pancasona

pancasona
59. Akhir Kisah Jaka


__ADS_3

"Si Fauzan kok kelihatan beda, ya?" tanya Rea pada teman - temannya tanpa mengalihkan pandangan dari Fauzan. Pemuda itu justru sedang menatap mereka dengan seulas senyuman. Menyiratkan banyak hal yang menjadi tanda tanya besar dalam benak teman-temannya.


" iya. Fauzan kelihatan lebih tenang, tatapan matanya nggak sama kayak kemarin. Apa dia udah sembuh ya? Udah nggak kesurupan lagi gitu?" tanya Leni yang sependapat dengan Rea.


" bisa jadi. Buktinya ya nggak berontak seperti kemarin. Mungkin dia memang selama ini kesurupan."


" tapi Kenapa tiba-tiba dia sembuh. Apa setan bisa keluar sendiri dari tubuh manusia tanpa diobati atau diusir?"


" itu sih aku nggak tahu. Semoga Fauzan benar-benar nggak kumat lagi deh. Apalagi kita kan pasti bakalan pulang bareng sama dia nanti. Nggak lucu juga kan kalau nanti di perjalanan dia tindak brutal lagi seperti waktu di hutan kemarin."


Diskusi mereka terhenti saat Pak Wiryo datang. Pria paruh baya itu segera mendekat ke rombongan Rea yang sedang duduk menikmati secangkir teh hangat yang disediakan oleh ibu-ibu warga desa setempat.


Mereka segera merapikan diri dan duduk dengan sopan saat tahu Wiryo sedang berjalan ke arah mereka. Senyum tipis tampak di wajah pria paruh baya itu.


" kalian sudah sarapan?"


" Oh sudah Pak. Kami malah dijamu seperti tamu. Maaf kalau kami malah merepotkan di sini," Kata Rea.


" ah sama sekali tidak repot kok. Kami justru senang membantu kalian. Untungnya teman-teman kalian sudah diketemukan semuanya. Kondisi sekitar juga sudah aman."

__ADS_1


" warga desa di tempat Riri bagaimana Pak?" tanya Diah penasaran.


" kalau soal itu, sudah dibereskan. Mereka sudah dikuburkan dengan layak. Jadi lagi teror mengenai Zombie atau mayat hidup seperti yang kalian alami kemarin."


"Kok bisa, Pak? Maksud saya, Bagaimana bisa warga desa itu bangkit lagi setelah mereka meninggal. Dan Bagaimana caranya pak Wiryo bisa membuat mereka dikuburkan?" Leni juga sangat penasaran.


" Jadi begini ceritanya ...."


Rombongan Pak Wiryo mulai berjalan menyusuri hutan. Pasukan khusus juga mulai menyusuri setiap sudut tempat tersebut. Sekalipun menurut informasi dari Rea dan teman-temannya bahwa Teror yang mereka hadapi berasal dari Desa Tabuk Hilir dan juga hutan terlarang, Tapi semua personel pasukan khusus selalu siap dan waspada akan kemungkinan yang bisa terjadi saat mereka sedang berjalan menuju ke tempat tersebut. Tak lama setelah mereka pergi dalam pencarian tersebut, mulai terdengar suara teriakan dan jeritan disertai dengan Makian. Para pasukan khusus langsung berjalan mendekat dengan perlahan-lahan. Mereka bertindak dengan halus agar target tidak menyadari keberadaan mereka. Dan benar saja Mereka melihat ada sekelompok pemuda yang sedang bertarung melawan seseorang terlihat cukup kuat diantara ketiga pemuda tersebut. Bahkan saat dirinya dikeroyok oleh 3 orang yang saat ini sudah mulai kewalahan, 1 orang yang disinyalir dengan nama Jaka justru terlihat biasa saja. Jaka tidak terlihat kelelahan atau kesulitan menghadapi Dana dan teman-temannya. Tim penyelamat mulai bersiap mengintai di beberapa titik yang sudah mereka pilih. Senjata api sudah berada ditangan mereka satu persatu dan siap untuk ditembakkan ke sasaran. Hanya saja mereka menunggu komando dari pimpinan tim mereka. Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat sehingga tidak ada satupun suara yang keluar dari mulut mereka selama bekerja. Sementara Pak Wiryo dan beberapa warga desa yang lain, menunggu di belakang para pasukan khusus dan juga bersembunyi. Pimpinan tim angkat tangan tinggi-tinggi ke atas, dengan maksud agar anggota regunya bersiap dengan target yang ada di depan mereka.


Dana sudah tidak berdaya melawan Jaka, Begitu juga dengan Hani. Sementara Blendoz yang masih berusaha Bertahan, akhirnya ditendang dengan sekuat tenaga hingga menghantam pohon di dekatnya. Blendoz batuk-batuk, rasa sesak di dadanya membuat Dia sedikit kesulitan bernafas.


Earpiece atau penyuara telinga merupakan salah satu alat komunikasi rahasia yang menempel di telinga yang biasanya digunakan anggota pasukan pengawal khusus negara-negara di dunia. Salah satunya, Secret Service atau Pasukan Pengawal Presiden Amerika Serikat.


Untuk perintah, biasanya dalam bentuk kode atau pesan lain. Earpiece tampil dengan beberapa warna dan para agen, sebutan bagi pasukan pengawal khusus, sering memilih yang cocok dengan warna kulit ataupun rambut mereka.


Earpiece akan menyimpan suara dari kata-kata yang sudah diucapkan. Alat ini terhubung dengan perangkat seperti smartphone maupun two-way radio atau perangkat radio dua arah, dengan mengirimkannya lewat Bluetooth.


Pada smartphone, earpiece masih menjadi andalan yang diprediksi akan hilang di masa depan, karena lubang di earpiece bisa saja tak akan digunakan lagi. Seperti speaker, di mana lubang earpiece juga bisa hilang karena kehadiran teknologi layar yang dapat mengeluarkan suara.

__ADS_1


Salah satu tim khusus lantas meletuskan tembakan ke kaki kiri Jaka. Tepat sasaran, dan langsung membuat Jaka terkejut sambil memegangi kakinya yang terkena luka tembak. Dia langsung mencari sumber yang telah membuatnya kakinya terluka. Namun Jaka tampak kebingungan karena tidak melihat siapa pun juga ada di sekitar. Persembunyian para tim khusus sangat lihai, bahkan musuh tidak dapat melihat di mana keberadaan mereka.


Jaka hanya tersenyum sinis sambil melihat ke arah para tim khusus yang sedang bersembunyi. Anehnya, Jaka kembali berjalan seakan akan tanpa beban. Kaki kiri yang sudah terkena tembakan seperti tidak merasakan sakit. Dia berjalan santai kembali menuju ke tempat Dana, Hani, dan Blendoz yang masih belum bergerak dari tempat mereka sejak tadi. Semua orang tentu terkejut melihat Jaka yang berjalan layaknya tidak terjadi apa-apa. Padahal jelas sekali kalau kakinya berdarah akibat peluru yang menembus daging nya. 


Sang penembak melirik ke pemimpinnya. Dia terpaku dan menunggu perintah selanjutnya. pemimpin regu lantas harus mengambil keputusan lagi. Mengingat kalau Jaka justru lebih berbahaya dari dugaannya.


"Tembak kaki kanan nya!" perintah dari pimpinan tim. Orang yang mendapatkan mandat untuk menembak lantas mengangguk. Dia mengincar target tepatnya di kaki kanannya. Sesuai dengan perintah, dia sekarang menembak kaki kanan Jaka dengan tepat sasaran. Namun anehnya Jaka justru terus berjalan tanpa merasakan sakit sedikitpun. Padahal mereka semua bisa melihat dengan jelas kalau kaki kanan Jaka basah dengan cairan berwarna merah yang sudah jelas kalau itu adalah darahnya. Melihat hal ini mereka semua makin heran dan bingung. Semua pasukan tim khusus Saling pandang satu sama lain. Dari sekian banyak daerah konflik dan peristiwa teror yang telah mereka hadapi selama ini, Baru kali ini saja mereka bertemu dengan lawan yang tidak bisa ditembak dengan peluru.


Namun tiba-tiba Pak Wiryo berlari mendekati Captain. "Pak, coba pakai peluru ini." Pak Wiryo memberikan sebutir peluru perak yang terlihat masih baru dan belum pernah terpakai.


"peluru perak?" gumam Sang Kapten sambil memperhatikan benda di tangannya. " Baiklah akan saya coba. Rupanya benar di tanah Kalimantan masih ada orang orang sakti seperti itu," tugas Sang Kapten lalu memasukkan peluru tersebut ke dalam pistolnya.


Sang Kapten tidak perlu lagi memerintahkan anak buahnya, dia sendiri yang akan mengeksekusi Jaka.


Hanya perlu satu kali tembakan, untuk melumpuhkan Jaka. "Pak, Bunuh saja dia. Karena jika dia tetap hidup, maka kejadian aneh lainnya tidak akan berhenti begitu saja. Dia juga sudah bukan lagi manusia," bisik Pak Wiryo.


Sang Kapten melirik Sekilas ke Pak Wiryo yang masih berdiri di sampingnya. Dia dalam Dilema Besar. Antara menuruti perkataan Pak Wiryo sebagai warga setempat, atau menuntaskan tugasnya. Sebenarnya Sang Kapten tidak diperbolehkan untuk membunuh musuh karena mereka butuh informasi tersangka untuk segala kemungkinan alasan dibalik Apa yang dia lakukan. Motif dan kemungkinan kejahatan lain yang mungkin telah dilakukan olehnya dan belum ada yang tahu. Kapten kembali membidik target, melihat Jaka akan menyerang pemuda-pemuda itu, membuat Sang Kapten harus segera bertindak. Akhirnya sebuah tembakan meluncur dari pistolnya ke tubuh Jaka. Setelah ditunggu 3 detik tubuh Jaka tiba-tiba Limbung. Dia pun jatuh ke tanah. Darah yang keluar dari tubuhnya membanjiri lokasi di mana dia berada sekarang. Para pasukan khusus segera mendekat untuk memeriksa kondisi target.


Pak Wiryo menoleh ke kapten yang masih berdiri di tempatnya. Sang Kapten hanya tersenyum dengan sebelah bibirnya. " Saya hanya tidak ingin kembali lagi ke tempat ini dengan kasus yang sama," ucapnya tegas. Dia lantas menyusul anak buahnya untuk memeriksa kondisi Jaka.

__ADS_1


Sebuah lubang mendarat tepat di jantung Jaka. Hampir semua anggota pasukan tim khusus adalah seorang sniper yang sangat unggul. Mereka selalu tepat sasaran dalam membidik targetnya. Tentu saja Jaka kini telah tewas. Dia tidak akan bangkit lagi seperti apa yang terjadi sebelumnya. Jaka telah meninggal dunia dengan kondisi yang mengenaskan.


__ADS_2