
Malam ini kami menginap di rumah dewa. Gio ,adi dan arya juga ikut kerumah dewa.
Karena apartment gio juga sudah hancur berantakan. Tapi sebelum pergi, dia juga sudah membawa semua senjata dan barang- barang nya. Dia ini kan salah satu orang yg dicari cari polisi. Jadi sedikit saja salah meninggalkan barang bukti keberadaan nya, jati dirinya akan terungkap.
Dewa memang tinggal seorang diri. Dia memutuskan membeli rumah dikota ini agar dia bisa dekat dengan rani.
Halaman rumahnya cukup rindang ,karena banyak pohon disana sini. Dan rumah dewa yg bergaya klasik, lebih mirip rumah panggung. Keseluruhan rumahnya terbuat dari kayu jati.
" kamar ada 5. Kamu bareng rani ya ,nay." kata dewa.
" rani mana?"
"Paling udah tidur. Tuh kamarnya." tunjuk dewa ke sebuah kamar paling depan.
"Ya udah,aku tidur dulu ya. Aku capek banget." kataku.
Saat aku akan berjalan ke kamar, wisnu menarik tangan ku sambil tersenyum.
" tidur yg nyenyak. Jangan lupa berdoa."
Cup
Dia mendaratkan ciuman dikeningku.
" ehem... " dewa berdehem sambil senyum senyum.
Arya langsung pergi,masuk ke salah satu kamar, adi garuk garuk kepala seperti bingung ataa sesuatu. Dan tak lama menyusul arya juga.
"Ya udah sana ,tidur." kata wisnu lagi.
Aku tersenyum dan berjalan masuk ke kamar,menyusul rani yg ternyata sudah pulas sekali tidur. Karena tempat tidur hanya 1 berukuran king size, aku pun langsung tidur disamping rani.
Kupeluk dia yg tidur membelakangiku.
Dan makin lama,mata ku pun makin berat.
\=\=\=\=\=\=
"Astaga!!" aku terbangun karena bermimpi buruk. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhku. Saat kulirik jam dinding di depanku, ternyata baru pukul 02.00 dini hari.
Rasa haus pun mulai mengusik kerongkonganku. Akhirnya aku putuskan pergi kedapur untuk meneguk segelas air.
Sampai di dapur, aku sedikit terkejut karena melihat arya sedang duduk disana. Walau dia duduk membelakangiku, dengan
Keadaan lampu temaram, tapi aku yakin kalau dia adalah arya.
Aku yg tadinya hendak mengambil air, agak ragu dan sempat mundur selangkah.
"Kenapa gak jadi ? Karena ada aku? " ucap arya tiba tiba."
Glek!
Aku menelan ludah,bingung harus menjawab apa.
"Mmm.. Aku mau ambil minum aja kok.." aku lalu berjalan menuju dispenser dan mengambil segelas air dan saat akan kuteguk.....
"Minum itu sambil duduk." kata arya datar.
Aku otomatis duduk dikursi depan arya. Tapi entah kenapa aku tidak berani melihat nya.
"Kenapa kamu? Mimpi buruk lagi?" tanya nya.
"Eum--- iya."
Aku melirik ke meja, melihatnya sedang minum kopi malam malam begini, pasti ada hal yg menganggu pikiran nya. Karena aku tau,ini bukan kebiasaan arya. Dia paling anti,minum kopi. Kecuali dia memang tidak bisa tidur ,atau sengaja tidak ingin tidur.
"Kamu ngopi? Tumben?" tanyaku ragu- ragu.
"Lagi pengen aja."
"Ohhh.."
Paling males kalau ngobrol sama arya dalam keadaan dia lagi banyak pikiran gini. Yg ada aku dijutekin terus.
" ya udah sana. Kamu balik lagi ke kamar. Tidur! " ucapnya dengan nada dingin.
" nanti deh. Gerah. Aku mau duduk di balkon situ bentar." sambil ku tunjuk balkon di samping dapur.
__ADS_1
Aku pun segera berdiri dan berjalan ke balkon disana.
Aku memang sering mengalami mimpi buruk. Dan aku akan sulit sekali kembali tidur.
"Nih--- diminum. " tiba tiba arya menyodorkan secangkir coklat hangat kepadaku.
Ku terima cangkir itu ," makasih."
Arya malah ikut duduk di depanku sambil meneguk kopi miliknya.
Semilir angin lumayan kencang malam ini.
Arya melirik padaku, lalu melepaskan sweeter yg dia pakai dan memberikan nya padaku.
"Pake nih. Dingin." kalimatnya makin lembut berbeda dengan yg tadi.
Akhirnya ku pakai saja sweeter arya dan ku gelung rambutku ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yg sedikit berantakan di kanan dan kiriku.
Arya menoleh lalu mengulum bibirnya, seperti ingin tersenyum tapi di tahan.
"Kenapa?"tanyaku sambil meliriknya tajam.
"Gak papa.." dia lalu berdiri," aku suka kalau rambut kamu di gelung gitu. Keliatan cantik" katanya sambil berbisik didekat telingaku. Lalu dia pergi masuk ke dalam meninggalkan ku yg terbengong- bengong sendirian.
"Nay..."
Belum juga kesadaranku pulih, aku kembali dikaget kan oleh seseorang dari belakangku.
"Wisnu?"
Aku pun berdiri menghadap nya.
"Kamu kok belum tidur?"tanyanya heran.
"Iya, tadi mimpi buruk. Trus aku,duduk bentar disini sambil minum coklat anget. Biar bisa tidur lagi" terangku sambil sesekali melihat ke belakang nya.
Di sana ada arya, dia berdiri mematung sambil membawa dua cangkir coklat hangat lagi.
Saat aku melihat cangkir ditanganku,ternyata punyaku sudah habis sedari tadi. Jadi mungkin arya sengaja membuatkan lagi untukku.
Tapi keburu wisnu datang.
"Hmm.. Iya deh. "
Arya mundur dan bersembunyi dibalik lemari makan, saat aku dan wisnu masuk kedalam.
Kuletakkan cangkir milikku di meja sambil melihat arya yg masih berdiri disana.
Dia hanya melemparkan senyum padaku lalu mengangguk sekali.
"Ayok--- nay" ajak wisnu lalu mengulurkan tangan nya padaku.
Kuraih tangan wisnu lalu kami berjalan kembali ke kamar masing- masing.
Maaf,arya.
\=\=\=\=\=\=\=
Terdengar suara berisik dari halaman depan.
Karena kamarku dan rani ada paling depan, maka suara berisik itu terdengar jelas.
Rani yg masih terlelap tidur sambil memeluk pinggangku juga mulai bergerak.
"Pagiii" sapaku.
"Pagi,nay... Hmm.... Aku tidur nyenyak banget semalem. Sampai aku gak sadar kamu udah disini." kata rani sambil mengucek ucek matanya.
"Iya,kamu mah tidur kaya kebo. Ada gempa juga gak bangun." gerutu sebal.
Dia malah cengengesan dan makin merapatkan pelukan nya padaku.
"Eh-- bangun,ran.. Malah tidur lagi." kataku sambil menepuk lengan nya agak keras.
"Hmm..iya-- iya. Kamu duluan gih. Aku masih mager."
"Mager? Masang pager?" tanyaku sambil bergurau.
__ADS_1
"Iya boleh deh,masang pager. Pager dihatimu. Biar gak kemana mana lagi,nay." dia malah berbalik meledekku.
"Huuuu-- dasar" kusingkap selimut yg menutupi tubuhku dan berjalan ke kamar mandi yg ada di kamar.
Kuputuskan mandi agar aku segar kembali. Dan rasa kantuk yg sebenarnya masih menggelayutiku juga segera pergi.
Selesai mandi, aku berganti baju milik rani. Karena pakaian ku masih ada dirumah dan sebagian di apartment wisnu.
Rani pun juga mandi.
" aku bikin teh anget dulu ya,raaaaaan.." teriakku.
"Yaaaaaa..."
Aku berjalan kedapur dan membuatkan dua cangkir teh hangat untukku dan rani.
Ku bawa ke teras depan,karena semua orang sedang ada disana sekarang.
Rani yg sudah duduk di sofa teras lalu tersenyum padaku dan kuberikan teh hangat miliknya.
"Nay-- kalian bertiga gimana sih?"tanyanya sambil melihat para pria yg sedang berlatih seperti biasa.
"Bertiga? Siapa?" aku pura pura tidak paham.
"Gak usah sok oneng deh ya. Ya kamu, wisnu sama arya." cecar rani sebal.
"Ya-- gak gimana gimana. Emang kenapa?"
" gak mungkin gak gimana gimana. Aku tau kamu ,nay. Aku kenal kamu udah lama banget. Aku tau apa yg kamu rasain sekarang. Aku cuma pengen denger dari mulut mu sendiri."
Kutarik nafas dalam- dalam dan ku cecap teh hangat milikku.
"Gak tau lah,ran. Aku bingung."
"Kamu beruntung,dicintai dua orang pria dalam waktu bersamaan."
"Beruntung? Apa nya yg beruntung? Ngaco deh."
"Ya seneng kan pasti ,nay. Ya walaupun, kamu galau sendiri akhirnya. Bingung sama yg mana. Iya-- kan?" tanya rani sambil menatapku tajam.
" aku gak tau aku harus gimana. Aku gak mau ada yg tersakiti. Tapi-- aku... Arrrghhh!! Tau ah! Males bahas!" aku sedikit berteriak frustasi.
Rani menggenggam tangan kiriku lalu memelukku dari samping.
" aku yakin, pilihan kamu itu pasti yg terbaik. Siapa pun itu? Atau apapun itu. Aku selalu disini buat kamu." kata rani lembut.
"Makasih ,ran."
Dan rani berhasil membuat sedikit melo drama pagi ini.
"Eh-eh-eh.. Lagi pada ngapain?pelukan gitu? Kayak teletubbies aja." gurau dewa lalu menyambar gelas di depan kami.
Dia minum seperti habis dari padang pasir.
Yg lain pun ikut dewa mendekat pada kami. Berbeda dengan arya, dia malah pergi kedalam tanpa menoleh sedikitpun pada kami.
"Kamu mau minum?" tanyaku ie wisnu.
"Iya.boleh ,nay. " kata wisnu sambil mengelap keringat di wajahnya dengan handuk kecil miliknya.
Aku berjalan ke dapur untuk mengambil kan minum untuk wisnu. Tapi,saat aku kedalam aku tidak bertemu arya. Mungkin dia di kamar nya.
" gue balik dulu ya. Kalau ada apa apa,atau kalian butuh bantuan, langsung aja kabarin gue. Gue siap bantu kapan pun" kata gio semangat.
"Emang kamu mau kemana?" tanyaku.
"Iya,apartment ancur kan tuh semalem?" timpal adi.
"Santai bro. Emang rumah singgah gue cuma satu. Banyak kali. Ya udah, gue cabut dulu ya. "
Gio pun pamit membawa serta semua senjata miliknya.
" kita balik ke kantor?" tanyaku ke wisnu.
"Iyalah. Reza juga gak ada di kantor kan. Kerjaan banyak ,sayang. " kata wisnu.
" ya sudah,saya pulang ganti baju ya ,pak. Trus langsung ke kantor." ucap adi.
__ADS_1
Wisnu pun juga pamit mandi dan bersiap kembali bekerja.
\=\=\=\=\=\=\=\=