
Habibi dan Haga menelusuri hutan belantara di wilayah Kalimantan. Menurut penglihatan Habibi, itulah jalan yang harus mereka tempuh saat ini. Sebuah tempat yang jarang terjamah manusia. Bahkan belum sama sekali didatangi manusia. Tempat itu cukup berbahaya karena di jaga oleh ratusan setan yang menjadi pengikut Amon.
Dengan menaiki mobil jeep, mereka masuk ke dalam jalanan berbatu yang bahkan belum ada jalur kendaraan sama sekali. Haga yang memegang kendali kemudi. Sementara Habibi yang berada di sampingnya, menjadi pemandu perjalanan mereka saat ini.
"Lo yakin, ini tempatnya?" tanya Haga berulang kali, bahkan pertanyaan ini sudah dilontarkan sejak mereka tiba di Bandara tadi pagi.
"Iya, yakin banget. Cuma ...." Habibi tidak meneruskan kalimatnya. Tangannya terus meraba dada, dengan ekspresi wajah yang tidak nyaman.
"Cuma apa? Belum yakin atau sudah yakin sih?" tanya Haga agak kesal. Apa yang sudah mereka lalui memang tidak mudah. Tenaga mereka sudah terkuras sejak kejadian penculikan Amanda dan juga Hasha. Habibi berpikir jika semua sudah usai, tapi ternyata mereka masih harus berjuang lagi, demi mendapatkan ruh Amanda yang telah dibawa oleh Amon.
Di sisi lain, tubuh Amanda tergeletak di sebuah rumah sakit dengan berbagai alat bantu pernafasan. Dokter mengindikasikan Amanda dalam kondisi vegetatif. Kondisi vegetatif adalah gangguan fungsi otak kronis. Dalam kondisi ini, serebrum atau bagian otak yang mengendalikan perilaku dan pikiran tidak lagi berfungsi secara normal, namun hipotalamus dan batang otak, yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi vital masih bisa berfungsi dengan baik.
Orang-orang yang dalam kondisi terjaga dan tidur vegetatif tetapi tidak menunjukkan kesadaran terhadap sekitarnya. Mereka masih dapat membuka mata mereka, membuat suara, atau bergerak. Kondisi vegetatif juga gangguan fungsi otak kronis. Dalam kondisi ini, serebrum atau bagian otak yang mengendalikan perilaku dan pikiran tidak lagi berfungsi secara normal, namun hipotalamus dan batang otak, yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi vital masih bisa berfungsi dengan baik.
Kendati kerap disamakan dengan koma, kondisi vegetatif berbeda dengan koma. Pada keadaan koma, pasien tidak akan bisa melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata dan berteriak meskipun sudah dicubit. Intinya, pasien koma berada dalam keadaan tidak sadar total.
Berbeda dengan pasien koma, pasien vegetatif bisa membuka matanya. Jantung dan paru-paru pasien pun bisa berfungsi layaknya orang sehat. Selain itu, pasien juga memiliki siklus tidur, memiliki refleks, dan bisa berkedip, mendengus, atau tampak tersenyum seperti orang sehat pada umumnya.
Namun karena serebrumnya mengalami kelainan, penderita kondisi ini tidak bisa berpikir, berbicara atau menanggapi pembicaraan, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, mengikuti perintah, serta menunjukkan emosi.
Segala upaya sudah dilakukan oleh dokter yang menanganinya, tapi Habibi yakin, semua akan percuma. Karena ruh Amanda masih terjerat oleh Amon. Jalan satu - satunya tentu mengambil kembali ruh Amanda dari Amon. Dan itulah yang sedang Habibi dan Haga lakukan.
Habibi sangat yakin kalau di tempat inilah markas persembunyian Amon. Tempat di mana Amon tersegel dan seharusnya akan terkubur selamanya. Mereka rela datang jauh jauh ke tempat itu demi menemukan Amanda kembali. Sebuah pengorbanan yang sungguh gigih. Apalagi dengan kondisi stamina mereka yang mulai menurun. Terutama Haga.
Jalur mobil mulai berakhir dengan pepohonan yang mulai rimbun jaraknya. Sehingga mau tidak mau, mereka harus turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Tas ransel berada di punggung masing - masing. Persediaan untuk makan dan minum sudah dipersiapkan dengan matang. Setidaknya mereka membawa logistik makanan untuk tiga hari ke depan. Tidak ada patokan pasti, tapi begitulah yang dikatakan oleh Habibi. Bahwa mereka akan menemukan Amanda segera, begitu sampai di goa yang dimaksud.
"Yakin ke sini arahnya, Bib?" tanya Haga agak ragu.
"Iya. Gue yakin banget. Aura gelap ke arah sini, Ga. Dan ... Pekat banget," ujar Habibi sambil menghirup aroma tidak biasa yang ada di sekitarnya.
Haga hanya mengangguk sambil memperhatikan sekitar. Mereka terus melangkah hingga memasuki hutan lebih dalam lagi. Semakin dalam, jalur yang mereka lalui semakin sulit. Bahkan Haga harus mengeluarkan sebilah parang yang sengaja dia bawa untuk perjalanan kali ini. Haga menyabetkan parang tersebut untuk membuka jalan, karena banyak sekali rumput ilalang dan tanaman liar yang menutupi area yang hendak mereka lalui sekarang.
Semakin masuk ke dalam jantung hutan, kondisi semakin gelap. Bukan hanya karena hari sudah beranjak sore, tapi juga karena rimbunnya pohon yang ada di sekitar, yang bahkan menjulang tinggi seakan akan menembus langit.
Habibi berhenti. Nafasnya tidak beraturan. Sambil menyapu pandang ke sekitar, dia akhirnya menjatuhkan ransel miliknya.
"Kenapa berhenti?" tanya Haga.
"Kita bangun tenda di sini."
Haga yang tidak mengerti apa yang dipikirkan Habibi lantas hendak protes. "Loh, memangnya tempat persembunyian iblis itu udah ketemu? Mana?" tanya Haga sambil tengak tengok sekitar.
"Kita nggak bisa menemukannya sekarang."
"Kenapa?" Haga menatapnya dengan penuh rasa penasaran.
"Pintu gerbang itu tersembunyi. Dan akan muncul lewat tengah malam nanti. Biasa nya disebut black hole time. Di waktu itulah setan dan iblis muncul."
"Kapan waktu itu tiba?"
"Pukul 00.00-03.00."
"Jadi maksud lo, kita harus nunggu tengah malam baru bisa ketemu sama tempat itu, Bib?"
"Iya." Habibi lantas mulai membangun tenda setelah memastikan tempat tersebut berada di lahan yang cocok.
Hari beranjak sore. Sekalipun di luar matahari sudah mulai tenggelam, tapi Habibie dan Haga sudah merasakan kegelapan sejak beberapa jam yang lalu.
Suasana di hutan tampak sunyi, hanya ada suara binatang liar atau serangga yang berada di sekitar. Tidak ada lagi hiruk pikuk kehidupan manusia yang biasanya mereka dengar dan rasakan selama ini. Mereka berdua benar-benar seperti sedang berada di negeri antah berantah. Bahkan keduanya pun semakin jarang berbicara. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Habibie mendirikan tenda yang cukup rumit jika dilakukan sendirian, tapi dia merupakan mantan anggota Mapala. Jadi bagi Habibi hal itu tidaklah sulit, dia hanya butuh beberapa waktu lagi agar benda tersebut dapat berdiri dengan kokoh. Sementara Haga mulai mencari ranting pohon dan dedaunan kering yang berada di sekitar. Dia hendak membuat api unggun agar bisa mereka gunakan untuk memasak juga menghangatkan diri. Api unggun juga menjadi salah satu cara melindungi diri dari serangan binatang buas yang bisa saja datang kapan pun.
Berada di tengah hutan belantara Kalimantan membuat mereka sadar kalau bisa saja masih ada binatang buas yang tinggal di hutan tersebut. Apalagi dari yang Habibie dan Haga lihat sejak mereka datang ke tempat itu, hutan tersebut merupakan hutan liar yang bahkan belum pernah ada manusia yang mendatanginya sebelum mereka tiba.
Udara mulai makin dingin. Api unggun yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda percikan api, akhirnya benar-benar bisa menyala. Haga berhasil menyalakannya dengan kobaran api yang stabil. Akhirnya suasana sekitar mulai tampak terang. Rasa dingin yang tadi mereka rasakan mulai berkurang.
"Selesai!" kata Habibi begitu tenda berhasil berdiri. Haga lantas menoleh dan menarik salah satu sudut bibirnya. Dia mengangguk sambil melipat kedua tangan di depan.
"Wah, bagus. Akhirnya ada tempat bernaung malam ini!" ujar Haga. Tanpa diperintah atau bahkan meminta izin dari Habibi, Haga justru masuk ke dalam tanda. Dia juga membawa tas ransel miliknya.
"Hei! Kita belum selesai!" cetus Habibi mulai protes.
"Bentar, Bib. Kasih gue waktu ngelurusin punggung dulu? Capek tahu!" protes Haga yang kini justru merebahkan tubuhnya tanpa menggelar sleeping bag. Matanya terpejam. Dia benar benar kelelahan.
"Lo baik - baik aja?"
__ADS_1
"Aman! Gue cuma capek."
"Ok deh."
Akhirnya Habibi membiarkan Haga beristirahat. Sementara Haga beristirahat di dalam tenda, Habibi justru menyiapkan alat memasak. Dia merebus air untuk membuat secangkir kopi, dan berniat memasak mie instan. Tak dapat dipungkiri kalau perutnya sudah berontak minta diisi. Apalagi setelah perjalanan panjang yang sudah mereka lalui.
Hari beranjak petang. Suara dengkuran Haga mulai terdengar halus. Habibi yang sedang menyeruput kopi hitam, tidak merasa terganggu dengan suara nyaring itu. Dia justru menatap tajam sekitarnya. Penerangan hanya berasal dari api unggun yang dibuat oleh Haga. Cukup membantu meredakan rasa dingin malam itu, tapi tiba tiba Habibi justru mematikan api itu dengan menyiramkan kopi yang masih banyak ke dalam kobaran api. Tidak langsung mati, Habibi menendang tanah di depannya hingga membuat api tersebut padam seketika.
Habibi diam, mencoba menajamkan pendengarannya. Suara binatang malam membuat dahinya berkerut. Tak lama ada suara berisik seperti semak semak yang ditabrak sesuatu. Habibi mencari sumber suara. Tapi beberapa detik setelahnya, kembali hening.
"Aneh," gumam Habibi.
Setelah ditunggu agak lama, Habibi yang mulai tenang karena tidak ada hal aneh lagi, hendak membuat api unggun. Tapi baru saja dia memungut ranting kering yang ada di dekatnya, seluruh pepohonan di sekeliling justru bergerak tanpa henti. Habibi terkejut. Dia tengak tengok sekitar, tapi tidak menemukan apa pun. Hanya pergerakan pohon yang tidak kunjung berhenti.
Angin berhembus kencang. Membuat tubuh Habibi mulai tidak stabil. Suara tawa cekikikan terdengar di berbagai arah. Geraman serta cakaran menjadi penambah suasana mencekam malam itu.
"Bib? Kenapa?" tanya Haga yang terbangun dari tidurnya. Dia melongok keluar tenda sambil mengucek matanya.
"Masuk!" perintah Habibi, lantas mendorong tubuh Haga kembali ke dalam tenda.
Habibi menutup resleting rapat rapat. Dia terus menatap ke depan sesekali memperhatikan sekitar. Tenda yang mereka tempati juga mulai bergoyang terkena angin.
"Kenapa anginnya gede banget, Bib?" tanya Haga yang kesadarannya sudah mulai penuh. Dia mulai tahu, kalau ada yang tidak beres pada hutan itu.
"Mereka mau ganggu kita, Ga."
"Mereka? Mereka siapa maksudnya?"
"Penghuni hutan ini. Pengikut Amon. Gue yakin, Amon mengutus semua pengikutnya untuk mengganggu kita."
Haga menarik nafas panjang, dia lantas menatap jam di pergelangan tangannya. "Ini jam gue mati apa, ya? Masa sih, masih jam segini? Jam tangan lo, jam berapa, Bib? Perasaan gue tidur jam 06.30 tadi, masa masih jam segini aja? Padahal gue tidur lumayan lama, kan, tadi?"
Habibi ikut memperhatikan jam di pergelangan tangannya. Dia mengerutkan kening lalu menunjukkan ke Haga. "Sama. Sepertinya jam kita sama sama mati."
"Hah? Serius lo? Kok bisa sih!" Haga mulai panik. Tapi tidak dengan Habibi. Walau dia tampak tenang, tapi sebenarnya Habibi justru paling cemas dengan kondisi saat ini.
"Mereka sengaja mengecoh kita. Dengan menghentikan waktu. Supaya kita nggak tahu, kapan waktu black hole itu datang."
"Jadi maksudnya, mereka mau kita melewatkan momen itu dengan menghentikan waktu?"
"Terus apa yang harus kita lakukan. Kita bahkan nggak tahu, sekarang jam berapa."
"Tenang aja, Ga. Gue yakin, kita bakal menyadari saat itu. Kita pakai perasaan dan naluri. Apalagi niat kita baik. Minta tolong sama Allah! DIA pasti bakal bantu kita malam ini."
Haga menarik nafas panjang. Dia masih tampak belum puas dengan jawaban Habibi, tapi perkataan Habibi memang ada benarnya. Hanya saja, Haga sudah tidak sabar lagi menunggu waktu itu tiba.
Istirahatnya yang hanya bisa terbilang singkat, ternyata sudah cukup mengisi kembali tenaganya yang sempat berkurang. Kini mata Haga sudah tajam, dan siap untuk berjaga malam ini guna menunggu saat pintu gaib itu terbuka. Habibi sudah menjelaskan jika mereka berdua pasti bisa merasakan saat di mana pintu gaib itu terbuka, karena mereka terhubung dengan Amanda yang berada di dalamnya. Walau Amanda berada dalam jeratan Amon, tapi dia tetap memiliki insting untuk terhubung dengan dunia luar. Yakni dunia manusia.
Suasana hutan masih ramai dengan teror alam yang sengaja dibuat oleh pengikut Amon. Malam ini merupakan malam yang paling mereka tunggu. Setelah Amanda berhasil masuk ke dunia gaib, kesempatan Amon untuk bebas makin besar. Kebebasan Amon pun sudah sangat ditunggu oleh pengikutnya. Karena saat Amon bebas, maka kehidupan para setan dan iblis akan lebih mudah untuk mengganggu manusia. Dan jika sampai itu terjadi, maka akan terjadi kekacauan dalam kehidupan manusia. Dunia akan dibuat gonjang ganjing dengan teror setan dan iblis yang akan lebih sulit untuk dihentikan.
Amon menjanjikan kekuatan untuk tiap pengikutnya yang setia dan mau membantunya selama dia terpenjara. Amon yang terpenjara selama ribuan tahun selama ini, memang tidak bisa dengan mudah bergerak di dunia manusia. Dan dengan bantuan pengikutnya yang setia, dia mampu meloloskan aksinya. Mencari manusia yang akan dia jadikan tumbal, agar dirinya bisa terbebas dari tempat itu. Hingga akhirnya dia menemukan orang itu. Semua ada dalam diri Amanda. Dia memiliki aura suci dan murni, yang akan bisa membebaskan Amon dari semua ikatan yang membelenggunya selama ini.
Waktu berlalu terasa begitu lambat. Habibi dan Haga hanya menghabiskan waktu di dalam tenda. Karena teror makhluk makhluk di luar masih cukup kuat.
"Bib?" panggil Haga sambil memperhatikan tenda sekitar mereka.
"Hm? Apa?" sahut Habibi yang sedang duduk sambil menyilang tangan ke depan dada. Dia sudah berada dalam posisi mata terpejam dan kepala menunduk. Habibi mulai dilanda rasa kantuk, namun berusaha dia tahan sebisa mungkin. Panggilan Haga tidak membuatnya bergerak, hanya mulutnya saja yang menjawab. Dia sudah berada dalam posisi nyaman.
"Kok berhenti?" tanya Haga dan berhasil membuat Habibi membuka mata. Baru Habibi sadari kalau suasana sekitar mereka sudah sepi. Tenda sudah dalam posisi tenang. Suara aneh dan mengerikan yang berasal dari luar juga sudah mulai diam. Suasana menjadi hening.
Dua pria itu lantas saling tatap. Sorot mata yang sama, yang juga menunjukkan sebuah pertanyaan yang sama dalam benak mereka. 'Apa yang terjadi di luar?'
Hanya itu yang ingin mereka ketahui sekarang.
Haga mengisyaratkan Habibi untuk keluar. Habibi mengangguk lalu membuka resleting yang sejak tadi tertutup rapat. Mereka berdua akhirnya keluar dari dalam tenda. Begitu keluar, mereka langsung disambut dinginnya udara malam yang terasa menusuk tulang. Habibi dan Haga menyapu pandang sekitar. Suasana masih gelap, namun mereka tidak melihat apa pun di sekitar.
"Pada ke mana, ya? Padahal tadi ramai banget!" ujar Haga yang kini berjalan maju beberapa langkah. Tapi belum sampai dia pergi lebih jauh, Habibi segera menarik tangan Haga dan membuat keduanya berdiri di tempat.
Habibi menggeleng pelan. "Ini jebakan!" kata Habibi berbisik.
"Maksud lo?"
Habibi tidak langsung menjawabnya. Dia malah melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Haga. Kini Habibi justru membalikkan tubuh dengan posisi kepala berada di antara kedua kakinya. Dia melongok suasana sekitar dengan posisi terbalik.
Hanya beberapa detik dia melakukan itu, Habibi langsung kembali ke posisi semula.
__ADS_1
"Kenapa? Kok lo pucet gitu?" tanya Haga penasaran.
"Coba lo lihat sekitar seperti yang gue lakukan tadi."
Haga diam, sambil tampak berpikir. Tapi dia langsung menuruti perkataan Habibi. Haga memposisikan kepalanya berada di antara kedua kaki, dan menatap hutan di sekitar mereka dengan posisi terbalik. Sontak Haga terkejut, sama seperti reaksi Habibi tadi. Dia juga langsung kembali ke posisi semula. Dan kini di hadapan mereka mulai jelas penampakan makhluk makhluk mengerikan lain yang seakan berbaris di mengelilingi mereka. Semua jenis setan ada di sana. Dari anak kecil, hingga tua renta, dari yang ilmunya sedikit sampai yang berilmu tinggi. Mereka semua hanya berdiri diam, sambil menatap Haga dan Habibi yang juga sedang menatap mereka.
"Kenapa tiba tiba mereka muncul sih?" tanya Habibi berbisik tanpa melepaskan pandangan dari makhluk makhluk itu.
"Yah, inilah waktunya. Mereka semua muncul untuk menyambut tuannya."
"Amon?"
"Iya."
Haga menelan Saliva dan mulai bergetar karena rasa takut. Dia tidak menyangka kalau harus berhadapan dengan makhluk halus sebanyak ini.
"Terus apa yang harus kita lakukan, Bib?"
"Ayo!" ajak Habibi yang langsung melangkah maju. Tapi Haga, dengan gerak reflek menarik kemeja Habibi hingga dia berhenti berjalan.
"Ke mana sih?"
"Kita ke tempat Amon."
"Tapi mereka gimana?" tanya Haga dengan menatap semua makhluk itu panik.
"Tenang aja. Mereka nggak akan bergerak sedikitpun kok."
"Hah? Masa sih?"
Habibi tidak menjawab perkataan Haga, dia terus berjalan dengan santai melewati para makhluk yang sedang diam tak berkutik sama sekali. Melihat Habibi yang berjalan dengan santai nya, Haga pun akhirnya berlari menyusul kawannya itu.
"Bener! Kok bisa sih, mereka diem aja gitu? Mereka lagi ngapain, Bib?"
"Mereka lagi menyambut kedatangan Amon."
"Loh? Dia udah bebas? Jadi Manda ...."
"Belum. Tapi sebentar lagi." Habibi terus berjalan menyusuri hutan. Makhluk makhluk yang berdiri di dekat tenda mereka memang tidak mengejar. Bahkan ternyata makhluk makhluk itu tersebar di seluruh penjuru hutan. Mereka hanya berdiri diam, dan menatap kosong ke depan.
Habibi bergerak cepat, begitu pula Haga. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah goa besar. Dengan melewati setan yang menunggu kebangkitan tuannya, Haga dan Habibi terus berjalan masuk ke dalam goa.
"Bib, lo yakin di sini tempatnya?" tanya Haga.
"Coba aja lo rasain. Pakai perasaan. Lo pasti bisa tahu."
Haga diam sejenak, sambil menatap Habibi yang berjalan mendahuluinya. Haha menarik nafas panjang. Lalu kembali mengikuti Habibi.
Goa yang mereka pikir kecil, rupanya menjadi terasa besar begitu mereka masuk ke dalam. Walau didominasi bebatuan, tidak membuat Haga maupun Habibi kesulitan berjalan melaluinya.
"Bib ... Gelap!" kata Haga. Dia langsung menyalakan senter yang memang sengaja dia bawa di kantung celana. Haga memberikan satu ke Habibi. Kini perjalanan mereka menjadi lebih mudah dengan penerangan itu.
Mereka akhirnya sampai di tengah goa. Di hadapan mereka kini ada sebuah sumur besar. Mirip sumur timba, tapi diameternya lebih lebar.
Habibi mendekat, Haga pun terus mengekor padanya. Mereka kini berdiri tepat di pinggir sumur. Begitu kepala melongok ke lubang hitam di bawah, udara dari bawah seakan menabrak wajah mereka dengan cukup keras.
"Bib? Lo denger itu?" tanya Haga sambil tengak tengok sekitar.
"Denger apa?"
"Suara. Itu suara Amanda! Gue yakin!"
"Dia bilang apa?"
"Tolong," ucap Haga sambil menatap Habibi cemas.
"Lo bisa merasakan di mana suara itu?"
"Hm? Eum ... Di sini," tunjuk Haga ke sumur di bawah mereka.
"Yah, ini gerbang itu."
"Lo yakin? Ini gerbangnya?"
"Yah, yakin. Dia di bawah sana, bersama Amanda," tunjuk Habibi ke sumur di bawah mereka.
__ADS_1