
Desa ini terletak jauh dari kota, berjarak sekitar 3000 mill dari desa sebelumnya. Untuk sampai ke tempat ini harus melewati beberapa kilometer hutan dan lahan persawahan yang sudah kering dan tandus. Butuh banyak perjuangan agar sampai ke desa ini. Jalanan nya yang tidak beraspal membuat akses ke tempat ini cukup sulit.
Mereka sampai saat fajar mulai muncul dari ufuk timur. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Disertai dengan kejadian aneh yang mereka alami semalam, membuat mereka tidak gentar. Dan kini mereka sudah memasuki kawasan Desa Angikuni tersebut.
Caravan berhenti di dekat gerbang desa. Papan nama besar ada di atas gapura desa ini. Bertuliskan nama Desa Angikuni dengan huruf kapital besar dan sangat jelas. "Selamat datang di desa tak berpenghuni," celetuk Gio saat sudah turun dari caravan. Satu persatu dari mereka mulai turun dan menikmati udara pagi di Desa Angikuni.
Sunyi dan tidak ada satu pun makhluk hidup di sana. Jangankan manusia, bahkan hewan peliharaan pun tidak ada di tempat itu. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Ke mana semua orang?" tanya Abimanyu, menyapu pandang ke sekitar. Rumah dan beberapa toko kelontong masih kokoh berdiri. Sangat mirip seperti desa berpenghuni lainnya.
Mereka memutuskan berpencar, menelusuri satu persatu bangunan di sana. Mencari kehidupan atau kemungkinan adanya manusia di tempat itu. Di kanan dan kiri jalanan, berdiri bangunan yang masih kokoh walau cat nya sudah memudar. Semua penduduk di desa ini mendadak hilang sejak 30 tahun lalu. Letak desa yang termasuk jauh dari desa lain mengharuskan seorang bidan desa untuk sering memantau tempat ini, guna memeriksa kesehatan balita dan para ibu hamil. Bidan desa memang akan datang tiap satu bulan satu kali. Dan itu sudah rutin di lakukan sejak beberapa tahun lalu.
Tetapi saat bulan berikutnya seorang bidan desa akan melakukan kunjungannya bersama asisten, mereka terkejut, karena tidak menemukan satu pun warga desa. Anehnya mereka seperti hilang dalam semalam, karena saat bidan itu datang, ia masih melihat lampu di tiap rumah menyala. Tak hanya itu, televisi dan alat elektronik lainnya juga masih berfungsi. Seolah para warga meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa. Radio, lampu jalan, bahkan tungku untuk memasak masih menyala dengan penanak nasi yang sudah hangus karena ditinggalkan cukup lama.
Bidan desa itu melaporkan ke polisi dan perangkat desa lain. Setelah mendapat laporan itu beberapa polisi dan perangkat desa mengunjungi desa Angikuni, dan mereka pun sama sama terkejut karena melihat keadaan desa itu yang sepi tanpa satu pun warga dan ternak mereka. Namun, masih ada terlihat bekas aktivitas sebelum mereka pergi. Mereka seperti hilang begitu saja.
Satu persatu masuk ke dalam rumah. Namun untuk para wanita akan tetap di dampingi, karena mereka tetap harus waspada. Ini kali pertama mereka datang ke tempat ini. Semua rumah yang mereka datangi masih dalam keadaan utuh. Perabotannya, bahkan sampai makanan yang ada di meja makan. Seolah mereka memang hendak makan dengan beberapa lauk yang sudah tersedia. Namun kini makanan itu sudah basi dan banyak terdapat belatung yang bercampur dengan debu. Meja makan sudah dilapisi debu tebal, wajar saja, karena rumah ini sudah ditinggalkan selama puluhan tahun lamanya.
"Nay, jangan jauh jauh dari aku," cegah Arya saat Nayla hendak masuk ke sebuah rumah yang belum diperiksa. Nayla mengangguk lalu kembali mengekor pada Arya yang berjalan di depannya.
Kini hari sudah mulai beranjak siang, mereka yang lelah kini mulai muak dengan pencarian tanpa hasil. Tidak ada petunjuk apa pun dan benda yang mereka cari pun tidak tau ada di mana. Mereka kembali berkumpul di luar. "Ada petunjuk?" tanya Abimanyu menatap mereka satu persatu. Mereka semua menggeleng sambil mendengus sebal. Lelah dan lapar kini mulai menggerogoti mereka perlahan. Ellea yang ada di dekat Abimanyu mulai mengelus perutnya. Hal itu membuat perhatian Abi terpecah dan sadar kalau kekasihnya dan semua orang di sini belum makan apa pun juga sejak tiba di desa Angikuni ini. "Sayang, laper, ya?" tanya Abimanyu sambil merapikan anak rambut Ellea yang berantakan karena angin dan kotor karena kejatuhan debu. Ellea berpegangan pada pinggang Abi lalu mendongak sambil menampilkan senyum tipis. Ia memang lelah sekaligus lapar, dan ia juga tau kalau pria di depannya juga pasti merasakan hal yang sama. Abi mengelus pipi gadisnya dengan tatapan penuh cinta.
Nayla berdeham sambil melirik pemuda di sampingnya yang sejak tadi mencuri pandang dari pemandangan romantis di depan mereka. Sadar sedang di perhatikan oleh Nayla, Arya lantas menoleh dengan tatapan sinis. "Apa?!"
Nayla lantas mendekat ke Arya sambil berbisik, "Lihat, anak kita romantis, ya. Aku jadi penasaran, apakah Arya di kehidupan dulu romantis seperti anaknya atau tetap sedingin ini, ya," gumam Nayla bermaksud menyindir Arya. Arya mendengus sebal, lalu merangkul gadis di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukan. Nayla tersenyum dan membalas pelukan Arya.
Matahari sudah naik di atas kepala, cuaca terik mulai dirasakan. Mereka memilih menunggu di sebuah tempat makan yang masih terlihat aman untuk tempat berlindung dan makan siang. Nayla dan Ellea bertugas menyiapkan makanan seadanya. Mereka sudah membawa perbekalan yang cukup untuk asupan nutrisi masing masing. Yah, walau hanya makanan kaleng dan makanan instant setidaknya itu sudah lebih dari cukup.
Meja sudah dibersihkan dari debu tebal yang menempel, mungkin hampir 30 tahun lamanya. Sejauh ini tidak ada tanda tanda kalau ada orang lain sebelum mereka yang mendatangi tempat ini. Mie instant sudah tersaji di mangkuk masing- masing. Anehnya air dan listrik masih ada di tempat ini, jadi mereka bisa memakainya untuk sementara waktu. Piring dan mangkuk yang memang kotor, bisa segera bersih dan dapat digunakan untuk makan.
"Jadi kira kira ke mana kita harus mencari kunci itu?" tanya Nayla dengan mulut penuh makanan. Arya lantas mengelap sudut bibir Nayla yang terdapat bekas makanan. Nayla sedikit terkejut, lalu tersenyum dengan tatapan hangat namun terlihat menjijikkan bagi Arya.
"Mirip anak kecil, makan belepotan. Bersihin sendiri itu!" cetus Arya lalu memberikan tissue yang baru saja ia minta dari Ellea. Nayla mengerucutkan bibirnya pertanda sebal. Namun dalam dua menit berikutnya, Arya terdiam. Ia merasakan denyut di kepalanya yang cukup hebat, namun ia hanya diam sambil menunduk. Karena kini denyutan kepala itu mulai menampilkan siluet kejadian yang belum pernah ia alami sebelumnya. Namun kejadiannya sama persis seperti yang baru saja ia lakukan dengan Nayla. Anehnya lagi, gadis dalam penglihatannya sangat mirip Nayla.
Arya sampai menatap gadis itu yang masih makan dengan wajah kesal. Membandingkan dengan gadis yang ada di bayangannya tadi. Mirip. Sama. Kepalanya kembali berdenyut, dan kini sebuah suara membuat Arya makin yakin kalau wanita dalam bayangannya memang Nayla. Dan bayangan itu tak lantas pergi begitu saja. Arya justru seolah tersedot dalam pusaran waktu dan melihat pemandangan lain yang tak kalah aneh. Di mana dia belum pernah mengalami semua hal itu, tapi ia bisa membayangkan hal ini. Nayla dan Abimanyu. Dua orang itu ada di dalam bayangannya. Juga Gio dan Adi yang ia belum pernah bertemu dengan sosoknya. Arya tiba tiba menjerit saat semua bayangan itu membuat kepalanya terasa penuh. Hal ini membuat mereka menatap aneh ke Arya. Arya beranjak dan keluar dari tempat itu.
Pemuda itu memutuskan duduk di sebuah kursi yang ada di depan bangunan tua tersebut. Ia berusaha mengingat tapi semakin diingat, kepalanya makin terasa sakit. Wira menyusul Arya dan kini sudah duduk di samping pemuda itu. Arya berusaha bersikap biasa, seolah apa yang sedang ia rasakan tidak ingin ia beritahukan pada siapa pun juga.
"Ya, kamu tau nggak kalau sejak pertama kali kita dilempar ke bumi, semua karakter dan sifatmu tidak pernah berubah. Kamu tetap Arya yang seperti ini. Dan, sebenarnya Nayla memang hanya mencintaimu saja. Sejak dulu, laki laki yang Nayla cintai pertama kali hanya kamu. Ada satu masa di mana aku merebut hati Nayla lebih dulu. Aku menang, Ya. Tapi rupanya, itu bukan lah takdir yang harus terjadi. Justru itu adalah satu satunya masa di mana hidupku hancur. Aku menjadi orang paling jahat, terutama pada kalian. Dan saat aku mencoba memperbaiki semuanya, itu sudah terlambat."
"..." Arya hanya diam, tak menanggapi perkataan Wira tersebut. Padahal dalam lubuk hatinya, ia ingin menanyakan banyak sekali pertanyaan yang sampai sekarang mengganjal di hati dan pikirannya.
"Kamu adalah sahabatku sejak dulu, dan selamanya akan begitu. Maafkan aku,Ya."
"Kita ini ...." Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, ia melihat bayangan orang lari di ujung jalan. Arya sangat yakin kalau dia melihat seseorang yang kini bersembunyi di sudut sana. "Siapa itu?!" panggil Arya, lalu beranjak. Wira yang melihat hal itu ikut mengikuti langkah Arya.
__ADS_1
Sementara teman teman yang lain yang masih makan, hanya menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung. Gio dan Abi yang awalnya hendak beranjak menyusul, dilarang oleh Wira. Mereka tetap harus di sana, setidaknya untuk memastikan pada wanita itu aman.
Wira dan Arya terus menyusuri tempat orang tadi menghilang. "Aku yakin tadi dia ke sini!" ujar Arya menunjuk sudut rumah yang terkunci rapat. Tidak ada jejak satu pun orang yang melewati tempat tersebut.
"Biar aku yang periksa!" kata Wira lalu berjalan ke arah itu, sendirian. Arya yang diperintahkan menunggu di tempatnya berdiri, tentu tidak akan diam saja. Bukan Arya namanya kalau dia hanya diam dan menuruti perintah orang lain begitu saja. Ia menyapu pandang ke sekitar, melihat lihat lingkungan yang memang belum mereka jamah sejak datang tadi.
Lingkungan desa ini hanya dipenuhi rumah rumah kayu yang modelnya hampir sama semuanya. Hanya warna cat saja yang membedakan. Dan ada beberapa kursi kayu yang ada di depan halaman rumah masing masing bangunan.
Arya melihat Wira yang tengah menyeret seorang pria dengan pakaian lusuh. Mirip pengemis dengan karung goni di tangannya. Wira lantas mendorongnya hingga berada di harapan Arya. Laki laki itu hanya diam sambil terus menunduk. Dia juga seperti merasakan ke tidak nyaman di sekitarnya.
"Tolong, biarkan saya pergi," kata pria itu dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan, menghadap Wira dan bergantian ke Arya.
"Anda siapa? Kenapa ada di sini?" tanya Wira. Serius.
"Saya hanya pemulung yang mencari makanan dan barang yang masih bisa dipakai."
"Sudah lama anda memulung di sini?" tanya Arya terus menatap pria tersebut.
"Baru ... Saya baru satu minggu di sini." Ia terus terlihat ketakutan, seolah menunjukan dirinya di tempat terbuka adalah ancaman.
"Apa anda tau tentang apa yang terjadi di desa ini?"
"Kita tidak boleh ada di sini! Berbahaya!" katanya serius.
Tentu Wira dan Arya makin penasaran. Mereka saling pandang dengan beribu pertanyaan dalam pikiran. "Maksudmu?!"
Pintu dibuka kasar, Gio sedang mendekat ke sebuah pintu penghubung ke dapur, didampingi Abimanyu di belakangnya. Gio jongkok dengan ujung pedang yang mencoba menyingkap sesuatu di sudut gelap itu.
"Ada apa?!" tanya Arya mendekat ke Nayla. Nayla dan Ellea yang berdiri bersebelahan terlihat ketakutan dan menunjuk ke arah Gio.
"Mayat!" ujarnya dengan ekspresi ngeri.
"Mayat?" tanya Arya mengulangi perkataan Nayla barusan.
Arya dan Wira penasaran, lantas ikut mendekat ke sesuatu yang menjadi pusat perhatian hingga membuat para wanita menjerit tadi.
"Apa itu?" tanya Arya. Abimanyu menoleh, menarik nafas panjang. "Tadi, waktu Ellea mau ke belakang, tiba- tiba orang ini muncul. Mungkin dia memang udah lama sembunyi di sini. Tapi kondisinya mengenaskan. Kulit tubuhnya mengelupas. Mirip bekas terbakar tapi ... Lihat saja sendiri," jelas Abi menunjuk tubuh hangus tersebut lalu menatap arah lain.
Gio tanpa ragu memperhatikan sosok di depannya. Mayat itu kini sudah tidak bergerak. Gio masih memeriksa kondisinya. Penyebab kematian, hingga apa yang terjadi pada sekujur tubuhnya itu.
"Endri!" jerit pemulung yang tadi datang bersama Arya dan Wira. Ia lantas berlari mendekat dengan wajah tidak percaya.
"Endri? Kau kenal dia?" tanya Wira. Pria tersebut langsung jongkok dan menatap nanar ke orang yang ia kenal tersebut. Ia menangis tanpa berani memeluk atau menyentuh Endri dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Yah, dia saudaraku. Seminggu lalu, kami datang ke sini. Sebenarnya kami adalah perampok yang sedang bersembunyi dari polisi. Dan saat melihat desa ini, kami pikir ini adalah tempat paling aman." Dia terus menceritakan awal mula mereka datang. Dan Abi, Arya, Wira dan yang lain terus mendengarkan dengan seksama.
"Tapi di hari ketiga, desa ini mulai terasa aneh. Saat malam hari, saat kami tidur, sering terdengar aktivitas beberapa orang manusia. Mereka memasak dan aktivitas lainnya. Layaknya manusia pada umumnya. Tapi ... Ada yang aneh."
"Aneh?"
"Iya, kami ... Mengintip dari jendela, dan ternyata manusia itu mengerikan. Sosok mereka mirip seperti ...." Dia menunjuk ke arah kawannya yang sudah meregang nyawa di lantai. "Seperti Endri!" Wajahnya ketakutan, dan tegang. Sorot matanya menunjukkan rasa takut yang teramat sangat.
"Maksudmu?"
"Tubuh mereka tidak memiliki kulit. Seperti Endri. Berdarah di sekujur tubuhnya. Bahkan ada yang menonjol yang mengeluarkan cairan menjijikan. Dan baunya ... Baunya busuk sekali."
"Jadi saat malam hari kalian melihat beberapa orang dengan wujud seperti ini?" tanya Arya menunjuk mayat Endri di lantai. "Hampir setiap malam atau hanya sekali kalian melihatnya?"
"Malam pertama dan kedua, kami tidak menemukan hal aneh. Desa yang kosong tak berpenghuni seperti sekarang. Tapi saat malam ketiga, mulai terdengar suara riuh di luar."
"Lalu kenapa kalian bisa terpisah?" tanya Abimanyu. Pria itu menarik nafas panjang. Wajahnya terlihat kelelahan sekali. Peluh dan kotor membuatnya sangat jelek. Benar benar mirip gembel atau orang gila yang ada di jalanan.
"Setelah malam itu. Kami tidak bisa tidur. Dan terus bersembunyi. Kami bersembunyi di sebuah rumah penduduk, dan untungnya di rumah itu tidak ada penghuninya. Kami putuskan, akan pergi dari tempat ini besok pagi."
"Keesokan harinya, kami mulai berkemas dan membawa barang seadanya. Pakaian dan makanan dari desa ini," lanjutnya
"Tunggu kamu bilang makanan? Yakin? Bukannya desa ini sudah kosong 30 tahun, ya? Lalu makanan apa yang kalian dapatkan di sini?"
"Rupanya makhluk semalam mengadakan pesta. Mereka memasak makanan, ada kambing guling, aneka sayur mayur dan lauk pauk hingga buah buahan."
"Benar, kah? Wow!"
"Iya, makanan itu kami bawa seperlunya untuk bekal perjalanan nanti. Karena tempat ini dikelilingi hutan dan jauh dari pemukiman penduduk desa lain, kan?"
"Kamu yakin, yang disajikan bukan sup tulang manusia atau daging manusia guling?" tanya Nayla sambil bergidik ngeri. Arya melirik gadis itu sambil garuk garuk kepala. "Kenapa? Wajar, kan, pertanyaan ku. Liat aja bentuknya Endri ini. Kata dia sosok yang datang malam itu bentuknya seperti ini!"
"Saya yakin, itu memang daging kambing, karena kami melihat saat mereka memasaknya."
"Terus?"
"Saya dan Endri berpencar. Untuk mencari barang berharga lainnya, eum, agar nanti bisa kami jual di kota. Nah, setelah itu saya nggak ketemu Endri lagi. Saya keliling desa ini, setiap rumah dan bangunan saya telusuri, tapi Endri nggak ketemu."
"Terus kenapa kamu masih di sini? Bukannya tempat ini mengerikan? Harusnya pergi saja, kan?" tukas Gio.
"Iya, saya pergi. Saya putuskan pergi tanpa Endri, tapi sayangnya, saya nggak bisa keluar dari desa ini. Saya selalu kembali ke sini. Saya nggak bisa keluar dari desa ini. Hanya berputar putar di hutan sekitar. Saya frustrasi. Ingin mati, tapi nggak bisa," rengeknya yang kini mulai menangis.
Semua orang saling tatap, mereka bingung dan tidak tau harus berbuat apa. Jika dia saja yang sudah lama di sini tidak bisa keluar, bagaimana dengan mereka yang baru saja datang?
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Wira.
"Saya Hidayat."