
Abimanyu datang ke sebuah makam. Ada nama Arya dan Nayla di batu nisan itu. Ia membawa dua buket bunga. Kejadian demi kejadian membuatnya tidak menengok makam orang tuanya.
Kini Abi duduk di depan makan mereka yang letaknya bersebalahan. Ia sudah berdoa untuk kedua orang tuanya. Berharap tuhan memberikan tempat yang baik di sisi-NYA.
Banyak memori dalam ingatannya yang terlewat. Abi mengingat ingat perkataan Nayaka waktu itu. Kalau ayahnya lah yang telah membunuh ibu Nayaka. Abi tidak menyalahkan Arya karena memang tugas mereka membasmi Kalla. Tentu saja, Abi juga maklum kenapa Nayaka begitu membencinya.
Memori Abimanyu kembali. Suatu malam ... Saat umur Abi baru menginjak 15 tahun. Ia yang sedang makan malam bersama dengan ibunya mendadak terkejut karena kedatangan Arya yang kacau. Bajunya robek di beberapa tempat. Wajahnya terlihat luka-luka. Ah, bukan, lebih tepatnya terdapat bekas darah kering di beberapa sudut wajahnya. Namun tidak ada tanda-tanda luka ataupun memar di mana pun.
"Sayang? Kamu kenapa?" pekik Nayla lalu menghampiri suaminya. "Aku baik-baik saja. Aku mandi dulu, ya." Arya segera pergi ke kamar mandi. Sementara wajah Nayla terlihat cemas.
Selesai makan, Abimanyu kembali ke kamarnya. Arya dan Nayla juga sudah masuk ke kamar. Tapi rasa penasaran terus menggerogoti pikiran Abi. Ia kerap melihat ayahnya pulang dengan keadaan seperti tadi. Dan dia sendiri tidak pernah mendapat jawaban apa pun. Banyak hal yang orang tuanya tutupi dari Abi.
Abimanyu menguping pembicaraan kedua orang tuanya.
"Jadi bagaimana mereka sekarang?"
"Jumlah mereka makin banyak. Desa kita sudah disusupi makhluk itu. Nay, kamu haru hati-hati. Bahkan kalau bisa, tetap di rumah."
"Hm, iya sayang. Tapi apa kita akan terus menerus bersembunyi? Sementara tidak mungkin kita terus diam kan, Ya?"
"Hm, iya, Nay. Aku memang harus bertindak. Jika ucapan Wira benar, berarti aku harus segera mencari anak iblis itu."
"Apa Wira memberi tau, di mana anak keturunan iblis itu berada?"
"Yah, di kota. Aku sudah memperingatkan Elang dan Adi agar berhati-hati."
"Bagaimana dengan Gio?"
"Jangan sampai dia tau. Biar saja Gio di sana. Kita tidak boleh menariknya ke pusaran masalah ini."
"Sayang? Aku takut. Aku takut dia mendatangi rumah kita. Dan melukai Abi."
"Maka aku akan membunuhnya terlebih dahulu."
Percakapan singkat itu kembali terlintas di ingatan Abi. Matanya berkaca-kaca sambil menatap dua batu nisan di hadapannya.
Abimanyu baru sadar, kalau kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga membunuh Kalla dan pengikutnya. Itulah alasan kenapa Arya sangat sibuk dan jarang ada di rumah. Itu juga alasan kenapa Nayla terus melatih ilmu bela diri Abi. Agar Abi mampu bertahan jika mendapat serangan dari Kalla suatu saat nanti.
"Kamu harus bisa jaga diri, Nak. Dunia tidak seindah apa yang ada di pikiranmu. Banyak hal buruk yang mengintai kita semua. Pergunakanlah apa yang sudah Ayah dan ibu ajarkan dengan sebaik mungkin. Terus bantu sesama dan terus berbuat baik." kalimat itu adalah kalimat terakhir saat malam meninggalnya Arya dan Nayla.
"Ayah, ibu ... Aku berhasil. Aku berhasil membunuh mereka semua. Sekarang ayah dan ibu harus bahagia di sana." Abimanyu menitikan air mata. Ia bahagia bercampur sedih. Rasanya ingin agar keluarganya utuh kembali. Tapi itu jelas tidak mungkin.
Sekalipun Kalla maupun Black demon sudah musnah, Abi dan yang lainnya selalu siap jika ada musuh baru yang mengancam umat manusia. Mereka memang bukan pahlawan, tapi setidaknya mereka harus bisa melindungi bumi karena di sini lah mereka tinggal. Di tempat ini lah mereka hidup. Ancaman sekecil apa pun harus mereka waspadai. Sekalipun kelompok mereka sudah terpisah-pisah, tapi rasa persaudaraan mereka terus ada. Setidaknya mereka pernah melewati masa sulit bersama, berjuang bersama, terluka, menangis, bahkan tertawa bersama. Memori itu akan terus mereka kenang sampai akhir hayat.
Keputusan Abi untuk kembali ke desa sudah ia pikirkan matang-matang. Desa jauh lebih menyenangkan. Karena jiwanya lebih menyukai alam. Abi suka berada di pantai, bahkan gunung. Udara di desanya jauh lebih segar timbang udara di kota. Dan disini lah, Abi kembali memulai kisahnya.
______________________________________
(Note. Ada sedikit perubahan dari segi penulisan. Saya pengen kembali memakai kalimat santai dalam percakapan. Hehe )
Sebuah cafe dengan nuansa kayu di sebagian besar furniturenya sudah mulai ramai pengunjung. Seorang pemuda sedang sibuk membuat kopi di depan mesin espresso miliknya. Celemek tak lupa ia kenakan dan juga topi hitam dengan bordiran nama cafe ini. "Pancasona" Entah kenapa Abimanyu memakai nama pancasona sebagai nama cafe miliknya.
Cafe ini sudah hampir 6 bulan berdiri. Kopi buatan Abimanyu sudah terkenal di penjuru desa bahkan desa tetangga. Ia bahkan sudah memiliki dua orang pegawai kepercayaan dan 3 karyawan baru.
"Paman, kalian lihat laki-laku itu?" tunjuk Abimanyu kepada dua pegawai kepercayaannya.
"Yang mana?" sahut Gio berpura-pura melihat ke belakang dengan sikap santai.
"Kau ini! Bodoh sekali. Jangan langsung mencarinya, Idiot! Dia akan curiga," omel Adi dengan memukul kepala Gio dengan celemek.
"Hei! Kain itu bukan, kah, bekas mengelap meja kotor tadi?"
"Memang. Lalu kenapa? Hah?" tantang Adi. Abimanyu yang melihat pertikaian dua orang di depannya segera melerai. Mendorong Adi ke samping kiri dan menggeser Gio ke samping kanan. Entah sampai kapan mereka akan terus bertengkar seperti ini.
Pria yang dimaksud Abi justru beranjak dari mejanya. Membayar pesanannya tadi di kasir.
"Ridwan!" panggil sang empunya cafe pada salah satu karyawan baru nya. Ridwan baru bekerja dua minggu di cafe ini. Dia baru saja lulus dari bangku sekolah menengah atas. Sedang mengumpulkan rupiah untuk biaya kuliahnya kelak. Orang tuanya adalah termasuk keluarga yang sederhana. Mereka memiliki sebidang tanah untuk menggarap sawah. Tapi Ridwan adalah anak yang rajin dan penuh semangat. Karena itulah Abi mempekerjakannya.
__ADS_1
"Kenapa, Bang?" tanya Ridwan, tubuhnya membungkuk sedikit. Pemuda yang penuh sopan santun.
"Kamu tau siapa dia? Kenapa wajahnya asing? Dia bukan warga desa kita, kan?" Abi menunjuk ke arah pria yang ditaksir berumur 40 tahunan itu. Ia kini menaiki mobil pick up warna orange.
"Oh dia? Itu Pak Andrew. Dia baru pindah ke desa ini, Bang. Rumah Nenek Listi yang ada di ujung hutan sana, dijual. Pak Andrew pembelinya. Katanya dia pengen hidup di desa lagi. Kehidupan kota bikin dia nggak tenang." Ridwan menunjuk ke arah Hutan yang memang jarang ada rumah penduduk. Nenek Listi baru meninggal sebulan lalu. Anak-anaknya tinggal di kota jadi mereka memutuskan untuk menjual rumah itu.
"Nggak tenang kenapa?"
"Denger-denger anaknya meninggal. Karena dibunuh. Terus dia depresi, sampai-sampai dia dipecat dari kantornya."
"Memangnya apa pekerjaannya?"
"Dulu dia polisi."
"Polisi?"
"Oh."
"Kasian."
_____
Malam ini cafe agak sepi pengunjung. Hujan deras turun sejak sore hari. Hanya ada beberapa orang saja yang bertandang ke Cafe Pancasona.
Abimanyu sedang mengelap meja barista. Menatap jendela cafe yang masih meninggalkan titik air hujan yang menempel di kaca. Pikirannya menerawang ke gadis pujaannya. Ellea lama tidak memberikan kabar. Abi berusaha maklum karena pasti dia sedang sibuk mengurus orang tuanya. Bahkan kabar terakhir mengatakan kalau Ellea pindah ke Jerman. Ia makin jauh dari gadis itu. Abi hanya bisa diam dan pasrah.
Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seseorang yang kini sedang berjalan di depan cafenya. Wajahnya berdarah. Bola matanya keluar dan ia mengenal orang itu. "Cindy?" gumamnya dengan pertanyaan yang hanya ia sendiri yang mendengarnya.
Sudah sejak beberapa hari ini, Abi sering melihat hal-hal aneh yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Sejak ia sering bermimpi buruk, Abi justru sering melihat sosok sosok yang bergentayangan di sekitarnya.
"Ridwan!"
Ridwan yang hendak pergi ke dapur membawa piring kotor, mendekat. "Kenapa, Bang?"
"Cindy itu masih sekolah?"
"Bukannya adikmu deket sama Cindy?"
"Ooh, Cindy itu? Cindy dan Maya beda tingkat, Bang. Cindy kakak kelas Maya."
"Oh gitu," sahut Abi berusaha menutupi kegugupannya. Kini Cindy sedang berdiri di hadapannya mereka. Pembicaraan ini membuat sosok itu mendekat.
"Memangnya kenapa, Bang?"
Abi hanya tersenyum. "Pulang sana!"
"Tapi, Bang?"
"Besok lagi aja kamu kerjain. Mukamu udah capek. Sana pulang!" kata Abi setengah memaksa. Wajah Ridwan terlihat sumringah. Sebenarnya tubuhnya memang sudah lelah. Dan malam ini ia ingin makan malam dengan keluarganya. Dia menolak makanan yang diberikan Abi karena ingin makan di rumah.
Pegawai Abimanyu sudah pulang semua. Tinggal dirinya, Adi dan Gio saja. Adia dan Gio memang memutuskan tetap bersama Abi, karena sumpah janji mereka pada Arya dan Nayla. Sekalipun Abi susah dewasa, tapi mereka merasa kalau Abi masih menjadi tanggung jawab mereka berdua. Dan lagi, mereka juga tidak memiliki tujuan hidup lain. Berbeda dengan Vin dan Elang.
Mereka bertiga tengah menikmati secangkir kopi ditemani cemilan buatan Ridwan tadi. Beginilah kegiatan tiga pria jomblo itu saat cafe sudah tutup. Beberapa lampu sudah dimatikan, pintu cafe juga sudah dipasang papan bertuliskan "close".
"Paman ...."
"Apa?" sahut Adi dan Gio bersamaan.
"Aku ngeliat itu lagi."
"Itu? Itu apa?"tanya Gio yang kini penasaran.
"Setan?" sahut Adi dengan pertanyaan yang wajar. Pembicaraan ini memang sudah Abi bahas beberapa kali. Tentang matanya yang kini dapat melihat hal-hal aneh di sekitarnya.
Adi mendekatkan wajahnya ke Abimanyu. Menatap dua bola mata itu lekat-lekat.
"Paman? Kenapa?" tanya Abi memundurkan tubuhnya karena takut melihat sikap Adi yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa matamu jadi aneh?"
"Mungkin ini yang namanya mata ketiga Abi terbuka. Apa sebutannya, ya? In ... In ...."
"Indigo?" sahut Abimanyu yang sudah familiar dengan kata itu.
"Tapi kenapa baru sekarang coba?"
"Ya mana gue tau?!" cetus Gio sebal.
"Eh, kamu lihat siapa sekarang?" Adi yang baru sadar arah pembicaraan ini mulai penasaran dengan arwah yang Abi lihat. Karena tidak mungkin Abi membahas hal ini jika ia tidak sedang mengalami hal aneh.
"Eum ...." Abi menatap ke samping Adi dan Gio. Sosok Cindy ada diantara mereka. Mereka berdua yang menyadari tatapan itu ada di antara mereka, segera menyingkir.
"Sial!"
"Pantes aja merinding!"
Mereka berdua segera meletakan cangkir kopi dan mengajak Abi pulang.
_____
Rumah Abi kini menjadi tempat bernaung dua pria itu juga. Adi dan Gio. Abi tidak merasa keberatan karena dengan adanya dua pamannya itu, maka dirinya tidak lagi kesepian. Hubungannya dengan Ellea bagai tidak ada kejelasan. Bahkan bisa dibilang kalau Ellea meninggalkan Abi tanpa kejelasan. Atau, entahlah. Abi tidak ingin mengingat hal itu lagi.
Hujan mulai mengguyur desa. Petir menggelegar membuat getaran yang cukup keras. Beberapa perabot bahkan bergerak membuat tidur mereka makin lelap. Adi menarik selimutnya rapat-rapat. Sementara Gio menutup telinganya dengan bantal. Mereka tidur di kamar masing-masing dengan kondisi lampu yang padam. Listrik mati sejak satu jam lalu. Mungkin karena hujan yang cukup deras ini.
Sekalipun Abi sering melihat makhluk halus, tapi dia tidak pernah berinteraksi langsung. Bahkan menanyakan kepentingan mereka pun tidak. Baginya dunianya dan makhluk itu berbeda. Abi lebih banyak menghindar daripada penasaran. Hanya saja malam ini ia tidak bisa tidur nyenyak. Karena bayangan Cindy yang terus mengusik pikirannya. Ia tau, kalau Cindy sudah meninggal. "Dia sudah meninggal atau akan meninggal, ya? Kenapa kondisinya hancur? Apa kecelakaan?" ia berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Walau ia terus berusaha cuek, tapi rasa penasaran terus mengusiknya.
Perlahan mata Abi mulai berat. Ia juga cukup lelah karena mengurus cafe seharian ini. Abimanyu pun terlelap. Tak peduli lagi derasnya hujan dan Sambaran petir. Bahkan sosok yang mengintip di jendela kamarnya. Dengkuran Abi mulai terdengar nyaring. Hingga ia masuk ke dalam alam mimpi.
_____
"Pagi semua," sapa Abimanyu yang baru saja keluar dari kamarnya. Wajahnya masih lusuh, khas orang baru bangun tidur.
Dua orang pamannya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa sih?"
Ditangan Gio ada koran pagi yang memang selalu datang sebelum mereka bangun. "Baca." Gio menyodorkan koran itu dengan membuka halaman utama.
"Apa ini?"
Abimanyu langsung melihat foto gadis yang terpampang di sana. "Cindy?"
"Iya, dia meninggal semalam. Dibunuh!" bisik Adi serius.
"Bi? Kamu semalem ke mana?"
Abimanyu melirik ke arah dua pria di depannya bergantian. "Hei! Paman nuduh aku yang bunuh dia?" jerit Abi tidak terima.
"Habisnya, baru kemarin malam kamu bahas dia, tiba-tiba dia masuk koran. Lihat judulnya. 'Seorang siswi SMU ditemukan meninggal dengan tidak wajar' itu aneh, Bi!"
"Ck. Kalian! Jadi kalian anggep aku yang bunuh dia?"
Gio dan Adi langsung tertawa. "Becanda, Bi."
"Eh tapi, aneh, ya. Dia jelas dibunuh, kan?"
"Iya, pasti. Ini pertama kalinya desa geger karena penemuan mayat."
"Eh, Bi, kamu nggak bisa ngbrol sama arwah Cindy? Dia mati kenapa gitu?" cecar Gio.
"Mati? Meninggal, Gi! Sembarangan banget!"
"Oh iya, sorry. Sorry. Gimana, Bi?"
Abi diam. Selama ia bertemu arwah manapun, tidak ada satu pun yang bisa ia ajak berbicara. Mereka hanya menampakan diri dan menghilang tak lama setelah itu. Abimanyu menggeleng pelan. "Aku mandi dulu."
_____
__ADS_1