pancasona

pancasona
Part 6 serangan di rumah


__ADS_3

Suara beberapa orang terdengar riuh di telingaku, namun rasanya aku masih enggan membuka mata. Tubuhku rasanya sangat lelah sejak semalam. Panggilan Kak Roger justru membuatku makin bergelung dengan selimut. Pagi ini terasa dingin, tapi dingin yang wajah. Ah, rasanya aku masih ingin tidur lebih lama lagi. Namun, dering panggilan di ponselku terdengar lebih nyaring dari suara Kak Roger, karena benda tersebut aku letakan di bawah bantal tidurku. Aku mengerjap dan melihat layar pipih itu.


"Loh, ada sinyal?" tanya Kak Bintang yang ternyata berdiri di dekat kasur tidurku. Aku hanya menatapnya sebentar dan beralih kembali ke layar datar di tangan. "Papa?!" pekikku.


Entah kenapa aku langsung duduk, ragu untuk menjawab telepon dari Papa, tapi kalau aku tidak mengangkatnya maka akan terjadi perang dunia ketiga di rumah nanti. Aku berdeham, sementara Kak Bintang perlahan menyingkir sambil keluar dari tenda. Rupanya di luar sudah ada Kak Roger dan Kak Faza yang sedang memancing ikan di danau.


Aku menggeser ke kanan tombol dilayar. Meletakkan benda pipih itu ke dekat telinga, berdeham untuk menetralkan suaraku. "Ya, Pah?" tanyaku dengan ragu. Bagaimana pun juga aku takut Papa marah. Karena aku tidak pulang ke rumah.


"Kamu di mana?" tanya sebuah suara dari seberang. Datar dan dingin, khas Papaku.


"Nabila lagi camping sama teman-teman, Pah. Ini mau pulang kok," sahutku berusaha setenang mungkin menjawab.


"Camping? Pulang sekarang!"


Dan telepon dimatikan. Aku merasa lemas, gawai kupegang erat di tangan, netraku menatap ketiga pria di luar sana yang masih asyik memancing. Menarik nafas, dan menikmati udara pagi yang masih sangat segar, semoga membantu hati dan pikiranku menjadi lebih jernih.


"Bil?" panggil Kak Rayi yang sedang membereskan barang-barangnya. Dia memang tidur tidak begitu jauh dari kasur milikku. Alhasil aku menoleh padanya sambil membereskan selimut yang kupakai tadi. Rasa kantukku sekejap hilang, bahkan aku seolah tidak ingin bernafas setelah mendapat telepon dari Papa. Kak Rayi mendekat, dan menarik kursi lalu duduk di dekatku. "Kenapa?"


"Nggak apa-apa kok." Kupaksakan tersenyum agar dia tidak berpikir yang tidak-tidak. Namun Kak Rayi masih tetap diam di kursi itu.


"Kamu nggak pamit sama Papa kamu, ya?"


Aku melirik ke arahnya sambil menarik nafas panjang. Acara merapikan selimut berakhir, dan benda tersebut kini sedang ku peluk erat. "Hubunganku sama Papa memang nggak begitu baik, Kak. Papa terlalu ... mengekang semua hal yang ingin aku lakukan. Bahkan Papa nggak tau kalau aku ikut taekwondo di sekolah."


"Hm, sebagian besar orang tua memang begitu, kan? Itu artinya mereka khawatir sama keselamatan kamu. Pasti Papa kamu punya alasan sendiri kenapa melakukan itu. Tapi bukan berarti kamu harus menentang dia terus, Bil. Mungkin caranya harus dirubah. Cara pandang kita dengan orang tua memang tidak sama."


"Iya, aku ngerti, Kak. Tapi ... entahlah, rasanya aku kesal sama semua yang ada di sekitarku. Papa, mama yang sekarang udah nggak sama kami lagi, walau semua terasa sama buat aku. Mama meninggal atau enggak, Mama dan aku sudah lama nggak ngobrol karena mama sakit. Bedanya, selama ini aku masih bisa melihat mama, walau cuma diam dengan banyak alat bantu kehidupan di dekatnya. Aku tau, kalau mama sebenarnya udah nggak bisa diselamatkan, tapi papa selalu larang dokter buat melepas alat bantu kehidupannya. Tapi, papa justru sibuk sendiri. Sama pekerjaannya, Papa nggak pernah peduli sama aku. Aku muak, Kak, sama semua yang ada di kehidupan aku."


"Semua?" tanya Kak Rayi. Aku kembali menatapnya, sorot mata itu terlihat tidak biasa. Dan anehnya membuat jantungku berdegup lebih cepat. "Aku juga?" tanyanya lagi, tatapannya terasa sangat dalam seolah menembus ke jantung hatiku. Astaga, kenapa ini. Kenapa aku gemetaran.


"Ih, Kak Rayi ngomong apa sih," tampikku mencoba bersikap wajar. Dia tertawa, lalu mengalihkan tatapannya ke teman-temannya di luar. "Nanti aku coba ketemu Papa kamu, bagaimana? Biar aku jelaskan masalah ini, biar kamu nggak dimarahi?"


"Eum, nggak usah, Kak. Percuma. Papa nggak akan mau dengerin. Aku tau bagaimana watak Papa." Aku mulai berkemas, memasukkan barang-barangku ke dalam tas.


"Hm, ya sudah. Kalau begitu kita pulang sekarang saja. Biar aku panggil yang lain untuk siap-siap," ujar Kak Rayi, kemudian berjalan keluar tenda memanggil teman-temannya yang lain.


Dalam perjalanan aku banyak diam, mobil terasa ramai karena kedatangan Kak Faza, dia banyak bercerita tentang hal yang dialaminya kemarin. Semua orang tentu penasaran atas apa yang terjadi padanya. Jujur, aku tidak begitu mendengarkan penjelasannya. Aku memilih menatap ke arah jendela dengan headset di telinga, mendengarkan lagu-lagu yang menenangkan. Rasanya pulang adalah mimpi buruk yang nyata. Aku lelah jika harus bertengkar lagi dengan Papa, tapi aku juga tidak mungkin tinggal diam jika Papa mengatakan hal-hal yang menyakiti hatiku. Aku yakin, apa yang aku lakukan sudah benar. Aku hanya membantu orang-orang.


Kak Roger menyenggolku dan menunjuk ke depan, aku memang yang saat ini tidak mendengar suara lain selain yang ada di benda kecil di telingaku lantas melihat gerak bibir Kak Roger. Akhirnya aku melepaskan headset ini dan menatap ke arah depan. Kak Rayi dan Kak Bintang sedang menatapku, bahkan keempat pria itu. "Kenapa?" tanyaku bingung.


"Udah sampai rumah," sahut Kak Bintang menunjuk ke depan. Saat aku memperhatikan keadaan di luar, rupanya aku sudah sampai di halaman rumahku sendiri. Aku benar-benar tidak sadar, dan sebuah mobil terparkir di sana membuatku lemas. Papa di rumah.


"Terima kasih," kataku langsung membuka pintu mobil sampingku.


"Take care, Bil," seru Kak Roger. "Bil, thanks," sahut Kak Faza lembut.


Aku tersenyum ke arah mereka sambil melambaikan tangan, hendak melepas kepergian mereka. Tapi tiba-tiba Kak Rayi malah keluar dari mobil, dan kini berdiri di depanku. "Kenapa?" tanyaku penasaran. Sikapnya aneh dan sangat mencurigakan.


"Aku temenin kamu masuk, buat bilang ke Papa kamu," jelasnya lalu berjalan melewatiku. Sontak aku melotot dan langsung meraih tangannya. Dia berhenti dan menatapku dengan dahi berkerut. "Kak, jangan. Please," pintaku memohon.


"Kenapa? Nggak apa-apa, Bil. Lagian seharusnya memang aku izin dulu ke Papa kamu sebelum ajak kamu pergi kemarin. Aku nggak mau kamu dimarahin." Kalimat Kak Rayi benar-benar membuatku meleleh. Kalau hatiku diibaratkan es krim, maka es ini meleleh dengan cepat.


"Serius, Kak. Nggak usah. Biar aku masuk sendiri aja, ya?" pintaku lagi. Aku tidak tau apa reaksi Papa jika tau aku pergi bersama laki-laki, sekumpulan laki-laki dan menginap di hutan. Mungkin aku akan digantung atau di kurung di kamarku. Dalam perdebatan ini, tiba-tiba derit pintu terbuka membuat jantungku memompa makin cepat. Ini lebih cepat dari yang kualami kemarin saat bersama Kak Rayi. Dan aku sangat yakin, itu adalah Papa. Kak Rayi menatap pintu dan melebarkan senyum. "Pagi, Om," sapanya.


"Pagi," sahut suara berat khas, Bapak Elang Dhananjaya. Papaku. Aku langsung menunduk lemas, semua terlambat.


"Maaf, Om. Kami baru pulang ...."

__ADS_1


"Nabila, masuk!" Belum sempat Kak Rayi meneruskan kalimatnya, Papa langsung memberikan mandat tegas seperti itu. Sebelum masuk aku meliriknya, Kak Rayi menatapku dengan wajah teduh seperti biasanya. Padahal aku sudah panik dan ketakutan karena Papa justru memergoki kami di depan rumah. Padahal tadinya aku mau naik lewat jendela ke kamar.


Langkahku cepat menuju pintu di mana Papa ada di sana. Setelah masuk ke dalam aku tidak lagi mendengar mereka mengobrol. Tapi aku yakin kalau Papa dan Kak Rayi masih terlibat pembicaraan serius. Ah, lebih baik aku masuk kamar. Dan menguncinya rapat.


_____________


Malam telah larut, aku sudah mandi dan merapikan peralatan sekolah. Besok aku akan latihan taekwondo. Rasanya sudah cukup hari berkabung bagiku. Dan aku harus kembali ke aktivitasku yang biasanya. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00, dan aku sudah dipanggil berkali-kali untuk makan malam. Kalau saja ada Om Gio mungkin keadaan tidak akan kaku seperti ini.


Sudah berkali-kali aku menolak untuk makan, namun akhirnya aku menyerah saat Papa yang memanggilku dari depan pintu. Menarik nafas terlebih dahulu, karena perang akan dimulai.


Pintu aku buka lebar, Papa di depan pintu dengan setelan tidurnya. Aku hanya berani menunduk, tapi aku yakin kalau Papa terus menatapku. "Ayok, makan."


"Pa, aku nggak lapar. Besok aja, pagi."


"Makan dulu. Papa tau kamu di sana cuma makan mie dan makanan kaleng. Bibi sudah masak banyak makanan, siapa yang mau habiskan?"


Tidak ada nada marah dalam kalimat Papa. Dan ini membuatku heran dan bingung. Hingga akhirnya aku beranikan diri menatap Papa. "Masak apa?"


"Rendang. Ada gulai kambing juga, huh, Papa yakin besok harus cek kolesterol ini," kata Papa dengan wajah yang terlihat lucu, dan berhasil membuat aku tertawa pelan. "Mau makan, kan?" Aku mengangguk cepat. Papa mengangguk dan berjalan lebih dulu. Ajaib, kenapa bisa begini? Papa berubah, aneh! Tapi aku suka.


Makan malam kali ini adalah makan malam yang paling menyenangkan dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan beberapa kali aku melihat Papa tersenyum sambil menceritakan kesehariannya selama ini. Bagaimana keadaan di kantornya, tentang Om Gio yang kini kembali sibuk dengan kegiatannya, atau tentang perjalanan bisnis Papa. Dia bilang bulan depan aku akan diajak ke sebuah pulau kecil yang ada di Papua. Kata Papa pantai di sana sangat indah.


"Bil, Papa suka kalau kamu mulai punya teman baru. Sering-sering ajak mereka ke rumah," kata Papa pada akhirnya.


"Maksud Papa Kak Rayi?"


"Iya, mereka bertiga itu ternyata anak teman bisnis Papa. Papa pernah ketemu dia sebelumnya."


"Kapan?"


"Eum, kalau nggak salah waktu peresmian kantor cabang. Dia datang karena diajak Papanya juga. Dia itu anaknya Pak Hendra Wijaya, kamu ingat? Pemilik rumah sakit tempat Mama mu di rawat dulu."


"Iya, kamu pernah ketemu, kan? Sama Pak Hendra Wijaya?"


Aku hanya mengangguk sambil mengingat kejadian itu, di mana Papa mengenalkan pria itu saat kami sedang di rumah sakit. Ah, pantas saja nama Kak Rayi, adalah Rayi Derrien Wijaya.


Papa makan lahap malam ini, begitu pula aku. Dan sangat jarang terjadi. Aku sampai heran, apa yang sudah dikatakan Kak Rayi ke Papa tadi. Sampai-sampai Papa tidak marah karena tau aku pergi semalaman.


"Pa, Kak Rayi bilang apa saja tadi?" tanyaku benar-benar tidak bisa membendung lagi rasa penasaranku. Papa yang sedang makan, lantas menatapku, kemudian menatap langit-langit dan mengangguk, "Oh, cuma bilang kalau kalian habis camping semalam. Ada acara organisasi di sekolah. Dan kamu katanya salah satu kandidat OSIS, ya?"


"Hah?! Aku? OSIS? Ah, ngarang itu," elakku karena memang itu tidak benar. Kak Rayi sungguh pandai berbohong, tapi sangat berlebihan.


"Nggak apa-apa, Bil. Bagus dong, kalau kamu bisa masuk jadi pengurus OSIS, karena dalam sebuah organisasi di sekolah pasti akan membawa kepribadian lebih baik nanti. Itu bagus buat kamu. Papa doakan, biar kamu jadi ketua OSIS periode selanjutnya," bisik Papa antusias.


Aku menelan nasi yang berada di dalam mulutku bulat-bulat. Tanpa dikunyah lebih lama lagi, karena permintaan Papa barusan adalah hal yang sangat aku hindari di sekolah. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian dan memang selama ini lebih suka menutup diri dari orang-orang.


"Pah, sekarang lagi sering di rumah? Nggak ada perjalanan bisnis keluar kota lagi, begitu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa? Besok kamu ada latihan taekwondo, ya?"


"Uhuk!" Aku benar-benar terkejut mendengar hal itu, hingga membuatku tersedak saat sedang minum. Kupikir Kak Rayi tidak mengatakan hal ini tapi ternyata aku salah. Aku langsung menatap Papa yang kini berwajah serius. Jantungku seolah berhenti mendadak, dan kembali berdetak lebih cepat dari semula.


"Kak Rayi bilang apa saja?"


"Semua." Papa diam, mengaitkan kedua tangannya di meja. Acara makan kami sudah selesai, dan kini aku sudah tidak nafsu makan. "Selain kamu ikut taekwondo, juga tentang wendigo dan kejadian di danau semalam. Rayi menceritakan semuanya."


"..."

__ADS_1


"Dan sebenarnya selama ini Papa sudah tau, kalau kamu latihan taekwondo. Bahkan sebelum kamu ikut di sekolah. Kamu selama ini latihan bela diri, diajarkan oleh Om Gio, kamu pikir siapa yang menyuruhnya? Papa, Nabila."


"..."


"Papa sadar, nggak mungkin Papa menentang kamu terus-terusan. Bakat kamu nggak bisa terus menerus Papa sembunyikan. Dan lagi, dunia ini nggak mungkin aman setiap saat. Apalagi Papa nggak bisa terus menerus ada di samping kamu. Maaf kalau selama ini sikap Papa membuat kamu tidak suka, Papa hanya bingung harus bagaimana. Papa harus menjalani semua sendirian, membesarkan kamu, tanpa Mama. Bagaimana pun juga, Mama adalah wanita terbaik yang Papa temui."


"Pah ...."


"Maafin, Papa. Papa sayang kamu." Kalimat itu, benar-benar masuk ke dalam hatiku. Mataku berkaca-kaca, bibirku bergetar, dan tubuhku panas dingin. Papa memundurkan kursinya, lalu berjalan mendekatiku. Papa memelukku, aku yang masih duduk di kursi hanya mampu memeluk perutnya yang datar. Wangi tubuhnya sungguh aku rindukan. Entah sudah berapa lama aku dan Papa tidak sedekat ini. "Papa cuma khawatir, takut terjadi hal buruk sama kamu. Papa melarang kamu melakukan hal-hal nekat itu, karena Papa takut, Bil. Takut kamu pergi seperti dulu. Apalagi sekarang Mama sudah nggak ada."


"Papa jangan bilang begitu. Nabila nggak akan ke mana-mana. Nabila bakal temani Papa terus di sini," rengekku. Tangisku pun pecah. Aku terisak dan membuat pelukan Papa makin erat. Papa lantas melepaskan pelukannya, lalu jongkok di depanku. Dia menghapus air mata yang basah di pipiku. "Jangan nangis lagi. Kamu jelek kalau nangis. Besok kalau mata kamu bengkak gimana?"


Aku tertawa mendengar lelucon Papa. Hingga tiba-tiba kaca jendela di ruang tamu pecah. Sontak kami menoleh dan saling menatap heran. "Ada apa ya, Pah?"


"Enggak tau. Papa lihat dulu, ya."


Perasaanku tidak enak. Keadaan rumah terasa panas, Bi Wati kupanggil sejak tadi tidak menyahut. Ini aneh. Akhirnya aku mencari Bi Wati ke dapur. Hanya berjarak 5 meter dari ruang makan ke dapur. Ruangan itu kosong, bahkan gelap. Hanya ada cahaya dari salah satu kamar mandi yang memang ada di dapur.


Tiba-tiba suara jeritan Papa terdengar nyaring. Sontak aku segera berlari ke depan, aku takut terjadi sesuatu dengan Papa. Saat sampai di ruang tamu, aku terkejut melihat kondisi ruangan ini yang berantakan. Meja ruang tamu yang terbuat dari kaca tebal, pecah. Jendela juga demikian, namun Papa tidak ada di sini. Aku terus menjerit memanggil Papa. Dan baru aku sadari kalau Papa ada di halaman. Suara erangannya terdengar samar namun masih dapat kudengar jelas. Aku berlari keluar rumah.


Di halaman, Papa sedang terbaring dengan menekan dadanya. Di sudut lain halaman rumah kami, ada seseorang yang sangat familiar di mataku. Dia ... Dia makhluk yang ada di danau kemarin. Dia di sini?!


"Papa!" jeritku yang melihatnya tak berdaya. Namun setidaknya Papa masih hidup dan bisa berdiri. Aku berlari mendekat padanya. Tapi tiba-tiba tubuhnya seolah di tarik paksa dan justru mendekat ke laki-laki di sudut gelap sana.


"Nabila!" Papa menjerit sambil memegang dadanya.


Leherku di cekik, dan tubuhku di angkat tinggi-tinggi. Pandanganku mulai buram. Oksigen yang kuhirup makin tipis. Samar aku melihat ada Om Gio yang masuk dari pagar rumah kami. Dan ada Kak Rayi juga di belakangnya. Mereka terlihat panik. Mereka bahkan menjerit, terlihat dari mulut mereka yang terbuka dan wajah mereka cemas. Tapi aku tidak mendengar suara itu. Suara mereka tidak dapat kudengar. Telingaku seperti berdengung dan membuatku pusing.


Aku berusaha meronta, mencari pijakan. Jika tidak aku akan mati dalam hitungan detik. Makhluk di depanku ini terasa nyata. Bukan lagi makhluk halus seperti kemarin. Aku bahkan memegangi tangannya dan berusaha melepaskan diri darinya.


Ia menyeringai dengan wajah mengerikan. Tangan kirinya masih memegang leher ku, sementara tangan kanannya menepis ke arah lain. Di ujung ekor mataku, Kak Rayi terpental jatuh di atas mobil Papa. Lampu mobil itu menyala dengan sinar yang cukup ramai. Seharusnya suara alarm juga pasti riuh. Jika aku bisa mendengarnya.


Bathara Kalla menoleh ke belakangku, sebuah benda mengkilap terlihat akan menusuk ke tubuh makhluk di depanku. Tapi pisau itu justru terlempar jauh. Mulutku mulai terasa basah, rasanya getir. Sepertinya ini darah. Entah mendapat ide gila dari mana, wajah makhluk mengerikan di depanku, kuludahi dengan darah dari mulutku. Ia menjerit karena cairan merah tersebut masuk ke dalam matanya.


Otomatis dia melepaskan tangannya dari leherku. Aku jatuh tersungkur, memegangi leher dan berusaha menjauh darinya.


Merangkak dengan berpegangan rumput di depan. Terus begitu. Tapi tiba-tiba kakiku di pegang dan ditarik, bukan celana yang dia tarik, melainkan betisku. Kuku tajam nya menancap kuat di betis, merobeknya dalam, hingga membuatku menjerit kesakitan.


Tiga pria itu masing-masing terluka. Aku yakin kalau mereka sudah tidak pu ya lagi daya dan kuasa untuk melawan makhluk ini. Kakiku benar benar sakit. Tidak hanya satu, tapi keduanya. Dia seolah sedang merangkak di atas punggungku dan terus merobek tiap daging yang berada di sana. Tiap robekan membuatku menjerit kesakitan. Sampai akhirnya baju bagian belakangku robek.


Dia yang awalnya memegang punggungku, lantas malah menjerit sambil memegangi telapak tangannya. Aku melihatnya jelas sekarang. Dan suara di sekitar ku mulai terdengar tanpa adanya gangguan.


"Lang!" jerit Om Gio. Melempar pisau tadi ke Papa. Papa menangkapnya dengan cekatan lalu berlari dengan sekuat tenaga mendekat ke makhluk ini. Kak Rayi ikut mendekat padaku dan membopong, membawaku menjauh. Di gendongannya aku melihat Papa menusuk jantung makhluk tadi.


Bathara Kalla versi manusia yang ada di halaman rumahku, kini terlihat seperti patung. Tubuhnya retak retak dengan sinar terang di tiap retakannya. Dan akhirnya hancur.


"Astaga, Bil! Kita ke dokter sekarang," kata Kak Rayi panik. Melihatku berdarah darah.


"Jangan! Masuk saja ke rumah, bawa Nabila ke kamar!" titah Papa. Kak Rayi yang hendak protes ditahan oleh Om Gio. Dan akhirnya aku dibawa ke kamar dan dibaringkan di atas tempat tidur pasir yang memang ada di kamarku yang lain.


"Om, kenapa nggak ke dokter aja?!"


Papa hanya melirik dan kembali fokus pada tubuhku. "Nabila nggak butuh dokter!" cetus Papa.


Om Gio menarik tangan Kak Rayi sambil menyuruhnya melihatku.


Aku yang masih menjerit karena kesakitan, perlahan mulai merasakan tubuhku makin enakan. Aku memejamkan mata, dan mulai merasakan sensasi dingin di tiap bagian tubuhku yang terluka.

__ADS_1


Dari ujung kaki perlahan merembet naik ke atas. Betis, paha, dan akhirnya seluruh tubuhku. Saat sudah tidak ada lagi rasa sakit, aku membuka mata. Menatap Papa, "dingin," ucapku sambil menggigil. Papa meraih selimut dan menyelimutiku. Tubuhku kembali utuh, tidak ada lagi luka atau robekan seperti tadi. Semua hilang hanya dalam hitungan menit.


Yah, beginilah aku, separah luka apa pun yang aku terima, semua akan hilang dan baik-baik saja saat aku tiduran di atas pasir. Seperti ini. Aneh, tapi nyata. Dan aku juga tidak tau alasannya.


__ADS_2