
"Elu nggak apa-apa?" tanya Abimanyu sembari membantu Heru berdiri. Walau keadaannya cukup berantakan, tapi setidaknya Heru masih bisa bernafas dan seluruh anggota tubuhnya masih dalam keadaan utuh. Ia menghela nafas panjang, dan mengembuskannya kasar. Heru menatap keadaan rumahnya yang berantakan sama seperti wajahnya.
"Elu kok balik lagi, Bi?" tanya Heru sambil meringis kesakitan. Mereka duduk begitu saja di lantai, tak peduli lagi pada nuansa berantakan di sekitar.
"Iya. Soalnya hand phone gue ketinggalan. Itu lagi di charger," tunjuk Abi ke sudut ruang tamu, di mana ponsel miliknya masih tertancap di kabel pengisi daya. Heru tertawa sambil batuk-batuk.
"Untung hand phone elu ketinggalan, kalau nggak mati gue, Bi!" ujarnya.
Alhasil Abimanyu terpaksa menginap di rumah Heru, untuk memastikan keadaannya aman. Walau orang-orang suruhan Nicholas sudah dipukul mundur, mereka masih cemas kalau akan datang serangan saat tengah malam nanti. Sementara di rumah sakit sendiri, sudah ada beberapa orang polisi yang sengaja diminta untuk menjaga Rizal dan Nabila, ditemani Vin tentunya.
Abimanyu mulai mengistirahatkan tubuhnya, ia merebahkan diri di ranjang yang ada di kamar lain. Heru sudah masuk ke kamarnya sendiri beberapa menit lalu sebelum Abi. Abimanyu memeriksa keamanan di sekitar rumah ini sebelum memutuskan untuk beristirahat. Semua jendela dan pintu sudah ia pastikan aman. Bahkan ia memakai keamanan ganda. Menahan semua jalan keluar masuk dengan ditahan oleh kursi dan benda berat lainnya. Agar rumah ini tidak mudah dibobol tentunya.
Abi mengambil gawai miliknya. Akhirnya sudah bisa menyala dan kini ia bisa menghubungi Ellea juga.
"Halo?"
"...."
"Maaf. Hand phone ku baru nyala. Tadi seharian lowbatt. Kamu belum tidur, sayang?" tanyaku.
"...."
"Iya, besok aku pulang kok. Kenapa? Kangen?"
"...."
"Perasaan kamu nggak enak kenapa, Ell? Aku baik-baik saja. Kamu jaga diri di sana, ya. Sekarang tidur."
"...'
Telepon akhirnya dimatikan. Hari makin larut, tubuh Abi butuh istirahat. Agar esok ia dapat beraktivitas lagi seperti biasanya. Dan pasti, keadaan tidak akan berjalan mulus lagi seperti yang sudah-sudah. Teror Nicholas tidak akan berhenti hanya karena insiden semalam. Karena ia pasti akan melakukan berbagai cara untuk merebut barang bukti yang sudah ada ditangan Abi. Abi mengelus liontin itu, pikirannya menerawang jauh. Membayangkan hari-hari di mana dia dan Ellea berbincang dengan santai. Mengingat awal pertemuannya dengan gadis itu dan semua kenangan indah mereka. Ia rindu. Merindukan kekasihnya yang baru beberapa menit lalu ia dengar suaranya. Hatinya gundah. Bahkan ia tak mampu segera terlelap.
_____________
Di tempat lain. Jauh dari jangkauan Abimanyu, rumah kayu yang berada di dekat pantai, sedang di dekati beberapa orang penyusup. Bayangan beberapa orang yang mendekati tempat itu terlihat jelas dari bibir pantai. Tapi seluruh penghuni di rumah itu sudah terlelap. Gio yang terbiasa tidur di sofa depan TV, sudah mendengkur dengan TV yang sedang menontonnya. Ia selalu melakukan kebiasaan buruk ini setiap malam. Menonton TV sampai tertidur, dan berakhir dengan sofa sebagai tempat tidurnya. Itulah mengapa kamar Gio paling rapi di antara yang lainnya.
__ADS_1
Lampu sudah banyak yang dimatikan. Kecuali lampu teras dan lampu yang berada di tangga menuju lantai atas. Tempat semua kamar berada. Sekali pun rumah ini memiliki keamanan yang cukup tinggi, tapi jika tidak di aktifkan oleh penghuninya, keamanan seperti kemarin tidak akan bekerja. Dan kini para penyusup mulai menginjakkan kaki di teras rumah itu. Mereka memakai pakaian serba hitam dengan penutup kepala yang hanya menunjukkan matanya saja. Mereka sangat banyak, dan kini mulai mengepung rumah itu.
Pintu berhasil dibobol. Satu persatu dari mereka masuk ke dalam. Sebagian mendekat ke Gio, sebagian lainnya naik ke lantai atas. Semua orang membawa senjata tajam dan juga senjata api. Semua berbagi tugas. Masuk ke tiap kamar di lantai atas. Adi, Ellea, dan Allea.
Suara pistol terdengar nyaring, dan bersamaan. Ujung pistol itu serempak menuju ke arah kepala Adi, Allea, dan Ellea yang sedang tertidur lelap. Adi menggeliat karena merasakan sensasi dingin di kepalanya. "Gi! Nggak usah bercanda deh!" runtuk Adi dengan mata yang masih berat dan enggan untuk terbuka. Ia mengira kalau Gio sedang iseng padanya. Karena keisengan Gio sudah terkenal seantero desa. Dan Adi sudah sangat hafal tingkah Gio. Kembali pelatuk terdengar dari telinga Adi. Sontak ia membuka matanya. Ia melotot saat dikelilingi orang-orang yang tidak ia kenali.
"Damn!" umpatnya, sadar kalau rumah ini sudah dibobol oleh musuh. Ia mulai bergerak perlahan sesuai instruksi orang di depannya.
"Jongkok di situ! Tangan di atas kepala! Bergerak sedikit saja, kepalamu saya pecahkan! Mengerti?!" ancamnya. Alhasil Adi pasrah, karena jumlah mereka yang terlalu banyak dan posisinya tidak bisa berkutik lagi.
Suara teriakan wanita terdengar sampai ke kamar Adi. Ellea dan Allea kini diseret secara kasar oleh mereka. "Om, Adi!" rengek Ellea, melewati kamar Adi. Wajah Adi merah padam. Ia berusaha menahan emosinya, karena dirinya pun sedang tidak aman sekarang. Jangankan melawan, bergerak saja dia bisa mati. "Bangun!" kata orang tadi. Adi yang bisa membaca situasi sudah mengira kalau mereka akan mengumpulkan dirinya, Ellea, dan Allea di lantai bawah. Benar saja, saat sampai lantai bawah, tiga orang itu sudah ada di sana dengan posisi yang sama seperti Adi tadi saat di atas.
Adi tau, Gio pun tidak bisa melawan orang-orang ini. Saat semua sudah berkumpul di bawah. Salah satu dari mereka meraih ponsel yang tergeletak di meja. Ponsel Gio. "Mana nomor si cecunguk itu?"
Mereka semua mengerutkan dahi, walau tau kalau yang dimaksudkan cecunguk pasti Abimanyu. Ellea melirik ke Adi, sementara Adi menggeleng pelan dengan kepala masih di atas kepala. Ellea mendengus sebal. Ia tau kalau keadaan mereka sudah tidak bisa lagi melawan. Mereka butuh bantuan. Tapi ... siapa? Abimanyu tidak ada di sini.
"Heh! Bawa itu perempuan ke sini!" suruhnya menunjuk ke arah Ellea. Gadis itu ditarik paksa sampai-sampai meringis karena menahan sakit. Cengkeraman orang itu sungguh kuat, hingga menyakiti lengannya. Telepon di dekatkan ke telinga Ellea. "Halo?' kata Ellea ragu.
"Loh, Ell?" sapa suara dari seberang sana yang sungguh khas. Abimanyu tentunya.
"Bi ... Tolong kami ....!" Belum selesai kalimat itu terucap dari mulut Ellea, telepon genggam Gio kembali dirampas.
Keempat orang itu ditarik paksa tanpa berani melawan.
____________
Abimanyu terperanjat begitu mendapat telepon malam itu. Matanya kembali segar. Ia bangun dan pergi ke kamar Heru, membangunkan temannya yang sudah mendengkur sejak tadi.
"Bi! Lu jangan nekat! Pergi ke sana sendirian?" tanya Heru dengan mata yang terus ia buka dengan susah payah. Mereka memang kurang tidur, karena insiden penyerangan rumah ini tadi. Namun tentu bukan Abimanyu namanya, yang tidak akan berbuat nekat. Malam itu juga, dia pergi dari rumah Heru, menuju alamat yang tadi sudah dikirimkan via pesan dari ponsel Gio. Namun saat ia menghubungi ponsel itu, sudah tidak bisa lagi dihubungi.
Abi mengendarai dengan tergesa-gesa. Teleponnya berdering, namun bukan nama Gio yang tertera di sana, melainkan Vin.
"Bi! Gawat! Gue rasa polisi yang jagain Rizal sama Nabila ada dipihak Nicholas sialan itu! Mereka mencurigakan!" kata Vin dengan bisik-bisik.
"Vin, Ellea sama yang lainnya diculik!"
__ADS_1
"What?! Yang bener lu?"
"Iya. Gue lagi ke sana, elu situ saja. Awasi keadaan di sana dan lindungi Rizal sama Nabila."
"Tapi, Bi! Gue ikut elu aja, ya!"
"No! Gue takut kalau mereka bakal celakai Rizal sama Nabila. Lu percaya gue, kan, gue bakal bawa mereka balik! Jangan khawatir!"
"...."
"Vin?"
"Hm. Oke! Take care!"
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Abi tidak langsung pergi ke tempat di mana Ellea dan yang lain di sekap. Melainkan pergi ke salah satu temannya. Heru memberitahukan kalau Zikal, teman mereka di sekolah dulu, menjadi salah satu ketua gangster di kampung Ambon. Ia menjual beberapa senjata api yang bisa Abi pakai nanti.
Yah, kini Abimanyu sudah sampai di sebuah tempat yang terkenal dengan nama kampung Ambon. Ia sampai di gerbang tempat itu. Pintunya cukup tinggi, hingga orang-orang di luar tidak bisa sembarangan masuk atau melihat keadaan di dalam. Di depan sudah ada dua orang yang sedang duduk di atas kuda besinya. Tengah malam, dan masih ada manusia yang ada di depan tempat itu. Mungkin salah satu aksi penjagaan rutin.
"Ke mana, Mas?" tanya salah satu dari orang itu.
"Mau cari Zikal, ada?" tanya Abi datar.
Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu berbisik dan membawa Abimanyu masuk. Sampai di dalam tempat ini, ia melihat sebuah bangunan besar yang mirip rumah susun kumuh ada di tengah tanah lapang ini. Beberapa kendaraan bermotor parkir di tengah halaman. Suasananya tidak sesunyi apa yang dipikirkan Abimanyu, karena sampai tengah malam begini saja, masih ada beberapa orang yang bergerombol di beberapa titik. Sekilas ia melihat ada yang sedang memakai narkoba, ada yang meminum minuman keras, dan bahkan berjudi. Abi digiring masuk ke salah satu lantai yang ada di atasnya. Samar namun jelas, ia juga mendengar jeritan wanita dari sebuah kamar yang baru saja ia lewati. Bukan jeritan kesakitan tapi justru lebih ke arah mendesah. Abi menggeleng jengah.
Lokalisasi! Yah, ini adalah salah satu lokalisasi yang ada di kota ini. Mirip seperti San Paz, karena di tempat ini di halalkan semua hal yang bersifat negatif. Di sini juga berkumpulnya beberapa preman dengan semua bisnis gelap mereka. Lokalisasi ini legal, tapi terkadang beberapa aparat kepolisian pasti akan mendatangi tempat ini dan membawa beberapa pelaku yang ketahuan melakukan transaksi gelap. Mereka nantinya akan dijebloskan ke penjara, dan akan bebas beberapa bulan kemudian. Begitulah seterusnya.
"Kal! Tamu!" kata orang yang membawa Abi masuk tadi. Mereka berdiri di sebuah pintu berwarna cokelat. Tak lama, pintu itu terbuka dan menunjukkan wajah yang familiar bagi Abimanyu. "Kal?" sapa Abimanyu dengan nada bertanya.
"Elu, Bi? Masuk! Heru sudah ngabarin tadi!" kata Zikal dengan tampang kusut khas bangun tidur.
'Sorry kalau gue ganggu," jawab Abi mengekor pada Zikal masuk ke dalam.
"Elu kayak sama siapa saja!" cetus Zikal sambil menguap. Ia membuka laci lemari besarnya. Di dalamnya ada beberapa senjata api berbagai jenis dan merk. "Elu mau yang mana?" tanya Zikal tanpa basa basi sedikit pun.
Mendapat persetujuan dari si empunya senjata, ia segera memilih senjata yang ingin ia pakai untuk misi penyelamatannya nanti. "Ini saja," kata Abi yang telah mengambil dua senjata api dari laci itu.
__ADS_1
"Sudah? Itu aja?"
Abi mengangguk yakin.