
Kedua netra Ellea terganggu dengan sinar terang yang kini menyelimuti tubuhnya. Terasa hangat dan menyenangkan. Udara di sekitarnya terasa segar, namun lain. Sadar ia berada di tempat asing, akhirnya kini ia terpaksa membuka matanya. Dahi Ellea mengernyit, saat ia menemukan dirinya berada di sebuah taman bunga di tengah hutan. Semua tampak indah dan menyenangkan. "Jangan-jangan aku udah mati," gumamnya berbicara sendiri.
"Biyu ...."
"Allea ...."
"Vin ...."
"Om Gio ...."
Ia terus memanggil semua teman-temannya. Tapi kini ia sadar kalau dia sendirian. Dan satu lagi, ia bahkan tidak yakin sedang berada di mana sekarang. Semua terasa abu-abu. Ia bingung, tapi seolah mendapat firasat, Ellea segera pergi dari tempat itu. Langkahnya ia biarkan lepas begitu saja. Mengikuti ke mana firasat ini membawanya. Ia tersesat, tapi tidak merasa cemas dan khawatir. Kakinya yang telanjang tak merasa sakit saat menginjak kerikil di tanah. Tak merasa geli menghujam rumput basah dan lembab di bawahnya.
Langkahnya sampai di sebuah rumah kayu satu-satunya di tempat ini. Ellea mendekat seakan-akan merasakan hal yang dinamakan 'pulang'. Ia tak sungkan menarik gagang pintu dan membukanya secara perlahan. Ellea merasa tidak asing dengan tempat ini. Tetapi ia merasa lupa dan tak mengingat apa pun tentang tempat ini.
"Welcome home," sapa seorang wanita yang keluar dari rumah itu. Menyambutnya hangat. Ia berumur sekitar 40 tahunan dengan rambut blonde dan mata saphire. Tidak mirip sama sekali dengannya. Jadi sekalipun Ellea berpikir dia adalah salah satu orang dari masa lalunya, ia akan menepisnya jauh-jauh. Karena itu tidak mungkin. Wajah mereka bahkan tidak sama.
"Maaf anda siapa?" tanya Ellea ragu-ragu. Ia bahkan hendak mundur dan waspada untuk segera berlari sewaktu-waktu. Bagaimana juga dia adalah orang asing, dan siapa pun itu Ellea harus waspada.
"Ellea ... jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Masuklah dulu," ajak wanita itu sambil mengulurkan tangan ke arahnya. Ellea masih diam di tempat. Ia belum yakin atas ucapan wanita itu, tapi Ellea tetap menurut dan masuk ke rumah itu. Wanita itu berjalan menuju ke dalam, dan terus ke dapur di rumahnya. Ah, anggap saja ini rumahnya.
"Bagaimana? Kamu sudah bisa menggunakan kalung itu?" tanyanya sambil menunjuk benda yang melingkar di leher Ellea dengan dagunya. Ellea yang terkejut, segera menyentuh liontin yang kini sudah menghiasi leher jenjangnya. Ia sedikit terkejut karena seingatnya benda ini sudah rusak oleh Jefri kemarin. Tetapi ....
Wanita itu tertawa kecil. Ia merasa lucu dengan reaksi Ellea yang seperti orang bingung. "Jangan bingung, Ellea. Itu hanya sebuah benda, karena sumber utama kekuatanmu ada di dalam dirimu sendiri. Semua akan muncul di saat yang tepat."
"Tunggu! Bagaimana Anda tau? Anda siapa sebenarnya. Dan kenapa saya bisa melakukan 'itu'?" tanya Ellea yang memang ingin mengetahui alasan dibalik semua hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Ia tidak mengerti bahkan tidak tau ke mana ia harus bertanya. Ia benar-benar tersesat dan butuh seseorang yang lebih tau tentang hal ini. Bukan hanya dari sebuah buku saja.
Wanita itu duduk di kursi meja makan. Ia menuangkan air dari teko yang ada di hadapannya dan menyuguhkannya ke Ellea. Ellea menggenggam cawan itu sambil melongok isi di dalamnya. Ia ragu, karena air ini terlihat aneh.
"Minumlah dulu," suruh wanita itu. " Namaku Elisabeth, kau boleh memanggilku begitu."
__ADS_1
"...."
"Aku akan menceritakan kisah masa lalu antara aku, kau, dan liontin itu. Tapi kau harus meminum itu dulu, Bagaimana?"
"...."
"Tenang saja. Tidak beracun."
Perlahan Ellea mendekatkan cawan itu ke mulutnya. Menghirup aroma air ini yang segar, padahal mulutnya belum menempel pada bibir cawan. Tapi aroma segar sudah ia rasakan. Walau ragu tapi Ellea tetap meneguk air itu perlahan. Segar. Bahkan netranya membulat seolah semangatnya ikut tersalurkan lewat air ini. Elisabeth tersenyum.
"Jadi di mana saya sekarang?" tanya Ellea begitu ia meletakan lagi cawan itu di meja.
"Di dalam alam bawah sadarmu."
"Mimpi?"
"Yah, dan hanya di sini kita bisa berkomunikasi dengan mudah."
"Kau tau Ellea, kalau di dalam darahmu mengalir pendahulu yang sudah sejak dulu menjadi pembantu malaikat?"
"...." Ellea menggeleng pelan.
"Mereka ditunjuk langsung untuk membereskan beberapa hal di duniamu. Banyak rahasia alam yang tidak banyak orang tau. Dan mereka tidak bisa di lawan dengan kekuatan manusia biasa. Di situlah tugas dan peranmu dibutuhkan."
"Contohnya seperti Lycans kemarin?"
"Yah, mereka hanya sebagian kecil dari misteri alam, tentu kau tau, kan? Kalau sulit untuk mengalahkan Lycans? Coba bayangkan kalau kamu tidak ada. Apa mereka akan mudah di taklukan. Atau mungkin bisa mereka dibunuh, tapi pasti akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan memakan korban lebih banyak."
Dalam hatinya Ellea berpikir hal yang sama dan mengiyakan perkataan Elisabeth itu. Tapi ia masih enggan berkomentar banyak. Sekarang ia hanya ingin mendengarkan banyak hal.
__ADS_1
"Sebentar. Tadi anda bilang di dalam darah saya mengalir darah pendahulu? Maksudnya nenek moyang saya?"
"Yah, benar sekali. Tapi itu ada jauh sekali, beratus tahun lalu. Tiap 100 tahun sekali akan ada pengganti sebagai penerus, seperti kamu."
"Tapi kenapa harus saya? Apa karena liontin yang saya pakai itu?"
"Kamu yang dipilih. Dan untuk liontin, itu hanya sebagai simbol, karena sebenarnya tanpa liontin itu kamu tetap dapat menggunakan kekuatanmu. Perbanyaklah berlatih, karena masih banyak hal lain yang harus kamu urus nanti. "
"Maksudnya? Hal lain?" Elisabeth beranjak, mendekat ke Ellea, ia menutup kedua mata Ellea dengan telapak tangannya. Semua gelap. Dan saat ia membuka mata kembali, di depannya sudah ada Abimanyu yang sedang berusaha membangunkannya.
Ellea menatap sekitar. Semua berubah. Bukan lagi rumah Elisabeth tetapi kamarnya sendiri. Dan tentu Abimanyu, kekasihnya. "Kamu udah bangun, sayang? Yuk, sarapan dulu. Atau mau mandi dulu?" tanya Abi dengan tingkah aneh, tak seperti biasanya. Ellea sampai terkekeh melihat sikap Abi. "Kenapa ketawa?"
"Tumbenan kamu se-manis ini?"
"Nggak boleh? Kan ke calon istri. Masa nggak perhatian? Oh iya, kondisi kamu gimana? Masih lemes nggak? Atau ada yang sakit?"
"Enggak, Biyu. Aku udah nggak apa-apa. Semalem ... aku ketiduran, kah? Kok lupa, ya."
Abi hanya menatapnya nanar diiringi senyum tipis. "Iya, kamu kecapekan terus ketiduran di mobil. Tapi sekarnag udah nggak apa-apa, kan?"
"Nggak apa-apa dong. YA udah aku mau mandi dulu, baru sarapan. Eh, udah bikin sarapan belum?"
"Sudah, sayang. Spesial buat kamu pokoknya."
"Cih, memangnya kamu yang masak? Ah, paling Allea," cetusnya sambil menyibak selimut dan menatanya dengan lebih rapi lagi sebelum ia tinggalkan.
"Aku dong. Allea yang bantuin. Coba deh, pasti enak. Tapi kamu mandi dulu, ya."
"Iya, Biyu."
__ADS_1
Ellea memutuskan mandi lebih dulu. Shower membuat air dingin ini menyegarkan mengenai tubuhnya. Saat ia menyentuh leher, Ellea sontak terperanjat karena merasakan lehernya memakai sesuatu. Ia segera berjalan ke arah wastafel yang memang ada di dalam kamar mandi. Cermin di depannya membuat Ellea kebingungan karena kalung yang rusak kemarin, kini masih utuh dan ada di lehernya. "Jangan-jangan mimpi itu ...," gumamnya.