
Akhirnya Hana dan Dana membiarkan Blendoz dan Hani membawa Fauzan.
"Semoga mereka cepat menemukan jalan keluar," kata Dana terus menatap teman temannya yang menghilang di ujung semak semak. "Terus gimana cara kita cari yang lain, Dan?"
"Itu juga yang membuat gue bingung sekarang. Kita benar-benar nggak tahu mereka pergi ke mana. Yang bikin gue yakin, pasti mereka tersesat. Tapi apa memang tersesat atau disesatkan. Yang jelas kita harus cari mereka, sebelum kita pergi dari tempat ini. Perasaan gue nggak enak," ujar Dana sambil menarik nafas panjang. "Menurut lo kita harus ke mana, ya?"
"Yang jelas, kita harus telusuri lagi jalanan yang tadi kita lewati. Siapa tahu bisa menemukan jejak mereka," tukas Hana bijak.
"Lo benar. Kalau pun mereka hilang pasti akan ada jejaknya. Sekecil apa pun itu," tambah Dana.
Mereka pun mulai menyusuri lagi jalur yang tadi mereka lewati. Sambil terus tengak tengok sekitar, Dana dan Hana mulai memanggil nama teman teman mereka yang lain. Mereka lega, akhirnya Fauzan berhasil ditaklukan, walau masih cemas pada kondisi pemuda itu, tapi belum selesai kecemasan tentang Fauzan, kita mereka juga harus mencemaskan teman-teman yang lain. Bahkan sampai sekarang mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa para gadis hilang secara serempak. Padahal mereka masih mendengar suara langkah kaki di belakang, yang diyakini milik teman-teman yang lain..
Di sisi lain, Blendoz dan Hani terus berlari ke arah yang sudah mereka beri tanda. Tempat di mana jalan keluar dari hutan ini berada. Sejak kejadian mereka hilang tempo hari, warga sekitar dibantu pemerintah daerah setempat telah membuat jalur perjalanan untuk para pengunjung yang hendak datang, bahkan juga bisa dipakai oleh warga sekitar yang hendak mencari kayu bakar atau keperluan lainnya. Mereka berusaha mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk di hutan tersebut. Sekalipun image seram masih melekat pada hutan tersebut sejak dulu, tapi tidak membuat orang-orang mengurungkan niat mendatangi tempat tersebut. Tak dapat dipungkiri keindahan hutan tersebut memang sudah terkenal di seluruh tempat. Tidak hanya bagi warga Kalimantan saja tentunya. Sehingga menarik wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.
Dua pemuda itu terus berlari menyusuri jalan yang memang sudah jelas merupakan jalur tracking wisatawan. Nafas Hani mulai terengah-engah, lebih-lebih Blendoz yang memang membawa beban yang cukup berat, Fauzan. Dia masih pingsan. Beberapa kali, Blendoz selalu memastikan denyut nadi Fauzan masih ada, agar dia yakin kalau temannya itu masih hidup. Apa pun yang sudah diperbuat Fauzan, tentu tidak lantas membuat mereka semua membencinya, dan bahkan tidak memedulikan dia yang kini dalam kondisi yang kritis. Yah, denyut nadi Fauzan sangat lemah, hal inilah yang membuat Blendoz bergegas agar bisa cepat keluar dari hutan tersebut, untuk bisa menolong Fauzan sebelum semuanya terlambat.
"Ndoz! Tunggu. Istirahat sebentar," pinta Hani yang sudah tidak kuat lagi. "Gue berasa mau mati tahu!" kata Hani yang berusaha mengatur kembali nafasnya yang hampir habis.
"Iya. Sama. Gue apalagi!" tukas Blendoz dengan setengah emosi.
__ADS_1
Mereka berdua menoleh pada Fauzan yang berada di punggung Blendoz. Dia masih belum sadar, dan kondisi tbuhnya terlihat sangat lemah.
"Masih berapa lama lagi sih?" tanya Hani sambil melihat lurus ke depan. Di mana mereka akan menuju ke arah tersebut.
"Nggak tahu. Seingat gue, kita nanti bakalan ngelewatin dua pohon beringin besar di kanan kiri yang bakalan jadi patokan kalau kita udah keluar dari hutan ini," jelas Blendoz.
"Iya sih. Tapi kok belum nyampe juga ya, Ndoz. Apa kita tersesat lagi? Duh, gak lucu banget kan kalau kita tersesat lagi."
"Lo jangan ngomong itu kenapa sih. Pesimis banget jadi orang!" hardik Blendoz.
Nafas mereka mulai stabil. Fauzan masih tetap berada di punggung Blendoz, sekalipun dia berhenti berlari. Blendoz tidak ingin merubah posisi Fauzan yang ada di atas punggungnya. Dia tidak ingin jika perubahan posisi tersebut akan membahayakan kondisi Fauzan nantinya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Fauzan. Jadi mereka, terutama Blendoz, tidak ingin membuat kesalahan sekecil apa pun.
Hani pun menurut dan segera meraih benda pipih dari saku jaketnya. Dahi Hani berkerut. Dia mengguncang-guncangkan ponsel miliknya menuju ke atas. Tapi tak lama dia menggeleng.
"Ya sudah. Pakai walkie talkie. Kita harus segera hubungi kantor pusat untuk meminta bantuan. Seenggaknya kirim ambulans ke sini sekarang." arahan Blendoz memang sangat masuk akal dan jitu situasi seperti ini.
"Tes! Tes! Pusat! Ganti?" Suara gemerisik terdengar di seberang. Tapi setelah ditunggu lama tidak ada sahutan apapun. Mereka berdua mulai panik.
"Nggak bisa, Ndoz! Gimana dong!" ungkap Hani cemas.
__ADS_1
" coba lagi."
Hani melakukan lagi hal yang serupa, dan bahkan sampai mengulangi lagi memencet tombol dari awal hingga panggilan ke pusat yang memang terhubung dengan walkie talkie mereka sebelumnya.
"Nggak bisa juga!" Hani menatap Blendoz penuh harap. Dalam situasi ini Hani memang seperti adik dari Blendos sendiri. Blendoz tipe pemimpin, dan pandai mengatur situasi. Sama seperti Dana. Hanya bedanya, Blendoz lebih menghargai dan menghormati Dana selama ini. Karena mereka bersahabat sejak kecil. Banyak hal yang terjadi selama mereka tumbuh bersama. Semua pengorbanan yang Dana berikan untuk Blendoz membuat Blendoz rela menjadi kaki tangan Dana untuk segala hal. Baik hal baik, atau Bahkan hal tidak baik.
Bagi Blendoz, Dana sudah dianggap seperti sahabat, kakak, dan juga partner sejatinya. Apa yang dikatakan Dana selalu dituruti. Yah, begitu lah pengabdian Blendoz untuk Dana. Untungnya Dana bukan tipe pria yang memiliki karakter jahat. Sehingga semua hal yang dilakukan oleh Blendoz tidak pernah berpengaruh buruk pada mereka berdua ataupun sekitarnya. Bahkan Dana sangat sering menasehati Blendoz, jika dia mulai melakukan hal-hal yang tidak baik.
Bertemu dengan Dana, bisa meredam semua karakter buruk dari Blendoz yang memang terbentuk dari lingkungan keluarganya sendiri. Dia merupakan anak broken home. Kedua orang tuanya bercerai. Ayahnya tipe pria yang sangat tempramental. Yang kerap memukuli Ibu serta dirinya dan juga adik-adiknya. Itulah yang membuat orang tuanya bercerai. Sayangnya, Blendoz justru hidup dengan ayahnya. Karena Ibunya sudah meninggal saat dia masuk SMA.
Dengan semua luka batin yang dirasakan oleh Blendoz, membuat Dana iba. Dia yang memiliki keluarga utuh, menjadi lebih sering bersyukur tidak pernah meninggalkan Blendoz seorang diri. Terutama saat dia sedang dalam kondisi yang tidak baik. Walau demikian, mereka juga seorang pria yang masih suka mencoba hal-hal baru. Biasanya jika keduanya sedang dirundung banyak masalah, mereka akan lari ke minuman keras. Mabuk-mabukan hingga tertidur di pinggir jalan. Itulah masa SMA yang penuh dengan kenangan. Namun sekarang mereka sudah bertaubat. Tidak ada lagi Wiski anggur dan alkohol apa pun yang masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka bertekad ingin berubah kebiasaan buruk itu mulai dari sekarang. Menjadi seorang mahasiswa yang baik dan fokus belajar agar mereka bisa lulus dengan nilai yang bagus dan juga mendapatkan pekerjaan yang layak. Hanya itu harapan mereka saat ini.
"Han, coba hubungi yang lain. Mungkin bisa tersambung," pinta Blendoz.
"Oke!"
Hani terus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hingga akhirnya ada suara yang tersambung, dan itu suara wanita.
Hani dan Blendoz saling pandang. "Rea kali! Sama yang lain!" kata Blendoz semangat.
__ADS_1