
"Apa maksud, paman?" tanya Abimanyu dengan emosi yang ditahan.
Elang menarik nafas panjang. Melirik pada Adi yang terlihat antipati, padahal Adi sendiri tidak sanggup menceritakan hal ini.
"Itu bukan kecelakaan. Arya dan Nayla bermaksud mendatangiku. Mereka punya informasi penting tentang keberadaan Kalla di desa kalian. Namun, rupanya niatan mereka diketahui oleh iblis itu. Mereka menabrak mobil ayahmu hingga mobil itu terbalik. Jumlah mereka yang cukup banyak, membuat Arya kewalahan. Saat ibumu sekarat, salah satu dari Kalla mulai menghirup hawa murni tubuhnya, Arya melempar mereka dengan mobilnya. Kamu tau bukan, kalau ayahmu masih sama seperti dulu. Ia tetap kuat, tapi jika jantungnya berhenti berdetak, ia akan mati. Itu normal, tapi ia tidak rela membiarkan ibumu di renggut oleh Kalla. Saat itu juga, mobil meledak, Kalla dan Nayla terbakar. Di sisa tenaga Arya, dia berusaha bertahan, tapi ... Arya meninggal," jelas Elang dengan kepala tertunduk.
Abimanyu benar-bemar terpukul. Tubuhnya lemas. Matanya terasa panas. Ia tak mampu lagi membendung air yang mulai bermuara di kelopak matanya. Ia meremas gelas yang ada ditangannya hingga remuk. Pecahan beling menancap di semua telapak tangan kanannya. Darah merembes keluar. Tapi pemuda itu sama sekali tidak merasakan sakit. Karena rasa sakit dihatinya jauh lebih pilu.
"Akan aku bunuh mereka semua dengan kedua tanganku sendiri!" Abimanyu mengatupkan rahangnya yang mengeras.
"Yah itu tugas kita berempat sekarang. Terlebih kamu memiliki kemampuan istimewa yang tidak sembarangan orang memilikinya. Itu akan mempermudah kita untuk mengetahui keberadaan mereka."
Genggaman tangan Abimanyu belum mengendur. Gio menggenggam pergelangan tangan keponakannya. "Aku tau kamu sangat marah, tapi atur emosimu. Jangan sampai emosimu meledak-ledak dan merugikan dirimu sendiri. Sekalipun kamu bisa melihat mereka dan tau keberadaan mereka, tapi kamu tidak bisa melakukan seorang diri. Buat kedua orang tuamu bangga. Dan kamu tau, bukan, kalau ibumu sudah berpesan padaku untuk menjagamu sampai kapan pun."
Abimanyu mulai mengendurkan genggamannya. Telapak tangannya terluka dengan tancapan beling di sekujur telapak tangan itu. Tapi perlahan darah mulai mengering, pecahan beling yang masih menancap keluar dengan sendirinya dan akhirnya keadaan kembali seperti semula. Tanpa luka, darah, maupun bekas apa pun.
____
Abimanyu terbaring di atas pembaringan. Menatap langit-langit yang ada di kamar tempatnya tinggal. Apartment Wisnu.
Ia terus membayangkan kejadian tadi dan bayangan kedua orang tuanya. Tiba-tiba gawainya berdering. Menampilkan sebuah pesan dari Gio.
[Tidurlah anak muda. Ingat! Besok hari pertamamu bekerja! Jangan permalukan aku.]
[Baik, Paman.]
Ia membuka galeri pada benda pipih itu. Mencari rekaman video miliknya dengan suara Nayla, ibunya. Abimanyu memang gemar merekam dan mengabadikan kegiatannya sepanjang hari. Dan Nayla adalah objeknya yang terbanyak. Segala kegiatan ibunya, ia rekam dan ia simpan rapi.
Kini hampir setiap malam, Abimanyu selalu menonton rekaman itu. Atau sekedar mendengarkan suara ibunya saat mengomel padanya yang diam-diam ia rekam. Dan hal itulah yang membuat tidur Abimanyu lelap.
_____
Suara kokok ayam dari gawai membuat mata hitam itu terbuka sempurna. Alarm yang cukup unik, namun sangat berhasil membuat Abimanyu terjaga. Ia segera melakukan ritual paginya. Olahraga ringan setelah itu seduhan kopi membuat paginya sempurna. Tepat saat kopi di cangkirnya tandas, Gio muncul dari pintu.
"Sudah siap, Anak muda?" tanya Gio yang hanya melongok sedikit kepalanya dari balik pintu. "Ayo cepat!"
Abimanyu hanya menatap pria di luar itu dengan santai, meraih jaket tebal miliknya. Cuaca pagi ini cukup sejuk karena hujan terus turun sejak semalam.
_____
Cafe milik Wisnu sudah ramai oleh para karyawan. Saat Abimanyu datang bersama Gio, mereka di sambut oleh Nayaka, manager sekaligus penanggung jawab cafe. Wisnu memang jarang berkunjung karen kehidupannya di lingkungan baru membuat ia menjadi sangat sibuk. Ia hanya mengontrol semua kegiatan cafe lewat email atau pesan pribadi dengan Nayaka. Sementara Nayaka adalah karyawan yang paling Wisnu percayai. Dan memang cafe tetap berjalan bahkan terorganisir dengan baik berkat Nayaka.
"Selamat datang, Bi. Pak Wisnu sudah menceritakan semuanya. Selamat bekerja." Begitulah perkenalan singkat Nayaka. Ia pribadi yang cukup hangat dan mampu berbaur dengan cepat pada setiap orang.
Abimanyu segera berganti pakaian dengan seragam yang memang sudah disediakan untuknya. Loker miliknya kini penuh dengan baju yang tadi pagi ia kenakan.
Abimanyu mulai bekerja menjadi barista cafe. Kopi buatannya memang enak. Ia juga cukup cekatan dan rapi dalam bekerja. Sementara Gio hanya memperhatikan pemuda itu dari sudut cafe ditemani secangkir espresso yang masih hangat. Sekalipun Abi sudah dewasa, terkadang Gio sering memperlakukannya seperti anak kecil. Ia tidak melepaskan Abi begitu saja tanpa pengawasan. Memang cukup berlebihan, tapi itulah janjinya pada Nayla.
Seorang gadis masuk ke dalam cafe. Ia menghempas-hempaskan rok tutu berwarna putih dekat pintu. Ia sedikit basah karena rintik hujan yang masih setia pada semesta.
"Tolong capucino lattenya 1," pintanya pada Abimanyu tanpa melihat sang barista yang sebenarnya sejak tadi sudah memperhatikan gadis muda itu. Ia malah sibuk memeriksa isi tas nya. Mencari benda atau bahkan memeriksa isi dalam tas hitam miliknya.
"Arabika atau robusta?"
"Robusta," sahutnya menatap Abi singkat. "Eum, dan pancake 1."
Ia salah satu pelanggan setia cafe. Terbukti saat beberapa karyawan cafe yang menyapanya hangat. "Anda karyawan baru?" tanya gadis itu, menatap Abi lekat-lekat.
"Betul, Nona. Ini hari pertama saya bekerja." Tangannya tetap cekatan meracik kopi dengan alat besar di hadapannya.
"Ke mana, Pak Jack?"
"Ah, saya dengar dia resign dan pindah ke luar pulau. Dia membuka cafe sendiri."
__ADS_1
"Waw. Hebat. Memang kopinya sangat enak. Itu sebabnya saya sering kemari."
Kalimat itu mampu membuat Abimanyu merasa tertantang. Ia yakin kopinya juga tak kalah enak.
"Kuharap kopi buatanmu bisa seenak Pak Jack," tukasnya lalu mengambil kopi miliknya dan berjalan menuju meja dekat jendela, tempat favoritnya.
"Selamat menikmati, Nona."
Gadis itu berlalu. Namun pandangan mata Abimanyu terus mengarah padanya. Seperti magnet yang terus membuatnya tak bisa melepaskan pandangan.
Gadis itu terus berkutat pada laptop miliknya. Ia terus fokus pada ketikan dilayar itu. Sesekali matanya menerawang keluar jendela. Dan kembali pada pekerjaannya. Kopi dihirup pelan, ia menyesapnya perlahan
Menikmati tiap tegukan dengan rasa yang ia suka.
"Hey, melamun saja," gurau Nayaka yang kini duduk di depan meja Abimanyu. "Lihat apa, Bi?" tanya Nayaka lalu ikut menoleh ke meja gadis yang sejak tadi mencuri perhatian Abi.
"Oh dia. Namanya Ellea. Dia seorang penulis, dan pelanggan tetap di cafe kita. Hampir setiap pagi ia selalu datang, memesan kopi yang sama. Ah ada 1 hal yang perlu kau tau. Kamu bisa menebak suasana hatinya hanya dari kopi yang ia pesan." Nayaka terlihat antusias membicarakan Ellea. Seolah-olah Ellea adalah topik hangat yang sedang trend kini. Tapi Abimanyu juga sangat tertarik mendengarnya. Terlihat binar mata pemuda itu yang menyala.
"Saat suasana hatinya baik, ia akan memesan latte. Tapi saat harinya buruk pilihannya adalah americano."
"Benar, kah?"
"Tentu saja. Kau tidak mempercayaiku? Perhatikan saja sendiri. Dan satu lagi, untuk menarik perhatiannya, buatlah kopi yang lezat. Karena ia sangat suka kopi," tegas Nayaka sambil mengerdipkan sebelah mata. Ia pergi kembali ke ruangan yang bertuliskan "Manager" di atas pintu.
Pancake sudah matang. Abi meminta piring itu dari Alicia. Karena itu memang tugas wanita berumur 35 tahun itu di cafe.
"Semoga sukses, Bi!" Seru Alicia seolah memberikan dukungan penuh pada pemuda yang baru beberapa jam ia kenal. Sekali pun Abimanyu memberikan tampang yang dingin, tapi dia salah satu pria yang cukup hangat dan baik pada sekitarnya. Terbukti kalau Abi sudah diterima di cafe ini, dan akrab dengan hampir sebagian besar orang.
"Pancakenya, Nona," kata Abimanyu, meletakan piring tersebut di meja. Ellea menatapnya, kemudia tersenyum. "Terima kasih."
Saat Abi hendak pergi, Ellea berdeham. "Ehem, eum ... Kopi buatanmu enak." Dibalik kalimat sederhana itu, Abi tersenyum tipis. Ia menoleh, mengucapkan terima kasih. Lalu pamit.
Suasana cafe makin lama makin ramai. Abimanyu juga makin sibuk dengan puluhan kopi yang ia buat. Hanya saja ia kini menatap Ellea kembali dengan tatapan terkejut. Di dekat gadis itu ada seorang pemuda yang seumuran mereka. Ia duduk di depan Ellea dan terlibat obrolan yang cukup menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat Abimanyu terpaku. Karena rupanya pemuda itu adalah salah satu dari musuhnya.
Gio yang memang masih ada di cafe ini menyadari tatapan Abimanyu yang aneh. Ia mendekat. "Begitulah wanita, jika kamu tidak bergerak cepat maka akan ada pria lain yang mendekatinya. Ayolah, bersikap berani. Jangan seperti ayahmu. Pengecut. Dia bahkan sudah menyukai ibumu sejak lama, dan memilih diam saja karena ...."
"Ada apa?" tanya Gio, paham kalau Abi bukanlah sedang cemburu, melainkan ada hal lain.
"Kalla," ucap Abi menatap tajam dua netra Gio.
Sejenak Gio terpaku. Pikirannya kosong, namun setelah itu ia menoleh ke meja Ellea. "Aku tidak punya liontin saphire seperti Adi. Kita harus menyuruhnya datang. Ah sial sekali. Kenapa Elang tidak membagi benda bagus seperti itu padaku!" Keluh Gio, tetap menekan panggilan kepada Adi.
Ellea dan pria itu beranjak. Berjalan beriringan hendak pergi. Sejenak Ellea menatap Abimanyu yang tengah mengelap meja kerjanya. Tersenyum. Abi membalas dengan senyum pula, namun saat melihat pria di samping Ellea, Abi langsung menghadiahkan tatapan membunuh.
"Paman, lebih baik kau ikuti mereka. Aku masih harus bekerja. Ini hari pertama, tidak mungkin aku membolos untuk mengikuti mereka."
"Tentu saja. Kau diam saja di sini. Jangan macam-macam!"
Gio pergi sesuai tugasnya. Sementara Abimanyu terus gelisah. Ia mencemaskan Ellea juga pamannya. Ia paham bagaimana watak Gio. Tempramen dan sering bertindak tanpa berfikir panjang. Tapi dia termasuk manusia yang beruntung. Selalu selamat dari jurang kematian. Bahkan berkali-kali.
_____
Pukul 22.00
Cafe sudah sepi. Papan bertuliskan "Close" terpampang di pintu. Beberapa lampu bahkan sudah dimatikan. Sebelum pulang, Nayaka selalu mengadakan briefing. Membahas segala hal yang terjadi selama seharian. Mencatat pengeluaran dan pendapatan. Dan juga keluh kesah karyawannya. Abimanyu yang masih memikirkan nasib Ellea dan Gio hanya diam sambil melamun.
"Abi!" Panggil Nayaka. Semua mata tertuju pada Abi yang duduk di sudut. Sendirian.
"Iya, Ka?" tanya Abi sedikit gugup.
"Sebelum pulang, buatkan 1 espresso dan kirim ke alamat ini," suruh Nayaka, memberikan secarik kertas bertuliskan Ellea lengkap dengan alamatnya.
Sontak mata Abimanyu berbinar. Seolah ini salah satu jalan agar dapat mengetahui kondisi gadis itu.
__ADS_1
"Oh, eum, baiklah."
"Baru saja dia memesan itu dan kupikir rumah kalian searah. Kamu tidak keberatan, bukan?"
"Ah, Eum tentu saja. Tidak masalah."
Abi segera membuatkan 1 cangkir espresso terbaiknya. Beberapa karyawan sudah mulai keluar cafe dengan tubuh lelah. Setiap hari cafe ini memang selalu ramai. Pelanggan mereka selalu banyak. Selain terkenal dengan kopi yang enak, beberapa kudapannya juga sangat lezat. Terlebih para pekerja juga terkesan ramah dan baik.
Abi mulai berjalan di trotoar, menenteng 1 kantung paperbag di tangan kanannya. Ia memutuskan berjalan kaki karena hari sudah cukup malam dan kendaraan umum sudah sedikit. Lagi pula Abimanyu lebih suka berjalan kaki, itu salah satu bentuk olahraganya setiap hari.
Ia sampai di sebuah apartment mewah. Menelusuri tiap pintu demi menemukan 4 baris angka. 1350.
Jemarinya menjulur pelan ke papan kayu bercat hitam. Ia menekan bel pintu sekali.
"Sebentar," seru seorang wanita dari dalam. Suara langkah kaki yang terdengar sedikit berlari membuat Abi segera menyiapkan diri. Degup jantungnya yang ber-ritme cepat membuat bulir keringat tercipta di dahinya. Ia mengelap dengan ujung bajunya. Dan berusaha bersikap setenang mungkin.
Seulas senyum membuat ritme jantung Abi makin cepat. Senyum gadis yang baru ia temui hari ini, dan mampu membius pandangan Abi.
"Hai ...," sapa Ellea yang sudah mengenakan piyama tidur bermotif hello kitty.
"Eum, Nayaka menyuruhku mengantarkan espresso ini," kata Abi menunjukan kantung yang ia bawa.
"Ah, terima kasih." Ellea malah menutup pintu dan mengambil kantung dari tangan Abi. Membuat pemuda itu bingung setengah mati.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Eum ... kau ... mau ke mana?" tanya Abi gagap.
"Aku mau minum kopi sambil duduk di taman. Kenapa?"
"Malam-malam begini?"
"Memangnya kenapa?"
"Itu berbahaya! Bagaimana kalau ada orang jahat? Apalagi kamu perempuan."
Ellea terdiam, menatap dua bola mata Abi yang menunjukan kekhawatirannya. Gadis itu tersenyum. Melingkarkan tangan pada pergelangan tangan Abimanyu. "Kalau begitu, temani aku sebentar. Bagaimana?"
Jantung Abi berpacu makin cepat. Tangannya sedikit bergetar. Menepis tangan Ellea yang terasa halus. "Maaf aku sibuk!" Ia segera berjalan menjauh. Tapi gadis itu terus mengikuti Abi hingga turun ke lantai bawah. "Hei ... tunggu aku!" jerit Ellea tak menghentikan langkahnya.
Sampai di pelataran parkir, Ellea mempercepat langkahnya hingga kini berdiri di hadapan Abi.
"Kau jahat sekali. Mengacuhkanku begitu saja setelah mengkhawatirkan ku tadi."
"Lagi pula kau yang ingin minum kopi di taman, bukan? Kenapa aku yang harus menemanimu? Aku banyak urusan!" Abi berjalan ke arah lain agar menghindari Ellea.
"Hei! Aku bahkan belum tau namamu!" jerit Ellea. Dan kini kembali menempatkan posisinya di depan Abimanyu.
Abi mendengus sebal. Ellea mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Walau ia tau kalau pemuda di depannya sudah tau namanya.
"Abi. Abimanyu," sahutnya tanpa menatap mata Ellea.
"Aku Ellea."
"Aku sudah tau."
"Dan kopi buatanmu sungguh enak, Biyu."
Sebutan tadi mampu menarik perhatian Abimanyu. "Kau tuli? Namaku Abimanyu. Bukan Biyu!"
"Iya, aku tau. Dan Biyu adalah panggilan yang cocok untukmu. Jika aku harus memanggil Abimanyu, itu terlalu panjang. Maka kupersingkat, Biyu."
Abi menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.
__ADS_1
"Terserah kau sajalah."
"Karena kita sudah mengenal, maka kamu tidak boleh menolak ajakanku. Lihat! Taman di sana. Dekat sekali, bukan?" Tunjuk Ellea ke arah sebidang tanah yang dihiasi rimbunan bunga bougenvile. Abi menatap ke tempat itu. Walau hari sudah larut, ternyata masih banyak orang yang beraktifitas di sekitar sini. Bahkan di taman itu. Ada yang hanya sekedar duduk sendiri dengan laptop di pangkuannya, atau sekedar jalan-jalan di sekitar taman. Namun ada 1 hal yang membuat Abi langsung menyetujui permintaan Ellea. "Baiklah aku temani." Ia segera menggandeng tangan Ellea dan berjalan ke taman itu.