pancasona

pancasona
Part 45 Masa Lalu


__ADS_3

Suasana kantor pagi ini agak lenggang. Mungkin karena aku dan wisnu berangkat agak pagi, tidak seperti biasanya.


"Mas reza kapan balik?" tanyaku saat kami berjalan memasuki lobby kantor menuju lift.


"Mungkin lusa " ucap wisnu santai.


"Oh gitu.. "


Kami memasuki lift, didalam lift ada seorang office boy yg memakai masker, postur tubuhnya mirip wisnu. Dia menangguk sekali pada ku saat aku menatapnya.


Entah kenapa, aku merasa pernah melihatnya. Wajahnya terasa tidak asing bagiku. Ups,ralat. Bukan wajahnya. Tapi matanya.


Matanya !!!


aku hafal betul tatapan mata ini. Walau dia memakai masker, aku merasa sudah mengenal nya lama. Tapi aku tidak berani berspekulasi lebih jauh lagi. Aku takut salah mengenali orang.


"Nanti kita ada meeting ya, nay. Kamu siapin yg lain. Kasih tau mereka juga. "


Aku tidak fokus pada perkataan wisnu, dan selalu melirik ke pria itu.


Ting.


Lift terbuka ,wisnu menggandeng tanganku dan kami pun keluar dari lift. Saat aku menoleh ke lift, dia masih saja berdiri disana sambil menatap kami pergi.


Gak mungkin itu dia!


Wisnu masuk ke ruangan nya, sedangkan aku ke ruanganku.


Saat aku akan menuju meja kerjaku, terlihat ada sebuket bunga mawar putih disana.


"Vi-- sapa yg naroh?" tanyaku ke via yg sedang sarapan di kantor.


"Hah? " dia mendongakan kepalanya,"oh -- itu? Gak tau ,nay. Aku dateng udah ada disitu. Kirain dari pak wisnu?"


"Wisnu? Mana mungkin?"


"Ya kali aja, nay. Atau .... Secret mayyer? Cie nayla... " ledeknya.


Kuamati buket bunga ini dan mencari nama pengirimnya.


Nah--- ketemu!


Kuambil secarik kertas yg terselup diantara bunga itu.


' aku merindukan mu,sangat.'


Deggg!


Hatiku berdesir membaca pesan itu. Entah kenapa pikiranku tertuju pada dia. Walau hatiku berkata itu tidak mungkin.


" dooor!!" rani menepuk punggungku dan membuatku menjatuhkan buket bunga itu. Alhasil, bunga dan vas nya jatuh berserakan di lantai.


"Eh-- maaf ,nay. Duh-- jadi berantakan gitu.." aku berjongkok dan memungut beberapa kuntum bunga yg masih bagus menurutku. Rani pun ikut jongkok sepertiku.


" waduh.. Lagi pada ngapain? Pagi pagi udah main tanah?" celetuk mega yg baru saja datang.


"Aku panggilin OB aja ya." seru via lalu mengangkat gagang telepon di depan nya dan memghubungi OB.


Tak lama datang OB yg tadi ku temui di lift. Masih dengan penampilan yg sama, dia membawa sapu dan alat alat yg biasa di bawa OB untuk membersihkan ruangan.


"Ini mas. Bersihin ya" pinta via sambil menunjuk lantai yg kotor.


"Iya, mbak. Maaf ,permisi.."


Deggg!


Hatiku berdesir mendengar dia berbicara seperti itu.


Kenapa suara nya mirip?


Saat dia menyapu lantai pun, pandangan mataku tidak beralih padanya. Gerak geriknya terus kuperhatikan.


"Sudah mbak. Saya permisi." dia pergi keluar dari ruangan ku.


Aku masih terdiam mematung. Saat dia sudah agak menjauh, aku mulai sadar. Dan ku kejar dia.


"Nay!! Nayla!!!" panggil rani.


Aku tidak memperdulikan rani yg terus berteriak memanggil namaku.

__ADS_1


Saat aku keluar, pria itu keburu masuk ke dalam lift. Sambil menarik keranjang sampah.


Aku mengejarnya. Bahkan aku rela berlari menuruni tangga, saat lift terlalu lama terbuka.


Sampai di lantai bawah, aku melihat nya berjalan keluar kantor dengan keranjang sampah itu.


" wiraaaaaaa!!!!" teriakku keras - keras. Tidak peduli sekitarku yg terus melihatku aneh.


Pria itu berhenti dan menoleh padaku. Dia melepas masker yg sedari tadi menutupi wajahnya, sambil tersenyum.


Deg!!


Itu wira!! Tidak mungkin!!


Bahkan kututup mulutku karena tidak percaya atas apa yg kulihat dihadapanku. Walau jarak kami jauh,tapi aku sangat jelas melihat wajahnya.


Dia--- wira.


Awalnya aku ragu. Tapi setelah aku melihat nya dengan mata kepalaku sendiri, aku malah yakin.


Dia terus berjalan keluar. Dan aku pun mengejarnya. Saat aku sampai teras lobby kantor. Aku melihat wira berjalan terus menyeberangi jalan.


" wira!!!" teriakku lantang.


Aku kembali berlari mengejar nya. Namun, saat hampir sampai jalan raya, seseorang menangkapku.lalu mendekapku erat.


"Kamu ngapain sih???'' tanyanya dengan menaikkan nada bicaranya karena ditempat kami sekarang sangat bising suara kendaraan yg lalu lalang.


" wira!! Itu wira!!"


Dia menoleh ke arah yg kutunjuk," gak mungkin!! Dia bukan wira!! Aku yakin ,nay!! Wira udah meninggal. " dia seperti membentakku karena aku mulai tidak terkendali.


"Arya!!! Please.. Percaya sama aku.. Dia wira!! Aku liat sendiri mukanya.. Gak mungkin aku salah liat." aku berusaha meyakin kan arya.


Arya terdiam walau masih mendekapku erat.


" udah. Kita balik ya. Aku yakin, dia bukan wira" kata arya lebih pelan.


Aku menggeleng dan makin menangis histeris.


" enggak! Aku yakin dia wira!! Itu wira!!" isakan tangisku makin menjadi. Dan membuat arya makin memelukku erat.


"Denger ,nay. Aku tau, kamu masih kehilangan wira. Tapi kamu harus bisa menerima kenyataan. Wira sudah meninggal. Jadi dia,bukan wira.ngerti?" ucapnya penuh penekanan di tiap kalimatnya.


Aku tidak menjawab apapun hanya bisa terus menangis dipelukan arya.


Arya mengecup keningku,turun lagi ke kedua bola mataku bergantian sambil menghapus air mataku.


"Please.. Kamu harus kuat ,nay. Kamu percaya aku kan? Dia bukan wira.. Aku yakin. Seandainya wira masih hidup, orang pertama yg dia temui,pasti aku. Aku yakin!!"


Kucoba hentikan tangisku dan mulai berfikir lebih jernih. Memang benar apa kata arya. Tapi, wajah nya sangat mirip wira. Tatapan matanya,senyum nya,semuanya mengingatkan ku pada wira.


Arya menggandeng tanganku masuk kembali ke dalam. Di lobby kami bertemu wisnu yg terus melihat kami.


Dia mendekat dan menatapku heran.


"Nay, kenapa?"tanya wisnu penasaran.


"Nanti aku ceritain,nu.kita bawa nayla masuk dulu. Biar dia tenang." pinta arya.


Aku hanya bisa terus menunduk dengan air mata yg tidak bisa kubendung.


Kenangan tentang wira memang terus membekas dihati dan pikiranku. Bahkan Sampai sekarang pun, aku belum yakin, apa ada orang lain yg bisa masuk ke hatiku setelah wira. Sekalipun ada wisnu yg sangat mirip wira,tapi rasa yg kurasakan padanya tidak sama seperti saat aku dengan wira. Sedangkan arya... Aku juga belum begitu yakin padanya.


\=\=\=\=\=\=


Kami bertiga ada diruangan wisnu. Rani tiba - tiba menerobos masuk kesini dan heboh sekali melihatku diam dengan mata sembab.


"Kamu kenapa sih ,nay? Kenapa kamu kayak tadi? Kamu liat apa?" tanya rani menyelidik.


Aku hanya menggeleng pelan dengan tatapan mata yg kosong.


Arya dan wisnu hanya bisa diam sambil terus melihatku iba.


"Kamu pulang aja ya ,nay" pinta wisnu sambil mendekat padaku.


"Hah? Pulang? Kemana?" aku seperti orang linglung.


"Ran-- anterin nayla pulang ya"pinta wisnu pada rani.

__ADS_1


Dan rani pun hanya mengangguk.


Akhirnya aku pulang ke rumah kontrakan kami bersama arya dan rani.


Arya membuka kan pintu mobil untukku,rani lalu terus saja menuntunku sampai memasuki rumah.


Rumah kontrakan kami sudah selesai diperbaiki, beberapa perabot nya pun sudah banyak yg diganti. Dan cat nya pun baru. Warnanya lebih cerah sekarang.


Bahkan bau cat baru nya pun masih tercium jelas dihidungku.


"Nay, kamu istirahat aja ya.kita kekamar."rani menggandengku menuju kamar. Namun aku menahan tangan nya.


"Aku mau ke halaman depan aja ya,please."pintaku sedikit mengiba.


Rasanya aku ingin sekali menikmati udara segar saat ini.


Rani menatap arya yg ada dibelakangku dan tak lama mengangguk.


"Ya udah, biar aku temenin." ucap arya lalu menggandeng tanganku dan membawaku keluar.


Sampai di halaman, aku dan arya duduk di gazebo dekat kolam ikan. Itu adalah spot yg paling aku suka di sini. Melihat ikan ikan berenang bebas, membuat pikiranku tenang.


"Nay..." panggil arya.


"Hmm.."


"Kamu mau minum atau makan sesuatu?" tawar nya.


"Eum.. Susu dingin." pintaku agak manja.


"Oke ,sebentar ya." dia sedikit berlari kecil masuk kedalam rumah dan tak lama kembali lagi membawa segelas susu yg kuminta .


"Diminum dulu.."


Ku ambil gelas itu dan kuteguk hingga habis setengah gelas.


"Kamu mau makan sesuatu?"


"Iya" jawabku datar.


" mau makan apa?"


"Makan orang" jawabku ngasal.


"Ih-- nay. Kamu manusia atau zombie sih? Ngeri ah" kata arya sambil bergidik ngeri. Aku tau dia sengaja melucu agar aku tertawa. Walau gurauan nya kadang garing.


Kucubit lengan arya bertubi tubi sambil tersenyum melihatnya kesakitan.


"Ampun .. Nay-- ampun. Udah donk." rengek nya.


Aku malah cekikikan melihat reaksi arya seperti ini.


Arya menatap mataku dalam dalam sambil tersenyum," nah gitu donk ,nay. Senyum. Aku sedih tau,liat kamu kayak tadi."


Aku pun berhenti mencubit nya dan kembali teringat kejadian tadi.


Melihat reaksiku sedikit berubah,arya makin mendekat,


"Nayla.. Dengerin aku. Kalau dia memang wira.. Aku yakin orang pertama yg dia temui ,adalah aku. Jadi dia-- bukan wira. Paham?" arya berbicara dekat sekali dengan wajahku.


Benar juga. Jika memang wira, pasti dia akan menemui arya terlebih dahulu. Bukan malah seperti tadi. Dia juga aneh, bukan nya berhenti saat ku panggil,tapi malah dia terus berlari menjauh.


Aku kembali menangis.dan arya langsung memelukku.


"Aku tau. Kamu masih merindukan wira. Tapi kamu harus sadar. Kalau wira sudh meninggal. Kamu harus terus melanjutkan hidup kamu tanpa dia. Aku-- selalu disini nay. Buat kamu.masih banyak yg sayang sama kamu. Inget itu."


Kulepaskan pelukan ku dan menatap arya heran.


Terkadang aku tidak mengerti dengan apa yg dia pikirkan.


Dia kadang bisa lembut kadang langsung berubah galak. Seperti sekarang ini.


Arya mengecup keningku, lalu turun lagi ke kedua bola mataku.


"Jangan sedih lagi.aku mohon. "


Aku memeluknya lagi. Dan arya mendekapku lebih erat.


Aku merasa,nyaman...

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2