pancasona

pancasona
Part 34 Papa


__ADS_3

"Aman!" bisik Kak Roger yang memimpin di depan. Kami mulai keluar gua satu persatu. Hari sudah beranjak malam. Gelap mendominasi sekitar. Tidak ada penerangan yang cukup untuk melihat sekitar. Hanya ada sinar bulan sebagai penerangan utama.


Mengendap - endap dengan melambatkan langkah. Berusaha tidak bersuara agar tidak menarik perhatian orang - orang di sekitar. Keberadaan kami tadi, pasti sudah terendus mereka. Aku yakin mereka juga mulai waspada akan kehadiran kami.


Pemukiman di tengah sana, membuat kami yakin kalau Papa, Om Gio, dan Opa pasti ada di sana. Melihat suasana sekitar yang sunyi, ini bagai kesempatan emas yang sudah kami tunggu selama beberapa jam terakhir. Langkah teratur kami mulai mendekati salah satu rumah, tidak ada aktivitas apa pun di sana. Tapi kami tetap harus waspada, jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Mata ku liar mencari pergerakan apa pun yang terlihat di sekitar. Namun suara ribut mendadak menjadi perhatian kami.


"Apaan tuh, ya?" tanya Kak Rayi berbisik, menatap liar ke sekitar.


"Itu dari sana suaranya!" tunjuk Kak Roger. Dari balik rumah yang berada di tengah sana, ada sinar obor yang membuat keadaan sekitar terang. Kami penasaran apa yang sebenarnya terjadi di sana.

__ADS_1


Langkah dibuat lebih cepat, khawatir jika apa yang ada di sana adalah Papa, Om Gio atau Opa! Kami harus segera sampai ke sana dan menolong mereka.


Kerumunan di tengah padatnya rumah - rumah kayu sekitar membuat kami mulai bertanya - tanya siapa dan apa yang terjadi.


"Hei! Lihat!" tunjuk Kak Rayi ke sebuah rumah yang terbuka, ada beberapa senjata tajam di sana. Aku mengambil pedang panjang serta busur panah. Memakainya ke punggung, dan mulai berpencar. Sebelumnya kami memakai penutup wajah untuk menyamarkan keberadaan kami. Berusaha membaur dengan warga yang masih fokus pada kejadian di tengah kerumunan. Aku makin penasaran, siapa yang berada di sana.


Mulai menyusup dan berusaha menyelinap di antara orang - orang di sini. Sampai pada akhirnya, aku benar - benar melihat siapa yang tengah di adili di sana. Bukan Papa, bukan Om Gio atau pun Opa. Tapi, Tante Jean, Kak Bintang dan Tante Rani.


"Mereka pantas mati!" jerit seseorang yang berada dekat tiga orang yang ku kenal di sana. Mereka terus berorasi tentang bahayanya orang asing yang masuk wilayah mereka. Kejadian lampau yang pernah ada, dan membuat warga di sini mengisolasikan diri dari luar.

__ADS_1


Tiba - tiba mulutku dibekap, aku ditarik mundur keluar barisan. Berusaha terus meronta dan melihat siapa yang ada di belakangku. Seorang pria dengan memakai hoddie kini mendesis, ia lantas membuka penutup wajahnya, dan itu membuatku terhenyak. "Papa!"


Papa mengangguk. aku mengerti lalu berhenti menimbulkan suara lagi. kini kami berkumpul di belakang para warga yang masih sibuk berusaha menyalahkan kedatangan penyusup. mereka berniat membunuh Kak Bintang, Tante Jean dan Tante Rani.


Opa dan Om Gio juga ada di sini. menyamar dengan pakaian yang sama seperti warga di sini.


"Kita harus selamat kan mereka!"


"Bagaimana caranya?"

__ADS_1


"Lawan mereka semua. Taklukan dulu pemipinnya."


__ADS_2