimanyu lantas menoleh ke ujung desa. Ia merasakan perasaan tidak nyaman di sana. Satu hal yang ada di pikirannya, kalau di sana dua wanita yang paling penting dalam hidupnya tengah dalam masalah. Ia lantas segera meninggalkan makam tersebut dan berjalan menyusul Ellea dan Nayla. Gio yang melihat sikap Abi lantas mengerutkan kening, ia meminum habis air mineral yang ia bawa tadi. Lalu membuangnya asal, menyusul Abimanyu yang sudah berjalan lebih dahulu membawa sekop. Gio meraih tongkat besi yang tadi juga ia bawa. "Heh! Bawa tuh cangkulnya!" suruh Gio ke Hidayat dengan menatap benda tersebut yang masih teronggok begitu saja di dekat makam. Hidayat menurut dan mengambil benda itu, lalu menyusul dua pria yang sudah berjalan lebih dahulu.
Mereka berjalan cepat, Gio yang tertinggal dari Abi lantas terus menjerit memanggil nama pemuda di depannya itu. Tiba tiba Abi berhenti berjalan, menjulurkan tangan kanannya ke samping, mengisyaratkan dua orang di belakangnya untuk berhenti dan tenang. Tanpa mengeluarkan suara sekecil apa pun. Gio lantas mendekat dengan langkah perlahan, lalu berbisik ke Abimanyu, "kenapa?"
"Ada suara langkah kaki orang," kata Abi terus memperhatikan ke depan.
"Langkah kaki kita mungkin?"
"Bukan, paman. Ini banyak. Bukan dua atau tiga orang aja."
"Banyak?"
"Gaes!" seru Hidayat, menunjuk ke arah samping kiri mereka. Samar namun pasti, ada pergerakan aneh di tempat itu. Beberapa manusia mulai mendekat, sejalan dengan langit yang makin menggelap.
Mereka melotot dengan tatapan ngeri, Hidayat mundur perlahan. "Mereka datang!" ucapnya dengan suara bergetar. Gio melirik ke Abi yang masih serius menatap segerombolan manusia dengan wujud mengerikan. Sama seperti jasad Endri tadi. Kulitnya hilang, hanya ada tulang yang terbungkus daging merah segar. Ada beberapa bagian tubuh mereka yang mulai membusuk. "Kayak nya kita harus kabur dari sini!" ujar Gio sambil menarik Abi untuk segera pergi.
__ADS_1
"Sembunyi!" kata Abimanyu dengan langkah seribu bersama dua orang tadi.