
"Kita akhiri rapat pagi ini. Nanti akan ada rapat selanjutnya setelah kita selesaikan tugas masing-masing. Oke, terima kasih semua!" Kata Gamma lalu menjabat tangan Raja. Mereka terlibat obrolan ringan berdua. Pemandangan yang cukup menenangkan, hingga Rea pun harus di sadarkan oleh Lian yang berbisik di sampingnya.
"Satu punya elu, satu punya gue, ya," ucap Lian sambil melirik Gamma dan Raja yang sedang mengobrol ringan di seberang mereka.
"Heh! Apaan?" Tanya Rea yang terkejut pada apa yang dikatakan Lian. Lian justru beranjak dan pergi keluar. "Li! Lian!" jerit Rea lalu berjalan menyusulnya.
"Apa, Re?" Tanya Lian santai sambil tetap berjalan menyusuri koridor.
"Tadi apa maksudnya?"
"Heleh. Pakai pura pura nggak ngerti aja."
"Hah? Apanya?" Rea masih saja terkejut atau bahkan memang pura pura terkejut.
"Lo naksir sama Hagana, kan?" tanya Lian yang berhenti berjalan dan menatap Rea yang berdiri di sampingnya.
"Heh! Kata siapa?" Tanya Rea sambil tengah tengok sekitar takut ada yang mendengar obrolan ini.
"Ye, kata mata Lo! Mata Lo itu nggak bisa bohong! Gue pikir Lo nggak kenal Haga, Re."
"Iya emang nggak kenal Haga. Tapi kenalnya Raja. Kami pernah ketemu beberapa hari lalu di Kalimantan."
"Hah? Yang bener? Kok bisa?"
"Iya, jadi orang yang tolong kami waktu tersesat kedua kali di sana, itu bapaknya Raja. Astaga! Pantesan!" Pekik Rea yang tiba tiba teringat akan sesuatu.
"Pantesan apa?" Lian menjadi ikut penasaran dengan kisah mereka berdua.
"Bukan, Bukan gitu maksudnya. Awal mula aku ketemu sama Raja eh Haga, ya di desa itu. Kampung halaman dia. Ayahnya itu kepala desa di sana. Namanya Pak Wiryo. Orangnya juga hebat. Baik, penuh tanggung jawab, dan kami terus-menerus dibantu sama Pak Wiryo selama di sana. Tiba-tiba anaknya yang dari kota datang. Ya yang kami tahu namanya adalah Raja. Karena Pak Wiryo sendiri juga memperkenalkan dia dengan nama Raja bukan Haga.
Salah aku kenapa kemarin nggak nanya di mana dia kuliah. Astaga, dunia terasa sempit sekali rasanya."
"Oh jadi begitu. Gue juga malah baru tahu kalau Haga itu orang Kalimantan. Setahu gue, dia orang Jakarta aja. Soalnya dia nggak pernah mudik ataupun pergi ke luar kota selama ini."
"Iya, katanya memang dia nggak pernah pulang. Dia sibuk kuliah dan memang sengaja fokus untuk di sini. Tapi karena kemarin kondisinya mendesak dia pun balik ke kampung halaman."
"Hm. Rupanya dunia ini emang bener-bener sempit. Eh siapa tahu kalian berdua memang jodoh."
Rea belum sempat menanggapi kalimat Lian yang baru saja diucapkan. Orang yang sedang mereka bicarakan tiba-tiba muncul berjalan menuju ke arah mereka. Rea memberikan isyarat agar Lian diam, sambil melirik ke arah Haga yang berada di belakangnya.
" kamu kok di sini? Nggak masuk kelas?" tanya Raja.
" Iya tadinya mau masuk kelas cuman dapat notif dari grup, katanya kelasnya kosong. Jadi mau ke kantin dulu deh, sarapan. laper," kata Rea sambil memegangi perutnya yang memang sudah berontak minta diisi.
"Iya, kasihan nih anak orang, Ga. Katanya semalam dia nggak bisa tidur gara-gara diteror sama setan. Lihat aja tuh matanya, udah mirip Panda."
"Diteror setan? Di mana memangnya?" tanya Raja meminta penjelasan Rea, sambil menatap gadis itu lekat lekat. Ada raut kecemasan di wajah Raja, setelah mendengar informasi yang baru saja diucapkan oleh Lian.
__ADS_1
"Di rumah Leni. Jadi semalam aku sama Apri nginep di rumahnya Leni. Eh, malah ada gangguan di sana."
"Tapi kamu nggak apa apa, kan?" tanya Raja sambil memperhatikan wajah serta tubuh Rea.
"Nggak apa apa kok. cuma ngantuk aja. Tapi lapar."
"Ya sudah, kita ke kantin bareng aja. Soalnya saya juga belum sarapan," ajak Raja. "Kamu ikut juga?" tanya Raja pada Lian.
"Eh, diajak? Ah, enggak ah. Takut ganggu."
Rea melirik ke arah Lian sambil melotot. Tapi Lian justru tertawa sambil berlari meninggalkan mereka berdua.
"Gimana? Jadi?" tanya Raja kembali mengulangi lagi pertanyaannya.
"Oh iya. Jadi jadi!" Rea tampak bersemangat kali ini. Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju kantin. Sepanjang jalan bukan hanya terlibat obrolan basa-basi ringan. Mengenai Betapa terkejutnya Rea saat mengetahui kalau dia ternyata satu kampus dengan Raja.
" saya baru tahu kalau nama kamu di kampus adalah Hagana."
"Iya, karena itu nama depan saya."
" saya tahu. Teman-teman sudah memberitahu saya tadi. Oh ya bagaimana kabar Pak Wiryo? Radi juga."
" Alhamdulillah Bapak sehat. Beliau juga kirim salam untuk kalian."
"Loh, memangnya Bapak tahu kalau kita satu kampus?"
" jadi kamu sebenarnya tahu kalau kita itu satu kampus? Saya Junior Kamu begitu kah?"
" Iya saya sudah tahu."
" Sejak kapan? Kenapa nggak bilang sebelumnya?"
" emangnya kenapa? Lagipula kamu juga tidak bertanya."
"Ish, dasar! Pintar berkelit!"
Raja lantas tertawa tipis, dia merasa senang karena berhasil mengerjai Rea. " Oh ya tentang program rencana Yang tadi kita bahas. Jadi kebutuhan yang memang diperlukan hanya itu saja ya?"
" Iya sesuai dengan yang ada di rincian yang saya kasih tadi. Itu kebutuhan pokoknya memang seharusnya ada untuk mereka. Tapi juga ingin memberikan barang lain, juga tidak apa-apa. Hanya saja sebenarnya yang paling dibutuhkan adalah tenaga. Saya sudah memeriksa ke sana, ada dapur umum yang udah menyediakan banyak bahan makanan. Karena salah satu lembaga swadaya masyarakat setempat bisa menyiapkan bahan makanan setiap hari. Seperti sayuran, lauk pauk, juga buah-buahan. Tapi karena kondisi pengungsian yang Ala kadarnya, membuat banyak anak-anak terlantar. Banyak juga orang yang sakit dan tidak bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik. Karena Rumah Sakit setempat sudah penuh, jadi untuk orang-orang yang memiliki luka ringan, yang tidak membahayakan, hanya dibiarkan begitu saja di pengungsian."
"Wah, kasihan sekali, ya. Ini semua karena letak daerah itu yang jauh dari kota. Apalagi dengan kondisi transportasinya yang sulit."
"Iya benar. Bahkan jembatan yang dipakai untuk menghubungkan ke desa itu, hanya sebuah jembatan yang terbuat dari bambu. Waktu kami datang ke sana naik mobil saja, harus turun dan berjalan kaki ke sana. Takut jembatannya ambruk."
"Kalau pemerintah daerah setempat bagaimana?"
" memang ada bantuan dari pemerintah daerah setempat, tapi rasanya kurang. Saya pikir bantuan itu justru tidak tepat sasaran. Jadi kita yang harus bergerak untuk membantu mereka."
__ADS_1
"Baiklah. Siang nanti setelah pulang kuliah saya akan Mulai mengumpulkan anggota yang lain untuk mencari sumbangan."
"Oke. Terima kasih banyak ya, Raja."
"Sama-sama Rea."
Mereka melanjutkan sarapan bersama. Menyantap 1 porsi bubur ayam dilengkapi dengan teh manis hangat Apalagi ditambah dengan suasana yang menyenangkan, membuat pagi Rea menjadi sempurna. Rasa kantuk dan lelah yang ia rasakan mendadak hilang. Apalagi dia jadi makin dekat dengan Raja. Hal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Padahal Rea tidak terlalu berharap bisa bertemu lagi dengan Raja. Mereka benar-benar putus komunikasi setelah Rea kembali ke Jakarta. Tapi rupanya takdir berkata lain.
Saat menyuapkan bubur pada suapan terakhir, sontak Rea menoleh ke arah kanan. Dia tampak sedang mencari-cari sesuatu dengan gelisah. Raja yang melihatnya lalu ikut menatap ke arah tersebut. "ada apa?"
"hm? eum, nggak papa. Saya merasa seperti ada yang sedang memperhatikan Kita sejak tadi. Tapi tidak ada siapapun. Barangkali hanya perasaan saya saja."
Raja tidak menanggapi perkataan itu, justru kalimat Rea membuat Raja sadar akan sesuatu yang aneh. Yah, memang ada sesuatu di tempat yang sedang Rea tatap. Karena baru saja ada sekelebat bayangan hitam yang melintas di sana, pergi dengan cepat tanpa bisa Raja lihat bentuknya. Yang jelas itu bukan manusia.
"Raja? Raja?" Panggil Rea sambil melambaikan tangan ke depan wajah pemuda itu.
"Eh, ya? Kenapa?"
"Kamu kenapa? Kok melamun?"
"Oh tidak apa apa. Oh ya, Re. Kalau ada sesuatu yang aneh, atau berbahaya, atau apapun itu, kamu bisa menghubungi saya."
" Maksud kamu apa?"
" Tapi kamu jangan salah paham dulu. Saya tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja Jika kamu butuh bantuan apapun itu, kamu bisa mencari saya," jelas Raja sambil menatap dalam kedua bola mata Rea.
"Hm? Baiklah. Eh, tapi. Kalau misalkan nggak ada di kampus, bagaimana saya memberitahu kamu kalau ada sesuatu?" tanya Rea bingung.
"Mana ponsel kamu?" tanya Raja.
Tanpa banyak bertanya Rea memberikan ponsel miliknya kepada Raja. " Apa sandinya?" tanya Raja sambil menunjukkan layar ponsel yang terkunci.
" dengan angka. 898989."
"Oke." Raja tampak sedang mengetik sesuatu. Lalu tak lama dia memberikan ponsel itu kepada Rea. " di situ sudah ada nomor telepon saya. Jadi kamu bisa menghubungi saya kapanpun kamu mau."
"ohya? Yakin kapanpun?" tanya Rea menegaskan. Dia juga kini langsung memeriksa ponselnya dan mencari nomor yang telah diketik oleh Raja. "my king?" tanya Rea sambil menunjukkan kontak nomor baru tersebut.
" Iya kenapa? Kamu keberatan nama saya di ponsel kamu seperti itu? Kalau tidak mau silakan ganti saja sendiri." Raja lantas beranjak dari duduk, lalu pergi menuju kasir dan membayar makanan mereka.
Sebentar Rea mulai senyum sambil terus menatap ponselnya. Tidak ada keinginannya untuk mengubah nama tersebut di ponselnya. Dia justru sangat senang apalagi Raja sendiri yang mengetiknya.
"Saya duluan ya. Ada kuliah sebentar lagi," kata Raja berpamitan.
"Oh iya. Oke. Nggak apa apa. Saya juga mau ke kelas setelah ini.
Akhirnya keduanya berpisah di kantin tersebut untuk kembali ke kelas masing-masing. Posisi kelas mereka yang berseberangan membuat keduanya tidak bisa kembali ke kelas bersama-sama. Tetapi setelah sarapan berdua ini terlaksana, semangat Rea tiba-tiba bangkit kembali. Dia tampak bahagia dan sangat gembira berjalan menyusuri koridor menuju ke kelasnya. Sepanjang jalan dia bersenandung dengan lagu Cinta. Bahkan tidak segan-segan Rea menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya.
__ADS_1