pancasona

pancasona
Parr 71 kantor Elang


__ADS_3

[Kalla sudah bergerak lebih cepat. Bahkan aku sudah tidak memiliki karyawan di sini. Kantorku penuh bangkai.] Sebuah pesan, Elang kirimkan ke ponsel Abimanyu.


Dasi sudah Elang lepaskan dari lehernya. Kemeja ia berikan ke Lian yang sekarang sudah bersembunyi di ruangan Elang. Semua samurai sudah ada di tangan Adi dan Elang. Ruangan Elang memiliki sebuah lemari rahasia yang berisi beberapa senjata tajam.


Langkah mereka pelan, mendekat ke pintu pantry di sudut koridor lantai teratas gedung ini. Elang menaikan alisnya ke atas, mengisyaratkan Adi bersiap. Tapi tiba-tiba Elang menahan Adi yang hendak masuk. Adi bingung. Melihat Elang meletakan samurai di dekat pintu.


"Aku masuk dulu, kau serang saat dia lengah," bisik Elang. Adi mengangguk, bersembunyi di samping pintu.


Elang masuk, sambil berdeham. Toni yang dimaksud Lian tengah mengepel pantry. Elang berusaha terlihat santai agar tidak mencurigakan. Ia mengambil gelas dan mulai meracik kopi.


"Maaf, Pak Elang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Toni. Elang menoleh menatap tajam Toni yang masih memegang gagang kain pel.


"Oh, tidak perlu. Saya biasa membuat kopi sendiri," jawab Elang sambil tersenyum. Ia mulai mengendus bau anyir yang memang dimiliki Kalla ada di tubuh Toni. Elang menarik nafas panjang, menoleh ke pria yang memakai seragam berwarna orange,khas OB kantor ini. Toni sadar kalau keberadaannya sudah tercium sang pemilik gedung ini. Mereka berdua saling tatap, diam. Tanpa aba-aba apa pun Toni mengangkat gagang pel itu dan menyerang Elang secara brutal.


Adi masuk tanpa diduga, lalu menebas kepala Toni hingga menggelinding ke lantai. Cairan kental berwarna hitam mulai membanjiri lantai. Elang mengambil pematik dan membakar tubuh Toni yang sudah berubah menjadi Kalla.


Alarm kebakaran berbunyi. Adi dan Elang segera keluar, dan menjemput Lian yang masih bersembunyi di ruangannya. "Ayo kita pergi!" ajak Elang menarik tangan Lian yang masih ketakutan. Mereka bergegas keluar menuju lift. Tapi saat pintu lift terbuka, Kalla lain sudah bersiap menghadang mereka. Kematian jelmaan Toni akan membuatAdi menendang Kalla yang hendak keluar dari lift. Hingga mereka tersungkur, dan pintu lift kembali tertutup.


"Bagaimana ini?  Mereka ada di mana-mana!" rengek Lian. Ia terus memegang tangan Adi. Sementara Adi menatap Elang sebagai permohonan agar segera dilepaskan dari situasi aneh ini.


"Bagaimana kalau lewat tangga darurat saja?" tanya Adi karena melihat Elang hanya diam saja.


"Kau mau bunuh diri atau apa? Sudah jelas mereka menunggu kita di tangga dan lift! " bentak Elang, frustasi. Jumlah mereka dibanding musuh sangat tidak imbang. Logika mengatakan jika mereka berdua nekat melawan, sama saja dengan bunuh diri.


"Jadi?"


Elang menoleh ke jendela. Ia sesaat mendapat sebuah ide gila. "Ke ruanganku!" suruhnya sambil berlari kecil, diikuti mereka berdua.


Ruangan Elang memang cukup luas. Jendela sampingnya seluruhnya terbuat dari kaca tebal. Bahkan ia mendekorasi ruangannya dengan pelindung anti peluru. Otomatis kaca di samping sangat kokoh. Ada sebuah balkon kecil tempatnya melepas penat karena tumpukan pekerjaan.


"Lian, ambil tali di lemari paling bawah kamar saya! Cepat!" jerit Elang.


Sang Ceo lantas membuka pintu balkon. Angin berhembus cukup kencang karena mereka berada diketinggian yang cukup membuat jantung berdegup kencang. Di tempat mereka berdiri kini, cukup membuat rambut Elang yang sudah dilapisi pomade sedikit goyah. Sementara anak rambut Adi bergerak bebas.


"Lang, jangan bilang kita akan turun lewat sini," tukas Adi, melihat ke bawah dengan tatapan ngeri.


"Kalau kau bisa terbang, silakan saja, Di." Elang menoleh ke dalam, menunggu kedatangan Lian.


Dengan tergopoh-gopoh Lian muncul, ditangannya ada segulung tali yang terlihat cukup berat. "Ini, Pak."


"Lang ... Kau yakin tali ini akan sampai di lantai dasar? Kau lupa kalau kita ada di lantai berapa, hah?"


Elang tidak memghiraukan kata-kata Adi. Ia mengikat satu ujung tali ke pilar besi yang menjadi pagar balkon ini. Tali itu ia jatuhkan ke bawah.


"Ah, Sial! Tidak terlalu panjang," jerit Elang, frustasi. Ia menjambak rambutnya sendiri sambil mondar-mandir di balkon.


Lian menatap ke bawah, melihat sejauh mana tali ini terjulur. Ia nampak berfikir sebentar sebelum akhirnya menarik ujung kemeja Elang.


"Pak, coba lihat!"


"Apa sih?"


"Itu," tunjuk Lian, ke arah tali yang menjuntai bebas di bawah mereka. "Kita bisa turun sampai tali itu habis. Lalu masuk ke dalam, atau mungkin kalau bapak mau, kita bisa berjalan di pinggir gedung. Masih ada sisa tembok di sana, sepertinya muat untuk kita pijak."


"Dia benar, Lang. Sebaiknya kita bergerak cepat." Adi menoleh berkali-kali ke arah pintu ruangan ceo. Berkali- kali pintu itu di dobrak dari luar. Suara ketukan palu dan besi membuat otak mereka tidak bisa berfikir lebih lama lagi.


"Ya sudah, kau duluan, Li."


Tanpa disangka Lian segera mengikuti instruksi Elang. Tak membantah atau bahkan cemas dan menunjukan rasa takut. Sepatu heels ia lepas dan dibuang asal. Rok pendek ia naikan sedikit ke atas agar dapat melompati balkon. Adi dan Elang segera menoleh ke arah lain.


Lian mulai turun berpegangan erat pada tali itu. Kedua kakinya menapak kompak ke tembok di depannya. Mulai berjalan seperti agen FBI di film-film yang ia tonton selama ini. Turun perlahan bagai orang berjalan di tembok.


"Waw," seru Adi menatap kagum pada gadis itu.


"Giliranmu selanjutnya," cetus Elang.


Adi menelan ludah sambil menatap rekannya dengan iba. Elang merasa diperhatikan seperti itu lalu melirik Adi, tajam. "Mau turun sendiri atau kudorong?"


"Kau tidak berperikemanusiaan, Lang." Adi mulai turun. Sementara pintu ruangan Elang terus didobrak paksa. Elang masih santai karena ia sengaja membuat ruangannya spesial.  Pintu dan temboknya yang sulit ditembus membuatnya jauh lebih aman saat di kantor. Walau hal ini tidak akan bertahan lama. Maka dari itu, sebelum pintu itu roboh sepenuhnya, mereka harus segera turun ke bawah. Apa pun caranya.


Dengan menahan segala rasa takut. Adi turun. Matanya terpejam. Tak mau melihat ke bawah dengan pemandangan yang cukup mengerikan. Ia agak takut ketinggian.


Engsel pintu mulai lepas. Di saat bersamaan Elang segera turun ke bawah menyusul Adi dan Lian. Elang cukup cekatan untuk hal seperti ini. Saat SMU Elang adalah ketua MAPALA di sekolahnya. Bahkan setelah kuliah ia masih sering ikut kegiatan pecinta alam.


Lantai 20. Tali hanya bisa sampai di lantai 20 saja. Lian sudah lebih dulu masuk ke sebuah ruangan di sana. Sepi. Seluruh penghuninya tidak nampak batang hidungnya.


"Bagaimana?" tanya Elang saat sudah masuk ke dalam.

__ADS_1


"Ruangan ini tidak ada orang, Pak. Sepertinya mereka ada di lantai atas, atau sedang berpencar mencari kita?" sahut Lian dengan pertanyaan yang sebenarnya membuat dirinya sendiri ketakutan.


"Kita harus segera keluar dari sini. Cari senjata apa pun yang bisa digunakan," suruh Elang, mengedarkan pandangan ke sekitar.


Mencari senjata di lingkungan perkantoran bukanlah hal mudah. Yang mereka dapat hanyalah tumpukan buku, komputer, dan sejenisnya.


"Saya dapat, Pak, " seru Lian dengan busur panah di tangannya. Adi dan Elang menoleh, mereka kembali tertegun melihat Lian.


"Memangnya kau bisa memakai benda itu?" tanya Elang.


"Tentu saja. Sejak kecil ayah sudah mengajari saya dan kakak saya teknik memanah. Jadi bagian mana yang harus saya tembakan pada tubuh makhluk itu?" tanya Lian, lantang.


"Kakak?"


"Iya, saya punya kakak perempuan. Setelah menikah dia tinggal bersama suaminya."


"Ya sudah. Ayo cepat kita bergerak. Lian jangan jauh-jauh dari kami," suruh Adi. Mereka keluar dengan cara mengendap-endap. Koridor lantai ini terasa sunyi. Bahkan sangat sunyi.


"Aneh."


"Apanya?"


"Terlalu sunyi. Ini aneh," ujar Elang dengan terus fokus pada sekitar. Beberapa ruangan memang tidak menampakan tanda-tanda adanya kehidupan. Bahkan perusahaan ini yang seharusnya memiliki karyawan ratusan, tidak terlihat satu pun batang hidungnya.


"Kita ke mana?"


Elang dan Adi nampak berfikir keras dengan pertanyaan Lian.


"Kalau kita naik lift untuk turun, pasti mereka sudah menunggu kita di lobi bawah. Aku takut, kita tidak mampu bertahan. Mengingat kita tidak tau seberapa banyak jumlah mereka," tutur Elang.


"Bagaimana dengan tangga darurat?"


"Sepertinya sama saja."


"Apakah hanya dua jalan saja untuk kita keluar dari tempat ini?" Adi mulai kesal.


"Pak, saya punya ide."


"Apa itu?"


"Apa? Tempat pembuangan sampah?"


"Betul, Pak. Setiap lantai memiliki lorong tersendiri untuk membuang sampah. Semua ada di pantry."


Setiap lantai memiliki pantry sendiri-sendiri. Dan hal itu yang membuat gedung ini dilengkapi lorong untuk membuang sampah.


"Benar, kah? Bagaimana kau tau?" tanya Elang pada Lian. Lian memang jauh lebih mengerti seluk beluk gedung kantor mereka. Karena Lian yang memilih gedung ini untuk perusahaan Elang. Lian sudah sejak awal bekerja dengan Elang, bahkan sebelum mereka menempati gedung ini.


Arsitektur gedung ini memang cukup rumit. Karena pemilik awal adalah warga negara Eropa. Ia bahkan membuat basement di bawah tanah, yang seharusnya dipakai sebagai lahan parkir. Tapi baik Elang dan karyawan lain tidak tau kalau ada basement di bawah gedung ini. Karena lahan parkir di sekitar gedung masih cukup luas untuk meletakan kendaraan pribadi mereka.


"Bapak lupa kalau saya yang mencarikan gedung ini?"


"Benar juga."


"Kalau begitu cepat kita ke pantry," pinta Adi.


Letak pantry ada di koridor paling ujung. Netra mereka terus liar, memperhatikan tiap sudut dan ruangan yang mereka lewati.


Namun tiba-tiba, sekelompok makhluk hitam menghadang mereka. Bau anyir segera tercium setelahnya.


"Sial!"


Tak hanya sampai di situ. Saat mereka mundur, rupanya di belakang mereka juga ada kelompok lain dengan wujue yang sama.


"Kita terjebak."


"Lian, jika ada kesempatan kau menerobos mereka, segeralah kau pergi ke pantry. "


"Sebenarnya mereka makhluk apa?" tanya Lian tanpa ada jawaban dari permintaan Elang tadi.


"Kalau kita bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, akan kuceritakan semuanya. Ini sebuah kisah yang panjang, " sahut Adi.


"Di, kau bagian depan, aku belakang." Elang mengangkat pedang yang sejak tadi ia bawa, membalikan badan dan segera menebas tiap kepala yang ada di belakang mereka. Adi menjadi garda depan untuk membuka jalan Lian. Tapi Lian tidak diam saja dan mengekor pada Adi. Ia mulai memanah leher Kalla. Tepat di leher mereka satu persatu.


Adi sempat dibuat terpukau, namun tetap fokus pada perkelahiannya sendiri.


Braak!

__ADS_1


Pintu sebuah ruangan tiba-tiba terbuka, membuat Lian yang sedang melewatinya terpental jatuh. Di sana muncul Kalla lain.


Adi ikut tersungkur hingga pedang yang ia pegang terlepas dari genggamannya. Adi dan Lian duduk berdekatan di lantai. Tatapan para Kalla terlihat sangat mengintimidasi mereka. Adi segera mengambil lagi pedang yang jatuh tak jauh darinya. Ia menghunus, merobek dan memenggal kepala Kalla tanpa belas kasihan. Lian yang baru melihat hal seperti ini agak shock di awal. Tapi perlahan ia mulai mengerti dan ikut membantu Adi.


Rupanya ilmu bela diri Lian patut diacungi jempol. Beberapa kali Lian membuat kalla kesakitan dan sisanya tugas Adi menebas kepala mereka. Pematik kembali dinyalakan Elang. Ia membakar sebagian dari Kalla di belakang mereka. Melihat Kalla terbakar membuat rasa puas tersendiri di hati mereka.


Walau beberapa luka tergores mengenai bagian tubuh Elang, Adi dan Lian, tapi mereka seolah tidak merasakannya. Ini bukan saatnya untuk menyerah.


"Lian! Cepat!" jerit Adi, menyuruhnya segera pergi ke pantry.


Lian yang melihat kesempatan baik ini segera berlari, walau dengan beberapa kali menendang, memukul dan melepaskan anak panahnya yang tinggal sedikit.


Lian sampai pantry. Ia masuk dan segera menuju sebuah pintu besi yang ada di samping wastafel. Ia membukanya dengan sekuat tenaga. Hingga kini terpampang jelas sebuah lorong gelap yang panjang dari atas ke bawah. Tidak ada penerangan sama sekali. Dan berbau busuk dan pengap.


"Oh. Sial! Kenapa aku harus pergi ke sana? Lain kali aku harus berhati-hati dalam berucap," gumam Lian mulai masuk ke dalam lubang itu.


Ia teringat obrolan singkatnya dengan Leni saat dipantry dua hari lalu.


"Kalau sampai Andy mengajakmu berkencan, aku pasti akan masuk ke lubang pembuangan sampah ini," kata Lian kala itu dengan menunjuk pintu yang sama, yang tepatnya berada di lantai atas. Leni yang saat itu masih manusia sedang menyukai Andy, karyawan HRD di perusahaan ini juga. Entahlah apa yang terjadi pada Leni dan Andy sekarang.


Dan makluk itu ... Benar-benar membuat Lian takut.


"Lian, cepat masuk." Adi sudah berhasil masuk ke pantry. Tak lama Elang menyusul. Kobaran api di luar terlihat jelas di tempat Lian duduk sekarang. Asap mulai mengepul. Alarm kebakaran sepertinya sudah tidak berfungsi lagi. Lian segera turun menembus lorong gelap itu. Ia meluncur cepat dengan teriakan yang hanya ia sendiri saja yang dengar. Bagai bermain roller coaster, ia terus meluncur ke bawah. Sampai di ujung lorong, ia terjerembab dalam tong besar dengan beberapa kantung kresek di dalamnya. Beruntung sampah belum diambil hari ini. Jika tidak badan Lian akan remuk mengantam tong besi yang cukup keras ini.


Lian batuk-batuk. Ia beranjak dan menatap sekitar yang cukup gelap. Tapi beberapa lampu membuat tempat ini tidak terlihat menyeramkan. Walau cahaya redup dan samar. Setidaknya Lian bisa melihat tangannya sendiri.


"Liaan! I coming. Get away from there!" Suara Adi menggema dan membuat Lian segera keluar dari tong sampah raksasa itu.


Suara berdebum terdengar tak lama. Adi langsung batuk-batuk karena debu yang cukup tebal di lorong tadi dan bau yang cukup menyengat di tong sampah ini. Adi segera bangkit karena sebentar lagi rekannya akan menyusul.


Benar saja. Elang datang tanpa ekspresi. Ia terlihat santai tanpa suara heboh seperti dua orang sebelumnya. Mereka mencari jalan keluar dengan berbekal cahaya terang dari arah selatan.


[Kalian di mana?] Pesan Abimanyu membuat langkah Elang terhenti. Ia sempatkan membalas dan kembali berlari menyusul Adi dan Lian.


"Berhenti!" bisik Lian yang berhenti mendadak, membuat Adi menabraknya. Mereka melihat ke jalan utama yang dipenuhi beberapa orang di sana.


"Mereka manusia atau...?" tanya Lian tak berani meneruskan kalimatnya, karena ia tidak yakin untuk menyebut nama makhluk tadi.


"Kalla!"


"Tamat sudah kita. Ke mana lagi kita akan pergi?!" kata Adi dengan sedikit pesimis.


"Tunggu! Kalian dengar?" tanya Elang menajamkan pendengarannya.


"Suara mesin mobil? Benar, kan?" tanya Lian mencoba memastikan apa yang ia dengar.


Disaat bersamaan tembakan beruntun membuat para manusia jadi-jadian itu menggelepar ke tanah dan terbakar otomatis. Tawa seseorang membuat senyum Elang mengembang.


"Gio!"


Sebuah mobil jeep hitam masuk dengan tiga orang penumpang di sana. Abimanyu, Gio dan Vin.


Elang sempat terpukau karena tembakan itu mampu membuat Kalla segera terbakar setelahnya. Mobil berhenti di depan mereka. Dan mereka segera naik. Pergi.


____


"Whoohoo!" jerit Gio antusias.


"Kita berhasil!" sahut Vin.


"Kalian tidak apa-apa, kan? Paman?"


"Yah, untung kalian datang. "


"Apa yang kalian pakai sebagai amunisi?" Elang segera bertanya tanpa terbelit-belit.


"Kita punya senjata, Lang. Lihat!" Gio menunjukan amunisi yang ia pakai tadi.


"Batu saphire? Benar, kah?"


"Lang, ayahku sudah membuat ini sejak puluhan tahun lalu. Dan kini saatnya kita pakai. Karena pertempuran kita kali ini tidak main-main,", jelas Vin.


Perjalanan ke pulau saphire hanya diisi dengan saling diam membisu. Semua lelah karena keadaan. Tapi selalu ada harapan baru setiap harinya.


"Bos, sepertinya kita harus memcari gedung baru dan karyawan baru."


"Huft, kau benar, Li. Brengsek. Hidupku berantakan karena mereka! Dan sekarang kantorku juga sama!"

__ADS_1


__ADS_2