pancasona

pancasona
10. Anak Haga


__ADS_3

Pukul 14.00 mereka sampai. Hujan masih saja turun walau sudah tidak sederas tadi, jalanan pun basah dan becek. Udara makin dingin.


"Wah, nggak mungkin nih, kita survey ke lapangan dalam kondisi becek gini" gumam Kevin sambil melihat ke samping nya yang penuh genangan air.


"Ke rumah mama ku aja, nanti kalau keadaan udah memungkinkan, kita baru ke tempat itu. Gimana?" tanya Haga sambil melihat Kevin, Vita dan Manda satu persatu.


"Good idea," sahut Vita.


"Cocok nih, pengen ngopi juga gue," tambah Kevin.


"Man? Gimana?" tanya Vita sambil menyenggol Manda yang sedari tadi hanya terdiam memandangi jendela samping nya.


"Terserah ah," sahutnya sambil menyilangkan kedua tangan nya kedepan.


"Oke ... Deal yah. Deket kok, bentar lagi sampai rumahku," kata Haga lalu memberikan instruksi ke Kevin jalanan mana yang harus dilewati.


Tak lama mereka sampai di depan sebuah rumah bercat hijau muda.


"Sampai," seru Haga semangat. "Yuk turun," ajaknya.


Mereka semua lalu turun dan sedikit berlari kecil masuk ke teras rumah itu. Beruntung hujan sudah tinggal rintik rintik saja. Sampai di pintu, Haga mengetuknya sebanyak 3 kali diikuti salam.


"Assalamualaikum ... Ma ... Mama ...."


Sekeliling rumah ini banyak ditumbuhi bunga dan tanaman hias. Rumah nya asri dan nyaman.


Ceklek.


Pintu dibuka dari dalam, lalu munculah seorang wanita paruh baya pemilik rumah ini yang tidak lain adalah Mama nya Haga.


"Loh, Bang? Tumben pulang jam segini?" tanya Mama Haga heran lalu memandangi Kevin dan yang lain nya.


Haga menyalami mama nya, "iya Ma. Lagi ada kerjaan disekitar sini, jadi mampir" Haga lalu memperkenalkan Kevin, Vita dan Manda. Mereka satu persatu memperkenalkan diri dengan sopan.


Pandangan Haga beralih ke dalam rumah nya. "Hei.. Sayang.. Sini.. " kata Haga sambil melambaikan tangan nya pada seseorang di dalam rumah nya. Otomatis mereka ikut melihat ke dalam. Nampak seorang anak perempuan sedang memeluk boneka hello kitty berjalan ragu mendekat. Haga lalu berhambur memeluknya erat. Mereka terlibat obrolan layaknya ayah dan anak, entah sekedar menanyakan kabar dan bertanya hal hal ringan selama mereka tidak berjumpa selama beberapa hari ini.


"Ayok masuk dulu" ajak Mama Haga.


Kevin dan Vita masuk. Tapi tidak dengan Manda. Manda mematung, dahinya berkerut, ekspresi nya berbeda dari yang lain saat melihat Hasha, anak Haga. Bukan karena Hasha adalah anak Haga, pria yang pernah dan masih di cintainya, tapi ada sesuatu yang lain dari Hasha yang membuat Manda terpaku.


"Yaelaaaah.. Anak orang ketinggalan" seru Vita lalu kembali dan menarik Manda masuk. Manda pasrah saja ditarik oleh Vita. Pandangan nya tidak pernah lepas dari Hasha. Begitu juga dengan Hasha. Mereka berdua beradu pandang dengan tatapan yang entah bagaimana bisa di jelaskan oleh kata kata. Saat Manda dan Hasha berdekatan, Vita menyenggol Manda karena dia bengong saja sedari tadi.


"Salim sama calon anak, Bu" bisik Vita. Manda mencubit pinggang Vita lalu melotot tajam.


"Ini, tante Manda, sayang. Salim dulu" bujuk Haga ke Hasha, Hasha yang terlihat malu malu lalu mau mengulurkan tangannya ke Manda.


"Wow, ajaib" gumam Haga.


"Tumben nih, Hasha mau salim sama orang baru. Hasha ini anaknya pemalu sekali soalnya" jelas Mama Haga.


Karena sejak tadi Hasha memang tidak mau bersalaman dengan Kevin dan Vita dan memilih bersembunyi di balik tubuh papa nya sambil sedikit mengintip malu malu.


Manda tersenyum lalu mendekat dan menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Hasha. Mereka lalu bersalaman. Saat tangan mereka bersatu, kedua nya sama sama mengerutkan kening. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh mereka. Ada seperti semacam sengatan listrik saat tangan mereka menempel. Namun, tidak menyakitkan, justru menenangkan. Dan entah kenapa suasana sekitar mereka menjadi lebih hangat.


"Ayok duduk dulu. Sebentar ya, saya bikin kan minum. Mau teh atau kopi?" tawar Mama Haga sambil berjalan masuk ke dalam.


"Kopi boleh, Tante" seru Kevin semangat. "Kalo Vita, air kobokan aja, Tante" kekeh Kevin.


Plak!

__ADS_1


"Kampret!" umpat Vita sambil memukuli Kevin bertubi tubi.


Haga terkekeh, Mama Haga pun ikut tertawa sambil terus masuk ke dalam. Manda hanya geleng geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


"Malu maluin", gumam Manda sambil menoleh ke Kevin dan Vita.


Dan saat Manda kembali melihat Hasha, Hasha sedang melihat ke teras. Senyum terulas dari bibirnya. Seolah olah dia sedang berbicara dengan seseorang di luar sana. Manda menoleh dan sedikit terkejut melihat seseorang yang ada di teras. Seorang anak laki laki yang seumuran dengan Hasha, memakai baju adat jawa dengan blangkon di kepalanya. Wajahnya pucat pasi, lingkar hitam matanya sangat jelas terlihat. Tubuhnya tembus pandang. Dan yang pasti, anak itu adalah makhluk astral.


Mereka berkomunikasi dalam hati, Hasha terlihat bahagia melihat anak yang ada di luar. Manda menatap mereka berdua bergantian, Berharap dapat mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan mereka berdua bersamaan melihat ke arah Manda sambil cekikikan. Manda mengerutkan dahinya, lalu tersenyum ke Hasha.


"Kenapa?" tanya Manda sambil tersenyum. Dia tau kalau dirinya sedang menjadi topik hangat permbicaraan Hasha dan anak astral itu.


Hasha tersenyum lalu mendekat ke Manda dan berbisik, "kata Ryu, Tante Manda pacarnya Papa" Hasha lalu tertawa sambil menutup mulutnya.


"Eh.. Boong ah. Ngaco tuh Ryu" elak Manda malu malu.


"Beneran loh. Aku juga bisa liat" kata Hasha yakin.


Manda menaikan sebelah bibirnya. "Bisa liat? Coba gimana cara liatnya?" tanya Manda penasaran.


"Tuh", tunjuk Hasha ke sekeliling Manda. "Warna nya pink. Sama kayak papa"


Otomatis, Manda dan Haga saling lempar pandangan. Senyum Manda makin lebar, bukan karena kata kata Hasha barusan, tapi karena keyakinan bahwa Hasha istimewa memang benar adanya.


"Tante boleh kenal sama Ryu?" tanya Manda.


Hasha menoleh ke Ryu, Ryu tersenyum dan mengangguk sekali. Kevin, Vita dan Haga melongo melihat keakraban mereka berdua.


"Ryu siapa yak?" celetuk Kevin.


"Bego! Ya jelas setan lah. Kan Manda bisa liat setan, eh..tapi HASHA... Dia juga tah?" tanya Vita ke Haga.


Mama Haga keluar dengan nampan berisi minuman dan cemilan.


"Di minum dulu ya" kata Mama Haga.


"Makasih, Tante. Waduh, ngerepotin" ujar Kevin basa basi sambil membantu Mama Haga meletakan cangkir dan piring ke meja.


"Bentar lagi abis nih, Tante. Kevin mah tukang ngabis abisin makanan. Jangan di keluarin semua Tante" sindir Vita.


"Eh.. Eh.. Elu mah, buka kartu aja deh, Vit" tukas Kevin sambil mencomot kue di piring.


"Nah kan.. Bener kan Tante. Liat tuh. Ih, malu maluin banget sih elu Vin" ejek Vita.


"Udah udah.. Nggak apa apa kok. Abisin aja" kata Mama Haga.


Haga tertawa sambil menyecap teh hangat buatan Mama nya. Mama nya lalu menoleh ke teras di mana ada Manda dan Hasha yang terlihat akrab. "Tumben Hasha bisa seakrab itu sama orang baru"


"Emangnya Hasha nggak pernah gitu sebelumnya ya, Tante?" tanya Vita penasaran.


"Enggak pernah, dia mau ngobrol ya cuma sama kami, saya, papa nya, kakeknya, tante tantenya. Selebihnya... Nggak pernah mau"


"Hasha... Indigo ya, Tan?" timpal Kevin.


"Hmm.. Bisa dibilang begitu. Padahal sudah di tutup berkali kali sama ustadz, tapi cuma bertahan sebentar" tambah Mama Haga.


"Pantes, cocok sama Manda" sahut Kevin sambil meminum kopi nya.


"Nak Manda indigo juga?" tanya Mama Haga.

__ADS_1


"Hooh Tan, jadi kami nggak heran kalau liat Hasha tiba tiba ngomong sendiri. Udah biasa kami berdua liat Manda kayak orang gila. Marah marah sendiri, kadang ketawa sendiri, ngomong sendiri"


Sementara di teras, Manda dan Hasha sudah bersama dengan Ryu. Manda kembali mensejajarkan tubuhnya agar sejajar dengan Hasha dan Ryu. Ryu sebenarnya tampan, hanya saja wajahnya dingin, pucat pasi bagai tidak ada darah di baliknya. Itu wajar, karena dia makhluk astral. Ryu dan Hasha senyum senyum, itulah cara mereka berkomunikasi. Aneh nya Manda sama sekali tidak bisa mendengar percakapan mereka. Biasanya selain bisa melihat 'mereka', Manda juga bisa mendengar mereka. Apapun yang dipikirkan dan dikatakan mereka, dapat dengan mudah Manda dengar.


"Tunggu.. Kalian ngobrol apa sih?" tanya Manda penasaran.


Hasha menoleh ke Ryu, tak lama Ryu mengangguk.


"Sini Tante, tangannya" pinta Hasha.


"Tangan?" diulurkan tangan nya ke Hasha. Hasha lalu menggenggam dengan tangan kanan nya sementara tangan kirinya menggenggam tangan Ryu, aneh nya tangan mereka berdua benar benar seperti saling menggenggam.


Hasha memejamkan matanya, Manda pun demikian. Saat mata mereka terpejam, siluet masa lalu terputar kembali seperti sebuah film, masa lalu Manda dapat dilihat oleh Hasha, begitu juga sebaliknya. Masa lalu Hasha dapat dengan mudah dilihat manda. Dan beberapa detik kemudian, mereka sama sama membuka mata. Hasha seketika memeluk Manda.


Dan, Ryu.. Manda hanya melihat bagaimana sikap Ryu ke Hasha selama ini. Ryu baik, dia selalu berusaha melindungi Hasha dari gangguan makhluk astral lain yang berniat buruk padanya. Dan Ryu selalu menemani Hasha selama ini. Karena kemampuan yang dimiliki Hasha, justru dia di jauhi anak anak seumurannya. Sikap Hasha yang terkadang aneh bagi mereka membuat nya sering di bully, dan akhirnya Hasha menarik diri dari lingkungan dan hanya mau bergaul dengan Ryu dan keluarga dekatnya saja.


"Yang sabar, Tante. Tante nggak boleh sedih lagi ya" nasehat Hasha.


Cairan bening hangat tanpa malu malu menggenang di pelupuk mata Manda dan mengalir deras melewati pipinya. Pelukan Hasha mampu mengembalikan kerinduan nya pada putra nya yang telah tiada. Entah kenapa Manda menangis mendengar Hasha mengatakan hal itu. Kalimatnya sederhana, namun sangat membekas di hati.


"Ai.." panggil Haga yang ternyata sudah ada di depan pintu.


Hasha melepas pelukan nya. Lalu mengusap air mata Manda dengan tangannya. "Makasih, Hasha" ucap Manda dengan suara berat.


Hasha mengangguk sambil melempar seutas senyum. Dia menoleh ke Ryu yang entah sejak kapan pergi.


"Hasha.. Mandi dulu yuk sama Nenek" suruh Mama Haga.


Hasha mengangguk lalu mengikuti ajakan Neneknya dan masuk kedalam rumah.


Manda menarik nafas dalam dalam, dadanya sesak, namun ada perasaan lega kini.


"Kamu nggak apa apa?" tanya Haga memastikan.


"Nggak apa apa kok" sahutnya lalu masuk ke dalam berkumpul dengan Kevin dan Vita.


Manda meneguk habis teh hangat milik nya yang hampir dingin. Kevin dan Vita memandangi nya tanpa berani bertanya lebih dahulu.


"Siapa nih? Yang ngabisin kue satu piring?" sindir Manda sambil menatap dua orang yang duduk di hadapannya.


Mereka berdua malah cengengesan dan saling tuduh. Haga ikut duduk di sebelah Manda.


"Eh, Man.. Hasha indigo?" pertanyaan Kevin mampu merubah ekspresi wajah Manda menjadi serius.


"Iya.. Tapi, aku baru pernah liat yang kayak gini" Manda menyandarkan kepalanya di punggung sofa belakang nya.


"Maksud kamu, Man?" tanya Vita penasaran. Reaksi Haga pun sama seperti Vita. Mereka bertiga menunggu jawaban Manda selanjutnya.


"Jadi gini.. Waktu pertama kali aku liat Hasha, aku udah tau kalau dia indigo" jelas Manda sambil menatap mereka bertiga satu persatu, terutama Haga sebagai ayah Hasha.


"Dari mana kamu tau?" tanya Haga.


"Dari auranya. Setiap makhluk bakal memancarkan aura nya sendiri sendiri, tapi cuma orang orang tertentu aja yang bisa liat. Dan aura indigo itu dominan biru keunguan. Pas aku liat Hasha, warna itu ada tapi bukan itu yang aneh, tapi ada warna lain yang kadang muncul kadang hilang. Warna kuning keemasan. Aku baru tau, dan baru pernah liat yang kayak gini" jelas Manda serius.


"Terus itu artinya apa?" tanya Haga.


Manda hanya mengerdikkan kedua bahunya. "Besok aku tanya habibi" ujarnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2