
Aku menggumam. Jeritan seseorang memanggil nama Angelina benar - benar membuatku kesal. Dia mengejar ku, namun terus memanggil nama Angelina. Pria itu kini berdiri di hadapanku, menatapku sendu dengan senyum tipis yang memukau.
"Angel, aku ... Rindu," katanya lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Hanya saja sebuah hujamam benda tajam terasa menusuk perut, mengoyak usus 12 jari hingga cairan kental berontak ingin keluar dari mulutku. Sontak aku segera membuka mata.
Namun, tubuhku justru sulit bergerak, karena kini ... Aku ditimbun dalam tumpukan pasir. Aroma laut tercium khas di pangkal hidungku. Hanya meninggalkan kepalaku saja yang dapat ku gerakan. Sementara tubuhku berada di dalam pasir warna putih ini.
"Bil? Udah bangun?" tanya Kak Rayi yang ternyata tidur di samping ku. Dia tidur dengan posisi duduk, tangannya berada di pucuk kepalaku. Dia terkejut saat aku mulai bergerak seperti tadi.
"Kak ... Aku kenapa gini?" tanyaku yang berusaha keluar dari timbunan pasir di atas tubuhku.
"Sebentar, biar aku bantu." Kak Rayi mulai menyingkirkan benda halus ini dengan secepat yang dia bisa.
__ADS_1
"Gimana? Kamu baik - baik aja kan? Udah sembuh sayang?" tanyanya sedikit panik menatap tiap detil bagian tubuhku.
Aku pun juga memeriksa tubuhku sendiri. Sambil mengingat kejadian terakhir yang ada di memori otakku. "Iya aku nggak apa - apa, Kak," jelas ku saat tidak lagi merasakan sakit di mana pun. "Eh, yang lain ke mana?"
"Mereka mencari jalan keluar."
"Eh, ini? Dapat dari mana?" tanyaku menunjuk timbunan pasir laut di dekatku.
Saat aku menatap sekitar, memang agak lain. Tidak seperti tempat yang terakhir kali kami datangi semalam.
"Pantai? Lalu orang - orang itu bagaimana?"
__ADS_1
"Mereka belum menemukan kita. Kami udah bisa jalan? Kalau sudah kita menyusul yang lain aja," ajak Kak Rayi. Dia mengulurkan tangannya padaku. Tangan kami saling bergandengan dan berjalan ke sumber cahaya. Deburan ombak terdengar jelas di telinga. Ombak. Pantai dan laut. Semua itu memang yang ada di pikiranku sekarang.
Hamparan pasir putih terlihat jelas. Tante Jean menjerit senang saat Om Gio mendapatkan ikan. Papa ada di sudut lain, bersama Opa. Kak Bintang dan Kak Roger juga sedang membantu tante Jean dan Om Gio.
Aku memutuskan duduk begitu saja di pasir pantai ini. Cara ini juga termasuk salah satu bagian pemulihan diri. Air asin adalah penyembuh, keringat, air mata dan laut. Bahkan pasir adalah bagian terpenting dalam hal ini. Kak Rayi ikut duduk di samping ku.
"Kak, kenapa Tante Rani melakukan itu, ya?" tanyaku lalu bersandar di bahu kanannya. Tangan Kak Rayi mulai melingkar di pinggangku. Menarik tubuhku lebih dekat lagi denganku, mengecup pucuk kepalaku lembut.
"Kamu tau kan, sayang, kalau apa yang dialami tante Rani selama beberapa hari terakhir. Dia pasti mengalami hal buruk dan berat. Dia baru saja kehilangan suami, aku yakin itu membuat dunia nya hancur. Dan mungkin itu caranya untuk melampiaskannya."
"Woii! Kita sebentar lagi pulang!" jerit Papa sambil memperhatikan benda pipih di tangannya. Dari kejauhan sebuah kapal terlihat, Papa melambaikan tangan. Mungkin itu yang akan menjemput kami?
__ADS_1