pancasona

pancasona
Part 111 San Paz


__ADS_3

"Daerah itu namanya distrik San Paz. Di sana sumber segala kejahatan di tempat ini, Bi," jelas Vin saat mereka tengah menikmati sarapan bersama. Roti tawar menjadi sasaran menu sarapan pagi kali ini. Dengan susu hangat untuk Vin, dan kopi hitam untuk Abimanyu.


"..."


"Segala kejahatan halal di sana, lu bakal bisa nemuin orang pakai ganja dengan bebas ya cuma di sana, bahkan orang bunuh orang juga di sana hal wajar."


"Oh, mirip Kampung Ambon, ya, kalau di Indonesia?"


"Nah, mirip." Vin menjelaskan kondisi tempat itu sambil mengoles selai kacang di roti tawar yang ia pegang. Sementara Abi langsung menggigit potongan besar lembaran roti berwarna putih itu ke dalam mulutnya. Ia tidak suka hal yang terlalu manis, baginya selai kacang itu sangat manis untuk takarannya.


"Terus bagaimana?"


"Ya kita ke sana," jawab Vin santai, meneguk habis susunya hingga tak bersisa. Abi diam, mengunyah roti pelan sambil menatap Vin tajam. "Kenapa?" tanya Vin bingung.


"Kemaren elu larang gue ke sana, sekarang kita justru mau ke sana, Vin?!"


"Hehe."


"Setan lu!"


Sarapan selesai. Mereka bersiap akan ke tempat yang tadi sudah dibicarakan. Distrik San Paz, adalah sebuah tempat khusus di mana segala bisnis gelap dan kotor bergerak bebas. Di sana halal bagi orang jika akan memakai narkoba, melakukan **** bebas, bahkan di sepanjang jalan akan ditemukan wanita PSK yang bersedia menjajakan tubuhnya. Dari berbagai etnis dan Ras. Membunuh orang di tempat umum pun kerap terjadi, bahkan tawuran antar gengster sudah merupakan hal lumrah di sana.


Ada sekitar 17 gengster di San Paz. Semua punya kedudukan dan wilayahnya sendiri-sendiri. Mereka punya aturan yang tidak dapat diganggu gugat. Jika ada anggota geng lain yang melanggar, maka akan terjadi pertumpahan darah di sana. Dan polisi tidak bisa masuk ke kawasan ini dengan bebas. gengster di sini sudah membayar pajak besar dan hal itu mereka mendapat hak untuk bergerak di wilayah itu. Tapi sebulan sekali polisi akan datang untuk memeriksa tempat itu, dan melaporkan segala kegiatan di dalam, tanpa akan adanya penangkapan tentunya.


Mereka sampai di gerbang San Paz, ada 2 orang penjaga di depan gerbang itu. Membawa senapan yang terus mereka genggam. Tempat ini di kelilingi tembok tinggi dan berduri di atasnya. Vin dengan percaya diri masuk, namun ia ditahan dua orang tadi. Ia diinterogasi beberapa pertanyaan sederhana, lalu saat ia menyebutkan ingin bertemu Diego, lantas dua orang itu mempersilakan mereka masuk.


Dengan dikawal satu penjaga, mereka mengikuti ke mana orang itu membawanya. Tempat ini ramai. Bahkan mirip pasar pada umumnya, banyak pedagang yang membuka ruko dan lapak di sepanjang jalan. Itu hanya sebuah kamuflase, karena perdagangan yang sesungguhnya justru ada di dalamnya.


Mereka melewati kaum gipsi yang sedang ada di wilayah mereka. Mereka menatap mereka berdua terutama pada Abimanyu. "Demigot!" jerit salah seorang wanita yang berpenampilan gotik dan khas kaum gipsi. Ia menunjuk Abimanyu dengan tatapan aneh, dan terus menyebutnya, "Demigot!"


Vin dan Abi menoleh sampai mereka tidak terlihat lagi, karena mereka sudah mulai ke belokan yang dekat dengan tempat tujuan mereka.


"Demigot apaan?" tanya Abimanyu yang penasaran. Ia berbisik pada Vin yang terlihat diam sejak tadi.


Vin menoleh, mendekatkan kepalanya, "Manusia setengah dewa."


'Hah? Gue?" tanya Abi menunjuk dirinya sendiri.


"Mungkin. Demigot itu istilah untuk manusia setengah dewa di latin sana. Yah, kali saja bokap lu turunan Zeus."


"Tapi kok mereka bisa bilang gitu sih?"


"Heh. Manusia pembasmi kejahatan! Elu **** apa kurang pinter sih? Belum pernah ketemu orang gipsi, ya?" tanya Vin meledek.


"Lah mana pernah ketemu. Gue kan orang dusun."


"Pantes! Tapi tau, kan, orang gipsi itu apa?"


"Iya tau lah. Pernah baca di internet."


"Nah, pinter. Jadi omongan itu bisa jadi bener, bisa jadi ngawur, tergantung bagaimana kita menyikapinya."


"Ah, bodo ah." Abi kembali tidak peduli hal itu. Terlebih saat mereka sampai di sebuah tempat, di mana penjaga tadi berhenti. Ia mempersilakan masuk. Lalu berteriak nama "Diego"


Seorang pria blasteran Indonesia Turki itu muncul. Ia memiliki jambang tipis khas pria tampan Turki pada umumnya. "Hai, Vin?" tanyanya menunjuk Vin yang terlihat garang, mereka bahkan sekilas mirip. Dari postur tubuh dan wajah. Abi baru menyadari kalau Vin adalah warga keturunan, sama seperti Diego. "Masuk," ajak Diego.


Tempat itu ramai. Penuh pria yang sedang berjudi. Di ruangan lain ada orang yang sedang menghisap sabu beramai-ramai. Dan ruangan lain ada adegan panas dari sepasang pria dan wanita. Mereka langsung memalingkan wajah dari sana, dan terus mengikuti Diego.


Sebuah tempat yang paling sepi dari tempat lain tentunya. Diego mengajak mereka masuk. Mengambil 3 botol bir dan meletakan di meja. "Jadi dia?" tunjuk Diego ke Abimanyu. Vin mengangguk, meraih botol bir itu dan meneguknya. "Jadi elu yang cari perempuan itu?" tanya Diego spontan. Abi mengangguk.


"Jujur saja gue nggak tau dia di mana. Tapi menurut gosip yang beredar, dia ada masalah sama geng Asia Boyz."

__ADS_1


"Asia Boyz?"


"Iya. Kalau mau cari mati, dengan datengin tempatnya, ada di ujung jalan sana," tunjuk Diego ke arah tempat gengster itu berada.


"Elu nggak bisa cari tau? Apa dia di sana atau nggak?" tanya Abi sedikit memohon.


"Sorry," Diego menggeleng, meneguk bir miliknya. "Minum,"kata Diego mendorong botol bir yang masih utuh ke Abi. "Sorry, gue nggak minum ginian."


"Wow. "


"...."


"Yakin nggak bisa cari informasi lain selain ini, Di?" tanya Vin mengulangi hal yang mereka sudah tau jawabannya. Tidak ada informasi lain lagi.


"Asal kalian tau, di sini bebas, tapi ketat. Urusan gengster lain, kami nggak boleh ikut campur. Kalau sampai itu terjadi, bakal perang deh. Habis tempat ini."


"Ya sudah. Biar gue cari sendiri ke sana," kata Abimanyu, beranjak dan mendapat tatapan tajam Vin. Vin mengejar Abi yang berjalan keluar. Sementara itu, Diego tengah menghubungi seseorang sambil menatap kepergian Abimanyu.


Vin mengejar Abi. Ia tidak boleh nekat di tempat seperti ini, kalau sampai itu terjadi, Vin bakal mati. Karena tau kalau Abi tidak akan mudah mati. Jadi sekarang, dia yang akan cepat mati jika sampai Abi nekat. Vin berteriak memanggil nama Abi, sampai-sampai ia menarik tangan Abi saat sampai dekat pintu paling ujung jalan ini. "Asia Boyz." Papan nama di atasnya menunjukkan kalau inilah tempat yang seharusnya mereka datangi.


"Jangan gila, lu! Gue bisa mati!" kata Vin berbisik.


"Kalau lu takut, gue aja yang masuk."


"Abi! Jangan nekat, please. Kita cari cara lain."


"Cara apa?"


"..."


"Gue masuk cuma mau tanya, mereka liat Ellea apa nggak? Simple!" Kembali Abi hendak berjalan, tapi lagi-lagi Vin menahannya.


"Nggak begitu caranya bloon!"


"Gue tau, lu khawatir sama Ellea. Tapi di sini nggak bisa cuma pakai otot, tapi pakai otak lu!"


"...."


"Kita cari cara lain. Karena kalau sampai mereka tau, elu cari Ellea, kita bakal habis, Bi. Mereka bakal cari kita dan nggak bakal biarkan kita bisa cari Ellea. Lu ngerti kagak maksud gue?"


"...."


Abi diam, terus berpikir dan menimbang segala kemungkinan baik maupun buruknya. Tangannya merogoh saku celana. Tanpa disadari, ia menemukan secarik kertas, Abi mengambil kertas itu yang sudah kusut. Matanya terbelalak, saat membaca isi kertas itu. "Astaga. Gue lupa!" pekiknya.


"Lupa apa?"


"Alamat Ellea," tunjuk Abi ke Vin. Vin mendengus sebal lalu meninju perut Abimanyu yang diikuti gelak tawa manusia penumpas kejahatan itu. "Setan lu!" umpat Vin sebal. Ia mengapit kepala Abimanyu dan membawanya pergi, sebelum pemuda yang tengah diapitnya berubah pikiran.


Mereka dalam perjalanan ke alamat yang tertera di kertas berwarna merah muda itu, dengan tulisan tangan indah yang diukir oleh Shanum. Sepanjang jalan Vin mengomel karena Abi yang sudah memiliki alamat tempat tinggal Ellea malah lupa akan hal itu. Mereka malah jauh-jauh mengantar nyawa ke distrik terkutuk itu. Vin memang seorang militer, tapi dia tetap akan mati jika masuk ke dalam sarang mafia seperti tadi. Apa lagi mereka tidak tau apa sebenarnya masalah yang terjadi antara Ellea dan Asia Boys. Nama Asia Boys memang tampak tidak seram sama sekali. Bahkan mirip boyband saja. Tapi dibalik itu, kelompok ini cukup berpengaruh di sana.


Distrik San Paz sendiri berkali-kali terjadi pertempuran antar geng, salah satunya Asia Boyz dan Wah Ching. Peristiwa itu cukup menggemparkan, karena memakan banyak korban tentunya. Bahkan beberapa pemuda yang sedang lewat di depan gerbang San Paz ikut terkena imbasnya. Tewas dengan tragis, berondongan peluru masuk ke dalam tubuh mereka, tapi polisi tidak bisa menghukum pelaku.


_______-


"Ini tempatnya?" tanya Abimanyu menunjuk bangunan tua mirip rumah susun kumuh yang ia temukan saat menghadapi kalla dulu. Vin mengangguk dan berfikiran hal yang sama. Gedung ini memiliki 5 lantai, tiap lantai ada 20 kamar. Tempat tinggal Ellea ada di lantai 4 kamar nomor 37. Menaiki lift dengan beberapa penghuni. Mereka diam dan mencoba bersikap biasa. Karena beberapa orang yang mereka temui bersikap aneh. Menatap Abi dan Vin dengan tatapan mencurigakan.


Sampai lantai 4. Abi dan Vin turun, tapi mereka masih naik 1 lantai lagi. Dengan begitu mereka sedikit lega. Waspada tentunya. Karena mereka tidak tau siapa kawan dan siapa lawan. Sampai di pintu dengan nomor 37, mereka diam sejenak. Vin segera mengetuk pintu itu beberapa kali tapi tidak ada sahutan. Abi memang bisa menebak hal itu. Setidaknya ia ingin tau di mana Ellea tinggal selama ini.


Vin memutar kenop pintu, terbuka. Keduanya saling melempar pandang, mirip pencuri yang berhasil membuka pintu rumah korbannya. Masuk dengan mengendap-endap. Namun yang di dapat hanya sebuah kamar, dengan ranjang dan kasur. Meja nakas dan koper yang berantakan di lantai. Isi nya sudah berhamburan keluar. Vin memeriksa sekitar, toilet bahkan balkon kamar. Tidak ada tanda-tanda ada manusia lain selain mereka.


Abi membereskan isi koper itu. Tidak ada hal mencurigakan lainnya. Tapi mereka menemukan sebuah Foto Ellea dengan seorang kakek yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. "Kakek Ellea?"

__ADS_1


"Setau gue bukan. Kakek Ellea kan udah meninggal."


"Siapa dia, ya?" tanya Vin penasaran. Ia serasa pernah melihat orang dalam foto ini. Wajahnya tampak familiar. Tapi Vin tidak ingat di mana pernah melihatnya. Vin meraih foto itu dan terus memperhatikan nya. Saat ia membalik foto ada 2 huruf di sana. A C ?


"Bi, kita cabut aja yuk."


"Elu saja sana."


"Bi ... katanya mau cari Ellea?"


"Gue mau tunggu dia di sini, siapa tau dia pulang, Vin."


"Astaga si ****. Nggak mungkin Ellea balik, Bi. Kita cari siapa orang difoto ini, bagaimana? Gue punya kenalan di kedutaan, siapa tau dia bisa bantu kita cari tau siapa dia. Mereka keliatan deket banget, kan? Gue yakin Ellea kenal kakek ini."


"...."


"Kalau lu di sini terus, buang waktu doang, Bi. Kita harus bergerak sekarang!"


"Oke. Tapi gue mau tulis pesan dulu, siapa tau Ellea balik ke sini. Biar dia hubungin gue."


"Serah elu."


Saat keluar kamar Ellea, tiba-tiba orang-orang yang tadi ada di dalam lift bersama mereka muncul. Membawa pemukul, pisau dan senjata tajam lainnya. Ada sekitar 10 orang di sini. Abi dan Vin diam, mencoba mengamati situasi terlebih dahulu. "Welcome to San Paz," gumam Vin memukul orang terdekatnya, dan pertempuran berlangsung riuh. Mereka saling baku hantam tanpa tau masalahnya. Vin dan Abi cukup cekatan dan patut diacungi jempol. Dalam 15 menit orang-orang itu sudah terkapar tak berdaya. "Who told you to?" bisik Vin pada salah satu orang suruhan itu. Mereka yang sudah kesulitan bergerak hanya menjawab, "Diego!"


_____________


"Apa maksud Diego ngirim orang-orang itu buat mukulin kita, Vin? Bukannya dia temen elu?" tanya Abi yang tidak mengerti. Orang yang baru beberapa jam lalu itu bersikap baik, justru kini menyuruh orang lain untuk mencelakai mereka berdua.


"Bukan mukulin. Tapi mereka ingin bunuh kita!"


"Gila!"


"Itulah kenapa gue larang lu nyamperin mafia itu. Bisa mati muda gue."


"Elu kenal di mana sih?" tanya Abi masih tidak mengerti kenapa mereka dikeroyok.


"Di Israel."


"Jauh amat?"


"Dia mafia yang ketangkep di sana, dan gue yang nangkep. Tapi dia adalah informan buat tim gue. Kami banyak nangkep musuh karena bantuannya."


"Dan sekarang dia mau nangkep kita?!"


"..."


"Damn it!"


"Eh tapi aneh nggak sih, Bi?"


"Apanya? Dia memang aneh. Jadi aneh apalagi?!"


"Dia salah satu orang yang bisa gue percaya dulu, tapi kenapa sekarang berubah. Pasti ada sesuatu!"


"Nggak peduli gue! Yang jelas, dia tau banyak tentang Ellea."


"...."


"Tapi dia pura-pura ****."


"Pasti dia disuruh seseorang."

__ADS_1


"...."


__ADS_2