
Deburan suara ombak selalu terdengar dari rumah ini. Lokasi rumah yang memang tak jauh dari bibir pantai, membuat telinga mereka terbiasa akan suara air laut. Jeritan beberapa orang terdengar riuh dari kamar Adi. Ia yang tidur lewat tengah malam, akhirnya terbangun paling belakangan. Melewatkan momen penghuni rumah lain yang sudah asyik bercengkrama di pantai.
Ia mengerjap, menguap, karena baru terjaga dari tidur panjang, membuat otaknya kekurangan oksigen. Duduk di tepi ranjang sambil melirik ke jendela yang tidak memiliki korden. Adi sengaja. Agar sinar matahari mampu masuk dengan bebas ke dalam kamarnya.
Di kaca dengan bentuk persegi panjang itu, ia melihat beberapa orang yang ia kenal sedang kejar-kejaran. Saling tertawa satu sama lain dengan ekspresi yang lepas. Masalah mereka kemarin, tentu cukup berat. Dan akhirnya tawa itu kembali terlihat sekarang. Adi tersenyum, lalu membuka kaca jendelanya, agar udara pagi yang hampir siang ini bisa mengisi ruangan pribadinya. Menggantikan udara yang sejak semalam ia hirup.
Terlintas kejadian semalam. Ia melirik ke hutan depan rumah di mana ia mendengar suara geraman itu. "Mungkin macan, ya. Atau beruang. Huh, nggak mungkin sih. Tapi ... Apa?" gumamnya berbicara sendiri. Berdiskusi dengan pikiran dan mencoba mencari tau hal yang mengganggu pikirannya sejak semalam. Dan salah satu alasan dia tidak bisa tidur cepat, hingga kini bangun sesiang ini.
Ia segera meraih handuk yang selalu ia sampirkan di luar jendela kamar. Kebiasaan rutin setelah bangun, adalah mandi tentunya. Rambutnya yang masih acak-acakan, khas orang bangun tidur, sama sekali tak ia hiraukan. Sampai di dapur, sudah ada Gio yang sedang sarapan sambil membaca koran pagi. "Juragan baru bangun," sindir Gio.
"Brisik!" sahut Adi langsung masuk ke kamar mandi.
"Di!"
"Paan?!" sahutnya ketus.
"Lu udah baca berita?"
"Lu ngejek? Udah tau gue baru bangun."
"Ada teror beruang di desa kita," kata Gio. Adi yang sedang mandi segera diam, sambil mengingat yang ia lihat semalam.
Ia segera menuntaskan acara mandinya segera. Masih bertelanjang dada, handuk ia sampirkan di leher, lalu duduk di kursi dekat Gio.
"Beruang? Yang bener? Sejak kapan di desa ini ada beruang? **** hutan aja udah nggak ada perasaan?" tanya Adi.
"Nih, lihat!" sahut Gio menyodorkan koran yang baru saja ia baca. Adi segera meraihnya dan membaca dengan seksama. Hingga dahinya berkerut. Wajahnya terlihat serius. Berbeda dengan Gio yang seolah menganggap berita itu hanya isapan jempol belaka.
"Aneh. Jangan-jangan beneran apa yang gue lihat semalam," gumam Adi.
"Lihat apa lu?"
"Eum, bukan lihat sih. Tapi denger!"
"Hah? Denger apa?" tanya Gio kali ini serius menanggapi.
Adi mendekatkan tubuhnya, melirik ke sekitar. "Semalem, gue liat sesuatu di luar. Cuma nggak jelas. Gue pikir salah satu orang yang mah celakain Abi, jadi gue cek ke luar. Dan lu tau nggak apa yang gue denger?"
"..." Gio menggeleng pelan. Menunggu kelanjutan cerita itu.
"Sesuatu atau seseorang menggeram. Like bear."
"What? Serius? Jadi maksud lu, berita ini beneran?"
"May be." Ia membuka tudung saji dan ada nasi goreng dalam wadah besar yang tinggal setengahnya saja. Adi mengambil piring dan segera sarapan. Hal ini jarang terjadi, ia sudah tau kalau sejak kedatangan Ellea dan Allea, rumah ini akan terasa hidup. Setidaknya dari segi sarapan. Mereka berdua tak perlu lagi membeli makanan atau sarapan di cafe seperti biasanya.
Masih dalam aksi sarapan bersama, Gio dan Adi dikejutkan dengan kedatangan para anak muda yang sejak pagi bermain di tepi pantai. Mereka masuk ke rumah dengan tergesa-gesa. Lalu suara tembakan terdengar dari luar.
Adi dan Gio otomatis beranjak dari duduk dan menatap bingung pada mereka. "Kenapa sih?"
"Mereka nyamperin kami, Om!" kata Vin yang masih ada di belakang pintu. Seolah berusaha menahan apa pun yang hendak menerobos masuk.
__ADS_1
Hal ini membuat dua orang yang terganggu sarapannya murka. Mereka mendekat, dan mengintip dari balik jendela yang kordennya sudah ditutup oleh para gadis. Ada beberapa mobil jeep di luar dengan orang-orang yang memakai senjata api. "Siapa mereka?" tanya Gio.
"Pasti orang-orang Austin!" sahut Abimanyu yang sedang berdiri di belakang Gio.
"Wah, mau main-main rupanya mereka?!" sahut Adi dengan tatapan sinis. Ia lantas berjalan ke sebuah lukisan gambar pemandangan dan menggesernya. Ada sebuah tombol di belakang lukisan itu. "ready for war?" tanyanya pada mereka semua.
Abimanyu dan Vin hanya menatapnya bingung. Namun saat tombol di tekan, dari luar halaman terdengar suara gemuruh. Hal itu menarik perhatian mereka semua. Terutama musuh di luar. Tanah terlihat bergetar. Membuat musuh diam dengan tatapan panik. Mungkin, kah, gempa bumi terjadi sekarang? Atau tsunami? Begitulah yang ada dipikiran mereka.
Tapi tanah di sekitar rumah ambles. Hanya tanah di beberapa titik saja. Tak lama keluar beberapa meriam mini secara otomatis. Mata para musuh melotot. "Watch out attack!" seru salah seorang dari mereka.
Tembakan brutal langsung menembus tubuh mereka. Darah muncrat dan mencabik daging ditubuh itu satu persatu. Akhirnya hanya dalam hitungan menit. Mereka semua ... Tewas.
"Wow! Keren!" puji Vin menatap dua orang tua itu kagum.
"Yah, kami memang se-keren itu," sahut Gio menaikan kerah bajunya. Sombong.
"Itu ... Apa, Paman?" tanya sang pemilik rumah kebingungan. Beberapa bulan meninggalkan rumah, membuat banyak perubahan di rumahnya dan cafenya.
"Pertahanan tentunya. Rumah ini sudah kami renovasi total. Kaca seluruh ruangan, diganti dengan kaca anti peluru. Tembok juga. Di luar ... Seperti yang kalian lihat. Itu langkah awal untuk perlindungan rumah ini. Kami trauma dengan hancurnya rumah ini seperti kemarin," jelas Adi sbil berjalan kembali ke meja makan. Meneruskan sarapannya yang sempat tertunda.
"Berapa total renovasi semua ini, Paman?" tanya Abi, mengikuti pamannya itu. Duduk di depan Adi yang melanjutkan menyantap nasi goreng miliknya.
"Lumayan. Cek aja rekening mu. Gue lupa totalnya berapa."
"Hah? Astaga! Tabunganku ...," rengek Abimanyu dengan wajah pucat karena rekeningnya sudah dikuras habis oleh mereka. Yah, Abi sengaja meninggalkan ATM miliknya agar dua orang yang tinggal di rumahnya mampu mengelola dan menyelesaikan renovasi rumahnya setelah dia pergi. Tapi, rupanya ia dimanfaatkan. Sakit, tapi tidak berdarah, Dude.
Gio sudah menelpon polisi dan menceritakan kejadian naas di depan rumahnya. Seluruh penduduk desa tau, bagaimana ekstremnya keluarga ini. Peluru dan bom bukan lagi hal baru bagi seluruh warga. Terutama yang sudah mengenal Abimanyu, Adi dan Gio tentunya. Bahkan mereka dianggap preman kampung. Tidak ada yang berani mengusik kampung ini. Karena kemampuan mereka bertiga sudah tersohor sampai ke desa tetangga.
"Kita harus ke rumah Faizal. Gue nelponin dia nggak bisa terus," kata Abi.
"Iya, aku juga khawatir. Takut dia kenapa-napa lagi, Biyu. Mereka aja bisa segitu nekat nya ke sini, gimana Faizal."
"Astaga. Kenapa aku udah mikir yang enggak-enggak soal Faizal, ya?" mata Allea berkaca-kaca, membayangkan segala kemungkinan terburuk.
"Memangnya dia tinggal di mana?" tanya Gio.
"Zargun. Katanya 2 jam dari sini, kalau kita naik mobil."
"Zargun? Sebentar," kata Gio seolah mengingat sesuatu. Ia mengambil koran pagi dan membuka beberapa halaman yang sudah ia baca tadi.
"Teror perampokan di Zargun, menewaskan satu anggota keluarga. Anehnya tidak ada barang berharga yang dicuri," kata Gio membaca berita lain pagi ini. Ia menatap 4 orang di depannya nanar.
"Ya ampun, jangan-jangan ...." Ellea tak mampu meneruskan kalimatnya.
"Kita harus pergi sekarang, Vin!" rengek Allea sambil menarik tangan Vin yang wajahnya sudah pucat. Semua pikiran hanya tertuju pada 1 kenyataan. Faizal adalah korbannya.
"Jangan-jangan mereka sudah dapetin flash disk itu!" kata Vin menebak.
Abi hanya diam, sambil mengelus liontin di kalungnya. Ia menarik tipis bibirnya dengan nafas berat.
_____
__ADS_1
Mereka berangkat ke Zargun. Sebuah kota kecil yang ada di kaki gunung, masih satu provinsi dengan Amethys. Cafe di pasrah kan pada Maya, selalu managernya. Maya adalah satu-satunya orang yang bisa mereka percaya untuk mengelola cafe saat para pria itu sedang menjalankan misi menyelamatkan dunia.
Sepanjang perjalanan, mereka diam. Jarang ada interaksi obrolan yang berarti. Hanya pertanyaan singkat tentang lamanya perjalanan, dan keadaan di daerah itu. Dua mobil membawa mereka ke tempat Faizal. Walau harapan tipis, tapi mereka tetap harus melihat dengan mata kepala sendiri ke sana. Setitik harapan terbesit di benak mereka, semoga berita di koran bukanlah keluarga Faizal. Jika benar mereka, maka Vin adalah orang pertama yang paling merasa bersalah. Karena dialah yang menarik Faizal pertama kali untuk kasus ini. Ia sangat frustasi sekarang.
"Jangan berfikir macam-macam dulu, ya," bujuk Allea sambil menggenggam bahu Vin yang duduk di depan, bersama Gio. Mobil dibagi rata, setiap mobil ada 3 penumpang. Mobil Gio ada Allea dan Vin tentunya. Dan Mobil Adi, ada Abimanyu dan Ellea.
Mereka memasuki gapura kota. Bertanya pada penduduk alamat yanh sudah Vin tau sebelumnya. Faizal memang sudah memberikan alamatnya pada Vin saat mereka berpisah di bandara.
Mereka mulai memasuki daerah pedesaan sesuai petunjuk penduduk. Tinggal lurus saja, maka alamat yang mereka cari sudah terlihat. Karena rumah Faizal memang ada di paling ujung desa.
Jalanan aspal sudah berganti jalan berbatu kerikil. Rumah penduduk sudah makin jarang terlihat. Seorang ibu-ibu terlihat berjalan sambil menggendong tumpukan ranting, Gio berhenti dan menanyakan kembali rumah Faizal.
"Oh, nyari Faizal? Rumahnya ada di ujung. Tinggal rumah dia saja di sana. Tapi ...," kata Ibu itu ragu, menatap mereka yang ada di mobil cemas.
"Tapi apa, Bu?"
"Semalam rumah mereka dirampok, semua orang di bunuh. Kalau mau ketemu, ke Rumah Sakit saja. Karena rumahnya kosong. Hampir hangus semua karena dibakar pencurinya."
Tubuh mereka lemas. Menatap jalan yang ditunjuk ibu tadi. "Terima kasih, Bu." Gio kembali menjalankan mobilnya, menuju rumah Faizal. Mereka juga harus mencari flash disk itu tentunya.
Bau asap khas bekas kebakaran tercium di ujung hidung mereka. Jendela memang sengaja dibuka. Kini sebuah rumah setengah hangus terlihat jelas di depan mata mereka. Mobil parkir. Penumpang semua turun. Berjalan gontai mendekati tempat yang sudah di beri garis polisi di sekitarnya.
Vin langsung menjatuhkan lututnya di atas rerumputan yang masih terasa lembab di bawahnya. Ia menangis. Bahkan meraung. Memanggil nama Faizal dan meminta maaf atas semua hal yang menimpa sahabatnya itu.
"Harusnya gue nggak bawa-bawa elu, Zal," gumamnya terus. Allea mendekat mengelus punggung pemuda itu, tanpa sepatah kata pun terucap. Ia tau, Vin butuh melepas emosi dan rasa bersalahnya. Wajar jika reaksinya seperti ini.
Gio mendekat dan melewati garis polisi. "Heh?! Ngapain lu?" jerit Adi sbil tengak tengok, takut ketahuan polisi yang mungkin masih ada di sekitar sini.
"Nyari flash disk itu lah. Ngapain lagi coba?" tanya balik Gio pada Adi yang juga menyusulnya masuk ke dalam garis polisi itu. Abimanyu kembali mengelus liontin di lehernya. Saat ia hendak memanggil dua pamannya itu, ia mendengar suara ranting pohon yang terinjak seseorang. Ia melirik ke sumber suara. Ada bayangan yang sedang mengintip, dan tak jauh dari pohon itu iaelihat sosok Faizal dengan kondisi mengenaskan. Ia menunjuk ke pohon yang Abimanyu curigai. Memberi tau kan kalau ada seseorang di sana, tengah memperhatikan mereka.
Abimanyu menggigil bibir bawahnya saat melihat Faizal ada diantara mereka. Mulutnya mengucap sebuah kalimat yang hanya bisa ia dengar seorang diri. "Kami minta maaf."
Faizal hanya tersenyum sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Ia menggeleng sambil tersenyum. Tak lama bayangannya menguar dan hilang.
"Vin, ayok kita cari flash disk itu!" ajak Abi mengulurkan tangannya pada Vin yang masih jongkok di bawah, ditemani Allea.
Vin tidak bereaksi. Hingga saat Abi memanggilnya lagi sembari melirik ke arah yang lain, Vin sadar maksud dari Abi barusan. "Ayok!"
Mereka semua masuk ke dalam rumah Faizal dan mencari apa yang menjadi tujuan mereka datang ke sini. Abi berbisik kepada mereka satu persatu. "Ada yang mengintai."
Mereka mengerti.
"Hah! Nggak ada flash disk itu! Gimana dong ini?!" tanya Ellea dengan ekspresi panik. Aktingnya bagus juga. Karena ia tau, kalau Faizal sudah meng- copy isi flash disk itu ke kartu memori lain, dan sudah akan sekarang.
"Ya udah, balik aja, yuk," ajak Allea.
Mereka bergegas masuk kembali ke mobil. Berbahaya sekali jika tiba-tiba mereka di serang seperti pagi tadi. Tidak ada persiapan sama sekali. Mereka mang membawa beberapa senjata api, tapi itu tidak cukup untuk menghadapi mereka.
Mereka tak langsung pulang. Menuju rumah sakit di mana jenazah Faizal dan keluarganya sedang di otopsi. Pihak keluarga yang lain meminta polisi mengusut kasus kematian keluarga Faizal lebih dalam lagi. Karena ini adalah hal aneh. Pencurian tapi tidak ada barang berharga yang hilang. Emas ibu Faizal saja masih ditemukan di lemari kamar beliau. Tapi kenapa rumah itu mereka bakar.
Abimanyu dan kawan-kawan tentu tau, ini ulah Austin. Dia mengejar sampai ke sini. Dan mereka harus memberi pelajaran pada gangster itu. Harus.
__ADS_1