pancasona

pancasona
Part 190 Danau aneh


__ADS_3

Hai semua. Pembaca setia cerita Pancasona dari dulu sampai sekarang. Sebelum memulai cerita, saya mau menyapa sebentar, ya. Biasanya saya cuma baca komenan pembaca dan baru kita bisa saling interaksi dikomenan saja. Malah kadang nggak saya komen. Walau begitu, semua komenan pembaca pasti saya baca, dan sangat membantu sekali dalam kritik dan saran. Dengan kalian berkomentar agak panjang seputar cerita, itu terkadang membuat saya ingat akan plot hole atau hal ganjil yang mungkin terjadi di part sebelumnya. Dan karena komentar dari kalian, maka di part selanjutnya insyaa Allah akan lebih baik lagi.


Saya cuma mau menegaskan, kalau cerita Pancasona ini murni fiksi, ya, gaes. Di mana semua ceritanya itu hanya khayalan penulis saja. Jadi tentang malaikat yang kekuatannya hilang, atau jika ada hal hal ganjil yang nggak bisa diterima akal, saya tidak akan menyalahkan pembaca yang mungkin akan berkomentar yang bersebrangan dengan cerita dan pikiran saya.


Dan, dicerita ini tidak ada spesifikasi satu agama tertentu. Karena cerita tentang malaikat, iblis, dan yang lainnya ada di semua agama. Dan kalau saya khususkan di satu agama, takut ada perdebatan.


Terima kasih untuk semua yang sudah setia membaca. Dukung saya terus, ya, dengan memberikan love, vote, like dan komen yang banyak.


Yuk, lanjut lagi ceritanya.


_____


Caravan Gio sudah melaju meninggalkan kota itu. Wira yang bersikeras tidak ingin berlama lama lagi di rumah sakit, kini terlihat baik baik saja. Walau terkadang ia kerap meringis saat luka di perutnya terasa sakit lagi. Atau jika efek obatnya habis. Jahitan yang kini ada di perut datarnya masih belum kering dan masih harus membutuhkan perawatan yang baik. Dan, Nayla adalah perawat yang sangat perhatian. Hingga terkadang membuat Arya cemburu melihat kedekatan mereka.


Mereka menginap di sebuah home stay, karena seluruh hotel di kota ini sedang penuh. Ini merupakan momen liburan dan mereka sedang ada di daerah pariwisata. Bukan kesengajaan karena mereka pun baru menyadarinya sekarang.


Home stay ini terletak di dekat sebuah danau. Tidak hanya satu home stay yang ada di tempat ini, tetapi ada hampir di tiap pinggir danau. Antara danau dan home stay hanya berjarak sekitar 20 meter saja. Beberapa penginapan itu terlihat ramai. Anak anak kecil banyak yang bermain di pinggir danau yang memang airnya dangkal. Danau tersebut memang cukup luas. Saat pagi hari akan terlihat embun yang hampir menutupi danau itu. Menjelang siang, apalagi jika cuaca cerah, maka langit akan terlihat biru dengan barisan awan putih yang terlihat indah menenangkan. Semua didukung oleh pemandangan di sekitar danau yang memang didominasi hutan pinus yang cukup rindang dan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Mereka yang bosan dengan suasana perkotaan, akan menjadikan tempat ini menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi.


"Mau makan atau istirahat dulu, Ya?" tanya Nayla pada pria yang kini kembali menjadi manusia biasa seperti yang lain. Ia kini sedang duduk di sofa sambil meraba perutnya. "Nanti saja, Nay," sahutnya sambil melirik ke Arya yang kini memilih berjalan keluar rumah, yang disusul oleh Gio.


"Kalau gitu, perbannya diganti sekarang saja, yah?" tanya Nayla sambil mengeluarkan kotak P3K.


"Eum, nggak usah, Nay. Biar aku saja," tolak Wira. Merasa tidak nyaman dengan segala perhatian yang diberikan oleh perawat pribadinya. Yah, sejak Wira terbaring lemah di rumah sakit, Nayla begitu perhatian. Segala kebutuhan Wira ia penuhi. Dari makan, minum, obat dan tempat tidur yang nyaman untuk pria itu.


Ellea menatap Nayla dan Wira yang memang makin dekat sekarang. Ia juga melihat keluar pintu, di mana Arya sedang berjalan dirangkul oleh Gio menuju danau yang memang ada di depan home stay mereka. Antara danau dan penginapan hanya dipisahkan oleh jalan raya yang memang disediakan untuk akses lalu lintas di tempat tersebut. Abimanyu dan Ellea saling lempar pandang, keduanya yang merasakan keadaan tidak nyaman di kelompok mereka, lantas saling memberikan isyarat untuk bertindak, dengan membagi tugas untuk kedua belah pihak. Ellea mengangguk, seolah mengerti maksud Abimanyu. Wanita itu kini ikut berkerumun bersama Nayla dan Wira, yang sedang berdebat tentang penggantian perban yang dirasa belum perlu oleh Wira, namun sudah waktunya dilakukan menurut Nayla. "Coba aku lihat lukanya," ujar Ellea mengambil alih. Abimanyu segera bergegas mencari Gio dan Arya yang sudah berada di luar.

__ADS_1


Sore ini keadaan danau cukup ramai pengunjung. Cuaca yang bersahabat membuat sebagian besar orang memilih menghabiskan waktu di pinggir danau. Anak anak bermain air di tepi danau, tentu didampingi orang tua mereka masing masing. Ada beberapa kursi kayu yang di cat warna warni memutar di sepanjang danau. Biasanya akan ada satu kursi kayu panjang untuk tiap rumah penginapan itu. Dan di sana lah kini Gio dan Arya menghabiskan sore mereka. Abimanyu ragu untuk mendekat, ia masih merasa asing dengan pemuda yang dulu adalah ayahnya itu. Terlebih karena ingatan Arya yang belum mengingatnya. Rasanya terasa asing dan membuat Abimanyu menjadi tidak nyaman. Tapi, ia tetap ingin terus berada di dekat Arya. Ia rindu, sangat. Ia ingin bisa memeluk ayah dan ibunya dengan erat. Karena sudah bertahun tahun dirinya tidak melakukan hal itu. Tetapi Abi sadar kalau hal itu tidak dapat dipaksakan.


Ranting kayu di bawah kaki Abi tidak sengaja terinjak olehnya. Ia yang awalnya hendak kembali ke penginapan, terhenti. Karena kini Gio justru memanggil namanya, agar mendekat. "Sini, Bi. Mau ke mana sih? Lama, kan, nggak lihat air. Nggak sakau, lu?" tanya Gio membuat dahi Arya berkerut, menatap kedua pria itu bergantian. Seolah meminta penjelasan atas candaan Gio barusan. Gio menoleh ke Arya yang duduk di sebelahnya, "Abimanyu ini suka banget air. Seperti pantai, danau, sungai. Dan sebenarnya itu menurun dari elu, Ya. Eh, elu sekarang masih suka air juga nggak sih? Penasaran gue. Apakah beda kehidupan, juga mempengaruhi hobi dan kesukaan kalian juga?"


Arya merasa tertarik dengan apa yang sedang mereka bahas. Beberapa bayangan masa lalu yang beberapa waktu ini terus melintas di ingatannya, membuat dirinya juga penasaran akan kehidupannya di masa lalu. "Memangnya dulu aku ini bagaimana?" tanya Arya agak ragu. Gio yang merasa ini sebuah peluang untuk mengembalikan ingatan Arya, sangat antusias menceritakan semua hal tentang pemuda itu dari pertama kali mereka bertemu, semua sifat dan karakter Arya di masa lalu. Abimanyu ikut duduk di samping Gio, menambahkan semua hal yang kurang dari penjelasan Gio tentang ayahnya itu.


Ketiga pria itu tertawa bersahutan, apalagi saat salah satu dari mereka menceritakan hal yang lucu. Entah dari pihak Abi dan Gio yang membahas masa lalu Arya, mau pun dari Arya di masa sekarang.


"Ternyata ayah nggak banyak berubah," cetus Abi di sela sela obrolan hangat sore itu. Ketiga nya langsung terdiam saat panggilan ayah itu terlontar dari mulut Abi. Merasa perkataannya agak aneh, Abi lantas menarik kembali ucapannya. Ia tentu tidak enak dengan Arya yang belum terbiasa, dan memang belum mengingat dirinya. "Eum, Bi ... Kalau memang kamu mau memanggilku ayah, aku ... nggak masalah. Pasti sulit, ya, berhadapan dengan sosok yang dulu menjadi ayahmu, dengan keterbatasan ingatan ku ini." Kalimat Arya membuat hati Abi berdesir. Gio berdeham sambil mundur dan bersandar pada punggung kursi di belakang mereka. Seolah memberikan ruang untuk kedua ayah dan anak beda generasi itu untuk saling bernostalgia.


"Eum, tapi, kalau itu mengganggu ... nggak usah saja, Ar ...ya. Maaf aku tadi keceplosan," jelas Abi dengan kalimat terbata, terutama saat menyebut nama Arya.


"Eh, aku masuk dulu, ya. Kayaknya Ellea butuh tenaga bantuan ini," cetus Gio yang sengaja ingin memberikan ruang untuk dua orang tersebut. Keduanya tidak menyahut, hanya diam sambil melepas kepergian Gio yang kini mulai mendekat ke rumah penginapan.


"Hm, yah?"


"Bagaimana kamu menjalani hidupmu, setelah aku dan Nayla meninggal dulu?' tanya Arya sambil menatap danau di depan mereka. Abimanyu tersenyum tipis. Pertanyaan itu terasa hangat di hatinya. Meresap tulus, dan membuat dirinya terasa jauh lebih baik atas luka lama tersebut.


Mereka akhirnya berbincang dari hati ke hati, sambil menikmati udara sore ini di depan danau. Tempat yang memang menjadi kesukaan keduanya. Abimanyu dan Arya memang menyukai semua spot yang berhubungan dengan air. Gio yang sedang menatap keduanya dari kejauhan lantas tersenyum lega. Ia merasa senang, melihat dua orang itu mampu mengobrol dengan akrab. Sesekali terlihat senyum dari kedua bibir mereka.


"Om!' panggil Ellea sambil menepuk bahu pria paling tua di kelompok ini.


"Ell! Ngagetin saja!" pekik Gio sambil menekan dadanya sendiri.


"Ngapain sih?" tanya Ellea sambil ikut melihat keluar jendela, di mana Gio sedang memperhatikan kedua pria di ujung sana. "Waw, tumben mereka ngobrol berdua gitu?" tanya Ellea ikut takjub.

__ADS_1


"Siapa dulu dong, pemersatunya," cetus Gio sambil menepuk dadanya. Ellea melirik ke pria yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri itu. "Emangnya Om Gio yang bikin mereka ngobrol begitu?" tanya Ellea seolah tidak percaya.


"Ya iyalah!" Ellea hanya menatap Gio seperti tidak percaya, lalu kembali memperhatikan dua pria di luar sana yang terlihat makin akrab saja. "Eh, Wira gimana? Kondisinya?" Gio kini beralih ke kamar di mana Wira sedang beristirahat. Nayla yang sedang sibuk membuat makanan, juga tak luput dari perhatiannya.


Ellea ikut menoleh, "hm, udah mendingan sih, Om. Tapi, ya, tetap harus dipantau keadaannya. Terutama lukanya. Itu masih rawan. Jahitannya kan belum kering."


"Tapi Nayla jadi perhatian banget, ya?" Pertanyaan Gio membuat Ellea terkekeh.


"Memang begitu. Dan asal Om tau, kalau Arya sepertinya cemburu deh," bisik Nayla.


"Hah? Yang bener kamu?!" tanya Gio lagi tidak percaya. Ellea mengangguk yakin dan membuat Gio mengangguk angguk sambil menatap Arya dan Abi di luar. "Pantesan!" ujarnya yang Mulai paham situasi ini.


_____


Senja mulai menghilang dari langit. Suasana kini mulai gelap, dan mengharuskan semua untuk masuk ke dalam penginapan masing masing. Terlebih lagi, karena gerimis yang mulai datang secara tiba tiba namun intens. Danau yang tadi terlihat ramai, kini mulai sepi. Beberapa pengunjung hanya menikmati pemandangan itu dari teras penginapan masing masing. Biasanya akan ada cangkir kopi atau pun teh yang menemani mereka bersantai.


Sejak obrolan di danau sore tadi, Abi dan Arya tampak makin dekat. Hal ini tentu membuat tanda tanya besar dalam benak Nayla.


Makan malam sudah siap, mereka mulai menempatkan diri di kursi, meja makan dengan hidangan yang sudah dimasak oleh dua wanita hebat itu. Malam ini, semua kembali bercengkrama di atas meja makan. Membahas hal hal yang telah mereka alami dan yang akan mereka lakukan nanti. Masih ada 9 kunci lain yang harus mereka temukan. Kunci pertama yang mereka dapatkan, bahkan hampir merenggut nyawa Wira. Kekuatannya hilang dan kini ia menjadi manusia biasa. Lagi. Tapi mereka tetap berpegangan tangan, dan terus berjanji akan bersama sama sampai akhir.


Namun, dalam obrolan makan malam mereka, tiba tiba terdengar suara jeritan dari dekat danau. Sontak mereka saling pandang dan penasaran dengan apa yang terjadi. Semua orang langsung berlari ke dekat jendela bahkan membuka pintu untuk memeriksa jeritan tadi.


"Kenapa tuh?" tanya Gio sambil menunjuk ke arah danau, di mana ada seorang wanita yang sedang menangis di pinggir danau. Ia menjerit dan menunjuk ke tengah danau gelap itu. Dan di sana, ada gerakan air yang aneh. Berputar putar di tengah hingga membentuk pusaran. Para pria itu, lantas berlari ke arah danau dan memeriksanya.


"Apa itu?" tanya Nayla heran, yang masih berdiri di depan teras, menatap para pria yang mencari tau penyebab hal aneh di sana. Ellea lantas menarik tangan Nayla dan mengajaknya menyusul teman teman mereka yang lain.

__ADS_1


__ADS_2