pancasona

pancasona
Part 127 Home


__ADS_3

Desa Amethys


Mereka sampai di gerbang desa itu. Tempat di mana Abi tinggal dan dibesarkan. Ellea pun tidak tau harus ke mana setelah kembali ke Indonesia, karena rumahnya sudah dijual saat ibunya sakit keras. Sementara Vin, yang seorang perantauan juga tidak memiliki tempat tinggal tetap. Apalagi Allea, yang notabennya warga negara asing, ini adalah tempat yang baru baginya.


Mereka sampai di gerbang desa, menunggu transportasi yang akan membawa mereka ke cafe. Yah, Abi rindu "Cafe Panca sona." Rindu dua pamannya, dan semua sudut tempat itu dan aroma kopi kesukaannya. Tentu meja barista adalah tempat pertama yang ingin ia kunjungi.


"Naik apa kita?" tanya Vin. Langit sudah mulai senja. Semburat merah terlihat di atas mereka. Indah dan mengagumkan. Senja identik dengan ketenangan dan membuat orang-orang menikmatinya di waktu santai mereka. Seperti sekarang. Kondisi Allea sudah membaik, walau wajahnya terlihat belum sepenuhnya segar dan tubuhnya masih lemas karena seluruh isi perutnya ia muntah kan tadi.


Abi merogoh kantung celananya, mengeluarkan benda pipih yang sangat jarang ia pergunakan. Bahkan ia tidak tau apakah daya di ponselnya masih cukup untuk melakukan panggilan telepon sekarang. Ia terlalu sibuk. Yah, cuma itu alasan yang bisa ia pakai jika dua paman nya mengomel nanti. Setidaknya Abi punya cerita menegangkan yang akan ia bagi untuk mereka.


"Halo, paman Adi."


"...."


"Eum, maaf, nanti aku ceritain. Paman lagi ngapain? Bisa ke gerbang desa nggak?"


"...."


"Aku pulang."


"...."


"Aku bawa Vin, Ellea sama Allea, jadi pakai mobil, ya."


"...."


"Makanya buruan ke sini. Udah mau malam ini, kan?"


"...."


Abimanyu kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. "Bentar lagi," katanya melirik pada Vin yang sudah tidak sabar untuk segera pergi dari tempat ini. Ia mencemaskan Allea yang masih lemah. Tentu ia makin waspada ke sekitar. Jangan sampai kejadian tadi terulang lagi. Bahkan sampai mereka tiba di Indonesia teror itu terus mengikuti.


"Bi ... Kalau kita aja masih diikuti mereka, gimana Faizal? Apa dia baik-baik aja?" bisik Vin, sengaja agar dua gadis di dekat mereka tidak mendengarnya.


"Hm, itu juga yang lagi gue pikirin. Nanti sampai rumah, kita hubungin dia. Yah, semoga dia baik-baik aja."


Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil Dodge Coronet – R/T Convertible berhenti di halte bus, tepat di depan mereka yang sedang menunggu jemputan dari Adi maupun Gio. Mobil klasik buatan tahun 1970-an ini hanya ada 2 di dunia, dan salah satunya adalah milik Adi. Ia penyuka benda klasik dan kuno. Dan ini adalah mobil kesayangannya.


"Butuh tumpangan?" tanya seorang pria dengan jambang tipis di balik kemudinya. Dua pria yang masih berdiri di tepi jalan bersama dua gadis di belakangnya, lantas tersenyum. "Hai, Vin. Lama nggak ketemu."


"Hai, Om. Makin ganteng aja," sahut Vin membuka pintu belakang mobil itu. Mempersilakan para gadis masuk lebih dahulu. Sementara Abimanyu, tentu duduk di samping kemudi.


"Kau masih hidup, anak muda?" tanya Adi basa basi. Sadar pertanyaan itu bermakna sarkas, Abimanyu hanya menarik sudut bibirnya.


"Huh, aku rindu kalian, Paman."


"Cih, menjijikkan."


Mobil berputar, dan meninggalkan gerbang desa menuju kediaman Abimanyu. Beberapa bulan berlalu, tak banyak yang berubah dari desanya. Tak jarang ia menarik bibir saat melihat keindahan desanya. Menyapa penduduk yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.


Adi menyempatkan diri menyapa Ellea, dan juga Allea. Ia terkejut saat mengetahui kalau Ellea memiliki kembaran. Dan benar-benar tidak menyangka saat mendengar kisah pilu mereka di Venesia sana.


"Oh, jadi karena ini, elu nggak balas semua pesan gue, Bi?!" tanya Adi, melirik pemuda di sampingnya.

__ADS_1


Orang yang ditanya, tak langsung menjawab, menggaruk kepalanya yang jelas tidak gatal. Mencari jawaban yang lebih enak di dengar, walau sudah pasti Adi tau kalau mang itu alasan yang kuat. "Maaf, Paman. Jangankan membalas pesan, makan saja aku sering lupa. Untung Ellea cepat ketemu, dia yang sering mengingatkan aku makan."


"Ya ... Ya ... Ya ... Sudah. Nggak apa-apa. Yang penting kalian baik-baik aja," kata Adi menarik nafas panjang.


Mobil masuk ke halaman luas di seberang cafe Pancasona. Tempat ini memang sudah disewa untuk lahan parkir yang makin lama makin sempit, dikarenakan pengunjung cafe mulai ramai setiap harinya. Kawasan wisata di desa Amethys mulai banyak dikunjungi wisatawan. Tentu membuat cafe ini mendapat banyak keuntungan.


"Welcome home," kata Adi setelah turun dari mobilnya. Menatap bangunan tua yang sudah mereka sulap menjadi lebih apik dan menarik. Setelah Abimanyu pergi, ada beberapa perubahan. Suasana outdoor makin di budidayakan. Selain ada kursi dan meja dengan ukiran unik, kini ada payung di tiap meja yang ada di luar. Melindungi dari panasnya matahari dan guyuran air hujan. Tirai lampu tumbler ada di tiap lingkaran meja, dan akan nampak indah saat malam hari nanti. Beberapa pohon juga sengaja diberi hiasan lampu berwarna warni yang mulai dinyalakan saat mereka tiba. Beberapa menit lagi langit akan gelap. Suasana di luar cafe mulai sepi, karena saat petang adalah waktu yang tidak baik untuk berkeliaran di luar rumah. Masih kolot dan banyak legenda maupun aturan desa yang tetap dipatuhi sampai sekarang.


Beberapa pemuda terlihat memakai seragam khas cafe. Mereka adalah pegawai baru yang sengaja direkrut Adi dan Gio karena mereka makin kewalahan mengurus cafe berdua saja. "Sejak elu pergi, gue sama Gio terpaksa cari pegawai baru. Cafe makin ramai," jelas Adi saat melihat tatap Abimanyu yang merasa asing dengan beberapa orang baru, yang ada di dalam. Abimanyu hanya mengangguk menanggapi, ia sadar kalau hal itu memang sudah seharusnya dilakukan. Beberapa kali cafe mereka mengalami bongkar pasang pegawai. Apalagi sejak kasus Ridwan kemarin, cafe sering ditutup karena kekurangan pegawai.


Gio yang sedang sibuk ada di meja barista, menoleh saat tamunya datang. "Wohoo! Ada tamu jauh!" ujarnya dengan semangat 45 tos dengan Vin yang masuk lebih dulu. "Sehat, Vin? Makin kenceng aja otot," kata Gio sambil meremas lengan Vin dengan otot yang menyembul bergelombang.


"Sehat! Om gimana? Makin nyentrik aja," kata Vin yang melihat penampilan Gio tetap keren walau umurnya tak lagi muda.


"This is my style you know?" Gio melirik ke pemuda di belakang Vin. Wajahmu terlihat tidak bersahabat. Ia mengepalkan tangan kanan dan bersiap meninju orang itu. "Kau! Bikin cemas aja!" kata Gio, kesal. Tapi segera ia menarik tangan Abimanyu yang terlihat berusaha menutupi wajahnya, bersiap akan serangan dari pamannya itu.


Mereka saling berpelukan erat. Yah. Wajar, sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu, dan Gio maupun Adi tidak tau kabar keponakannya itu.


"Maaf, paman. Tapi aku pulang dengan selamat, kan? Dan lihat! Aku bawa Ellea juga ... Allea!" tukas Abi menunjuk dua wanita di belakangnya. Gio nampak melongo beberapa saat, sampai Adi melemparnya dengan kunci mobil yang masih ia genggam.


"Muka lu biasa aja, Gi! Dasar celamitan!" sindir Adi yang melengos masuk ke toilet.


"Heh! Muka gue biasa aja kali, Di. Ini kok ada dua? Ellea yang mana?" tanya Gio menunjuk dua gadis itu, mereka sama-sama tersenyum melihat reaksi pria dengan topi koboi di depan mereka.


"Coba tebak yang mana?" tanya Ellea. Gio langsung tersenyum dan menunjuk, "Pasti kamu! Astaga!" kedua tangannya melebar ke samping bersiap menyambut pelukan calon istri keponakannya. Ellea segera berhambur memeluk Gio, karena ia memang sangat rindu.


"Om apa kabar?"


"Kenalin, Om. Namanya Allea. Kami ketemu di Venesia. Dan, aku juga nggak tau kalau punya saudara kembar," kata Ellea membuka ruang untuk dua orang itu saling berkenalan.


"Jadi ... Ada apa di Venesia? Sampai-sampai Abi nggak jawab telepon kami bahkan nggak balas pesan kami!" sindir Gio sambil melirik ke pemuda itu. Abi yang merasa dibicarakan langsung pamit ke toilet.


"Panjang ceritanya, Om."


"Om punya waktu luang," kata Gio melirik jam pergelangan tangannya. "Fandi! Jaga kasir!" Mereka berjalan memilih meja di dalam cafe karena di luar sudah mulai gelap.


_______


"Dan sekarang kami dikejar-kejar orang, Om. Mereka menginginkan flash disk ini dan kematian kami tentunya," jelas Ellea serius.


"Kami bingung harus gimana lagi. Di sana nggak aman, di sini juga," tambah Vin.


"Hey, anak muda! Jangan menyepelekan kami! Mentang-mentang kami udah nggak lagi muda kayak kalian!" tukas Gio.


"Gio bener. Baguslah kalian pulang. Setidaknya, kita bisa melawan mereka bersama-sama. Masalah kayak gini mah bukan hal baru lagi, ya kan, Gi?!"


"Bener itu. Ngomong-ngomong, kita para pria tua ini juga butuh penyegaran, otot-otot bisa kaku kalau cuma angkat nampan kopi," kata Adi menunjukan lengannya yang tidak buruk. Yah, hampir sama seperti milik Vin.


"Hey, kalian nggak mau pulang?" tanya Abimanyu pada mereka semua.


"Oh Tuhan, akhirnya! Aku bisa merasakan tidur di kasur yang empuk," ujar Vin sambil merentangkan kedua tangannya.


Cafe mulai dirapikan. Abimanyu selaku pemilik sudah kembali, ia memberikan rapat malam ini, sebagai perkenalan dan sambutan yang terlambat darinya. Sudah pukul 21.00 dan mereka harus pulang. Tubuh yamg letih, juga membutuhkan istirahat.

__ADS_1


Perjalanan pulang tidak membutuhkan waktu yang lama. Kini bangunan yang sudah direnovasi itu, nampak di depan mereka. Memang rumah di daerah ini hanya satu, milik Abi. Rumah lain ada beberapa kilometer dari rumah miliknya. Ia dan kedua orang tuanya memang suka tinggal lebih menjauh dari keramaian penduduk.


"Waw, rumah lu makin bagus, Bi. Di renov?" tanya Vin begitu sampai di teras, melihat banyak perubahan di bangunan ini. Masih sama, tapi cat nya baru, dan ada beberapa tambahan lain yang terlihat dari muka pintu. Yah, bangunan ini terlihat makin tinggi.


"Iya, karena kebakaran waktu itu."


"Welcome home," kata Gio, membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk.


"Allea, anggap aja di rumah sendiri, ya," tutur Adi yang melihat gadis itu banyak diam. Mungkin karena lingkungan baru atau karena tubuhnya memang belum sepenuhnya sehat. Mungkin keduanya.


Lantai tiga sengaja Adi dan Gio buat. Mereka membuat beberapa ruangan lain, yang sengaja dijadikan kamar.


"Bener, kan? Ide gue? Kita perlu banyak kamar di rumah ini," kata Adi merasa bangga pada hasil karyanya.


"Jadi kalian yang bikin lantai atas?" tanya Abi dengan tatapan jengah menunjuk ke atas.


"Salah siapa elu nggak angkat telepon kami? Kami nelpon alasannya juga karena itu. Eh, Ellea sama Allea, yuk, kita lihat kamar kalian!" ajak Gio menggandeng dua gadis itu. Abi hanya menggeleng, pasrah.


"Sana istirahat!" suruh Adi yang bertiga mengunci pintu dan memeriksa jendela.


Vin dan Abi mengangguk setuju. Mereka juga merasa sudah sangat lelah.


Jendela mulai ditutup, korden ditarik hingga menutupi seluruh kaca yang ada di lantai bawah. Ia senang, karena rumah ini kembali seperti rumah. Tidak hanya dihuni dua manusia saja. Tapi kini, ramai. Sampai saat Adi menarik korden terakhir, sekilas ia melihat ada bayangan hitam di luar. Bersembunyi di balik pepohonan.


Dahi Abi berkerut. Ia memincingkan mata dan terus menatap ke sudut itu. Merasa ada yang tidak beres, ia melangkah keluar. Dan kembali membuka kunci pintu depan. Adi menyapu pandang ke sekitar, hanya ada semilir angin malam yang makin kencang. Ia mengambil telepon genggamnya, menyalakan lampu untuk melihat ke sudut gelap tadi. Hening. Hanya ada suara hewan malam yang biasa ia dengar selama ini. Adi dan Gio sering duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi di tengah malam. Mereka tidak kenal rasa takut pada apa pun. Mungkin karena mereka sudah banyak melalui hari paling mengerikan selama hidup mereka selama ini.


Merasa malam ini terasa berbeda, aneh, dan tidak seperti biasanya, Adi kembali melangkah ke luar. "Hello?" ucapnya lagi. Perlahan tapi pasti, ia terus berjalan mendekat. Dengan senter sebagai penerang jalannya.


Bunyi suara buruan terdengar pilu, beberapa burung bahkan terlihat terbang saat ia mendekati hutan dekat rumah. Ia berhenti, menoleh ke belakang, tepatnya ke rumah satu-satunya di tempat ini. Ia ragu untuk melanjutkan niatannya, tapi ia merasa ada yang aneh di sana.


Adi mengangkat kedua bahunya, dan kembali berjalan makin dalam ke hutan. "Siapa di sana?" teriaknya dengan tetap waspada.


Adi mulai menajamkan pendengaran nya. Saat ia rasa mendengar suara aneh di sekitarnya. Suara geraman. Ia tidak yakin apa yang ia dengar, hingga ia terus maju sampai ke salah satu pohon. Menyorot keadaan di dalam hutan dengan barisan pohon yang membuatnya rimbun. Ia terus menyinari tempat itu mencari sesuatu yang mengganggunya.


Dan benar saja, sesuatu bergerak cepat. Sebuah bayangan hitam berpindah di balik satu pohon ke pohon lain. "Siapa itu?" jerit Adi terus mendekat. Tapi gerakan itu makin cepat. Ia seolah berlari menghindari Adi. Hal itu membuat pria yang penuh rasa penasaran ini justru mengejarnya. "Hei!" jeritnya lagi.


Makin dalam, ia makin bingung. Ia merasa tersesat karena terus mencari orang tadi. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Hingga Adi terkejut. "Astaga! Abimanyu! Ngapain lu di sini?!" pekik Adi panik.


"Harusnya Abi yang tanya. Paman ngapain di sini?" tanyanya sambil memperhatikan sekeliling mereka.


"Oh itu, tadi, kayak ada orang ngintip rumah kita. Makanya gue kejar. Malah elu ngusulin. Lepas deh kan!" gerutu Adi.


"Yang bener?" tanya Abi mulai merasa khawatir. Apakah orang- orang itu sudah mengejarnya sampai ke sini?


"Iya, yakin. Itu pohon tadi pada gerak-gerak. Tapi, ada suara aneh," jelas Adi mencoba mengingat kembali.


"Suara apa, Paman?"


"Sesuatu. Menggeram."


"Menggeram?"


Adi mengangguk yakin.

__ADS_1


__ADS_2